
Bandara Soetta, Isya.
Dwiana terpana melihat pemandangan didepannya, begitu harmonis. Gadis seusianya tengah dimanjakan oleh kedua orangtua, dibelai sayang dan penuh kehangatan. Ia iri hingga bulir beningnya menetes tanpa bisa dia cegah.
Rayyan tak sengaja menangkap gerakan halus Dwiana yang menyeka air matanya. Ia mengikuti arah pandang gadis itu.
Keduanya sedang menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang akan membawanya kembali ke tempat masing-masing.
Apakah kamu tidak diperlakukan demikian, Dwi? Sikapmu yang seenaknya jika bicara apakah untuk menutupi kesedihanmu?
"Heh, ngapain bengong? tiketmu sudah siap?"
"Sudah, Kak," lirihnya menunduk dengan nada lembut.
Eh, kenapa ni anak?
"Kehangatan keluarga tak mesti didapat dari sekandung Dwi, banyak yang sayang padamu ko, Aeyza, Arzu dan orang yang mengenalmu dekat selain mereka, kebahagiaan itu banyak rupanya dan aku yakin kamu suatu saat nanti akan meraih semua yang diinginkan, semangat ya, adik manis," usapnya dikepala Dwiana.
"Thanks Kak," balasnya masih dengan menundukkan wajah.
"Hanya Aiswa dan Dewiq sahabat yang aku punya, mungkin setelah ini aku justru akan lebih banyak mengunjungi Umma daripada Mama," keluhnya lagi.
"Kapan-kapan, aku main kerumahmu ya, mau ketemu orang tua mu, kayak apa sih sampe punya anak begini?"
"Aku dulu pecandu Kak, ngedrug, minum, sama dengan Dewiq, Aiswa menyadarkan kami, mengajarkan kembali mengenal Tuhan juga bakti pada orang tua, itulah kenapa aku mengikuti keinginan Papa sekolah disana juga Dewiq, mengejar ketinggalan atas label dokternya itu."
"Eh, ko serius jadinya ... Dwi, maaf yaa aku ga ada maksud loh."
"Aku bersyukur Kak atas jalan hidupku saat ini meski tanpa cinta," Dwiana menarik nafas panjang, mengeluarkan sesaknya.
Suara announcement dari pengeras suara agar passenger bersiap boarding, menggema.
"Gih, pulang, semangat belajar yaa... hati-hati disana ... Melbourne atau Sidney?"
"Melbourne, Kak." Ucapnya bangkit menarik kopernya menjauhi Rayyan.
"Sukses ya Dwi, jaga kesehatan disana ... jangan begadang dan jika libur keluarlah ke taman Albert, siapa tahu kamu menemukan sesuatu yang bisa membuatmu tersenyum disana," ujarnya setengah berseru saat Dwiana mulai memasuki lajur pemeriksaan.
"Bye Alien, nice to see you bajaj," serunya membalas Rayyan seraya melambaikan tangan.
"Byuh, baru juga manis ... sudah balik mode devil lagi ... kamu cantik dan masih muda Dwi, semoga ada bahagia untuk kita," lirihnya.
"Eh, kamu... gue kenapa sih."
Taman Albert. Tempat ku mengenang Papa.
Rayyan melangkah menuju lajur boarding pesawat yang akan membawanya pulang ke Singapura.
Moms, maaf aku belum bisa mengunjungi Mama, sekalian pulang bawa calon mantu aja yaa, sabarlah dan do'akan aku Moms, agar dapat gadis lokal sesuai keinginan Mama.
...***...
Tazkiya. Saat yang sama.
Setelah kepulangan keluarga Hermana, rindu mendera hatinya. Dia ingin meminta nomer Dewiq pada Aiswa namun adiknya itu tak pernah keluar kamar lagi sejak siang tadi selepas mengantar mereka pulang.
Ahmad hanya ingin menanyakan kapan Dewiq kembali ke London. Akhirnya ia memutuskan mengetuk pintu kamar adiknya karena Amir pun sama, selepas sholat dia langsung kembali masuk kamar.
__ADS_1
Tok. Tok.
"Mir," panggil Ahmad dari luar pintu kamar.
"Bii, Kakak ... Bii, lepas ... Kakak nyariin tuh."
Tok. Tok. Tok.
"Mir ... Miiirrrrr, masih sore Mir," ketuknya lagi.
"Biarin Rohi, ngapain juga sih ganggu aja," lirihnya masih menciumi leher Aiswa.
"Bii, ish ... kali penting itu, lagian baru jam berapa Bii, sana...."
"Ginian tuh ga kenal jam sayang," ujarnya sambil memeluk erat.
"Miiiiiiirrrr, ampun deh Miiiir," Ahmad mulai menggedor pintu disertai kekehan darinya.
"Ganggu aja sih, kakak ipar!" serunya masih dari atas ranjang.
Tawa Ahmad bergema. "Keluar dulu, aku mau ngomong," sahutnya lagi.
"Whatsapp aja, ga usah ganjen deh," balas Amir malas beranjak.
"Buruan donk, aku laporin Buya nih, masih sore udah mesum ... di majlis pengajian belum kelar oyy," ancamnya.
"Lapor aja sono, wong mau bikinin Buya cucu ko ga boleh," akhirnya Amir pun tergelak akan ucapannya sendiri.
"Bii, ish, astaghfirullah," Aiswa mengelus dada akan kelakuan mereka.
Akhirnya Amir pun turun dari atas tempat tidurnya, menciumi wajah Aiswa sebelum ia membuka pintu kamar.
Aiswa segera memakai hijabnya, meraih mantel tidurnya yang dia sampirkan di ujung ranjang. Setelah istrinya rapi, barulah Amir membuka pintu.
"Nah gitu donk, keluar ... nangkring aja kerjaannya," sindir Ahmad.
"Nanti kamu juga gitu, ga mau turun," cibirnya pula.
"Masih lama ... oh ya, minta nomer Dewiq donk, Aish kan punya, ya ya...."
"Udah itu aja?"
"Iya." Jawabnya tanpa dosa.
"Yassalaaammmmm, Ahmad Hariri, kakak ipar ku yang sholeh ... kan bisa whatsapp," sungutnya kesal sembari kembali masuk dan membanting pintu.
Brakk.
Ahmad tertawa lepas berhasil membuat Amir kesal.
Ting. Notif pesan masuk ke nomer Ahmad.
"Ini nomer Mama, dilarang whatsapp ke yang bukan mahram apalagi dengan nafsu," ketik Amir pada pesannya.
"Halah, kamu dulu ke adikku gitu," balas Ahmad masih didepan pintu kamar.
"Jangan dicontoh perbuatan yang tidak baik."
__ADS_1
"Hahaha curang kamu Miiiirrr, mana nomer Dewiq ... aku bakalan disini terus nih sampe pagi, ngerekam suara aneh juga," serunya.
"Kak, ga sopan! ... bisa besok lagi ga? berisik," tegur Umma masih memakai mukena, menghampiri Ahmad didepan pintu kamar adiknya.
Ting. Pesan whatsapp masuk ke ponsel Ahmad.
"Sukurin dimarahin Umma ... gangguin orang yang mau ibadah sih."
Tawa Amir terdengar dari dalam kamar disusul Ahmad yang juga tertawa seraya menjauh dari kamar mereka.
"Bii, astaghfirullah ... begini ya kelakuan Qolbi kalau dengan Kakak?"
"Dia yang mulai sayang, lanjut yuk...."
(Eh hemm...... 😌)
...***...
Isya. Kantor Hasbi.
Dirinya murka, tak habis pikir mengapa tuduhan pada Hermana Grup bisa menjadi boomerang baginya.
Berkali dia membaca berkas yang di letakkan diatas meja, kiranya ia paham. Hariri Salim juga menyetujui rencana itu.
"Buya, apakah ini adalah rekayasamu? mendesakku agar menceraikannya?"
"F*uck ... mereka mengurus surat cerai tanpa sepengetahuan ku ... aku kecolongan hingga akta cerai turun."
Kring. Ponselnya berdering.
Panggilan dari istrinya, Serli.
"Ya sayang, kenapa? aku sebentar lagi pulang."
"Reezi, Habrizi ... demam tinggi honey, lekaslah pulang karena demamnya belum turun meski sudah diberi obat penurun panas."
"Sejak kapan?" tanyanya khawatir.
"Sore jam empat tadi ... aku takut Mas," Serli menangis.
"Tunggu sebentar, aku pulang sekarang," sahutnya terburu. Dia menutup panggilan, meraih jasnya lalu keluar dari ruangan menuju parkiran dimana mobilnya berada.
Saat pasangan muda ini telah berada di rumah sakit.
Dokter memeriksa bayi laki-laki berusia empat bulan yang sedang mengalami kejang. Serli terus menangis dalam dekapan Hasbi. Laki-laki itupun tak dapat melakukan banyak hal kecuali menunggu diagnosa dokter.
"Diobservasi dulu ya adek bayinya, kami sarankan opname sambil menunggu test lab esok pagi ... saya sudah memberinya obat melalui saluran belakang, semoga demamnya reda...." Dokter menerangkan kondisi terkini bayi laki-laki pasiennya.
"Baik dokter...." Hasbi mulai cemas.
"Mas."
"Tenanglah, Reezi tak apa ... aku urus kamarnya dulu, kamu tegar ya sayang."
Bertahanlah sayangnya Mama ... kita belum sungkeman sama Aiswa, Ibu kamu juga...
.
__ADS_1
.
...______________________...