DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 189. NAYA & MAHEN RELEASE


__ADS_3

Kemarin siang, Jakarta.


Mahendra tergesa pulang saat Naya memintanya menemani ke rumah sakit untuk imunisasi campak Maira yang sudah terlambat satu bulan.


"Honey, sabar. Aku meeting dulu sebentar lagi lalu kita langsung ke rumah sakit," pintanya saat di telepon.


"Gak bisa nunggu Abang kayaknya, ini kan dokter Maira praktek siang dan aku udah daftar, kemarin malam Abang bilang iya makanya dilanjutin kan prosesnya. Izinin aku pergi dengan Mega saja dan Mba ya, Abang ga usah balik," balas Naya.


"Enggak, gak boleh. Aku harus tahu semua detail perkembangan Maira, titik." Titahnya tak ingin dibantah.


"Ya sudah, aku nunggu Abang di bawah aja yaa biar langsung pergi," balas Naya lagi.


"Maaf ya sayang, aku segera ke sana."


Satu jam berikutnya, mereka telah selesai melakukan imunisasi akhir bagi Maira. Saat di lorong akan menuju basement, keduanya mendengar panggilan seseorang.


"Mas Mahendra!" serunya memanggil Mahen.


Naya menoleh ke arah sumber suara, merasa ada yang memanggil suaminya. Mahen tetap acuh meski Naya yakin dia juga mendengar hal yang sama.


"Mas, Mas Mahen, tunggu." Panggilan kedua berasal dari sumber yang sama.


"Abang, berhenti dulu. Ada yang manggil," Naya menahan langkah Mahen yang asik menciumi Maira.


"Abaikan sayang, gak penting," ujarnya sambil terus berlalu menuju lift.


Naya merasa kasihan padanya. Ia berhenti


"Mba Naya, tolong dengarkan aku dulu," pintanya saat melihat Naya berhenti.


"Aku? kenapa ya?" tanya Naya tak paham karena dia belum pernah berjumpa dengan Serli.


"Aku Serli, istri Mas Hasbi," ujarnya masih menjeda kalimat karena mengatur nafas yang tersenggal.


"Ainnaya!" seru Mahen memanggilnya.


"Maaf ya Mba, lain kali saja, permisi." Naya meninggalkan Serli yang menatapnya dengan sorot mata sendu dan kecewa.


"Mas, Mba, Mas Hasbi terluka parah, makanya belum bisa mengunjungi Amir dan Aiswa. Tolong dengarkan aku dulu. Aku sangat berterimakasih pada kalian. Reezi sudah lebih baik saat ini, mungkin aku lancang, meminta doa dari kalian kembali," ucapnya beruntun menahan pintu lift yang digunakan Mahen dan Naya untuk turun ke basement.


"Abang, hold dan keluar, kita bicara dulu," Naya menatap suaminya.


Mahen diam bergeming. Istrinya ini memang sedari dulu berhati lembut meski kadang sikap abegenya masih terlihat.


"Sayang, demi aku, please Abang," Naya masih berusaha membujuk.

__ADS_1


"Mata kamu, selalu saja bikin aku kalah sayang, Ok," bisiknya seraya mengecup kening Naya.


"Mba Naya terimakasih banyak," ujar Serli sambil menghapus jejak air mata yang jatuh ke pipinya.


Mereka bertiga berbicara diluar lift dengan Mahen yang merangkul pinggang istrinya erat seakan dia takut Serli akan melukainya.


"Apa maumu, lekas sampaikan. Istri dan anakku lelah berdiri," sengit Mahen pada Serli.


"Mas Hasbi terluka parah, lima tulang rusuknya patah dan dia kesulitan untuk duduk. Besok akan dilakukan operasi kedua pemasangan penyangga agar suamiku bisa berjalan, setidaknya dapat duduk meski di kursi roda ... aku hanya ingin meminta maaf serta doa untuk kesembuhannya, keutuhan rumah tangga kami serta kesehatan Reezi," ucap Serli menahan isak.


"Hanya itu, mungkin aku kurang ajar dan tidak tahu diri, namun aku tak paham bagaimana cara memanjatkan doa yang benar. Kami bukan orang baik seperti kalian yang berhati besar," sambungnya lagi.


"Gak apa Mba, Allah itu Maha Mendengar dan mengerti semua doa hambaNya. Langitkan harapan sesuai yang Mba mampu dan yakini," tutur Naya lembut.


"Abang, lihat sebentar ya. Doakan beliau, Ok?" Naya meminta izin menjenguk Hasbi.


"Sayang, kamu--" Mahen keberatan.


"Aku tahu, suamiku terbaik. Tidak akan melepaskan kebaikan meski sebesar zarrah, Abang yang bilang kan bahwa loved itu salah satu gift, and Allah given to me ... Abang juga bilang, alasannya agar aku bisa menyembuhkan luka bagi diri sendiri juga memberikan cinta yang sama untuk sekitar. Kata-kata Abang saat aku jatuh, selalu ku ingat. Ini waktunya aku juga release bukan?"


"Aku tuh, suka speechless sama kamu kalau Ainnaya mode dewasa sudah nongol," Mahen memeluk Naya erat, menciumi pucuk kepalanya gemas dihadapan Serli.


Wajar jika Mas Hasbi tergila-gila dengan Naya. Selain kalem dengan mata yang indah, hatinya juga mulia.


Naya juga sangat cantik, sholihah, dan cerdas. Keturunan keluarga ternama, kamu begitu sempurna.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak. Mari," ajak Serli menuntun mereka.


"Abang, semua ini berawal dari aku dan Abang, kita juga punya andil. Izinkan aku nanti yaa bicara padanya," Naya membalas rangkulan Mahen, mengusap punggung tegap suami tampannya itu.


"Berat sayang, tapi harus." Mahen pun menyadari, dan kini ia akan mengikuti keinginan istri kecilnya.


Kamar Hasbi.


Naya melihat sosok yang pernah ia kagumi dan sukai bahkan akan dia tangisi ketika Hasbi akan pulang, setelah mengunjungi kediamannya untuk bertemu Amir dulu.


Sosok yang baginya mirip pangeran tampan, dengan suara berat yang lembut kini terbaring lemah di ranjang pesakitan.


"Na-ya?" ucapnya bersemangat kala melihat Naya menghampiri.


"Ada aku juga, dia istriku," sahut Mahen tak suka.


"Assalamu'alaikum A, sudah jauh lebih baik?"


"Wa'alaikumussalam, alhamdulillah. Kamu ko bisa disini?" tanya nya heran.

__ADS_1


"Imunisasi Maira, gak sengaja ketemu Mba Serli, maaf ya kemarin ga sempat jenguk Reezi," imbuhnya lagi.


"Thanks masih mau ketemu sama aku. Maaf untuk semuanya ya Dek," ucap Hasbi pelan.


"Hallo, ada aku, suaminya!" Mahen gusar.


"Abang, kan udah janji. Lagian disini ada Mba Serli, istrinya juga," bisik Naya pada Mahen.


"A, maafin aku jika dulu pernah melukai A Hasbi ya. Aku tidak pernah menjanjikan apapun meski aku mengatakan bahwa manut Uyut karena kepasrahan saja, disaat kondisi ku jauh dari Abang dan keluarga selama berbulan-bulan. Aku ga sangka, sayang A Hasbi padaku akan seperti ini ... Aku mengagumi A Hasbi sejak dulu, pangeran tampan ku bukan? dan akan selalu menangisimu...."


"Sayang," Mahen cemburu.


"Namun seiring waktu, aku menemukan cintaku yang baru. Aku sangat nyaman dengannya yang asing bagi seorang Naya yang pecicilan. Tanpa sadar cintaku untuknya tumbuh semakin besar diluar kendali."


"Bukan salah A Hasbi datang terlambat, bukan keberuntungan Abang berhasil memikatku ... semua memang terjadi tepat pada masa nya, tak ada yang bisa melawan takdir Allah bukan? bahkan aku."


"Cinta adalah sesuatu yang menakjubkan. A Hasbi selalu memilikinya lebih dari cukup untuk diberikan kepada orang lain, tapi bukan untukku ... Aku mencintai Abang bukan karena siapa dirinya, tetapi karena siapa aku ketika bersama Abang," Naya bicara perlahan seraya menatap manik mata teduh pria yang juga memandangnya.


"Ada waktu untuk berharap, dan ada waktu untuk berhenti. Ada masa untuk memperjuangkan, namun ada juga untuk mengikhlaskan ... lepaskan aku ya A, masa lalu kita. Ada cinta Serli yang begitu besar untukmu, juga keluargamu ... sekali lagi, maaf begitu terlambat menyadari bahwa hatimu juga sama terluka seperti ku." Naya mengusap air mata yang tak sengaja jatuh.


Mahen memeluk istrinya, diiringi tatapan sendu Hasbi yang juga sama meloloskan air matanya.


"Maaf aku hadir ditengah kisah kalian, memaksa membuka kunci hatinya yang tertutup ... ada orang yang percaya kalau berpegang dan bertahan adalah tanda kekuatan. Akan tetapi, ada saat di mana dibutuhkan lebih banyak lagi kekuatan untuk tahu kapan harus melepaskan sesuatu dan melakukannya," Mahen menyambung.


"Mungkin suatu saat kamu akan mengerti bahwa merelakan sebuah memori adalah awal kebahagiaan yang kau nanti ... seperti ku yang kehilangan Melissa untuk bertemu Naya. Seperti kau, kehilangan Naya untuk berjumpa dengan Serli, seseorang yang merelakan hidupnya untuk menerima siapapun kamu di masa lalu."


"Maafkan kami jika pernah menjadi duri dalam sanubari mu, Hasbi... semoga kalian bahagia dunya akhirat, lekaslah pulih serta melangkah dengan harapan baru... kami pamit," Mahen merangkul Naya dan Maira dalam pelukannya, meninggalkan kamar itu.


Serli hanya terisak, mengucapkan banyak terimakasih atas segala yang telah mereka lakukan untuknya.


"Lega kan Abang? semoga dia bisa ikhlas...."


"Lega sayang, tapi aku cemburu. Kamu begitu memujanya," cebik Mahen kesal.


"Kan jaman esde esempe itu ih, aku ga ngerti cinta-cintaan pula, sampai ketemu Abang yang menghujani ku dengan banyak cinta, love you honey, much more...."


"Bayar pake adeknya Maira," tuntut Mahen.


"He em, as you wish my King."


.


.


...__________________________...

__ADS_1


...Whoah, tuntas yaa akar masalahnya. Tinggal sisa-sisa aja nih....


__ADS_2