DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 105. DA3A


__ADS_3

Ba'da sholat jum'at semua prosesi pemakaman Aruni selesai dilakukan. Amir menepi kedalam kamarnya namun dia kembali keluar karena Naya sedang membereskan banyak barang yang terlihat berantakan.


Naya sengaja menutup pintu kamar kakaknya, ia tak ingin kakak idolanya itu larut dalam kesedihan. Semua obat-obatan Aruni, baju kotor, skincare, dimasukkan kedalam kardus lalu dia lakban.


Buku, kaset film, di susun rapi dalam wadah lalu diletakkan berderet dengan kitab Amir dilemari kaca dalam kamarnya. Baju kakak iparnya pun Naya pisahkan, lalu dikemas dalam kontainer transparan dan disusun kembali ditempatnya.


Jika suatu saat akan di bagikan, maka mudah untuk mengambil karena Naya sudah menyusunnya.


"Maafin ya Mba, Aku langsung beresin sesuai amanah Mba, semua barang-barang Mba langsung dipisahkan lalu dihibahkan atas izin kakak nanti."


Setelah dua jam berada dalam kamar kakaknya berbenah seorang diri, Naya keluar dari sana menuju kamarnya. Mencari Maira lalu menggendong dan mengganti baju bayi menggemaskan itu agar lebih nyaman.


Setelah Mandi, dia lalu menyusul Maira yang telah dia letakkan di box bayi sebelumnya, meraih bayi itu untuk berbaring bersamanya diatas tempat tidur.


Mahen harus rela menahan emosinya saat pipi Maira menjadi objek pendaratan bibir berbagai jenis manusia karena ia dan Naya fokus pada sang kakak.


"Uwa sudah kembali nyusul Abang Naufal, Maira ... doain yaa, husnul khotimah in sya Allah aamiin," ujarnya tidur dengan posisi menyamping sembari menyusui putrinya.


"Baby, surat Aruni dikasihkan kapan ini?" ucap Mahen kala dia masuk kedalam kamar mereka.


"Nanti, saat anniv, kan satu pekan lagi."


"Dihari itu tuh berarti ... Naufal 100 hari, mommynya 7 hari plus anniversary mereka satu tahun ... Astaghfirullah, aku ngerasain sedihnya ... gini amat sih jalan cinta Kak Mir, ujiannya maa sya Allah ... kalau orang alim gitu kali yaa, sayang, diuji karena ilmunya."


"Mungkin," sambung Naya lamat matanya memejam karena lelah.


"Sayang, love you ... semoga cukup waktu bagiku menyiapkan masa depan kalian sebelum Allah memanggil kembali, juga kamu jangan nikah lagi yaa kalau Aku ga ada duluan," Mahen terbawa suasana melow.


"Ya Allah Abang, mikirnya, love you sayang ... tidak akan ada lagi yang seperti Abang, sesayang ini padaku dan keluargaku ... fokus sama Maira, dan adik Maira saja nanti ... janda kaya ga butuh pria, hahaha." gelaknya memancing reaksi tak terduga dari Mahen.


"Adik Maira, setuju, tiga lagi yaa honey." Tangannya sudah menjalar kemana-mana, menyelusup dalam baju tidur yang Naya kenakan.


"Di-emmmghhh, Maira belum sele-sai." Naya merasakan desir halus mulai muncul akibat kenakalan suaminya yang ternyata hanya menggoda.


"Tidur dulu sayang, kita lanjut nanti ... Aku juga lelah."

__ADS_1


***


Setelah Naya selesai membereskan kamarnya, Amir masuk kedalam. Matanya yang sedikit panas memendar sekeliling.


"Rapi, dan beberapa sudah menghilang."


"Nduk, Qiyya nitip pesan apa sama kamu? sampai sudah dipisahkan begini?" Amir melihat lemarinya, semua baju Aruni sudah terpacking rapi.


Kakinya yang letih dia paksakan menuju bathroom, mengambil wudhu agar hatinya tenang.


Saat keluar dari sana, bagaikan sedang melihat adegan dalam film, kenangan Aruni bersama nya tergambar jelas didepan mata. Amir melangkah menduduki sisi ranjangnya. Ingatannya kembali pada saat perjumpaan mereka pertama kali.


Kekaguman dalam diam yang perlahan singgah saat gadis itu menangis diatas pohon sekaligus dia terkejut akan segala kemiripan yang mereka punya.


"Kamu bagai cerminku, Qiyya ... dari makanan, sampai kebiasaan tidur, warna kesukaan bahkan jenis garis yang menjadi ciri khas Qiyyam."


Keteguhan serta ketabahan Aruni menjalani sisa waktunya yang membuat Amir tergugah untuk menikahinya.


"Mas, semua mimpiku sudah tercapai, menikah dengan pria tampan bagai oppa, cerdas dan sholih, sabar dan sayang padaku, punya bayi, honeymoon kesemua destinasi yang ingin aku kunjungi, punya butik serta merk sendiri, tidur dalam pelukan pria kaya, haha."


"Qiyya...." Amir menghela nafas, bukan dia tidak peka, hanya saja berusaha mengingkari setiap tanda yang dia tunjukkan untuknya.


Allahumma ajirni fii musibati wa akhlif li khairan minha.


Ya Robb, berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantikanlah bagiku dengan sesuatu yang baik daripadanya.


Amir berucap beberapa kali agar hatinya tenang, sajadah yang biasa Qiyya gunakan, dia hamparkan untuk kembali merunduk kehadapan ilahi robbi.


Menjelang Petang.


Tok. Tok.


Mahen mengetuk pintu kamar kakak iparnya, hanya untuk mengantarkan makanan agar beliau tak sakit. Serta menyampaikan bahwa Kyai Maksum ingin bertemu dengannya.


"Masuk Mas."

__ADS_1


"Kak, ada Hasbi dan Kyai Maksum didepan, mau ketemu ga?" tanyanya sembari meletakkan baki diujung tempat tidurnya.


"Aku malas, nanti saja ... ini bawa lagi Mas, ga nafsu," tunjuknya pada baki yang baru saja Mahen taruh.


"Aku sampaikan ke Abah kalau Kak Amir tidur ya." Mahen keluar ruangan, namun tak membawa baki berisi makanan tadi.


"Kak, tolong pegang Maira, Aku mau makan." Naya masuk ke kamar saat suaminya keluar, memberikan Maira begitu saja pada Amir membuat pria yang sedang duduk di ranjang sigap menerima bayi lengkap dengan botolnya itu.


"Nduk, hati-hati baby gemoy nanti jatuh ... Uwa belum cium Maira hari ini." Gemasnya menciumi pipi bulat Humaira.


Kesedihannya teralihkan berkat Maira dalam gendongannya, tak menyadari jika Naya tengah menyiapkan makanan untuknya.


"Buka Aaaaa...." sendok berisi lauk dan nasi itu disodorkan Naya pada mulut sang kakak.


"Taruh Nduk, Aku ga lapar kan tadi kamu bilang mau makan, gih makan aja."


"Berdua sama Kakak, kalau Kakak ga makan, aku juga ga makan ... asi Maira nanti jadi sedikit dan Abang marah sama Aku, terus Aku sedih nangis imbasnya Maira rewel ... Abah ga tega kemudian bantuin gendong padahal Abah juga butuh istirahat, Maira kan susah diemnya, semua repot dan rumah bising karena ni bayi kalau nangis kayak pake toa ... ujung rentetan calon kejadian tadi semua karena Kakak, jadi pilih mana? nyusahin semua orang atau makan tinggal buka mulut?" cecar Naya panjang lebar.


"Astaghfirullah ... heran, Mas Panji tahan ya sama kamu, Nduk."


"Tahan lah, wong dia cinta mati sama aku lagian Aku tuh bawel luar dalam hahaha," gelaknya dihadiahi jeweran oleh Amir di telinganya.


"Sudah jadi Ibu ngomongnya ga direm, sini Aku makan sendiri." Amir menyerah daripada mendengar ocehan adik bungsunya.


"Gitu donk, sedih juga kan butuh tenaga, haha." Malam itu Naya sengaja menitipkan Maira agar tidur bersama Amir, alasannya dia hanya ingin melemaskan pinggang yang sakit karena kurang minum.


Sejatinya Naya tak ingin meningalkan kakaknya sendirian, berusaha sebisanya menghibur agar beberapa hari berat ke depan, dapat dilaluinya dengan mudah.


Mba, ngasih tugas berat amat sama kita. Untung ada Maira, jadi bisa aku jadikan alasan agar dia menuruti keinginanku.


.


.


...________________________...

__ADS_1


...Hamil saat dari China, 3 bulan 2 minggu setelah nikah, Naufal lahir sekitar 22 minggu, 3 bulan kemudian Aruni nyusul... kurang lebih satu tahun kan ya, bener ga hitungan mommy, haha... ...


__ADS_2