DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 132. KLARIFIKASI


__ADS_3

"Bii, aku?"


Amir hanya diam, menunggu gadis dihadapannya bicara. Menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat kedua tangannya didada.


Aiswa menarik nafas dalam, memejamkan kelopak matanya yang sedikit lelah akibat kurang istirahat sejak kemarin karena flu mengusik tidurnya.


"Bismillah," lirihnya dengan kepala merunduk.


"Bukan keinginanku menjadi siapapun, aku hanya ingin menjadi Aiswa namun ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa aku diberikan kesempatan hidup kedua ... mewujudkan segala asa, tentulah aku bahagia."


"Jangan tanyakan bagaimana caranya untuk menyatakan aku bersedia, ada keluarga yang menampungku saja sudah sangat bagus bukan? terlebih mereka melimpahi dengan kasih sayang ... sebagai anak, aku menunjukkan baktiku, bukan sekedar misi balas budi atau semacamnya ... aku sayang mereka, Bii, jangan salahkan keluarga Hermana ... semua ini adalah keinginanku meski aku tak pernah mengira akan seperti ini ujungnya."


"Maafkan aku, menghindarimu ... tak pernah berniat merebutmu dari Mba Aruni, aku cukup tahu diri ... niatku saat diberikan hidup kembali, memang harus menjauh darimu ... maaf."


"Meski jarak jauh membentang, percayalah bahwa aku masih sangat rindu kedua orang tuaku ... hingga tak kuasa memikirkan bagaimana sikapku ketika suatu saat nanti berhadapan dengan beliau berdua ... Aku sangat rindu Umma ... dan yang paling sakit adalah, aku tak dapat mengatakan padanya bahwa aku merindunya hingga kedasar sumsum tulangku ... juga tak dapat memohon pada Mama bahwa aku ingin menemuinya," suara Aiswa mulai parau, juga sedikit sumbang karena flu yang dia derita.


"Baiknya kamu pergi, Bii ... jangan sampai Mba Aruni tahu kamu menemuiku, aku ga mau dia terluka karena aku."


"Sebegitu yakin Qiyya akan terluka karenamu, pun dugaan aku sengaja mencarimu ... tapi nyatanya kamu terus mengingkari hati, bukankah itu penyangkalan yang menyakitkan Rohi?" Amir tak habis pikir dia sanggup bertahan.


"Oh, maaf jika aku terlalu tinggi menilai diriku ... pergilah Bii, jangan menemuiku lagi, aku selalu mendoakan kalian berdua...." Aiswa bangkit perlahan, menggeser kursinya kebelakang agar dia punya ruang untuk berdiri dan meninggalkan cafe itu. Wajahnya masih dia tundukkan, agar Amir tak melihat genangan air mata yang sebentar lagi berderai membasahi pipinya.


Ya Allah, apa dia belum tahu Aruni berpulang?


Aiswa melangkah cepat diikuti Joanna, mendorong pintu kaca dan mengabaikan teguran Joanna agar tak berlari karena banyak lalu lalang kendaraan. Wanita yang kini sangat ayu itu melangkah lebar hingga Amir tertinggal jauh.


Ketika akan memasuki gerbang universitas yang telah kembali sunyi, Amir berteriak.


"Rohi, Qiyya titip salam padamu, lihatlah keatas ... dia melihatmu dari sana."


Ck, apa maksudnya?


Aiswa mengabaikan teriakan pria itu serta Joanna yang terengah menyusulnya.


"Aiswa, bahkan dia ingin menitipkan aku padamu jika kau masih hidup ... dia yang akan mendatangimu ... namun sayang, raganya tak bisa menjejak bumi kembali."


Degh.


Aiswa menghentikan langkahnya.


"Nona, aku ambil mobil, tunggulah disini," Ucapnya sambil berlari ke parking area kampus, meski ia tahu Aiswa mengabaikan pesannya.

__ADS_1


"Apa, Bii? ulangi?" sahutnya berbalik badan, menatap pria yang berjalan mendekati posisinya berdiri.


"Aruni berpulang sejak empat bulan lalu ... bacalah sendiri titipan suratnya, dia menyebut namamu disana," ujarnya berusaha meyakinkan Aiswa.


"Maksudnya? Mba Aruni?" Aiswa ragu.


"Tanyakan pada Nona Joanna, jika kau tak percaya...."


Bahkan aku tahu nama Joanna dari pak Kusno baru-baru ini.


"Jo," Aiswa mencari Joanna yang ternyata datang membawa mobil mereka.


"Nona ayo," serunya. Aiswa menurutinya masuk ke dalam mobil, sedangkan Amir malah berdiri menghadang mobil mereka.


"Shi-**," Joanna mengumpat, jemarinya menekan tombol panggilan cepat di handphonenya berharap Ulfa datang membawa bantuan.


Di kediaman Hermana, London.


Ulfa yang tengah mengerjakan pengesahan dokumen Aiswa, dikejutkan oleh panggilan dari Joanna. Ia paham dan langsung mengirimkan dua bodyguardnya sesuai hasil pelacakan GPS ponsel Joanna.


Tak berselang lama, kedua bodyguard Hermana tiba menghalau Amir agar menyingkir.


Aiswa panik takut Joanna dan anak buahnya akan melukai pria dambaannya.


Aiswa ingin membuka pintu namun dikunci Joanna saat akan melerai Amir yang berusaha melawan kedua orang suruhan itu di depan mobilnya.


"Jo! kau berani padaku! buka Jo!"


"Coba saja jika berani," sahutnya dingin.


"Bii, hati-hati...." serunya masih berusaha membuka handle pintu.


Hingga beberapa menit berikutnya, Aiswa dibuat tercengang.


'Lepaskan Tuan Mudaku, atau kepala kalian tak berbentuk lagi dan isinya bertebaran bagai salju yang akan turun ... point two o'clock,' ancam seseorang menyadap earphone mereka.


Kedua orang suruhan tadi, terdiam sesaat lalu menyingkir, melepaskan cekalannya pada tubuh Amir yang terkunci oleh keduanya setelah salah satu dari mereka melihat kesatu titik dari arah depan.


Shadow. Syukron, Mas Panji.


Joanna yang melihat hal ini pun mengikuti arah pandang kedua bodyguard suruhan Ulfara.

__ADS_1


"Aku lupa, bahwa Mahendra selalu melindunginya ... baiklah, pergilah Nona, selesaikan urusan Anda," Joanna membuka kunci pintu mobilnya.


"Kamu ikut Jo, aku ga mau hanya berdua," pintanya seraya menarik tuas pintu agar terbuka.


"Sudah bisa bicara? Nona Aeyza?" tanya Amir kala Aiswa turun dan keluar dari mobilnya.


"Ck, Bii, jangan mengejekku...."


Mereka menuju taman di depan kampus, menyebrang dekat dengan mobil sewaan Amir yang terparkir disana.


Keduanya duduk berlainan kursi, Aiswa dengan Joanna, dan Amir dikursi sampingnya. Dipisahkan oleh pot bunga aster dan lady's mantle meski menghadap view yang sama.


"Qiyya berpulang karena sakit kronisnya bersama putra kami yang berusia hampir 23 minggu ... Naufal pergi lebih dulu, disusul ibunya menjelang seratus hari ... tak perlu menghindariku lagi karena tidak ada wanita yang akan tersakiti karena kamu, Rohi ... juga, tak perlu takut pada Hasbi, karena dia telah menjatuhkan talak padamu saat kondisimu alpha."


Aiswa hanya diam, pandangannya lurus kedepan membayangkan banyaknya moment yang dia lewati bahkan tidak ia ketahui.


"Abuya tahu bahwa kamu masih hidup karenanya aku ada disini berkat restu beliau ... Aku telah mengkhitbahmu Rohi, langsung pada Yai ku."


Aiswa menoleh kesamping kirinya, menatap pria yang berada tak jauh dari kursi taman yang dia duduki.


"Kembalilah ... tak perlu lagi menjauh karena kami masih sangat menyayangimu, terlebih aku...."


"Jangan khawatir apabila kau masih ingin melanjutkan studimu, kali ini aku akan mengikuti kemanapun kau ingin pergi."


"From this day forward, you shall not walk alone ... my heart will be your shelter and my shoulder to learn on." (Mulai hari ini dan seterusnya, kamu tidak akan berjalan sendirian. Hatiku akan menjadi tempat berlindungmu dan bahuku sebagai tempat bersandar.)


"Will you let me be the one, Aiswa Fajri?" (Maukah kau menjadikan ku, seseorang itu?)


Aiswa merunduk, menatap ujung kakinya dan meluruhkan segala yang ingin dia buang sejak tadi.


Bahu ringkih itu bergetar halus, isakan yang sedari ia tahan pun terdengar jelas oleh pria disampingnya.


"Kamu tahu? saat seperti ini inginnya aku bisa menghapus sedihmu, ternyata menjadikannya halal itu tak mudah meski kita sangat dekat," Amir menoleh ke kanannya, melihat Aiswa memeluk dirinya, menempelkan badannya menyentuh paha diatas bangku taman.


"Aku tak akan menghalangi jika kau ingin mengunjungi mereka nanti," ucapnya meyakinkan Aiswa.


"Have ever been and i’ll never leave again," (Aku tidak akan pernah pergi lagi.)


Bos, Adnan calling, kakak ipar Anda aman dalam jangkauanku, report complited.


.

__ADS_1


.


...__________________________...


__ADS_2