
London, pertama kali menjejakkan kaki disini, hatiku remuk bagai digodam raksasa. Ku kira butuh waktu lama agar kepingan hancur itu kembali utuh meski tetap terdapat retakan di setiap permukaannya.
Untung hati ku buatan Allah, entah jika buatan pabrik mungkin sudah berakhir di antah berantah menjadi sampah organik.
"Bii," genggam jemari Aiswa, menautkan pada milik lelakinya.
"Iya sayang, cemas yaa? bismillah kita mulai hidup baru sama-sama...." tariknya pada genggaman menuju bibirnya, dan mengecup telapak tangan Aiswa lembut, menahannya sesaat berharap energi cinta dan sayang yang ia miliki mengalir menenangkan sukma istrinya.
"Aey, pusing?" tanya Hermana saat putrinya terlihat kuyu menyandar pada bahu Amir.
"Engga Pa, biasa gugup," sahutnya malu padahal sudah berkali ia melakukan perjalanan dari London ke berbagai negara.
Panggilan announcement mengudara tanda agar mereka bersiap.
Joanna sudah menarik koper kedua majikannya mendahului mereka. Amir membawa tas tangan Aiswa seraya memeluknya berjalan bersisian dengan Hermana Arya.
"Putriku manja, kamu korban selanjutnya ya Mir, titip Aeyza, dia masih begitu ... Papa ga bisa belai dia," kekehnya melihat kelakuan Aiswa.
"Badannya sedikit hangat Pa, nanti aku balurkan obat oles dari Mama yang biasa Aeyza gunakan," Amir merasakan perubahan suhu tubuh Aiswa setelah memasuki badan pesawat dan mencari tempat duduk mereka.
Sebelum pesawat lepas landas, Amir telah menyiapkan pouch obat untuk Aiswa. Setelah passenger diperbolehkan melepaskan sabuk pengaman.
Amir meraih tubuh istrinya yang semakin lemas agar bersandar padanya.
"Sini sayang ... buka kancing atas yaa, aku balurkan agar dadamu hangat juga perut dan punggung, pegang selimutnya ya," bisiknya pelan di telinga Aiswa dan diangguki olehnya.
Setelah semua badannya di balur oleh minyak gosok yang mempunyai efek hangat, Amir meminta pada flight attendant agar membawakan jahe hangat atau teh hangat untuk Aiswa.
"Kamu demam Rohi ... nanti jika masih pusing, minum obat yaa."
Sementara menunggu pesanannya tiba, Amir memijat pelipis Aiswa yang berbaring dalam dekapannya.
Aiswa tak bergeming, sungguh ia menikmati setiap perlakuan manis dari suaminya. Dirinya semakin menduselkan kepalanya pada pelukan hangat tubuh atletis milik lelakinya itu.
"Bii," ucapnya lemah.
"Iya sayang, tidur yaa masih lama ... semoga demam mu reda saat tiba nanti ... oh iya, minum dulu Rohi, biar hangat ... ayo," Amir memaksa Aiswa bangkit dari posisinya saat minuman hangat telah tiba.
"Bii."
"Sini, tidur lagi," Amir hanya tersenyum melihat Aiswa sudah berani berlaku manja padanya. Melihat Aiswa mulai rileks dan terlelap. Amir pun ikut memejamkan matanya seiring tangannya yang masih memeluk Aiswa dalam pangkuannya.
Tiga belas jam berikutnya. Soetta, Indonesia.
Baik mahen juga Buya, menanyakan kemana mereka akan pulang.
Hermana Arya telah lebih dulu kembali ke mansion setelah Theo menjemputnya. Besok beliau mulai menilik somasi Hasbi dikantor Hermana Grup miliknya.
"Mir, Aey, Papa langsung ya, Mahen atau Santri yang jemput kalian? jika tidak ada biar Theo yang atur nanti pakai mobil kantor kan dekat dari sini."
"Ga usah Pa, ini mau ke salon dulu, Aeyza butuh massage kayaknya," jawab Amir saat akan berpisah dengan mertuanya.
"Ya sudah, hati-hati ya ... Papa duluan," Hermana memeluk menantunya sebelum Theo membawa kopernya menjauh dari mereka.
__ADS_1
Setelah kepergian mertuanya, Amir mengajak Aiswa memasuki salah satu salon terkenal day and spa yang masih buka di dalam Bandara.
"Ambil paket dengan massage untuk istriku," pintanya saat customer service menanyakan pada mereka mengenai layanan yang tersedia.
Demamnya mereda berkat suami siaga disisinya. Kini Aiswa hanya mengikuti semua keinginan Amir, tak memungkiri bahwa tubuhnya juga lelah.
"Bii, kan yang cape bukan cuma aku, Qolbi ga sekalian?"
"Kamu mengizinkan suamimu disentuh wanita lain?"
"Engga lah... disini ada terapis pria ga?"
"Kalaupun ada, aku enggan sayang, gimana gitu bayanginnya ... kalau kamu sehat, kan kamu yang mijitin aku," bisiknya.
"Mulai ... dadah Bii, nunggu dua jam ya...."
"Jangan kependekan yaa Rohi, motong rambutnya, sebatas bahu saja...." pintanya sebelum Aiswa menghilang dari pandangan.
Dua jam kemudian, pukul sebelas malam.
Aiswa telah selesai dan kini nampak lebih segar.
"Mobil Buya sudah sampai sayang, ayo pulang ... hampir tengah malam," gandengnya pada jemari Aiswa setelah ia membayar tagihan.
Umma yang sengaja menunggu kepulangan anak dan menantunya menanti didepan pintu saat mobil toyota fortuner hitam itu memasuki pelataran Tazkiya.
"Ummaaaaa...." Aiswa berlari menghambur kepelukan umma meninggalkan Amir dan Joanna yang menurunkan bagasi mereka.
"Mir, ini nak Joanna ya," saat Amir menyalami mertuanya.
"Iya Um-ma eh Ibu," jawab Joanna segan.
"Umma, sama dengan Aish, kamu putriku Joanna," sahut umma membelai kepala Joanna sayang.
Degh. Bunda.
"Masuk yuk, kamar Joanna udah umma siapkan disamping kamar Aiswa ... Aish, suamimu nak, ko ditinggal."
"Sini Bii, aku rapikan dulu semua ... Ummaaaaa, ngapain sih banyak kelopak bunga?" serunya membuat tubuh renta itu tergopoh menghampiri.
"Kan belum anu, kan kan?" bisik umma pelan.
"Ish, ummaaa," teriaknya lagi.
"Rohi, kayak Naya ih, tarzan ... udah malem, ga sopan," tegur Amir pelan memencet hidung Aiswa.
"Istirahat Mir, besok Buya mau bicara ya," sambung Buya ikut menyembul dari balik pintu kamar mereka yang diangguki Amir.
Amir membersihkan dirinya sementara Aiswa merapikan keusilan ummanya hingga tak lama mereka pun terlelap karena lelah.
*
Keesokan Pagi.
__ADS_1
Sejak subuh menjelang, kesibukan sudah terlihat dikediaman Hariri salim. Ba'da duha, Amir sengaja keluar ke halaman depan melihat apa yang tengah para pegawai event organizer lakukan disana.
Sedang asik berbincang dengan para pekerja. Netranya menangkap mobil yang ia kenali terparkir tak jauh dari tempatnya kini.
"Hasbi? mau apa lagi?"
Kiranya benar dugaan Amir, Hasbi keluar dari mobilnya langsung menuju tempatnya berdiri dengan wajah menyebalkan yang menyiratkan amarah.
"Eh, Mir ... kurang ajar ya, ternyata kamu bersekongkol dengan Hermana juga Yai," serunya saat kian dekat dengan Amir.
"Apa? jelaskan maksudmu? jangan asal tuduh ya, fitnah namanya!" sergah Amir tak terima.
Hasbi meraih kerah kemeja koko sahabatnya itu, mencengkram kuat disana.
"Jangan sok polos padahal munafik," geramnya pada Amir.
"Lepas!" hentak Amir atas cekalan Hasbi di kerah bajunya.
Keduanya bersitegang hingga pekerja waspada.
"Busuk, breng-sek!"
Brugh.
Amir yang tak siap berhasil dihajar oleh Hasbi, ia pun terdorong mundur dari posisinya.
Brugh. Perkelahian terjadi.
Merasa tidak memulai dan harus mempertahankan diri, Amir membalas dengan memukulnya. Beberapa meleset namun pukulan ketiga berhasil mendarat di wajah sahabatnya itu hingga Hasbi terhuyung jatuh membentur pelataran yang telah dipaving.
"Pergi, punya kaca ga? jangan sakiti keluargaku lagi," sentaknya emosi.
"Sudah, sudah," Ahmad datang melerai keduanya.
"Kalian sahabatku, kalian adik iparku, sudah..."
"Cuh, kau berani padaku?" Hasbi menyalak pada Ahmad.
"Kau berani ganggu dia, hadapi aku!" Amir membela Ahmad.
Mir.......
"Pergi! jika dulu aku menahan diri, sekarang tak akan pernah," teriaknya lantang.
Hasbi dipapah berdiri oleh para pekerja namun ditampiknya.
"Tunggu saja, Mir."
.
.
...__________________________...
__ADS_1