DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 230. BECAUSE YOU LOVE ME


__ADS_3

Rayyan khawatir, ia meminta Naya agar menjaga Dwi atas rencana yang ia lakukan.


"Dwi sedang berkirim pesan padaku. Renata juga menjaganya langsung ... Mba Aish serta Dewiq menghibur dia ... easy, aku menyusun ini hati-hati ko," balas Naya pada pesan Rayyan.


Dwiana malam itu juga, menangis pada kedua sahabatnya. Hanya panggilan berisi sebuah isakan. Keduanya mendengarkan dengan setia hingga ia tenang.


Begitupun Renata, wanita yang telah dilamar oleh dokter Andre bersamaan dengan Dwi yang di lamar oleh Rayyan, namun dwiana tak mengetahuinya itu menenangkan sosok gadis yang selama ini di kira teguh namun ternyata sebaliknya ketika berhadapan dengan cinta.


"Sabar, semua itu bakalan kembali menjadi milikmu jika memang itu milikmu," Renata terus mendampingi adik iparnya selama dua hari kedepan yang tengah merasakan patah hati.


...***...


Malam hari. Ballroom Luxury Hotel.


Sesungguhnya Naya sangat gugup, takut rencananya berantakan. Namun Mahen terus meyakinkan bahwa besok semua pasti berjalan dengan lancar.


Lain halnya dengan Aiswa, ia sibuk finishing kebaya yang akan Dwiana kenakan, pasalnya menurut info dari Renata, Dwi terlihat lebih kurus akibat hanya diam dan murung tiga hari ini.


"Paling susut satu senti sayang, gak akan terlihat karena kan kamu beri obi untuk ekor gaun yang menjuntai nanti," saran Amir.


"Gak juntai ko Bii, hanya Obi di lilit pita karena panjang kebaya hanya di atas mata kaki, warna krem sesuai buket bunganya. Dwi di minta Kak Naya memakai pant senada agar tak begitu curiga, nah nanti aku kasih semi ball gown untuk covered itu saat resepsi. Lengannya aku bikin agar bisa di buka hingga siku, jadi dia gak perlu ganti baju lagi namun tetap anggun dan mewah," ujar Aiswa.


"Jadi ini kebaya broken white ya? Keren, Aey, buatkan untukku ya ... Papa bilang resepsiku setelah kamu lahiran," ujar Dewiq.


"Pilih design Kak, aku udah buatkan beberapa," ucap Aiswa seraya menyerahkan buku design pada Kakak iparnya itu.


Amir juga tengah sibuk menyiapkan gaun bridemaids coklat muda, bagi keduanya yang akan dikenakan esok hari.


Tengah malam, Naya briefing akhir dengan teamnya juga Aiswa dan Dewiq. Dwiana tetap dalam pantauan Renata malam ini.


...*...


Weekend, keesokan pagi.


Istri Mahendra guna, meminta Dwi menjemputnya dahulu agar ia bisa mengulur waktu ketika semua sudah on position.


Orang tua Dwi, Mama Rayyan, Abuya, Kusuma sudah menepati meja mereka di ruangan ballroom yang telah di sekat.


"Kak, dia nikah hari ini. Aku juga ada dalam sebuah pesta pernikahan. Sanggup gak ya?" ujar Dwi saat mereka berdua telah didalam mobil menuju hotel.


"Sanggup, in sya Allah," Naya menenangkan.


Sesampainya di Hotel.


Naya melihat persiapan telah matang, Mega sudah standby juga Noni koorlap, menyatakan Ok.


"Dwi, ganti baju pakai ini. Punyaku kekecilan, sedang dituker oleh team wardrobenya, kamu dulu gih ganti, pants nya gak usah," ucap Naya menyerahkan kebaya broken white pada Dwiana. Juga sepasang sepatu stiletto berwarna keemasan.


Gadis itu terheran mengapa diberikan wardrobe seperti ini. Namun karena Naya yang meminta, ia pun menurut saja, percaya pada Bunda Maira.


Ibu muda itu mengeluarkan alat make-up miliknya. Setelah ganti baju, Dwi diajak duduk di sisi panggung.


"Jangan protes, ini agar kita lebih segar saat perform nanti. Pagi buta sudah di sini, ngantuk pula. Demi kamu, aku nyari bulu mata yang begini. Bulu mata isinya renggang begini itu susah nyarinya, tapi ketika di tempelkan pada milikmu, senatural ini hasilnya," Naya memperlihatkan hasil karyanya.


"Cakep ya Kak, gak keliatan pake palsu. Jangan menor, aku gak suka," pinta Dwi saat Naya mulai memberi eyeliner, eyeshadow juga shimmer.


Flawless.


Eyeshadow coklat dan turunannya, dengan glitter emas, dipertegas warna hitam pada ekor mata. Blush on peach juga lipstik warna merah, gradasi nu-de menghasilkan warna soft dengan kulit Dwiana.


"Ini aku?" tanya Dwi melihat hasil akhirnya.


"Non, cakep amat," sambung Mega, takjub dengan hasil tangan Naya.


"Setengah mati gue belajar make-up," Naya tersenyum puas.


Giliran rambut panjang Dwiana yang di tata. Dengan bantuan Mega, ia meluruskan rambut Dwi dengan mencatoknya lalu mengumpulkan semua rambut, di kepang mulai dari depan pada satu sisi, surainya di longgar kan perlahan agar natural lalu di ikat rendah dengan ikat rambut. Mini cepol berkepang tidak dinaikkan ke atas, melainkan dibiarkan menggantung rendah di leher bagian belakang. Dihiasi sedikit untaian bunga baby breath juga satu Rose putih.


"Yes, siap."

__ADS_1


Naya touch-up dengan setting spray dan hair spray untuk mengukuhkan hasil akhir.


Agar Dwi tak curiga, Naya membenarkan posisi hijab, bros, make up, serta kostum senada dengan Dwi, meski ia menggunakan setelan blazer warna coklat muda.


"Ok ,kita check sound dulu," pinta Naya pada Dwiana.


"Dwi, majulah ke red carpet di tengah sana karena kan kita perform on floor," Naya mengarahkan Dwiana.


"Gitu ya?"


Gadis yang sudah sangat cantik itu mengikuti arahan Naya. Ia pikir karena dirinya baru pertama kali mengisi acara wedding jadi Dwiana tak banyak protes.


Sementara di ruangan lain, tepat di sebelah mereka Amir bersiap membuka acara, setelah aba-aba dari Naya.


"On position, Dwi take a sound for a moment, video play on, now," Naya berbisik pada mini earphones yang baru dia on kan.


"Maa sya Allah."


Riuh suara hadirin di ruangan sebelah, melihat sosok cantik yang tengah berjalan menuju center Point. Dia menata kursi juga letak microphone agar sesuai dengan tinggi posisi duduk nya.


"Kamu cantik banget, Sayang."


Dwi terlihat tenang, menarik nafas panjang, memejamkan matanya sejenak lalu ia memulai petikan pada gitar akustik yang dia pegang.


"And, oh, my love. I'm holding on forever." (Aku kan bertahan) Suaranya lirih mengalun, menyesuaikan dentingan nada yang dia ambil.


"Reaching for a love that seems so far." (Merengkuh cinta yang tampak begitu jauh)


"So I say a little prayer." (Maka kupanjatkan doa)


"And hope my dreams will take me there." (Dan berharap mimpi-mimpiku kan membawaku ke sana)


"Where the skies are blue." (Ke tempat di mana langit biru)


"To see you once again." (Tuk bertemu denganmu sekali lagi)


"My love...." Dwi mengakhiri dengan petikan nada rendah pada senar gitar sebagi penutup.


"Right now, Kak Amir...." bisik Naya lagi. Sang kakak memulai lantunan ayat suci Al-Quran. Disusul khutbatul hajat. Istighfar, syahadat serta sholawat.


"Dwi, tetap disana ten minutes...." ucap Naya.


Pengeras suara bergema di seluruh Hall yang disewa Rayyan bahwa akad nikah akan dimulai. Dwi pun mendengarkan seksama. Entah mengapa jantungnya ikut berdebar.


"Bismillahirrahmanirrahim."


"Suaranya, mirip Papa."


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Rayyan Ar-rasyid bin Rayhan Atmaja dengan anak kandungku yang bernama Dwiana Rose binti Raharja Arka dengan maskawin uang senilai 1.212.120 rupiah, tunai," ucap Papa Dwiana.


"Astaghfirullah...."


"Abdi tarima nikah jeung kawinna Dwiana rose binti Raharja Arka putri kandung bapa, ku mas kawin nu disebatkeun, dibayar tunai,” Rayyan tegas menjawab dalam satu tarikan nafas, dengan bahasa Sunda.


Dwiana terpaku, mematung, kepalanya yang menunduk seketika mendongak tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Ia memindai sekitar, mencari tahu yang sebenarnya tengah terjadi.


Tampilan layar televisi besar di samping ballroom menyala, menampilkan Dokter muda Rayyan Ar-rasyid baru saja usai melafalkan ijab kabul dengan lancar.


Dalam kebingungan, Aiswa dan Dewiq datang menghampiri.


"Selamat menikah, sayang...." ucap keduanya mencium pipi Dwi, bergantian.


Dewiq meraih mic dari tangan Dwi dan menggantinya dengan buket bunga. Aiswa memasang Obi pita menjuntai, dua kali lilitan di bagian depan. Lalu mereka berdiri di belakang Dwiana.


Penyekat ruangan pun dibuka. Slide kembali diputar menampilkan sosoknya dan Rayyan bergantian dalam keseharian.


Air matanya luruh, saat suara Naya mengalun merdu.

__ADS_1


"For all those times you stood by me."


(Untuk seluruh waktumu berada di sisiku)


"For all the truth that you made me see."


(Untuk seluruh kenyataan yang kulihat karenamu)


"For all the joy you brought to my life."


(Untuk seluruh kegembiraan yang kau bawa dalam hidupku)


"Kak Naya, itu laguku ... because you Love me," lirih Dwiana bertepatan dengan Rayyan yang berdiri di hadapannya.


Pria tampan yang ia puja dalam diam, terbalut jas coklat muda senada dengan kebaya yang ia kenakan, memandangnya penuh cinta.


"Bahkan kamu bersiap dengan sempurna, kamu sangat tampan, Alien."


Mega mengatur barisan iringan Rayyan, saat akan menghampiri pengantin wanita.


"You were my strength when I was weak"


(Kaulah kekuatanku saat aku lemah)


"You were my voice when I couldn’t speak"


(Kaulah suaraku saat aku tak bisa berbicara)


"You were my eyes when I couldn’t see"


(Kaulah mataku saat aku tak bisa melihat)


"You saw the best there was in me"


(Kau melihat yang terbaik dalam diriku)


"Lifted me up when I couldn’t reach"


(Mengangkatku saat aku tak bisa meraihnya)


"You gave me faith ‘cause you believed"


(Kau memberiku keyakinan karena kau percaya)


"I’m everything I am, because you loved me."


(Aku adalah segalanya, karena kau mencintaiku)


Lelaki yang baru saja melepas masa lajang itu tak tega melihat gadis cantik yang sudah hampir goyah berdiri. Ia mempercepat langkahnya.


Grep.


"Baby, maaf. Bila semua mengejutkanmu," Rayyan memeluk wanita yang telah banjir air mata di hadapannya itu.


"Jahat, A jahat sama aku," isak Dwiana. Ia memeluk Rayyan erat.


"Maaf, maaf Sayang, maaf."


Naya menjeda, membiarkan tangis Dwiana menggema. Suasana haru kental menyelimuti ballroom pagi itu.


.


.


..._________________________...


...😭😭 dari siang baru kelar nulis, banyak iklan. Nyari lagu haha, nyari kostum juga.. kondangan yok.. over kata, trabass.......


__ADS_1



__ADS_2