
Setelah semua telah masuk ke mobil, Amir melajukan kendaraan mereka menuju rumah sakit milik Hermana.
Ahmad masih mendekap erat Dewiq yang nampak mulai lelah kembali. Sedangkan Naya terus berkoordinasi dengan Quennaya untuk melakukan sisa job list mereka. Termasuk mengclearkan area Mansion dan mengawal keluarga Tazkiya kembali.
Hermana Internasional Hospitals.
Petugas medis telah siap saat mobil yang dikawal oleh Pras dan Candi tiba di IGD, Candi membuka pintu kiri agar memudahkan Ahmad. Pria kalem itu membopong istrinya dibantu Naya dan direbahkan di atas brangkar kemudian di dorong masuk oleh para suster yang bertugas.
Kepanikan masih menyelimuti keluarga Hermana. Ahmad dengan setia mendampingi sang istri, mengajaknya terus mengingat Rabbnya.
"Bear, sangat pusing. Aku gak bisa membuka mataku," bisik Dewiq lemah.
"Gak apa Sha, ucapkan dalam hati ya. Sama saja, tak mengurangi maknanya," balas ahmad berbisik ditelinga kanan Dewiq.
Seakan takut dipisahkan, Dewiq menggenggam tangan Ahmad erat hingga dokter menyuntikkan sesuatu yang membuat cekalan itu melemah perlahan.
"Pasien istirahat dulu ya, besok observasi lanjutan. Tuan Hermana sudah memberikan laporan awal dari tenaga medis di sana. Setelah ini Nona bisa pindah ke ruang perawatan yang telah disiapkan," ujar salah satu Dokter.
"Baik, terimakasih. Mama Rosalie bagaimana? " tanya Ahmad.
"Nyonya Hermana sudah di kamar, Tuan muda. Jika tidak ada hal yang ingin di sampaikan kembali, aku izin pamit. Nona Arzu akan mendapat team dokter khusus untuk tindakan lebih lanjut. Permisi," pungkas Dokter wanita meninggalkan bilik sementara pasien.
"Tuan muda, ya ampun," gumam Ahmad.
Dia duduk di sisi ranjang Dewiq, menarik selimut hingga menutup dada. Mencium keningnya lembut.
"Kamu cantik banget sih sayang, malam pertama kita di sini ya, bangsal," kekehnya hingga sudut bibirnya tersenyum simpul.
Sementara di luar ruangan IGD.
Rayyan menghampiri Amir dan Naya yang ada di lorong kamar instalasi gawat darurat.
"Keren banget ... mau donk acara aku juga di handle kamu, Naya," tegur Rayyan kala duduk di samping Amir.
"Halo Dok, untung sudah pindah ke Indo yaa, Mama Rosalie jadi bisa ditangani anda langsung. Gimana beliau?" tanya Amir.
"Aku membaca laporan awal. Luka yang dulu kecelakaan itu riskan kembali kambuh namun sudah ada upaya pencegahan tadi, sisa menunggu beliau sadar saja. Satu kamar kan dengan Arzu nanti," tanya Rayyan.
"Sepertinya iya, tapi entah karena Ahmad belum keluar," sambung Amir.
"Naya, aku serius loh," ucap Rayyan kembali menyapa Naya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
"Dokter ajukan proposal dulu deh, atau konsul di kantor ya, ingin konsep yang bagaimana, kapan dan berapa jam. Ada tarifnya loh, meski harga pasien buat Dokter sih," jawab Naya.
"Ok deh ... Mas, jangan lupa loh," ingat Rayyan pada Amir untuk menemaninya minggu depan.
"In sya Allah," balas Amir.
"Aku ke dalam dulu ya, lihat Arzu sebelum balik ke RSPP, jam dinas ku sebentar lagi masuk," ujar Rayyan seraya bangkit dari duduk.
Tak lama, dokter muda itupun berbalik adanya kembali.
"Oh iya Mas, Dwi gak pulang? ponselnya off," tanya Rayyan saat mencapai pintu IGD.
"Ada di Mansion dengan Aiswa ... Dok, aku ikut masuk boleh kali ya?" tanya Amir.
__ADS_1
"Dia lama tak mengabariku ... yuk ikut masuk," ajak Rayyan pada Amir meninggalkan Naya.
Saat kedua pria itu membuka tirai bilik, Ahmad tengah menggenggam tangan Dewiq, menciuminya mesra.
"Ciye, yang udah nikah," seloroh keduanya.
"Brisik pada ah, lagi syahdu ini," ujar Ahmad menyambut mereka.
"Thanks Dok, sudah sigap untuk Mama," ucap Ahmad.
"Sama-sama Mas Ahmad, dia gimana?" tanya Rayyan.
"Lengan kanannya memar, lainnya hanya luka lebam. Semoga gak ada apa-apa deh," balas Ahmad.
"Jangan donk, sehat, biar unboxing gak kelamaan," ujar Rayyan yang di barengi kekehan Amir.
"Mir, balik kemana? Mansion atau Buya?"
"Buya, tapi gimana Aish aja kalau aku," jawab Amir.
"Makasih banyak ya semuanya. Aku fokus di sini. Nanti tolong minta santri bawakan kebutuhan aku ya," pintanya.
"Sudah disiapkan Umma, tinggal dibawa ke sini paling nanti beliau juga kemari," terang Amir lagi.
Rayyan melihat laju infus, memastikan oksigen terisi penuh juga obat yang di berikan.
"Mas, sampai jumpa besok ya, aku mau dinas dulu," Rayyan pamit pada Ahmad diikuti oleh Amir yang di balas dengan jabat tangan dan tepukan di lengan olehnya.
Saat keluar ruangan IGD. Keduanya langsung berpisah arah. Amir dan Naya ke parkir area depan sedangkan Rayyan ke basement.
Beberapa menit berikutnya.
Mahendra menyambut kedatangan keduanya. Tak lama keluarga mereka pun pamit pulang, dengan Abah dan Gamal, hanya menyisakan Aiswa dan Amir di Mansion.
"Bii, pulang yuk," pinta Aiswa saat semua telah sepi. Dwiana pulang ke apartemen miliknya.
"Gak mau tidur sini lagi?" tanya Amir seraya mendekat dan duduk di sofa.
"Enggak."
"Kenapa?" tanya Amir lembut, mengusap pipi istrinya yang mulai chubby padahal baru dua hari ia jarang melihatnya karena Aiswa lebih banyak di kamar dengan Dwi dan Umma.
"Iiihhhhh ... gak ada bau Qolbi," sentaknya melangkah pergi.
Brakk. Suara pintu kamar miliknya dibanting keras.
"Mba ... Mba...." Amir memanggil maid.
"Ya Den Mas," dua orang maid menghampiri.
"Aku pulang ke Tazkiya dulu, nanti bolak balik RS, di sini ada Ulfa dia baru terbang hari ini," jelas Amir pada Maid.
"Baik Den Mas," jawab keduanya.
Amir lalu melangkah menuju kamar Aiswa, membuka handle pintunya pelan.
__ADS_1
"Pulang yuk, katanya mau balik ko malah tidur di sini?"
"Tadi, sekarang udah enggak," cebik Aiswa dari balik selimut.
"Ya sudah, aku tidur juga deh. Cape sayang, geseran donk," bujuk Amir.
"Biasanya juga diatas aku," sahutnya dari dalam selimut.
"Masa? ko lupa ya?" godanya.
"Iiihhhhh, sana sana sana. Aku benci Qolbi," Aiswa mulai merajuk.
Amir hanya diam duduk di sisi ranjang, menunggu reaksi darinya.
Satu menit, dua menit.
"Bii."
Hening.
"Bii."
Masih sunyi, Amir sengaja diam.
"Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiii," teriaknya kesal, mulai terisak dari dalam selimut.
"Qolbiiiii, Ummaaaaa," mulai menangis dan membuka selimutnya.
C-up. C-up.
"Rohi, gak baik ngambekan. Aku gak kemana-mana. Mau apa sih? itu?" kecupnya menahan kepala Aiswa hingga nafas segar istrinya tercium.
"Aku juga gak tahu, maunya gimana, aku juga gak suka begini, bukan aku ini tuh, bukan aku," rengek Aiswa.
"Iya sayang, aku tahu."
"Qolbi benci aku gak?" cicit Aiswa.
"Enggak akan pernah benci. Wangi banget, habis makan permen ya?"
"He em."
"Jadi pulang gak? apa mau itu dulu di sini sebelum pulang," bisiknya mesra.
"Enggak, di sana aja, yuk," ajak Aiswa yang ditanggapi oleh Amir dengan wajah terkejut.
Gak salah dengarkah? istrinya kali ini meminta?
"Semoga aja gak ganti-ganti moodnya. Berabe ceritanya kalau baru separo jalan udah switch mode swing lagi moodnya. Mau di apakan nasib junior," gumam Amir mengikuti Aiswa, juga mengambil semua barang milik istrinya sebelum keluar kamar.
.
.
..._______________________...
__ADS_1
...Brabe urusan bumil. Yang MP nya bobok di RS jangan di ganggu dulu dah. ...