
Seperti yang Mahendra sampaikan pada Naya. Hari ini Dwi akan mengunjungi kediamannya.
Tepat pukul sepuluh pagi, gadis dengan penampilan tomboy namun tetap terlihat sangat cantik tiba di unit apartemen Naya.
"Assalamu'alaikum, Kak," sapa Dwi saat melihat Naya menghampiri dirinya di ruang tamu mewah.
"Wa'alaikumussalam. Naya saja, aku seumuran dengan Dewiq loh, jika dengan Mba Aiswa, selisih dua tahun, denganmu hanya satu tahun...." jelas Naya.
"Tetap saja, Anda adalah Nyonya Mahendra Guna. Pemilik Queeny dan Quennaya juga bundanya Maira yang sangat cantik ... halo Maira," sapa Dwi pada bayi sebelas bulan yang sedang getol belajar jalan.
"Bebas deh kalau gitu ... oh ya, Dwi, ini harta karunmu. Abang bilang semua surat kuasa, perjanjian dan pembayaran bukti serta flashdisk berisi video ada di dalamnya, silakan di periksa dulu ya," Naya menyodorkan sebuah koper hitam ke hadapan Dwiana serta laptop agar gadis itu dapat membuka isi file dalam flashdisk, dibantu oleh Mega.
"Kak, Mas Mahen, gak bilang sesuatu kah?"
"Abang bilang tentang ... ada beberapa orang suruhan keluargamu, mencari. Juga dokter Rayyan ... Mba Aiswa dan Dewiq juga," sambung Naya.
"Usia Aiswa kan di bawah Kak Naya, ko panggil Mba?" Dwiana terheran.
"Beliau kakak iparku, sudah kewajiban aku menghormatinya. Mba Aish juga memanggilku dengan Kak ... meski aku melarang namun beliau bilang, bentuk penghormatan karena usiaku di atasnya," terang Naya.
"Kusuma, memegang tata krama sama seperti Aiswa. Cocok," Dwiana tersenyum.
"Ta," celoteh Maira.
"Hai, sudah bisa bicara?" Dwiana menegur Maira yang bermain dekat kakinya.
"Lumayan, mengeja meski belum sempurna ... tante, sayang ... onty, bukan tata," Naya meluruskan kata yang diucapkan putrinya.
"Tata," sambut Maira lagi membuat Dwiana gemas.
"Kak, apakah memaafkan itu sulit?"
"Sependek yang aku tahu tentang memafkan ... itu awal say goodbye pada kebencian. Bayangkan gini loh Dwi ... andai kamu punya luka, kamu kesel ga?"
"Iya Kak, kesal donk. Kenapa bisa terluka," jawab Dwi.
"Nah luka itu terjadi karena diri kita teledor kan?... apa yang akan kita lakukan terhadap luka itu?" tanya Naya lagi.
"Diobati Kak, pakai obat luka atau plester," imbuh Dwiana.
"Berarti kita mengizinkan diri kita untuk sembuh kan ya? mengambil obat atau plester luka sama saja dengan mengakui bahwa luka itu adalah bagian dari kesalahan kita ... lalu berusaha menerima pengobatan. Apa kita terus marah, melihat semua proses hingga luka tertutup?"
"Enggak kan? nah maaf pun sama seperti plester ... membiarkan hati kita sembuh lebih cepat. Bisa di pahami gak analogi aku?" tanya Naya.
"Hmmm...." gadis dengan rambut bob ini masih nampak mencerna.
"Memaafkan memang gak menjamin kita menjadi pribadi baik namun pasti akan membuka jalan kebaikan, Dwi ... untuk semua orang yang menorehkan luka, ketika kamu mulai belajar memaafkan dia berarti satu persatu menyembuhkan setiap lukamu."
"Jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang telah menghancurkan keindahannya, kata Ali bin Abi Thalib," Naya tersenyum memandang sosok cantik yang tengah mencerna segala kalimat panjangnya.
"Kak, luka kak Naya?"
"Aku pernah terkekang, dikucilkan keluarga, ada penyesalan sebab ingatan yang hilang juga pelecehan seksual," Naya menatap tegas manik mata Dwiana.
__ADS_1
"Seperti ku?"
"Iya, Dwi. Aku pernah di titik sangat merasa kotor dan hina ... kamu mau coba hypnotherapy? atau aku contohkan boleh?"
"Boleh Kak." Dwi penasaran.
Sungguh ia tak menyangka, wanita anggun nan cantik di hadapannya ini pernah mempunyai luka kelam. Kini, bahkan tiada sisa karena ia terlihat sangat bahagia.
"Mega, tolong ambilkan kertas dan pulpen di meja Abang ya," pinta Naya pada asprinya.
Beberapa saat kemudian.
"Dwi, tolong gambarkan satu objek yang menurutmu paling dominan membuatmu tenang dan gundah," ujar Naya menyerahkan kertas dan pulpen pada Dwi.
Gadis dengan tubuh langsing nan berisi itu diam, bingung.
"Dwi, ikuti aku ... naikkan kakimu, bersila. Tarik nafas, pejamkan mata. Ulangi tiga kali hingga kamu tenang," Naya memberi kode agar Mega menyalakan audio hypno sound atau sound healing.
Ibu muda ini lalu menyerahkan Maira pada pengasuh, agar ia dapat menemani Dwiana. Sesuai pengalamannya.
"Rileks Dwi...."
Naya bangkit dari duduknya, menyentuh pundak Dwiana, lalu meminta Mega untuk menyalakan aroma terapi rileksasi.
"Siapa yang terlintas?"
"Papa, Moms, Derens," lirih Dwi.
Dwi terlihat sangat tenang. Naya membiarkan dia menjalani healing sendiri.
Setelah tiga puluh menit. Dwiana membuka mata bertepatan dengan suara alat aroma terapi yang habis.
"Kak," Dwiana melihat Naya lalu menangis.
Sang nyonya muda hanya diam. Tak bergeming, bukan kejam tidak peduli, ini adalah proses pelepasannya. Seperti Mahen yang membiarkan dia menangis sendirian saat itu.
"Lega?" setelah beberapa menit Dwiana sesenggukan.
Naya kembali mendekat. Memeluk, mengusap punggungnya lembut, membelai lalu menciumi wajah Dwiana tak segan.
"Kamu sepertiku, Sayang ... kita akan sama-sama berjuang. Janji buka hati denganku, Dwi?"
"Iya, Kak." Dwiana akhirnya berani membalas pelukan Naya. Erat, bagai takut kehilangan seseorang.
Baru kali ini, dirinya bisa menangis sangat jelas, tegas dan lama di hadapan orang asing meski ia tahu Naya adalah bagian dari keluarga sahabatnya.
"Sakit, di sini, Kak," Dwi menunjuk hatinya.
"Maaf Dwi, obati dengan maaf ... say," ujar Naya.
"Aku ... memaafkan kalian... " istri Mahendra guna ini telaten menuntunnya.
"Aku ... memaafkan kalian... "
__ADS_1
"Jika kamu ingin tenang. Kita ke pakar yuk. Tapi aku titip ini, siapa yang terlintas membuatmu nyaman?" Naya menyerahkan kertas kosong tadi.
"Renata, Raiden, dan...."
"Dokter Rayyan?"
"No," jawab Dwi.
"Umma, Mama Rini, Aiswa, Dewiq dan Kakak," sebut Dwiana.
"Dia, tak berpengaruh?"
"Alien, dia. Apakah pantas buatku?"
Oh, Naya paham. Rayyan juga adalah sumber gundahnya. Karena Dwi menginginkan pria itu sekaligus merasa tak pantas baginya.
"Ok, kita lanjutkan nanti. Sekarang kalau boleh aku tahu, ceritakan keseharianmu."
"Aku berusaha melanjutkan kuliah di sini, dan menjaga asset Derens, Abangku. Dia...."
"Stop, jangan teruskan jika ragu. Tak apa Sayang, terimakasih banyak sudah menjadi Dwiana yang lembut hari ini," senyum Naya mengembang.
"Kak, apa aku normal?" ia menatap Naya ragu.
"Sure, kamu normal. Hanya sedang luka, wajar jika tidak dapat melangkah dengan benar ... kamu ke sini bertujuan apa Dwi?" tanya Naya.
"Mengambil milikku Kak," jawabnya.
"Untuk?"
"Keluarga ku, Renata, Raiden."
"Yes, cerdas. Untuk mereka, sumber kehidupan dan kebahagiaanmu yang baru. Amanah yang kau jaga karena mereka membutuhkanmu, benar?"
Degh.
"Membutuhkanku...." gumamnya.
"Yes, masih banyak yang butuh seorang Dwiana. Termasuk aku," balas Naya.
"Really?"
"Allah menciptakan manusia itu sempurna Dwi. Bagai karya seni, tak semua orang mengerti, namun yang memahamimu takkan pernah meninggalkanmu...."
"Kak Naya."
.
.
...__________________________...
...Proses terapi PTSD banyak ragamnya, hypnotherapy/sound, fisioterapi juga sharing.....
__ADS_1