DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 62. TAK INGIN BANGUN


__ADS_3

Umma masih menyendiri di taman hingga menjelang waktu duha. Masih dengan Ahmad yang menemaninya disana. Meski keduanya larut dalam diam dengan perasaan yang berkecamuk di benak masing-masing.


Dering ponselnya berbunyi samar dari dalam tas. Umma melihat nama Buya tertera dilayar.


" Iya, " nadanya malas.


" Maryam, dokter visit sebentar lagi ... aku akan pulang karena ada majlis, kamu temani Ais ya, " Buya meminta umma kembali.


Tanpa banyak cakap, beliau bangkit dari sana, membelokkan kakinya menuju kantin rumah sakit hanya sekedar membeli makanan ringan dan air mineral untuknya nanti.


Tak ingin merepotkan siapapun, Umma bertekad akan menjaga Aiswa hanya seorang diri.


Dia anakku, satu-satunya putriku.


" Umma, aku temani yaa, " Ahmad masih mengekori bundanya.


" Pulang Kak, urus bisnismu, jangan sampai pengorbanan adik dan sahabatmu menjadi sia-sia ... hubungan runtuh, bisnis runtuh, " jawabnya dingin.


" Umma, maafkan aku. "


" Mintalah maaf pada Amir dan Aiswa ... ya Allah akankah takdir mereka bersama? " umma masih berharap.


" Amir telah menikah dengan saudara jauhnya Umma, Aiswa sudah tahu ini ... aku akan ke Cirebon lusa untuk bertemu Amir, ku harap dia memaafkanku, do'akan ya Umma ... aku pulang, malam nanti aku kembali. "


Aiswa, hatimu seteguh apa sayang. Apa yang umma bisa bantu untukmu agar tersenyum lagi, setidaknya padaku. Hanya padaku.


Umma tak menghiraukan anak sulungnya, jangan salahkan sikap acuhnya ini. Mereka telah banyak menyayat hati yang hampir lapuk karena tidak adanya siraman sayang kecuali dari sang putri.


Kamar Aiswa.


" Pulanglah, aku akan disini menemaninya sepanjang waktu. "


" Aku akan menemani Umma, " sahut Hasbi.


" Pulang saja, ada yang lebih membutuhkanmu selain Aiswa. "


" Maryam, apa maksudmu? "


" Mahasiswanya, santri, pekerjanya, kliennya ... bukankah menantumu itu seorang yang sibuk, Buya? "

__ADS_1


" Aku akan kembali setelah semua selesai, cobalah menerima Hasbi, Maryam, " bisik Hariri Salim ketika wanita yang dia nikahi berpuluh tahun itu mencium tangannya sebelum ia pamit.


" Kamu disini saja Nak, " ujarnya ada Hasbi.


" Beik, Buya. "


Setelah anak dan suaminya meninggalkan ruangan itu, hanya keheningan yang menemani keduanya.


" Pulanglah, lebih baik aku sendiri, "


" Dia istriku, jika Umma lupa. "


" Istri diatas kertas yang kamu jadikan alat untuk mencapai tujuanmu ... ingat Hasbi, bangkai yang kamu simpan, meskipun kamu beri buble wrap lalu disemprotkan wewangian, perlahan bau busuknya akan tercium juga. "


Tok. Tok.


Dokter dan beberapa suster memasuki ruangan. Kegiatan rutin tenaga medis setiap pagi untuk Observasi dan serah terima laporan kondisi pasien.


" Pembacaan diagnosa Nyonya Hasbi akan dilakukan oleh dokter internist siang ini, Nyonya Maryam. "


" Aiswa Dok, Aiswa saja ... ditangani oleh dokter? "


" Terimakasih Dokter, " balasnya seraya menganggukkan kepala bersamaan dengan rombongan suster yang meninggalkan ruangan.


Hening kembali.


" Aiswa tak akan menodai pernikahannya demi baktinya padaku ... kamu tahu itu? pernyataan cintanya yang akan dibawa mati sepertinya akan betul-betul dilakukannya. " Isak tangis umma terdengar.


Hasbi tak menanggapi, ia hanya diam memandang betapa pucat dan kuyunya wanita yang sedang terbaring diranjang rumah sakit dihadapannya.


Bibir merah yang pernah ia kecup, nampak kering mengelupas meski tak menghilangkan daya tariknya.


Kamu sangat cantik, Aiswa. Meskipun dengan kondisi demikian, kamu justru terlihat sangat ayu.


Kamu tahu, Serli entah mengapa mengagumi keteguhanmu. Kami akan punya buah hati, kau tentu sudah tahu bukan? do'akan dia yaa sebagaimana dia mendoakanmu.


Dia bahkan memintaku melepaskanmu, meminta maaf pada kalian semua. Serli, meski awalnya aku hanya menggunakan dia sebagai pelarian ku untuk melupakan Naya, nyatanya aku malah jatuh akan pesonanya.


Tiga puluh menit kemudian.

__ADS_1


" Qol-bi. "


" Ais, sayang ... bisa dengar Umma? "


" U-mma? "


" Disini, tenanglah ada Umma. " Menggenggam jemari kurus yang terbalut kulit pucat.


Hasbi hanya melihat interaksi keduanya. Mata Aiswa masih rapat terpejam, bibirnya lirih susah payah mengucap kata hingga umma harus mendekatkan telinganya ke mulut putrinya itu.


Tiba-tiba....


" Allah. "


" Ais, Aiswa ... bangun, Aiswa, jangan Nak jangan begini.... "


" Hasbi, panggil dokter! " teriak Umma.


Hasbi yang diam mematung, tergagap ketika mendengar teriakan Umma. Secepat kilat dia berlari keluar ruangan mencari dokter jaga untuk memeriksa kondisi istrinya.


" Dokter ... dokter, tolong! " serunya panik kalau melihat seorang dokter serta perawat melintas di koridor.


Ketiga orang itu bergegas menuju ruang rawat dimana Aiswa berada. Tanggap melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap kondisi terkini Aiswa.


" Maaf, Nyonya ... bisakah anda keruanganku? "


" Baik Dok. " Umma meninggalkan Aiswa disana hanya dengan menantunya Hasbi sementara ia ikut keruangan dengan sang dokter.


Setelah duduk berhadapan dengan dokter pria yang memeriksa Aiswa tadi, Umma harap cemas akan kondisi putrinya.


" Apa?! ga mungkin. " Umma histeris.


" Nyonya tenanglah, aku akan sampaikan pada dokter Laura, beliau akan visit siang ini. "


" Ais, maafkan kami.... "


.


.

__ADS_1


...______________________________...


__ADS_2