DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 13. NERVOUS


__ADS_3

Umma masih mengabaikan keberadaan suaminya meski ia telah selesai sholat dan melanjutkan mengaji.


Perlahan, lamat terdengar suara yang semakin melemah di sertai nada serak akibat menahan perih. Umma menangis.


" Maryam, kita bicara. Tak ada guna menghindar karena aku akan tetap di sini. " Sahut suara yang sedari tadi menunggu disisi ranjang kamar tamu itu.


" Aku masih ingin sendiri, sebentar lagi saatnya tahajud, pergilah Mas. Besok ada majlis pagi kan? "


" Kemana Aish pergi, aku yakin kamu telah membantunya, " tanyanya tak sabar.


" Aku hanya membantu anakku bernafas sejenak. Ia akan pulang, jangan mencari terlebih memaksa agar ia kembali memakai jubah emas yang sesak. "


" Apa salahku? "


" Pikirkanlah, Mas. Tanyakan pada hatimu apabila deretan kitab yang kau baca tak bisa memberikan jawabannya, " umma terhenyak dengan kalimat sarkas yang baru saja terlontar dari mulutnya.


" Tidak ada hubungannya! "


" Bukankah kau pandai dalam memberikan nasihat bagi jama'ah mu? mengapa sulit untuk sekedar mengakui bahwa kita salah? biarkan anakku melihat dunia, sekejap saja, sebelum ia kembali masuk dalam sangkar emas. Hasbi sangat tunduk kepadamu, karena ia salah satu dosenmu, terlebih bila nanti dirinya menjadi menantumu, ketaatannya padamu bisa melukai Aish lebih dalam. "


" Husnuzon, Maryam. Hasbi bukan orang dengan pikiran picik. Katakan kemana Aiswa pergi! "


" Demi Allah, aku tidak tahu, " umma bangkit melepaskan mukenahnya untuk mengambil wudhu lagi karena ia merasa jengah, dan butuh menghindar sementara dari topeng yang membuatnya menghirup udara pengap.


Umma kembali menangis, sejenak membenamkan kepalanya kedalam bak mandi, membiarkan rambut panjangnya ikut basah. Ia menahan dirinya demi sang putri, menahan segala sesaknya sejak ia menginjakkan kaki dirumah ini tepat satu tahun pernikahannya kala Hariri Salim memegang amanah Ayahnya untuk mengelola Tazkiya.


Isakan halus terdengar dari sebalik pintu. Hariri salim merasakan hatinya berdesir, rasa yang lama tak muncul kepermukaan. Malam ini ia harus kembali mengoyak dinginnya hati karena keterlenaan akan sebuah status dan gengsi.


" Cari anakku sampai dapat, periksa semua cctv dan sembunyikan sementara berita ini dari umum terutama Hasbi, " perintahnya untuk seseorang sembari melangkah keluar kamar tamu menuju ruang bacanya.


***


"Aish berhasil.... "


Notifikasi pesan masuk jam satu dini hari, terlihat di pop-up ponsel Amir dan Umma bersamaan, ditempat berbeda.


Amir terjaga menjelang jam empat subuh, berniat melakukan tahajud meski waktunya telah mepet.


Sebelum beranjak berwudhu, ia sempatkan mengambil handphone di atas kepala ranjangnya untuk di charge. Ia masih sangat mengantuk saat melihat pop-up pesan meski tak membuka aplikasinya.


" Aiswa? " mata nya mengerjap beberapa kali memastikan bahwa benar belahan jiwa nya yang berkirim pesan.


Merasa matanya tak salah lihat, Amir yang hendak membalas pesan justru malah memencet tombol panggilan karena gugup.


" Assalamu'alaikum Ka ... baru bangun ya, mau tahajud? " suara bening di seberang sana.


" Wa'alaikumussalam ... A-aish? dimana sayang eeh maaf ... kamu dimana? " astaghfirullah, aku kelepasan, semoga dia ga dengar. Batinnya

__ADS_1


" Masih dikereta, mau ke ka Amir boleh kan? Aish ga bisa tidur, ada yang ingin Aish bicarakan. "


" Semarang? Aish ga becanda kan? dengan siapa? "


" Iya, sendiri, eh dengan teman. Nanti Aish cerita, ka Amir bisa temui Aish kan nanti? "


" I-iya, pasti ... tidurlah dulu, kabari kalau sudah sampai Stasiun. Aku jemput kamu nanti yaa. "


" Syukron ka. Nanti Aish kabari bila sudah sampai ... selamat tahajud ka, jangan lupa do'akan kita, " Aish mengucapkan kalimat terakhirnya sambil tersenyum. Ia tak percaya, bisa mengatakan itu dengan sangat lancar. Hatinya berbunga sekaligus berdebar hebat karena dentum jantung yang rasanya ingin lepas dari tempatnya.


Degh. Degh. Degh. Jantung Amir berpacu cepat.


Apa katanya tadi? do'akan kita? Aiswa, maksudmu? ... dan aku malah bilang jemput? ya ampun, jemput berarti membawa dia, bawa kemana yaa?


" Jangan-jangan kamu dengar tadi waktu aku bilang sayang? " Amir mengacak rambutnya, entah ia harus bahagia atau panik akan kedatangan Aiswa.


" Baik Aiswa, setelah aku tahu apa yang terjadi, akan aku pikirkan langkah selanjutnya. "


Ya Allah bolehkan bila memanggilnya sayang? meski dia bukan untukku? sebentar saja, untuk kali ini.


Bangkitnya berjalan sembari beberapa kali meraup wajah menuju hammam untuk bersiap ibadah sebelum fajar.


***


Saat akan memejam, Aiswa kembali dikejutkan nada dering ponselnya yang lupa ia silent.


" Aish, aku cuma mau kasih kabar, Umma aman ada orangku disana, kamu tenanglah. Orangku akan menghalau sebisanya agar mereka kesulitan mencari mu. "


" Ka Dewiq, makasih banyak. " Aiswa kembali terharu.


" Jaga diri yaa, aku sayang kamu adikku. Jangan lupa ganti nomor saat tiba disana, kita berkabar via email rahasia. "


" Baik ka, miss you. "


" Buat yayang Amir saja rindu nya... ciyee, bye baby. "


Percakapan singkat itu diakhiri Aiswa dengan hati lega. Setidaknya fokus saat ini tidak bercabang antara dirinya yang kabur dengan keadaan ummanya.


Jam 6 pagi, Aiswa tiba di Stasiun Semarang. Ulfa menggandeng tangannya langsung menuju seseorang yang membawa papan nama bertuliskan Ulfara Jakarta - Sriwedari Hotel and Resort.


" This way Miss Ulfa, " ujar bell boy dan driver hotel tempat mereka menginap.


Perjalanan ditempuh dengan waktu 15 menit menuju Hotel Sriwedari, hotel bintang 5 yang Dewiq siapkan untuk mereka.


Merasa harus sangat berhati-hati, Ulfa segera melakukan check-in lalu meminta agar breakfast mereka diantarkan langsung ke kamar sembari mereka istirahat.


" Nona, istirahatlah dahulu ... aku akan mengabarkan pada nona Dewiq sekaligus melihat sekitar, nanti ada room boy yang mengantarkan kartu perdana untuk Nona. Aku mohon, jangan keluar kamar tanpa aku, apapun alasannya. "

__ADS_1


" Hem, baik ka Ulf, aku akan mandi lalu istirahat sejenak sembari men-charge ponselku, " jawab Aiswa kemudian.


***


Saat sarapan, Al Multazam.


" Ka, aku boleh pinjam mobil ga? mau jalan-jalan, " tanya Amir pada kakaknya.


" Pake Rush hitam saja yaa karena CR-V mau aku pakai dengan Buya, gimana?. "


" Pakai mobil mba saja Mir, Brio merah mba jarang dipakai. Meski interiornya ga se-luxury jazz hitam punya kamu, tapi ga malu-maluin ko kalau buat sekedar jalan sama temen-temen, " Qonita langsung mengambil kunci mobil pribadinya.


" Mana saja, yang tidak dipakai karena aku mau muterin Semarang, udah lama banget ga jalan, "


" Kalau gitu pakai punya Mba mu saja, cocok kalau mau jalan lama, body nya kecil jadi bisa nyelip kalau macet nanti. "


" Ok, makasih banyak Ka, Mba, " Amir lega, ia pun menerima kunci mobil yang Qonita sodorkan padanya.


" Mir, Abah nanyain laporan stock tuh ... kata Abah, kamu jangan tidur melulu, laporan nya ditungguin. "


" Udah ko Ka, semalam aku kirim dan aku juga udah cek email laporan dari Mas Panji tentang saham yang dipegang Naya, clear pokoknya karena aku ikut cara kerja Mas Panji yang efektif dan efisien. "


" Alhamdulillah, untung ada Mas Panji yaa, kita mana paham gituan. Kamu jangan boros, nanti CC nya aku sita lho. "


" Buya, biarin donk. Amir kan punya kebutuhan, lagian milyarder jangan pelit yaa Mir mumpung masih single, puas-puasin karena kalau sudah nikah, kamu harus prioritas kan kebutuhan keluarga mu. "


" Iya Mba ... Aku jarang pake CC, malah mau aku tutup, lebih banyak debit ko itupun kalau Abah udah transfer salaryku, hehe ... kalau hasil investasi, aman di simpan. Gimana pun, aku masih ikut dengan Abah. "


Obrolan mereka berlanjut seputar bisnis keluarga dan sebagian hasil investasi yang dikelola oleh Naya.


Kini, Amir telah kembali ke kamarnya, ia gelisah menunggu kabar dari Aiswa.


Aiswa, nanti kita jalan agar bisa bicara di tempat yang nyaman dan tenang.


" Sayang, can't wait, " lirihnya sambil tersenyum.


.


.


...______________________________...


...Aku ingin menjadi, mimpi indah dalam tidurmu......


...Aku ingin menjadi sesuatu, yang mungkin bisa kau rindu...


...Karena langkah merapuh tanpa dirimu ... Oh, karena hati t'lah letih...

__ADS_1


__ADS_2