
Tazkiya.
Ketika memasuki pelataran pesantren mertuanya, Amir disambut oleh Ahmad yang baru saja turun dari mobilnya.
"Mir, ku kira gak jadi pulang. Gamal katanya juga mau terbang sore ini. Aku minta dia nginep di sini sekalian," ujarnya menyalami Amir saat sahabat sekaligus adik iparnya itu sempurna memarkirkan mobilnya.
"Jadi, cuma ya sekarang aku kudu hati-hati banget sama adekmu itu," bisik Amir.
"Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii," seru Aiswa.
"Ya ampun Dek, turun sendiri napa. Ganggu aja," sentak Ahmad terkejut akan teriakan Aiswa.
"Kan ... bentar ya Mad," ujar Amir seraya memutar, membuka pintu agar Aiswa bisa turun.
"Bii, gitu yaa. Ketemu kakak, langsung lupa sama aku," sungut Aiswa kesal.
"Gak gitu sayang, kan di sapa dulu tadi, ayo masuk." Ajak Amir membuka pintu mobil untuk Aiswa.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, disambut Umma yang antusias memeluk putrinya.
"Ko gak salim Umma, Mir?" tanya Umma saat melihat Amir hanya diam.
"Takut Umma kayak waktu itu," lirih Amir menjawab umma.
"Enggak, Umma memang pengen begitu. Lagian, kapan lagi bisa memuliakan mantu yang menjaga kalam Allah. Ungkapan syukur dan keberuntungan Umma itu," jelas Umma menerangkan maksudnya saat menciumi tangan Amir.
"Rosulullah aja mencium tangan sesama hamba hanya pada dua orang Umma, Sayyidah Fatimah serta tukang batu yang tangannya kehitaman bagai terpanggang matahari, melepuh, banyak kapalan, kasar dan mengelupas. Bukan macam aku," tutur Amir pelan.
"Kamu itu, ada aja jawabanya. Gih, makan siang dulu sana bareng Ahmad ... Aish, Umma suapin ya," tawar Umma pada Aish yang masih memeluknya.
"Gak usah, ingin sama Qolbi makannya," cicit Aiswa.
Ketiganya lalu makan siang di temani Abuya mereka karena Umma pergi kajian, hanya beberapa sendok yang masuk ke lambung Umma, itupun hasil suapan dari tangan Amir.
"Bahkan Umma, pengen makan dari tangan kamu. Mir Mir, bikin Buya jealous," Hariri salim menggelengkan kepalanya heran.
"Lanange jagad, Buya," sambung Ahmad. (lelaki sejagad)
"Eh, paham darimana itu bahasa?" tanya Amir
"Karyawan ku orang Indramayu, satu. Kalau ngomong beuh, kek petasan, rame. Mana kadang pake bahasa campur kan jadi lucu, banyak kosakata baru jadinya, hiburan gratis," tawa Ahmad mengisi seluruh ruang makan.
Setelah makan siang, Ahmad mengajak Amir ke kamarnya namun ditempeli Aiswa yang enggan melepaskan pelukan.
"Aish, gak sopan dih. Aku pengen ngobrol sama Amir dulu, sana tidur," Ahmad meminta adiknya pergi.
"Gak mau, Qolbi punya aku," sengitnya.
__ADS_1
"Heh, yang mau ngambil itu laki, siapa? sana sana, obrolan lelaki ini," tarik Ahmad pada lengan Aiswa.
"Mad, biarin deh. Berabe urusannya nanti gue gak mau ikutan ya kalau dia moody," balas Amir.
"Oh jadi Qolbi keberatan?" Aiswa mulai merajuk.
"Kan, mulai. Elu sih," lirih Amir berkata pada Ahmad yang menanggapi hanya dengan kekehan. Sedangkan Amir menenangkan istrinya.
"Gue sumpahin, Dewiq lebih parah dari ini," sambungnya lagi. Dan hanya ditanggapi tawa Ahmad.
Akhirnya mereka mengobrol ditemani Aiswa yang perlahan tidur dalam pelukan Amir.
"Tiap hari dia gitu?" tanya Ahmad.
"Iya, kalau gak tidur ya di tidurin, udah dua itu kerjaan dia," tawa Amir pecah.
"Kan mulai kan kan ... Mir, mahar gue uang aja ya, dan ini hadiah gue nanti, Ahmad menunjukkan kotak perhiasan serta maharnya.
"Uang paling aman dah sebagai mahar, takut nyampur ntar kemakan antum pula, ngeri," saran Amir.
" Dia nerima ga ya?"
"Loh ga dikasih tahu?" tanya Amir.
"Enggak. Ini keputusan gue sih Mir. Denger dia sakit itu rasanya gimana ya. Suer kali ini berasa lemes aja gitu kayak gak ada gunanya. Dan itu yang memotivasi buat segera gelar akad nikah," jelas Ahmad.
"Nanti, kalau dia mau tapi Buya sih udah siap. Seandainya gak dapat gedung juga pakai di sini bisa," imbuh Ahmad lagi
"Pakai gedung keluargaku, Exona Land, Exona Landscape and Building, Cibubur dekat kediaman Naya ... in sya Allah Om Jimsey eh Om Galuh bisa atasi ini," saran Amir.
"Doain ya, Lu ada wejangan gak buat gue Mir. Secara Lu dah dua kali," tawa Ahmad menggema seisi kamar.
"Kena lagi ... dua kali juga bukan mau gue. Takdir Qiyya berpulang," kilah Amir.
"Yang sabar, kadang wanita tuh keliatan mandiri tapi kalau udah nyaman dia akan manja banget sama kita. Jangan mengartikan bahwa dia manja dengan arti yang sebenernya. Dia manja karena kita, ingin menggantungkan dirinya sesaat padamu, bahaya malah kalau wanita kagak ada sifat manja," ucapnya membelai kepala Aiswa.
"Kenapa?"
"Karena artinya dia gak butuh kamu, kalau kata Umar bin Khattab, seorang suami seharusnya bisa tampil di hadapan istri layaknya seorang bocah. Akan tetapi ketika sang istri membutuhkannya, maka ia harus tampil sebagai sosok lelaki perkasa," sambung Amir.
"Menikah bukan sekedar untuk mencari kesamaan pikiran namun lebih pada berpikir bersama. Beda loh ya," pesan Amir.
"Wejangan bapak dua periode, mantep bener," Ahmad tergelak diikuti Amir.
"Aku pindahin dia dulu ya," Amir pamit hendak menggendong Aiswa.
"Keren Lu, Mir. Tokcer amat," Ahmad menepuk bahu sahabatnya.
__ADS_1
"Karena adek Lu pinter, bikin mood gue naik mulu, makanya kakak ipar jangan kalah sama adeknya," kekehnya geli sembari menciumi wajah Aiswa.
"Gitu tuh, bikin sirik mulu. Hasad gue sama Lu lama-lama makin luas kalau liat ginian, Mir," keluh Ahmad.
"Sisa besok doank, Bapak udah gak nahan? udah belajar sama apa aja Pak?" Amir tertawa sambil lalu, membawa Aiswa dalam pelukannya pindah ke kamar mereka.
...***...
London.
Dewiq sudah siap berangkat saat Mama masih bebenah. Dia memejamkan mata tak menghiraukan ocehan Mama yang sedang melakukan panggilan entah dengan siapa.
"Iya, mau berangkat. Tuh, udah siap," ucap Mama mengalikan kamera depan agar pria di ujung sana dapat melihat pujaan hatinya.
"Enggak, ngantuk katanya. Baru pulih kan, jadi masih sisa-sisa gitu lemesnya," sambung Mama lagi.
"Aamiin." Mama menutup panggilan.
"Kak, ayo. Ulfa sudah siap di mobil. Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Mama.
"Hem, gak ada," jawab Dewiq lesu. Ia sangat rindu, entah mengapa.
"Mama kirim foto Ahmad ya ke ponsel kakak, buat obat kangen selama diperjalanan. Oh juga ada VN kemarin kita ngobrol lama," imbuh Mama memanasi Dewiq.
"Ko Bear gitu sama aku Ma? dia ga hubungi aku sama sekali, gak nanya aku?" Cairan bening setetes keluar dari sudut netranya.
"Ya ampun, segitu kangennya ya?"
Dia juga sama loh Kak, bahkan kemarin itu dia kayak nahan nangis bahwa ga sabar ketemu kamu besok. Indah ya, padahal cuma satu kali ketemu tapi cinta yang tumbuh begitu besar. Suci pula tanpa ternoda oleh kebanyakan orang pacaran di jaman ini.
Mama memeluk putrinya. Mungkin ini adalah cinta pertama bagi keduanya.
"Yuk, berangkat biar lekas ketemu sama Bear," bisik Mama.
Dua puluh menit berlalu, Bandara.
Heathrow, kali ini aku meninggalkan mu dengan membawa semua rinduku untuknya.
...***...
"Sha, kamu makin cantik aja. Maaf ya sayang, aku memang sengaja berbuat begini padamu, agar aku yakin jika kamu memang menginginkan hidup bersamaku," ucap Ahmad kala melihat Dewiq memejamkan mata saat video call dengan Mama Rosalie sesaat sebelum mereka terbang ke Indonesia.
.
.
...___________________________...
__ADS_1
...Bukan bertele-tele, tapi mommy pengen kalian ikut hanyut nanti saat... aah, tunggu yaa.. 😁😁...