DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 93. PARA WANITA KUSUMA


__ADS_3

Sejak Kemarin Naya menginap bersama Aruni, kedua ibu hamil itu masih saja begadang membincangkan sesuatu yang sebenarnya telah mereka ulangi beberapa kali.


Seruan Mahen agar Naya pindah ke kamar mereka tak dia indahkan. Masih saja asik mengobrol dengan sang kakak ipar diselingi tawa renyah dari keduanya.


"Mba, udah mulai kedutan belum?"


"Sesekali sih tapi masih jarang, kan baru mau masuk empat bulan."


"Syukuran di mana? aku kan sekalian tujuh bulanan ... uyut bilang di Solo, biar ngumpul juga sekalian sama Gamal, katanya Alma juga lagi isi."


"Oh ya? aku belum dapat kabar dari Gamal ... kamu update amat sih,"


"Grup Mba, coba buka ... tadi barusan ko ... makanya gara-gara Gamal, kita diminta syukuran bareng sama para buyut."


"Kamu saja datang ke sana, aku engga ikut, bisa-bisa kakakmu ngamuk," ujarnya terkekeh.


"Emang Ka Amir bisa marah? setahuku belum pernah."


"Aku pernah dimarahin gara-gara kunci pintu kamar mandi sebab aku pernah kekunci di toilet satu jam saat di kediaman buyut Wardhani." gelaknya mengingat kekonyolan yang dia buat kala itu, hingga Amir panik dan berujung memarahinya.


"Wuah kayak apa mukanya kalau marah."


"Ya tetep flat gitu deh, kamu kayak ga tahu kakakmu aja Naya,"


Naya terbahak membayangkan wajah kalem sang kakak yang panik. Tanpa Amir sadari ternyata dia memiliki watak posesif meski terkadang sikapnya yang kelewat kalem dan responnya yang sedikit santai menyembunyikan karakter aslinya.


Naya sadar, kakaknya itu mungkin hanya bisa berlaku mesra pada istrinya bila mereka sedang berdua. Lain halnya dengan pria yang menikahinya mendadak berubah menjadi pria mesum yang tak bisa menahan diri dimana mereka berada.


"Sehat yaa Mba Runi sampai lahiran tiba, nanti kita bikin posyandu ala ala di rumah uyut sana."


"Do'ain ya Naya, sesungguhnya aku masih terngiang dengan vonis dokter sebelum aku menikah namun Kakakmu itu bersikukuh aku ini dan itu, alhamdulillah semangat ku bangkit karenanya. Entahlah bila bukan Mas Amir yang menjagaku sudah seperti apa nasibku kini ... mungkin sudah terbujur kaku atau bahkan menunggu maut menjemput." Tunduknya pilu.


"Mba, pamali ah ... nanti Kak Amir dengar dia marah loh ... kan umur ditangan Allah, bukan manusia ... yakin saja pasti semua ini ada tujuannya, baik, dan ambillah segala yang positif percayalah dengan Kak Amir, dia itu menjaga bukan cuma karena kewajiban tapi hatinya mulai condong Mba."

__ADS_1


"Masa? Aiswa tak akan pernah terhapus Naya."


"Kita ga bisa tahu sih Mba isi hati orang terlebih suami, tapi fokus dia adalah Mba Runi, istrinya ... apa dia pernah menyebut nama Aiswa lagi akhir-akhir ini?"


"Engga, dia super care sejak awal ... mungkin hatiku saja yang belum menerima atau bahkan belum membuka kepercayaan padanya padahal Mas Amir itu, ya Allah, sempurna untukku Naya. "


"Itu rezeki Mba ... mungkin yang membuat Mba ragu yaa itu, belum percaya ... Ka Amir paham batasannya Mba, maafkan dia ya." Naya menepuk telapak tangan Aruni yang menggenggam gelas susu ditangannya.


"Bener juga, mungkin karena akunya yaa ... ya Allah maafin, padahal semua keinginanku, mimpiku semua telah tercapai rasanya seakan segala urusan dunia sudah sempurna berkatMu yang menghadiahkan Mas Amir untukku meski sejatinya dia lebih dari mudah untuk mendapatkan sosok istri yang lebih segalanya dari aku."


"Uuhhh, peluk sini peluk ... sesama bumil baper. " Naya memeluk erat kakak iparnya. Sesuai pesan Amir, Naya bertugas mengorek isi hati istrinya itu agar Amir tak salah mengerti bila Aruni melancarkan mode diamnya.


Kak, misi berhasil. Mba Runi hanya cemburu pada Aiswa itulah sebab dia kadang meragukan sikap kakak dan mendiamkan.


Kehamilan para wanita keluarga kusuma yang berjarak dekat membuat mereka seakan mendapatkan perlakuan khusus dari para buyut yang masih memegang kekuasaan teritorial di wilayahnya.


Bahkan Danarhadi sudah mengirimkan dua orang bodyguard untuk cicit dan calon cicitnya yang belum lahir, sempat membuat Mahen gerah karena buyutnya lebih overprotective darinya.


Untuk makan diluar berdua dengan Naya saja, bagaikan iringan presiden akan melakukan kunjungan. Sungguh menjadi cicit emas keluarga kusuma ada tak enaknya juga pikir Mahen.


***


Satu bulan berlalu.


Aiswa nampaknya menikmati setiap moment pembelajarannnya, bila weekend tiba dia memutuskan untuk menginap di tempat Dewiq, menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga Hermana, keluarga kedua bagi seorang Aiswa sang pemimpi.


Seperti saat ini, dia tengah tidur dipangkuan Mama yang sedang duduk dilazy sofa ruang tengah mereka, setelah mengeluhkan jarinya luka dan banyak bekas tusukan jarum disana sini. Kakinya lecet akibat bolak balik memeriksa design saat ujian awal modul pertama telah selesai dipelajari.


Untung ada Joanna, bila dirinya kesulitan mencari seorang talent yang bisa disewa untuk fitting saat mini class pagelaran nanti.


Semua perlengkapan design yang dia butuhkan tersedia dikamarnya namun karena Aiswa kesulitan berinteraksi dengan banyak orang terlebih penampilannya yang berhijab sedikit banyak menarik perhatian sekitar, lingkupnya menjadi terbatas.


Terkadang mereka merespon positif tak jarang sebaliknya. Inilah tantangan, ucap Dewiq suatu waktu ketika Aiswa menangis saat dibully oleh seniornya.

__ADS_1


"Aey,"


"Sayang, pules banget ini anak Mama bobok ... Aey makan dulu yuk, kamu kemarin sakit. ya kata Kakak."


"Aey...." Mama kembali membelai pipi anak angkatnya lembut.


"Aiswa, Amir telepon!" Seru Dewiq.


"Haaaah...." Aiswa terhenyak bangun, mengucek matanya pelan sambil celingukan mencari handphone nya.


Dewiq sering menggunakan kalimat pamungkas nya bila anak itu susah dibangunkan, sampai saat ini masih manjur meski sejujurnya dia malas menyebut nama pria itu.


"Kak, ga baik ... dia sudah menikah! " protes Mama.


"Dia kalau udah tidur susah dibangunin Moms, dan Amir itu keyword pass tepat sasaran buat dia, kek alarm gitu, tapi aslinya di ga tahu lho Moms, ga denger telinganya tapi kek nyambung sama nyawanya dia itu, " Dewiq menampakkan senyum jahilnya.


"Apa Kak, Ma?" Aiswa masih limbung.


"Nah kan?"


"Sudah, jangan diulangi, jangan dibiasakan ... makan ya sayang, yuk Mama suapin."


"Ma, aku kenapa ga tinggal disini aja sih? ga diasrama?"


"Ga boleh, itu buat latih mental kamu. Jadi designer itu bakalan ketemu banyak orang Aey, dan kamu harus siap dengan cacian, makian, kritikan pedas dan sebagainya termasuk perundungan."


"Belum lagi harus menghadapi media bila kamu memulai debut nanti."


"Kan debut itu semester dua Kak, pensi kalau di indo, masa ada media? lagian aku kan anak bawang."


"Tetap saja dilatih, sudah kubilang kampusmu itu istimewa. Meskipun karya anak baru tapi jika yang kamu buat adalah sesuatu yang indah dipastikan kamu bisa mendapatkan rekomendasi dari para dosen loh Aey."


"Makan dulu, nanti dilanjutkan lagi." Mama beranjak dari sofa kulit berwarna broken white dalam ruang keluarga menuju dinning room menyiapkan makan siang.

__ADS_1


Aiswa, payah, gitu saja ko nyerah. Design ku kali ini masih terinspirasi olehnya.... Sweet, dan kalem, dengan pola rumit layaknya hubungan kita ya Qolbi ... hehehe


__ADS_2