
Dalam jangkauan pandangannya saat menuju pintu keluar, Aiswa sekilas melihat kepergian seorang pria yang masih sangat dia kenali.
Bii ternyata itu benar engkau.
"Aey, Aey ... lihat apa sih, aku disini loh... seganteng ini kamu abaikan, ck," Rayyan menggerutu.
"Dokter, Anda ga punya pasien ya? atau ga laku? jadi hanya mengikuti kemana aku pergi ... jangan bawa alasan atas Mama atau Papa ku, basi," Aiswa melipat tangannya didepan dada, hawa dingin menyergap pori-pori kulitnya.
"Selalu pedas, apakah ben-cabe adalah cemilan favorit mu sayang?"
"Jo," Aiswa mengabaikannya lagi. Dia berlalu pergi begitu saja menembus hujan sebab Joanna lama menjemputnya.
"Aey, basah ... jangan."
Joanna berlari ke arahnya membawa payung serta mantel untuk Nona nya. Dan meninggalkan Rayyan disana.
"Dicuekin lagi ... jika bukan karenanya, dan weekendku yang kelabu ... aku tak akan mungkin ada disini ... ck Rayyan apakah ini akibat dulu selalu tebar pesona?" dia bermonolog ditemani hujan seorang diri disana.
"Arzu, dia cuekin aku lagi ... apakah ini tandanya aku harus menyerah?" Rayyan berkirim pesan pada Dewiq, mereka saling bertukar nomor ponsel setelah Rayyan menyadari bahwa perjuangannya seakan bagai gelembung air sabun, menguap dan perih.
"Sudah ku bilang, lupakan saja jika kau lelah," balasnya diujung sana.
Rayyan hanya menghela nafas panjang sembari menunggu taksi yang baru saja dipesannya.
*
Keesokan pagi.
Aiswa dijadwalkan siang akan mulai memasuki venue acara. Sedangkan Amir telah bersiap sejak pagi membantu Naya menata manequin serta stock beberapa item hijab juga moslem wear lainnya.
"Nduk, yang untuk goodie bag sudah dipisahkan bukan?" tanyanya disela menata display agar sedap dipandang.
"Sudah Den Mas, aku yang mengantar ke ruang panitia kemarin saat tiba, dan bukti penyerahannya sudah aku lampirkan di laporan Queeny," Mega menanggapi.
"Thanks Ga, temani Naya ya karena aku dengan Bang Alex di stand satunya dua lajur dari sini ... Mba, hati-hati saat jaga Maira," Amir begitu teliti mengatur semuanya, wajar dia khawatir karena ini adalah event besar takut apabila adiknya justru kewalahan sebab Maira sudah mulai merangkak dan tidak mau diam.
"Kak, semangat sharing ya semoga pengalaman kakak pegang usaha Abah bisa menginspirasi banyak wirausahawan baru ... jangan terlalu khawatir, Abang kasih aku mereka ko Kak, tunjuknya pada dua orang wanita dengan pakaian casual disekitar stand Naya.
" Hmm, aku lupa kalau suamimu itu over protective ... Nduk, sudah selesai ... aku ke Bang Alex yaa, siapin stand disana juga ... Maira jangan nakal, nurut sama Bunda ok?" kecupnya di pipi keponakan kesayangan yang tengah terlelap dalam stroller.
Sungguh aku teringat Naufal.
__ADS_1
"Abang ke sini jika sempat nanti, dia sudah dikota sebelah...."
Setelah memastikan semua tertata rapi dan baik, Amir menuju stand nya. Dirinya berjalan disisi kiri memakai lajur peserta event saat satu persatu tamu undangan mulai hadir untuk sesi pembukaan pukul sepuluh nanti.
"Dia, aku seperti pernah melihatnya, dimana ya?" Amir melihat Joanna menyeret dua koper besar berjalan tak jauh darinya.
"Den Mas," Alex memanggilnya.
Perhatian Amir kembali teralihkan karena panggilan Alex, asisten pribadi Abahnya sekaligus kepercayaan Mahendra yang dia tugaskan di kediaman Abah.
"Ya Bang, kenapa?"
"Panitia majuin jadwal kita, sharing sekarang karena pemateri sebelumnya masih delay pesawat ... bisa ga?"
"Yuk, biar aku tenang nemenin Naya setelah ini." Alex mengajak Amir menuju stand dimana beberapa panitia sedang menunggu nya. Setelah dicapai kesepakatan, Amir mengikuti mereka ke ruangan yang didalamnya telah siap berpuluh wirausahawan muda dari berbagi kota dinegara tersebut.
"Pak Amir, saat ini beberapa sharing telah dimulai... di ruangan diamond ini yang paling banyak pesertanya ... silakan," ujar salah seorang team support system.
"Bismillah," Amir melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan dan memulai slide demi slide presentasi dibantu oleh Alex.
Sementara di jalur stand pameran.
Aiswa yang merasa bosan menunggu jadwal dirinya untuk bersiap, memutuskan jalan-jalan sejenak melihat deretan stand yang memamerkan hasil karya para pengrajin.
"Queeny," gumamnya.
Karena merasa event belum dimulai, Naya masih duduk di karpet membelakangi sambil menyusui Maira yang terbangun.
"Mega, tolong."
"Hi good morning, Queeny is a local brand from Indonesia ... this is our new series of Queeny, Candy Chic," sapa Mega ramah.
"Mor--ning," Aiswa menjeda ucapannya, terkejut bahwa di hadapannya telah berdiri seorang gadis yang dikenalnya, Mega Chandini.
"Queeny ... you can also found as well as in the many mall available throughout in the city." (Queeny juga dapat dijumpai di beberapa mall dikota ini) Lanjutnya ramah memberikan sebuah informasi detail tentang makna design yang Aiswa pegang.
"Hmm, local brand but that has inspired women from all field ... i'm impressed, can i have one of this?" (Brand lokal tapi mampu menginspirasi banyak wanita dari segala bidang, bisakah aku memiliki salah satunya?)
"Sure... this one or the blue one?" tunjuk Mega pada warna dusty pink dan biru ocean.
"Both please ... so sweet like a candy, as the name of series," ucap Aiswa. (keduanya karena terlihat manis bagai permen, sesuai dengan namanya)
__ADS_1
"Aku boleh minta tolong, antarkan ini ke kamarku saja karena aku akan lama berjalan-jalan disini... dan aku menggunakan CC apakah bisa?"
"Oh Nona, Anda orang Indonesia? untuk payment ke kasir di ujung sana," tunjuk Mega kearah kanan stand dimana lokasi kassa berada.
"Iya, maaf yaa ... dan ini kamarku, nanti aku akan tambahkan fee untuk kurirnya."
Suara ini, tunggu, aku mengenalnya... siapa yaa....
Setelah menerima nota, Aiswa pergi berlalu dari sana, sengaja tak membayar langsung agar dia tak dicurigai karena sekilas dia melihat Naya disana.
"Mega, suara tadi, akrab ga sih?"
"Heh, iya ya, aku mikir daritadi padahal tapi dia ngajak ngomong mulu jadi blank," ujar Mega sembari melipat pesanan gadis tadi.
"Ini juga diminta diantar ke kamar hotelnya satu blok dari sini ... gimana?"
"Ok. Siap-siap, udah mau dibuka tuh." Naya menidurkan kembali Maira dalam stroller.
Sudah dua jam berlalu, namun Amir masih belum selesai. Hingga dzuhur menjelang barulah kedua pria itu keluar ruangan menuju mushola dilantai dasar ujung timur lokasi.
Baru saja melangkah, pandangannya tertahan oleh sosok wanita yang tengah menujunya berdiri.
Aiswa sadar ada yang sedang melihatnya namun terlalu takut menengadahkan kepala maka dia membelokkan langkahnya ke arah toilet wanita.
"Aeyza, aku mencarimu kemana-mana." Rayyan bergegas menghampirinya.
Aiswa terpaksa mendekat ke arah Rayyan, sekedar menyapa menghindari seseorang yang belum dapat dia pastikan.
Aiswa? Aiswa, rohi?
Amir melangkahkan kakinya cepat mengejar sosok yang membuatnya penasaran beberapa hari ini. Dia ingin memastikan sesuatu.
"Eh," langkahnya terhenti melihat Rayyan dengan wanita yang dilihatnya mirip Aiswa.
"Oh dia pacar dokter Rayyan nampaknya ... duh, hampir saja," lirihnya, namun saat akan berbalik badan, netranya menangkap sesuatu ketika gadis itu membuka maskernya dan Amir melihatnya dari samping.
Aiswa? Ya Allah, ini? mungkinkah dia Aiswa ku atau hanya mirip?
Hatinya gerimis menahan rasa yang tak ia pahami.
.
__ADS_1
.
...___________________________...