
"Tentang apa?" ujarnya sambil menggandeng tangan Aiswa menuruni anak tangga.
"Gugatan atas pemalsuan kematianku, serta apalagi ya ... semalam ga begitu jelas, Bii," balasnya berbisik di telinga Amir kala suaminya menjeda langkah diatas undakan tangga.
"Jangan takut, semua yang Buya dan Papa angkatmu lakukan adalah legal, kita lihat saja nanti bagaimana Hasbi akan malu saat pembuktian berkas di pengadilan bila memang kasus ini akan lanjut kesana," sambung Amir ikut berbisik di telinga Aiswa.
"Benar, Bii?"
"Iya sayang, jangan dipikirkan ... cukup mikirin aku ... lagipula takkan ku biarkan dia mengusikmu lagi ... kau milikku, Aiswa ... jika dulu aku menahan diri maka kali ini tidak akan," imbuhnya menatap tegas dalam manik mata Aiswa.
"Jangan serius gini donk Bii, aku takut ... jangan lagi terluka karena aku," cicitnya menundukkan wajah.
"Engga sayang, kan aku cuma bilang bakal lindungi kamu kali ini karena kewajiban ku ... bukan marah, lagipula mana bisa aku marah sama kamu...." Amir menarik tangan Aiswa mendekati mulutnya, lalu menghujani banyak ciuman disana.
Apa yang dilakukan suaminya ini nyatanya membuat hatinya sedikit lebih tenang.
"Sudah lebih baik, sayang?"
"Iya, Bii, syukron," balasnya tersenyum manis.
"Meleleh Abang liat senyum Adek pagi ni," selorohnya.
"Lebay ah ... ayo Bii, turun."
"Aku gendong yaa."
"Engga, malu Bii ... nanti aja kalau dirumah sendiri."
"Rumah Abah sayang, aku belum punya rumah ko masih numpang ... nanti kamu yang pilih, kalau kamu mau tinggal terpisah dari rumah Abah," ujar Amir kembali menarik turun tangan Aiswa.
"Eh, iya maksudnya rumah Abah ... ga usah Bii, belum butuh kan? aku ga masalah tinggal dimana aja," jawabnya rikuh, takut menyinggung perasaan suaminya yang seketika diam.
"Bii, maaf, bukan maksud aku tadi minta rumah baru ... bii, maaf yaa," Aiswa terus saja meminta maaf meski Amir tetap menggenggam tangannya menuju halaman belakang untuk sarapan.
"Maaf apa sih, wajar donk kalau mau punya rumah sendiri aku juga memang sudah kepikiran lama," kata Amir masih tak menatap Aiswa saat keduanya melewati ruang pantry dan dapur.
"Bii, maaf ... engga ... ga mau baru, tinggal dirumah Abah aja toh ga ada yang nempatin kan? Bii, lihat aku ... maaf Bii," rengek Aiswa mulai lirih menahan tangis. Tak menyangka jika ia salah bicara mengakibatkan suaminya merasa demikian.
C-up.
__ADS_1
Amir menghentikan langkahnya, berbalik badan dan meraih wajah istrinya untuk dicium.
"Kamu lucu sih sayang, aku ga marah loh daritadi, mau masalah rumah atau dia ... kita bicara nanti tentang rumah dan lainnya, aku pengen denger pendapat kamu, sekarang sarapan dulu," belainya pada wajah Aiswa, menatap iris matanya dalam.
C-up.
"Pak, bapak sarapannya gituan yaa ... udah mulai ngumbar di tempat umum ... banyak anak kecil Pak, ga baik," celoteh Naya melihat kelakuan kakaknya didepan pintu belakang rumah.
Seruan Ibu muda itu menarik perhatian lainnya, kedua pasangan itupun akhirnya rikuh akibat perbuatan mereka.
"Nduk, kayak kamu ga ngumbar aja ... kaca mana kaca," protes Amir mendekati Naya.
"Baby, sudah ... kebiasaan ngusilin orang mulu, sini makan dulu," tegur Mahen pada istri kecilnya.
"Sukurin, pawang marah uang bulanan ga cair loh," ledek Amir berbisik.
"Yeeee, mana berani dia gitu Kak, jatah malam ferbodden tahu rasa dia," gelaknya tak kalah konyol.
"Ainnaya....!" seru Mahen mulai gemas, dia merasa tak enak hati pada yang lainnya, istri kecilnya itu memang suka seenaknya bicara jika dengan Amir.
"Haha, rasain kamu Nduk," sorak Amir menang telak kali ini, melihat Naya patuh jika Mahen sudah bertindak dengan memanggil namanya.
Sementara keluarga lainnya melihat interaksi keduanya hanya ikut tersenyum simpul melihat keakraban keluarga besan mereka itu.
"Aey, ambilkan suamimu menu, sayang," tegur Mama saat Aiswa hanya mengambilkan secangkir lemon hangat untuk Amir yang baru menarik kursi dimeja makan.
"Sebentar Ma, aku siapkan minumnya dulu."
Acara sarapan keluarga besar akhirnya berakhir jelang keluarga pamit pulang ke tanah air.
"Mir, inget visa sampai hari apa? terus ke Jakarta dulu yaa karena Buya mu ingin gelar syukuran disana," terang Abah sebelum pergi.
"Umma sudah siapkan, kalian tinggal duduk manis ... bukan resepsi, hanya syukuran saja karena Aiswa ga suka keramaian," sambung Umma.
"Iya Bah, Umma ... kita ga langsung pulang ke Jawa ko, nanti singgah dulu di Tazkiya."
"Mas, Uyut langsung balik ke Solo yaa, kamu juga habis dari Jakarta ke Solo dulu ajak Aiswa kenal dengan semua leluhurmu...." pinta Danarhadi.
"Nggih, in sya Allah kalau Aiswa ga cape Yut."
__ADS_1
"Syukuran di rumah sudah Abah atur Mir, juga surat kepindahan Aiswa jika memang mau lepas domisili Jakarta berarti nanti saat di Jakarta kamu urus dokumennya ya," sambung Abah kemudian.
"Kita balik duluan Kak," Naya meraih tangan Amir untuk di ciumnya. Disusul Mahen dan Abyan bergantian memeluknya.
"Kak, tukeran kamar ya ... dan izin renov, nanti barang kakak aku minta mang sapri tata di kamarku...." bisik Amir saat Abyan memeluknya.
"Atur aja yang rapih Mir, jadi kalau aku balik ga usah bebenah lagi," balasnya lirih di telinganya.
Ga mungkin juga kan aku pakai kamar lama, ada jejak Qiyya disana.
"Belum unboxing ya? siapkan tenaga dalam Mir, sekalian jurus baru biar terlihat beda keahliannya," tepuknya pada bahu adiknya itu sembari menahan tawa.
"Dih, ikutan rese kayak Naya," ujarnya disambut tawa Abyan.
Keluarga besarnya tak lama pamit izin pulang karena pesawat charteran mereka telah tiba. Pasangan pengantin itu hanya diizinkan mengantar kepergian mereka hingga pintu mobil yang menjemput.
"Bro, aku tadi minta tolong titip box buat kamu ke maid, buka yaa, jangan lupa anu...." seloroh Gamal berbisik.
"Apaan? tar gue buang aja ... ga mutu, Milyarder ko pelit ngasihnya gituan," balasnya telak pada Gamal disertai kekehan keduanya saat Gamal naik ke mobil.
"Pak Adnan ya? syukron sudah membantuku," sapanya saat Mahen mengenalkan keduanya.
"Adnan ikut balik dengan kita Kak, disini ada Jo dan Ulfa, dia tahu cara kerjaku karena Ulfa aku yang menariknya dalam asuhan Omah singgah," ucap Mahen.
"Afwan Den Mas, kehormatan buat aku mengenal Anda ... gigihnya sama kayak Bos," ujarnya saat berjabat tangan.
"Ternyata ... fii amanillah semuanya, kabari jika telah tiba ya.
Mobil jemputan yang membawa mereka pun melaju perlahan diantar lambaian tangan keluarga Hermana hingga lepas dari pandangan.
" Mir, biaya sekolah Aiswa biar Papa yang melanjutkan karena dari awal kan memang kami yang mengikuti keinginannya ... jika ingin tinggal disini hingga Aeyza lulus kita happy, namun jika segan pada Dewiq dan Mama, ingin menyewa rumah, Papa akan carikan ... Aeyza itu putriku, segala kebutuhannya masih menjadi tanggunganku meski statusnya adalah istrimu." Hermana Arya menepuk bahu Amir saat akan masuk kembali kerumah.
"Papa ga mendeskreditkan posisi kamu ... mengenai pekerjaanmu, bisa dilakukan by online kan? ada Naya yang meng-handle secara offline ... jadi Papa rasa dimanapun kalian tinggal ga masalah, yang penting Aeyza bahagia," tuturnya hati-hati pada menantu angkatnya.
"Iya Pa, nanti aku tanyakan lagi pada Aeyza... tentang Hasbi gimana Pa," tanyanya memastikan Aiswa dan Buya nya aman.
"Nah ayo kita bicarakan...."
.
__ADS_1
.
...________________________...