
Abyan dan Amir menahan langkah kaki saat suara panggilan dari seorang pria itu perlahan mendekati posisi mereka berdiri.
" Gamal? "
" Siapa? " Tanya Abyan lirih.
" Gamaliel Ka, teman SD dulu kalau pulang sekolah suka makan di rumah, kadang nunggu dijemput Babanya. "
" Oh bocah gendut itu. " Abyan berusaha mengingat, hidupnya ia banyak habiskan pulang pergi pondok wajar bila ia tak begitu hafal siapa saja teman adiknya di rumah.
" Mir, ya ampun dipanggil daritadi nyelonong aja. " Tegurnya dengan nafas terengah saat jaraknya telah dekat.
" Kamu darimana? ko bisa disini juga? "
" Jakarta ... eh, Ka Abyan yaa? maaf ka, aku Gamal si bocah gendut tukang numpang makan. " Ulur tangannya hendak meraih tangan Abyan untuk salim.
" Kamu keren yaa sekarang ... ikut pulang yuk. " Ajak Abyan tanpa basa basi.
" Mir, masih galak seperti dulu yaa? " Bisiknya pelan di telinga Amir.
" Udah kayak gitu cetakannya. " Balasnya berbisik. " Ikut balik yuk, kita ngobrol. "
" Mama udah nunggu dirumah, lain kali aja dan juga aku harus buat janji ketemuan besok dengan gadis yang akan Mama kenalkan, duh rasanya malas. "
" Turuti, gudang pahalamu sisa satu. Nanti nyesel kayak aku udah ga punya Umma. " Tatapannya kembali sendu sebelum bahunya ditepuk pelan oleh Gamal tanda sahabatnya empati.
" Miiiiirrrr. " Suara Abyan memanggil.
" Aku duluan yaa, jangan lupa berkabar. " Mereka saling menepuk lengan sebagai tanda berpisah, Amir melangkah meninggalkan Gamaliel yang juga langsung menaiki mobil yang telah menjemputnya.
***
Dalam perjalanan ke Al Multazam.
" Mir, Paman minta kamu mengajar berapa lama di Al Islah? " Qonita membuka percakapan.
__ADS_1
" Tiga bulan Mba, sesuai materi yang diminta beliau, dan baru satu bulan aku disana sudah cuti lagi nih. "
" Terusin aja, gak apa-apa. Oh iya, Almahyra nanyain kamu mulu. Kenapa sih? jangan bilang kamu kasih harapan. Mba udah warning kamu lho jauh hari itu. "
" Sudah aku bilang, ga ada niatan ke Alma, hatiku cuma punya Ai-- ... eh.... " Amir kelepasan, ia tak enak hati saat tahu tatapan tajam Abyan dari spion dalam kembali dilayangkan untuknya dari balik kemudi.
" Langsung istirahat yaa, ga usah kemana-mana dulu. Abah juga besok mampir ke sini setelah dari Solo nengok Uyut. "
" Ya khayr Mba. "
Mobil yang membawa kakak beradik itu akhirnya tiba di komplek pesantren Al Multazam setelah menempuh perjalanan hampir satu jam karena macet. Di teras rumah nampak Alma tengah menunggu kedatangan mereka.
" Kamu langsung masuk, Mba yang nemuin Alma. " Qonita nampak kurang suka kali ini.
" He-em. " Ya ampun, apalagi ini. Batin Amir.
" Assalamu'alaikum, Alma udah lama nunggu aku? " Sapa Qonita.
" Lumayan Mba. " Liriknya pada Amir yang hendak masuk. Namun lengannya di tuntun Qonita agar segera masuk ke ruang tamu.
" Aku pamit deh Mba. Sampaikan bahwa 'amm (paman) meminta ka Amir kembali masuk dua hari lagi. "
" Ya khayr, aku sampaikan. Hati-hati Alma, syukron yaa kuenya. " Qonita bisa menangkap semburat wajah kecewa Alma saat Amir mengabaikannya.
Malam hari setelah makan malam. Abyan meminta Amir ke ruang baca. Tidak membahas masalah yang telah lalu, justru membahas masalah baru baginya.
" Kapan kamu nikah Mir? ada keluarga baik ingin melihatmu. "
" Ka, tega amat. Lukaku belum sembuh. Dan aku belum ada keinginan dalam waktu dekat, kali ini mohon dengarkan aku. " Mohonnya.
" Kamu ingat kata Imam Bukhari dan Muslim? Tidaklah suatu kegalauan, kesedihan, kebimbangan, kekalutan yang menimpa seorang mukmin atau bahkan tertusuk duri sekalipun, melainkan karenanya Allah akan menggugurkan dosa-dosanya. Mintalah petunjuk agar di dekatkan dengan jodoh yang baik. "
" Na'am. Besok aku rencana keluar sore Ka, pinjam mobil yaa mau ketemu sama Gamal di rumahnya. "
" Pakai punya Mba mu saja. Aku janji pergi dengan Fatima, Abuya juga ada jadwal keluar. "
__ADS_1
Degh. Mobil Brio merah, ada kenangan saat pergi dengan Aiswa di sana, juga di dalam mobil itulah mereka menyatakan cinta.
" Ya khayr, syukron. " Jawabnya lesu sembari melangkah keluar dari ruang baca.
Di dalam kamar.
Amir memutuskan untuk sholat sunnah taubat sebanyak yang ia mampu. Sesekali bacaannya melambat, suaranya sengau, lemah menahan getar hati yang luka namun tetap ia lanjutkan setiap bacaan sholat yang mengagungkan RobbNya.
Lama ia memanjatkan doa, mengakui dan mohon ampun atas segala kekhilafannya di waktu lalu. Hingga suara dering ponselnya mulai menggangu.
" Ckck lupa di silent. Tengah malam begini siapa yang masih terjaga? " Jemarinya membuka kotak pesan masuk dan mulai membaca pelan.
" Alma? kamu belum tidur kenapa? "
" Ana dari kemarin kirim pesan panjang, kakak tidak baca? " Balasnya.
" Lagi ga connect, jelaskan singkat saja. " Tulis Amir yang tiba-tiba mulai mengantuk saat kepalanya baru menyentuh bantal.
" Ana dijodohkan, tolong ana ka, besok ketemuan dengan dia. Ana ga mau, karena sudah ada pria yang ana suka dan hanya dia yang bisa menolong. "
" Kan baru di ajak ketemuan Alma, jalani saja dulu, istikharah lalu putuskan. Mintalah tolong padanya jika begitu. "
" Sudah dan sedang aku lakukan. "
" Maksudnya? " Amir hilang fokus, ia terus saja menguap karena sangat mengantuk. Benda pipih itu lalu jatuh tergeletak begitu saja disamping tubuhnya yang perlahan mulai terlelap.
.
.
..._______________________________...
..." Maa ash’ab an tuhibbu syakhson bi junuun wa anta ta'rifu annaki lahu lan takun. "...
...(Betapa susahnya tatkala engkau mencintai seseorang yang engkau sendiri tahu ia tidak akan pernah jadi milikmu)...
__ADS_1