
London.
Rombongan Keluarga Kusuma dengan Pasangan pemilik Tazkiya akhirnya tiba di London, tepat pukul sebelas waktu setempat. Lebih cepat satu jam dari prediksi awal.
Abah sengaja meminta Amir agar tetap di hotel dan tak menjemput mereka, sebab hanya Abah dan pasangan Hariri salim yang akan mengunjunginya di Montana Hotel. Sedangkan yang lainnya menuju Hotel yang letaknya berdekatan dengan kediaman Hermana Arya.
H. Emran dan Anggita pun akan ikut menginap di Montana Hotel, karena jarak tempuh dari Turki ke London lebih dekat bila dibandingkan dengan ke Indonesia.
Tok. Tok.
Amir yang memang sedang menunggu abahnya tiba, bergegas merapikan sajadah dan membuka pintu kamar.
"Alhamdullilah, ga nyasar kan Bah, bell boynya?" ujarnya lega saat sang ayah tiba dengan selamat.
"Alhamdulillah Mas, kamu belum tidur? baru beres witir? ... itu bingkisan apa Mas? katanya mahar kamu yang siapkan?" tanya Abah saat masuk dan melihat dua kotak dihias pita berwarna ungu doff di ujung ranjang.
"Iya Bah ... mahar udah ada, pake Euro saja ... aku kemarin beli perlengkapan sholat ... lihat clutch silver keunguan cantik jadi beli sekalian, juga disatukan dengan jam Aiswa yang belum aku kembalikan ... satunya ya kotak mahar," imbuhnya seraya menarik koper ayahnya masuk.
"Kalung dan cincin berlian juga dua stel gamis sudah Abah serahkan untuk melamar resmi ke Abuya Aiswa kemarin ... beliau bilang, kamu nitip hadiah buat Aiswa?" Abah menyodorkan kotak hitam beludru berisi gelang dengan mata berlian.
"Iya Bah, kemarin itu sebagai hadiah niatnya, juga tanda keseriusanku," sahutnya.
"Yowes nanti dibawa, pakaikan pada Aiswa setelah akad ya Mas... H. Emran bentar lagi sampai katanya udah booking kamar di lantai dua. Kalau Yai mu sebelahan dengan kita."
"Nggih, aku kesana bentar ya Bah."
"Jangan, kasihan cape, besok kan ketemu... akadnya dirumah atau dimana Mas?"
"Di rumah Bah, kemarin aku ga nanya detail juga sih," sesalnya.
"Loh gimana nanti ... ini minta disetrika sekarang Mas, kusut nih jas kamu... bener ini mau pake sarung? Abah sampe ikutan bawa sarung karena Yaimu juga pasti begitu,"
"Nanti juga mereka calling ... iya bener, jas hitam, koko putih, sarung hitam ... anak Abah ni udah cakep, mau pake apa aja juga cakep Bah," selorohnya disertai kekehan.
"Eaaaa, alay datang ... mabruk ya Mas, selalu afiat fii thoatillah wa rosul ... jadikan pernikahanmu ini kunci segala hal untuk meraih ridho-Nya," ucapnya mendekati Amir yang sedang duduk di lantai merapikan jasnya dari koper.
Amir terdiam, menundukkan kepalanya kembali. Hatinya memang gelisah sejak tadi dan berangsur tenang saat Abahnya telah tiba, terlebih akan mulai memberikan wejangan baginya.
"Jadikan Aiswa satu-satunya pasanganmu didunia hingga jannah meskipun nanti allah pasti akan memberimu banyak bidadari surga ... sabarlah jika Aish masih egois, misalnya belum ingin hamil dan lainnya jangan dipaksa, dia memang tulang rusukmu yang bengkok, ga akan pernah bisa lurus ... tugasmu menuntunnya agar tak salah arah, yo Mas," tuturnya lembut sembari duduk di tepi ranjang.
"Banyak berdoa untuk kebaikannya, mohon sama Allah agar dijaga istri dan rumah tanggamu ... terutama hatimu agar tak berpaling darinya."
"Hati hati jika akan menasehati, tundukkan kepalamu, sejajarkan tubuhmu dengannya, rendahkan suaramu dan belai kepalanya perlahan ... in sya allah manut," sambung Abah menjeda kalimat panjangnya.
__ADS_1
"Aiswa itu masih sangat muda, dibawah Naya, adikmu saja masih begitu, untung Mas Panji sabare poll ... Aiswa juga beda dengan Aruni, dia fahim ilmu jadi mungkin sesekali akan menentang karena dia paham jalurnya, tugasmu pelan-pelan memberi pemahaman yang benar meski jalurnya berbeda."
"In sya Allah Aiswa istrimu yang sholihah, kuncinya ada padamu Mas," belainya pada kepala sang putra kesayangan.
"Nggih, in sya Allah Bah, makasih banyak udah sabar sama aku ... sudah beri banyak bekal hingga semua yang aku inginkan tercapai ... maaf selalu ngerepotin, suka bikin malu dan belum bakti dengan benar sama Abah ... Mas sayang abah," balas Amir menghambur kepangkuan Abah, menumpahkan harunya.
Abah meneteskan air matanya, tugasnya nyaris selesai membawa ketiga anaknya menuju bahagia mereka. Kini hidupnya akan dia gunakan untuk bakti pada sang kakek danarhadi satu-satunya jimat sumber pahala miliknya.
"Ummi dan Abah bangga di titipin kamu yang maa sya allah, Mas... alhamdullilah," membelai wajah putranya lalu membalas pelukan Amir.
"Wes, istirahat biar besok segeran ... Abah kebawah dulu nemuin H. Emran."
Amir manut, setelah merapikan semua pakaian yang akan mereka gunakan esok hari.
...***...
Keesokan siang. Happiness Homestay, London.
Karena waktu yang sempit tak memungkinkan membuat seragam, maka Naya memutuskan agar semua wanita membawa gamis hitam karena akan dipadu dengan selendang batik sutra emas milik Queeny.
Kepunyaan Umma sudah diberikan sebelum mereka berpisah lokasi menginap. Sedangkan milik Anggita di titipkan pada Abah. Nuansa hitam emas mendominasi kali ini, pun dengan batik lengan panjang para pria.
Amir masih Abah tahan agar tetap berada dikamarnya hingga acara akan berlangsung. Dia gelisah, tak melakukan apapun membuatnya bosan.
Dering ponselnya berbunyi, tangannya bergerak cepat membuka pesan dengan hati berdebar.
"Mir, done persiapan ... Dewiq."
"Lah, gitu amat ya," sungutnya sebal.
"Aish, banyak perubahan pada dirimu, secantik apa nanti saat aku melihatmu malam ini," matanya memejam, ia menghirup nafas panjang sembari bibirnya melengkungkan sebaris senyuman membayangkan calon istrinya.
Sebelum maghrib, Abah meminta agar Amir bersiap check out dari Hotel sehingga saat mereka turun nanti, bill telah siap.
Abah menginstruksikan pada Mahen agar semua keluarga bersiap, setelah sholat maghrib, mereka pun keluar dari kamar turun menggunakan lift menuju lobby sekaligus melakukan payment.
"Ya Allah, Umma ... Mama Anggi?" sapanya terkejut saat melihat Umma dan Anggita sangat anggun tersenyum didepannya.
"Tampan bener mantu Umma, maa sya Allah."
"Mama happy Nak, jangan ragu, ayo," sapa Angggita padanya.
"Ini?"
__ADS_1
"Kejutan, ayo jangan sampai terlambat, tuh mobilnya sudah siap," sahut Buya.
"Bismillah...."
Tiga puluh menit selanjutnya, beberapa ratus meter mendekati kediaman Hermana, dirinya kembali dikejutkan dengan kehadiran dua mobil yang mengiringi di belakang mobil yang dia kendarai.
"Keluarga kita lengkap," ujar Abah mengerti jika anaknya bingung.
Amir hanya diam, berusaha menetralisir rasa haru yang mulai hadir.
Akhirnya mobil mereka terparkir berjajar. Amir keluar lebih dulu disambut Mahendra yang memeluknya pertama kali.
"Kak, selamat," dekapnya erat menepuk pundak kakak iparnya.
"Mas, makasih banyak."
"Bro, congrats yaa," giliran Gamal memeluk sepupu jauh sekaligus karibnya itu disusul Abyan.
"Mir, mabruk, kesabaran berbuah manis ya," Abyan memeluk adiknya lama, membisikkan kata maaf serta doa baginya.
Amir haru, setetes air matanya lepas saat Naya dan Maira menghambur dalam pelukannya.
"Nduk, makasih banyak ya, makasih banyak sudah mengatur semua hingga sempurna seperti ini ... Maira juga," kakak adik bagai perangko, Amir mengecup kening adik serta keponakannya itu bergantian.
"Mas, Uyut belain kesini demi kamu," ucap Danarhadi dengan suara parau karena haru menyelimuti mereka.
"Sudah, sudah ... ayo Mir," Abah menepuk lengan putranya, menggandengnya bersisian dengan Danarhadi. Beriringan diikuti oleh pasangan Hariri salim serta orang tua Aruni, dilanjutkan keluarga lainnya.
"Bismillah...."
Sementara di depan rumah telah siap menyambut dengan raut wajah berseri, Dewiq dengan Rosalie yang bersiap mengalungkan untaian bunga untuk calon mantu angkat mereka.
.
.
...____________________...
...Kelebihan kata guys, dibagi dua part yaa 😂😂...
...Mommy spill dulu dah kostum mereka....
__ADS_1