
Mahen mencegah kakak iparnya untuk melayaninya membersihkan diri. Dia lalu bergegas menuju bathroom guna meredam rasa sakit pada sambungan kaki sintesisnya.
Beberapa menit berselang setelahnya.
Amir masih diatas sajadahnya, menunaikan dua rokaat di sepertiga malam, memohon keteguhan hati serta kejernihan pikiran agar terhindar dari jeratan nafsu.
"Kak, gimana tadi? Aiswa masih hidup? atas dasar apa?" Mahen menanyakan pada sang ipar tentang analisanya. Dia yakin, Amir sudah mengetahui semuanya hanya belum terlalu yakin.
"Ini Mas, dia masih hidup entah bagaimana caranya tapi ku pastikan dari segala nalar yang bisa aku jangkau ... entah permainan apa dan siapa, yang jelas Aiswa tak sendirian melakukan ini, apakah Ulfara yang membantunya kembali?" Amir menyerahkan coretannya pada Mahen.
Mahen tersenyum simpul. "Teruskan Kak," tatapnya kagum pada Amir, begitu jeli meski menilai hanya dari tampilan fisik, tanda bahwa dia sangat mencintai gadis itu.
"Dari kebiasaan Aiswa, screen cctv, semua yang aku temui ... aku catat Mas, sisa satu yang belum aku pastikan sehingga tidak yakin akan kesimpulan ini."
"Apa Kak?"
"Wajahnya dari dekat, ada sesuatu yang khusus disana, dibawah hidungnya ... juga jam tangan custom dariku untuknya."
"Alasan dia melakukan ini menurut kakak?"
"Kekecewaan, kebebasan, pembuktian diri serta mimpi, dugaanku ... karena Rohi itu orang yang gigih ... dia mempelajari semua yang dia suka meski dalam kekangan," ujarnya pelan menerawang mengingat kenangan saat mereka berbincang menyusuri danau di Semarang.
"Sudah hampir subuh Mas, aku izin lanjut dulu yaa ... jikalau memang jalanku dan dia begini, aku akan mengejarnya kali ini."
"Good luck Kak, maafkan aku tak bisa berbuat banyak kali ini."
"Aku paham, dan aku ga mau meminta bantuan Mas Panji kali ini ... doakan saja aku," pungkasnya.
*
Pagi menjelang.
Joanna tidak berani membangunkan Nonanya pagi ini padahal kurang dari dua jam lagi mereka harus kembali ke London.
Namun setelah dipikir kembali, Aiswa akan terkesan tidak profesional jika sampai terlambat naik pesawat sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Lagipula pihak EO dari Travelaja pastinya tetap mengkoordinir mereka hingga selesai.
"Nona, hampir jam delapan pagi ... breakfast Anda telah diantar ke kamar."
"Aku ngantuk Jo,"
"Kita harus bersiap karena jemputan akan segera tiba ... semalam semua wardrobe sudah aku dan panitia bereskan ... bagasi Anda dan team sebagian sudah diangkut ke airport."
"Begitu ya, lima menit lagi ... jam ku ketemu Jo?"
"Maaf Nona, aku pulang terlambat karena mencari jam tangan biru Anda disemua tempat namun nihil."
Aiswa terhenyak bangun dari tidurnya, matanya mengerjap cepat memindai cahaya yang masuk tersaring gorden lewat jendela kaca kamarnya.
"Cari lagi Jo, itu pemberian seseorang dan satu-satunya milikku yang berharga ... dia menemaniku kemanapun aku pergi ... please Jo," mohonnya dengan sorot mata sendu.
"Baik, tapi janji Nona, Anda bersiap setelah aku pergi."
__ADS_1
"Iya ... ketemu di Bandara ya Jo," Aiswa perlahan turun dari atas ranjangnya. Sementara Joanna kembali ke lokasi event mencari benda berharga milik Nona mudanya.
*
Amir yang memang belum sepenuhnya istirahat sejak kemarin, memutuskan berjalan-jalan ke lokasi event sepagi itu.
Dirinya hanya ingin mengerjakan sesuatu di stand Queeny agar dapat merileksasikan pikirannya yang kusut sejak semalam.
"Bagaimana jalannya agar aku dapat menemui dengan leluasa, tanpa fitnah sedangkan dia begitu ingin menghindariku."
Ya Robb, mudahkan segalanya.
"Mas ... Mas Amir ... Mas," seru seorang pria dari kejauhan memanggilnya.
"Ya? manggil aku?"
"Mas bisa ikut aku ke ruangan wardrobe ga? ada barang yang ingin aku konfirmasi," ujarnya.
"Barang? milikku?"
"Sepertinya iya, karena dari rekaman cctv hanya Mas Amir yang keluar terakhir dari ruang diamond, aku pikir itu adalah milik Anda ... kehilangan sesuatu?"
"Apa ya, entahlah."
"Mari Mas, ikut saya."
Sebab kondisi masih pagi, suasana masih lengang saat mereka memasuki gedung sayap timur dimana ruangan itu berada.
"Ini," serahnya sebuah plastik transparan berisi sebuah jam.
"Benar? milik Mas Amir?"
"Ini, sama kan? Alexandre Christie blue in the dark, custom limited series blackweird," tunjuknya persis seperti yang dia pakai.
"Wah couple ternyata, alhamdulillah jika begitu, aku menemukan pemiliknya."
"Thanks Mas," imbuhnya lalu mengenakan jam tangan Aiswa dilengan yang sama.
Waktu di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan pagi, Amir bergegas menuju tempat pemberhentian taksi. Nahas, tak ada satupun taksi disana hingga ia menunggu beberapa menit lamanya.
Saat taksi konvensional mulai berdatangan, Amir menghentikan salah satunya dan meminta driver menuju hotel tempat gadis mirip Aiswa semalam.
Rasanya jarak tempuh begitu jauh jika dalam keadaan terdesak seperti saat ini. Supir taksi selalu mengajaknya bicara membuat Amir rasanya ingin meledakkan emosi namun sebisa mungkin dia tahan.
Jam delapan lewat lima belas, semoga dia belum pergi karena penerbangan internasional di Bandara dimulai pukul sembilan pagi.
Langkahnya tergesa saat akan menaiki lift, tanpa disadari dirinya berselisih arah dengan Aiswa yang baru saja keluar dari lift disisi kanannya.
Ia tergesa menuju kamar dilantai dua, mengatur nafas agar tak terlihat terengah sebelum mengetuk pintunya.
Tok.Tok.
"Excuse me? Indonesian? sedang make up room karena tamunya sudah check-out Sir," tegur petugas housekeeper.
__ADS_1
Tak menjawab informasi yang diberikan oleh petugas tadi, dia kembali berlari menuju lift berniat mengejar Aiswa.
Tolong ya Allah, jangan biarkan dia pergi tanpa mengetahui bahwa aku telah mengenalinya.
"Taksi!" teriaknya memanggil sebuah taksi.
"Airport please," Amir berkata lantang pada supir taksi seraya menutup pintu kursi penumpang.
"Ya Allah, macet," baru juga melaju beberapa meter, perhentian lampu merah menghambatnya.
"Come on Sir, ayolah, aku sedang terburu...." Amir mengiba.
"Mau bagaimana lagi Tuan, aku tidak bisa bergerak." Amir memutuskan membayar taksi lalu berlari melewati beberapa ratus meter kemacetan itu dan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi lainnya.
Airport.
Aiswa beserta rombongan telah berhasil check-in, dirinya cemas menunggu Joanna yang tak lama kemudian muncul mengikis kekhawatirannya.
"Jo, ketemu?"
"Maaf Nona, tidak ada bahkan aku menanyakan pada petugas cleaning servis, nihil."
Suara announcement memanggil para passenger bersiap.
Diluar Bandara.
Amir keluar dari taksi yang membawanya saat mobil itu belum sepenuhnya berhenti. Tak memedulikan seruan petugas agar tidak berlari di keramaian.
Ruang tunggu gate keberangkatan internasional telah kosong. Amir panik. Tidak ada satu petugas pun yang bisa dimintai pertolongan untuk menahan seorang penumpang meski lima menit.
Dalam kekalutan putus asa, akhirnya Amir berteriak.
"Aiswa, Rohi, Aiswa...."
"Aiswa Fajri ... Aiswa...."
Aiswa yang baru akan memasuki lajur boarding, menghentikan langkahnya serasa mendengar teriakan yang memanggil namanya.
Joanna mencegah dia berbalik namun Aiswa memaksa hingga petugas menahannya di dekat pintu kaca.
Amir melihat kericuhan kecil disana, kakinya kembali berlari diikuti oleh petugas yang ingin menahannya sebab memicu keributan diruang publik.
Langkahnya terhenti ketika dia melihat sang gadis dambaannya tengah menatapnya seraya menangis.
"Aiswa, Aiswa ku ... Rohi, tunggu aku yaa, aku akan mengembalikan ini padamu...." serunya sembari tersenyum menunjukkan jam tangan milik Aiswa yang telah ia lilitkan di pergelangan tangan berderet dengan miliknya.
Bii, kamu menyadarinya ... terimakasih ... tapi aku harus pergi.
Amir? Aiswa, bukannya dia....
.
.
__ADS_1
...__________________________...