DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 124. DA3A


__ADS_3

After lunch.


Rey kembali mengetuk pintu kamar Bosnya itu.


Tok. Tok.


Sunyi.


Tidak ada sahutan dari dalam, apakah Bosnya kembali tidur atau malah telah pergi tanpa memberitahu dirinya lebih dulu.


Cklak. Naya membuka pintu.


"Masuk Bang Rey, Abang sedang makan ... baru saja bisa kembali berjalan," nadanya lemah membayangkan suaminya merasakan sakit berdenyut pada kakinya.


"Bos memang banyak berdiri dan kesana sini hampir dua puluh empat jam tanpa jeda dalam menyelesaikan kasus kemarin, karena ingin segera bertemu Anda, Nona... maaf aku tidak melaporkan ini karena beliau mengancamku tak memberikan bonus bulan ini jika mengadu pada Anda."


"Duit melulu yang dipikirkan, kau takut padanya atau padaku?"


"Sayang ... dilarang ghibah, dosa ... Rey masuk!"


"Maaf Nona," pamitnya meninggalkan Naya didepan pintu untuk masuk kedalam kamar.


"Maira tidur, jangan terlalu keras bila bicara ... lanjutkan yang tadi."


"Anak-anak membuat lawyer ini mabuk Bos, ini rekamannya...." Rey meletakkan tape recorder diatas meja makan.


"Makanlah jika kau masih lapar, Naya sedang memesan makanannya sendiri," tawarnya.


Tape recorder mulai diputar.


Terdengar percakapan antara agent wanita shadow dengan seorang pria.


"Ini profil lawyernya, dua orang Bos."


Mahen mendengarkan dengan seksama namun jarinya tak ikut diam. Setelah sendok makan dalam pinggannya telah dia tutup, dan menyingkirkan ke sisi kosong meja, tangannya meraih laptop.


Dia mencocokkan profil yang Rey dapat dengan foto aslinya. Serta memindai suara apakah memang benar tidak ada kebohongan disana.

__ADS_1


"Suaranya stabil, tidak ada peningkatan getaran frekuensi jantung secara signifikan," tuturnya menyelidiki.


"Dokumen keabsahan itu belum kami temukan Bos, mungkin dibrangkas rahasia Hermana."


Mahen tertegun saat mendengar penuturan lawyer dari recorder.


"Yang penting kini aku tahu ... bahwa kematian Aiswa yang direkayasa ini atas persetujuan Ayah kandungnya ... bilamana ada pihak yang menjegal Aiswa dengan pembohongan publik, dia akan menggunakan ini sebagai alibinya."


"Puzzle akan aku rangkai ... pantas saja ditukar, keduanya bagai kembar meski tidak identik," Mahen mengamati foto Aeyza kecil, beberapa foto candidnya dengan foto Aiswa.


"Aeyza ini sungguh misterius, ibunya menyimpan dengan rapi ... Arzu lalu menyudutkan Hariri salim atas penyesalan dirinya terhadap Aiswa."


"Bos, ini ... pindai micro cam pada bekas ruangan Aiswa, ada jejak cctv diatas sana, artinya Arzu memang mendengar semua yang dibicarakan dalam ruangan itu ... logis jika Arzu menekan Kyai agar mendukung keinginannya disertai pengakuan Aiswa yang ingin lepas."


"Jadi benar bahwa yang dilakukan Arzu adalah legal ... sh-itt, dia cerdas memanfaatkan kelengahan Kyai Hariri salim ... karena ini atas kesepakatan bersama," imbuh Mahen lagi.


"Sekarang satu lagi masalahnya, jangan sampai kakakku merebut wanita yang masih menjadi istri orang ... jika Hasbi mengetahui Aiswa masih hidup, perkara cerai karena salah satunya meninggal tidak akan berlaku kecuali memang dia sudah mengatakan talaq sebelumnya ... Rey, pindai record cctv hari sebelumnya apakah ada?"


"Anda cerdas Bos, jadi aku sudah siapkan ini juga, silakan."


Mahen mengamati rekaman potongan cctv yang Rey berikan.


"Dia Serli Oktavia, dosen sastra salah satu universitas ternama di Jakarta, lulusan yang sama dengan Hasbi di Singapura ... mereka menikah siri Bos, aku menyelidikinya hingga ke kantor catatan sipil dan mereka baru saja mendaftarkan pernikahan beberapa bulan setelah kematian Aiswa serta akte kelahiran anak mereka baru terbit ... jika dilihat dari masa perkawinan maka dipastikan pernikahan siri dilakukan sebelum dengan Aiswa."


"Wait Rey, jadi Aiswa ini istri kedua? begitu?"


Prank. Suara gelas jatuh.


"Baby, kamu gapapa? ya ampun, ko bisa begini? " Mahen menoleh ke sumber suara.


"A-a-bang, Aiswa benar masih hidup? apakah aku salah dengar?" Naya shock ditempatnya.


"Honey, kemarilah ... Rey tolong room service." Mahen menarik Naya dalam pelukan.


Sementara Rey memanggil petugas kamar untuk membersihkan juice Naya yang tumpah dia mengajak istrinya duduk diatas ranjang.


"Aku sedang menyelidiki, dan memang Aiswa masih hidup atas rekayasa seseorang yang aku kenal ... Kak Amir rupanya mengetahui hal ini juga, semua yang aku minta untuk kamu lakukan kemarin itu mengarah pada hal ini sayang, maaf yaa aku baru cerita." Mahen menggenggam tangannya, menciumnya merasa bersalah.

__ADS_1


"Sekarang gimana? apakah Aiswa telah bebas? Kak Amir akan mengejarnya, jangan sampai kakaku merebut istri orang karena Hasbi pasti tidak akan melepaskan Aiswa jika dia tahu istrinya masih hidup ... Abang please, jangan biarkan kakakku menjadi tertuduh lagi, aku ga tega...." Naya berkaca-kaca.


"Aku akan melindungi mereka berdua meski dalam diam, tenanglah sayang ... makan dulu lalu tidurlah dengan Maira ... aku ga kemana-mana hari ini, Rey juga lelah." Belainya pada wajah ayu yang masih shock atas berita ini.


Setelah menenangkan Naya yang memilih berbaring dengan Maira, Mahen kembali melanjutkan melihat rekaman yang Rey dapatkan sebelum Aiswa dinyatakan meninggal.


"Suaranya ga jelas Rey, tapi dari mimik wajah Hasbi ketika dia didepan ranjang Aiswa ... Umma, Yai, dan semua ekspresi wajah sedih disana ... aku simpulkan bahwa Hasbi sedang menjatuhkan talaq pada Aiswa ... Rey, minta Simon bersihkan suara," tuturnya lagi.


"Done, sejak kemarin dan ini adalah recordnya Bos," balas Rey dengan senyum mengembang menyodorkan handphonenya.


"Alhamdulillah, status Aiswa free ... Rey thanks a lot," Mahen puas atas kinerja Rey seperti biasanya.


"Semua bermula pada kecurigaan Anda, jika Anda tidak peka dan memintaku, maka semua ini tak akan terbuka ... seperti biasa analisa Anda selalu akurat ... tugasku selesai, izin tidur Bos." Setelah kepergian Rey, Mahen mulai menyusun semua langkah agar Amir tak lagi menjadi tertuduh. Tak lama kemudian dirinya lalu bergabung dengan kedua wanitanya yang terlelap diatas ranjang, memeluk dan menciumi keduanya.


Kak, selamat, buah kesabaran bagimu.


***


Event.


Pikirannya sangat tidak fokus maka Amir memilih duduk di bawah karpet menata stock sisa karena sore nanti mereka harus berkemas.


Aku akan memastikan satu hal penting saat tiba di Jakarta nanti. Pelan tapi pasti, Mir, jangan sampai salah langkah kembali.


Jika beliau tak mengakui, aku harus menemukan jalan lain agar kesimpulanku diterima oleh nalar beliau.


Dia kuliah dimana yaa? panitia event tidak bersedia memberitahu informasi ini karena privasi yang diminta Aiswa.


Kalau dari tujuan keberangkatan tadi, menuju Bandara Heathrow London. Artinya aku harus menyusuri semua kampus dengan program study design disana.


Amir meminta izin meminjam laptop Alex karena miliknya ada di hotel. Ia mengarahkan jarinya mengetik keyword untuk mencari tahu berapa jumlah kampus di kota itu, mencatat semua alamat dan jarak tempuh dari Bandara ke masing-masing destinasi.


Juga tak lupa melihat hotel atau penginapan yang tak jauh dari semua titik tujuan. Otaknya berpikir cepat, jika Aiswa tinggal di asrama maka akan sulit namun dia juga harus menyusuri setiap kemungkinan lokasi kost para mahasiswa dari Indonesia disekitar kampus-kampus yang akan dia tuju.


"Teguhlah Mir, perjuanganmu dimulai...."


.

__ADS_1


.


..._______________________...


__ADS_2