DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 37. KECURIGAAN UMMA


__ADS_3

Tazkiya.


Kesehatan Aiswa akhir-akhir ini menurun, Umma saat ini tengah berada dikamar anak gadis kesayangannya sembari mengompres kening Aiswa yang demam dengan tangan tuanya.


" Aish, suamimu kemana? dari kemarin Umma ga lihat dia pulang. "


" Entah, Aish ga lihat handphone sudah dua hari Umma, rasanya pening dan berkunang-kunang. Mungkin dia mengabari tapi belum Aish buka pesannya, " jawabnya lirih dengan mata terpejam.


" Kamu hamil? "


" Hah? hamil gimana? di sentuh juga ga pernah. "


" Yang benar? apa kamu yang menolak dia? "


" Tidak, Aish ingat pesan ka Amir untuk berbakti pada dia meski Aish ga suka. "


" Aish, jangan menyebut nama pria lain didepannya Nak, ga elok. "


" Tidak, Umma. Hanya dalam hatiku saja, meski sejujurnya tidak boleh. Aku masih menyimpannya. " Luruh airmatanya membasahi pipi yang semakin putih saja.


Semenjak menikah, Aiswa hampir tidak pernah keluar kamar. Kesehariannya dia habiskan dengan dzikir dan ibadah. Setiap kali ditanya atau diberikan saran bahwa tidak baik beribadah berlebihan, dia hanya menjawab " Aish ingin meredam godaan nafsu yang tidak semestinya. "


Tak jarang, Aiswa melewatkan waktu makan bila tidak diingatkan. Bahkan Hasbi kerap meminta bantuan Umma untuk membujuknya.


Satu jam yang lalu dokter telah memeriksa kondisi anak Kyai terpandang itu, Aiswa di diagnosa gangguan pencernaan akut, maagnya kambuh dan di duga pelengketan di usus halus akibat jarangnya makanan yang melewati saluran pencernaannya.


Buyanya berkali mendekati, mengajaknya berbicara namun sepeti biasa, Aiswa hanya diam atau menanggapi sesekali, seperlunya. Terlebih bila ada Hasbi bersama mereka. Aiswa bagai patung hidup saja, asik dengan dunianya.


" Dimakan yaa kue buatan Umma, lalu minum obatnya. "


" Iya, kalau sudah tidak pening nanti Umma. "


Tanpa Aiswa duga, Umma menelpon Hasbi didepannya. Hal yang sangat jarang Umma lakukan meskipun Hasbi pernah meninggalkan Aiswa lebih dari satu pekan lamanya, Umma tidak ikut campur.


" Assalamu'alaikum, Nak dimana? Aiswa sakit sejak kemarin. Umma mau Safar. "


" Wa'alaikumussalam, aku di apartemen. Baru saja pulang Umma, baik aku pulang, " sahut suara diujung sana.


" Aish, Umma ingin bicara dengan kalian berdua, " sambungnya lagi.


" Tentang apa? "


" Kamu pindahlah ikut suamimu, dia mungkin canggung berada di sini, Buya adalah gurunya, sekaligus atasannya. Ahmad adalah sahabatnya sekaligus kakak iparnya. Ada batasan yang dia jaga saat ini, yaitu kamu. "


" Dia pun-ya.... "


" Punya apa? Aish, Umma tahu kamu tengah menyembunyikan sesuatu. Katakan sayang, Umma mendengarkan, jangan mengulangi lagi kejadian dulu. Jujur sama Umma, Aiswa. " Umma sudah setengah terisak.

__ADS_1


" Punya tugas lain, dia itu bukan cuma dosen di Tazkiya namun di kampus lainnya, belum termasuk mengurus usahanya juga. Dia sibuk Umma, dan aku bukan prioritasnya. "


Aiswa mencoba bangkit duduk, rasa sakit pada daerah sekitar perutnya ia abaikan. Kepala yang berdenyut tiba-tiba pun ia halau demi melihat Umma nya.


" Mana ada laki-laki yang tidak memprioritaskan istrinya, dia dulu menggebu menikahimu. Kecuali dia punya seseorang yang lebih dia cinta dari kamu. "


Umma, jangan menguatkan prasangkaku.


" Dia menikahiku hanya karena ingin melukai ka Amir. Dia tidak pernah mencintai ku pun hanya sekedar menjalankan kewajibannya sebagai suami, begitupun denganku Umma. "


" Pernikahan macam apa ini? " Suara Abuya memasuki kamar Aiswa.


" Buya, Aish sedang sakit, " cegah Umma.


" Sekalian sakitnya, sakit di dunia tak akan lebih sakit melebihi akhiratmu. Bakti pada suami harus betul-betul dari hati, ikhlas maka pahalamu mengalir, Aiswa. "


" Termasuk bila suaminya lebih mementingkan pekerjaan demi istri, begitu Buya? " Umma menimpali.


" Dia menjemput nafkah juga untuk anakmu yang keras hati ini Umma, agar hidupnya lapang. "


" Hem, benar. Seperti mu. "


" Ini sedang tidak membicarakan aku. " Serunya.


Aiswa tak ingin menggubris pertikaian kedua orang tuanya yang semakin sering terjadi tatkala menyangkut dirinya. Ia memejam sembari tangannya mengepal meremas ujung kerudungnya.


" Wa'alaikumussalam, darimana Nak? " Umma tak lagi bisa bersabar.


" Biarlah menantumu ini istirahat dulu. Kita keluar, Maryam. "


" Tidak, aku ingin bicara dengan mereka berdua, Buya saja. " Umma memalingkan wajahnya dan kini menghadap Aiswa kembali.


Hariri salim merasa kehadirannya tidak diinginkan, ia pun terpaksa pergi keluar kamar Aiswa.


" Hasbi, Nak ... darimana dua hari ini, Umma tidak ingin ikut campur namun hati seorang Ibu tidak bisa diabaikan. Umma harap kamu jujur. "


" Aku kurang paham maksud Umma. "


" Aiswa, apakah kamu memang tidak berniat menyentuhnya? bawalah dia pergi dari rumah ini, mungkin dengan begitu kalian akan menjadi lebih harmonis. "


" Aku gimana Aiswa saja, " jawabnya singkat.


" Aish? " Umma menatap wajah dengan tatapan sendu.


" Aku ikut saja, maaf Umma, Aish ga kuat duduk. "


" Pikirkan baik-baik yaa, ini demi masa depan rumah tangga kalian. Umma hanya bantu doa. "

__ADS_1


" In sya Allah, terimakasih Umma. Maaf bila aku tidak becus menjaga Aiswa, " pungkasnya.


" Temani anakku, Hasbi. Bila kamu memang hanya menjadikan dia alat, kembalikan padaku utuh, jangan merusaknya. " Umma menatap tajam sebelum ia bangkit dan keluar kamar meninggalkan mereka berdua.


Si-al, tatapannya tajam memburu, apakah Umma sudah tahu?


Setelah menutup pintu, Hasbi mendekati Aiswa yang telah berbaring memunggunginya.


" Kamu makin jadi saja Aish, jangan jadikan sakitmu ini sebagai alat agar aku mengasihani kemudian membebaskanmu. "


" Kamu sudah punya Dia, mengapa masih bertahan denganku? bukankah kamu bahagia dengannya? "


" Jangan menuduh jika tidak punya buktinya ... Kamu ingin kembali pada Amir begitu? hah, jangan mimpi. Aku akan melepaskanmu apabila dia telah menikah nanti. Biar kau tahu, rasanya sesak dan sakit. "


" Kamu sakit, benar kata Ka Naya, mental receh. "


" Sesukamulah, aku tak peduli. Yang penting tujuanku tercapai, wajar bila harus ada yang berkorban bukan? " Senyumnya menyebalkan.


" Oiya, jangan lupa, setelah kamu sembuh. Kita pindah. " Tegasnya seraya keluar kamar entah kemana lagi tujuannya.


Aiswa hanya bisa menahan segala sesaknya kini, memohon pada Robb nya agar dikuatkan dan segera terbuka semua tabir agar dirinya bisa bebas suatu hari nanti.


***


Turky.


Keluarga kecil keturunan Bangsawan Kesultanan Solo, Anggita Kusuma tengah berada dikamar anak gadis satu-satunya. Anak sulungnya bekerja sebagai arsitek di negara itu, mengikuti jejak suaminya sedangkan Aruni, menekuni dunia fashion design.


" Runi, kamu jadi pergi mengunjungi Buyutmu? Abi sudah mengizinkan asal semua obat-obatanmu dibawa, dan kamu wajib check-up begitu tiba disana nanti. "


" Jadi donk Mom, aku sudah lama ga mudik kan? sejak SMP kalau tak salah. Aku semakin sehat ko Mom, don't worry. "


" Nanti Mban Buyutmu yang akan menjemput di Bandara, kamu tinggal dimana? Joglo Buyut Danarhadi atau Wardhani? kamu baru pulih sayang. "


" Lihat nanti, aku nyaman dimana Moms. Tak sabar rasanya mencium wangi tanah basah disana. " Aruni memejamkan mata, memeluk dirinya dengan kedua tangan di dada sembari membayangkan indahnya alam pedesaan.


" Nanti kami nyusul kalau kakak dan Abi dapat cuti lumayan panjang. "


Aruni sumringah.


Indonesia, aku pulang.


.


.


...__________________________________...

__ADS_1


__ADS_2