DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 200. TO LOVE YOU MORE


__ADS_3

Menjelang subuh, tim SAR mengevakuasi para korban. Masih belum di lakukan konferensi pers lanjutan oleh pihak Bandara terkait hal ini.


Pihak maskapai menawarkan jasa penjemputan di Bandara Singapore untuk keluarga korban atau menunggu di Soetta dalam ruangan khusus.


Hermana Arya satu persatu menilik para korban yang sudah di berikan tindakan medis hingga di satu brangkar beliau menemukan sang istri yang terbaring lemah tak sadarkan diri.


Adnan mencari Dewiq, lokasi tenda yang berbeda dengan sang ibu menyulitkannya meski pada akhirnya dia menemukan putri Mahkota Hermana Arya itu baru saja sadar.


Agent elite milik Mahen itu mendapatkan informasi dari tenaga medis lokal bahwa benturan terjadi cukup keras meski semua passenger pada saat di evakuasi masih lengkap duduk di kursi masing-masing.


Ekor dan sayap kiri pesawat patah serta retak, gelombang pasang menyelamatkan mereka. Pilot dan co-pilot cedera serius.


Adnan berkoordinasi dengan Hermana Arya agar menyiapkan peralatan medis di heli yang akan membawa mereka.


Beliau tengah mengurus segala keperluan agar dapat memindahkan istri dan anaknya segera ke rumah sakit miliknya.


Tiga jam persiapan untuk kembali sudah selesai. Shadow andalan Mahen ini meminta pada Bosnya agar kawan Ahmad dapat membantu membuka jalur bagi mereka untuk dapat terbang dan kembali.


"Ad, Ahmad bilang pakai jalur koordinat yang ku kirimkan by e-mail, untuk landing di Soetta juga sudah siap, ada Dokter Rayyan juga ambulance," jawab Mahen.


"Nona muda baru saja sadar, dia memanggil nama suaminya ... Bos bisa tolong sambungkan dengan beliau?"


"Here we go...."


Ahmad mulai bicara, semalaman dia tidak tidur, terus berkoordinasi dengan dua sahabatnya di Singapura yang memberi akses leluasa pada team shadow. Entah jika ia ikut terbang ke lokasi, semua tak akan selancar ini.


Lelaki itu dengan sabar dan lembut membisikkan beberapa kalimat panjang. Naya trenyuh mendengarnya. Ahmad tetap tenang meski istrinya dalam situasi tak menentu.


"Orang alim gitu ya, kalut tapi tetap cool bahkan bisa berpikir jernih. Aku ga sangka, koneksi Ka Ahmad boleh juga," bisik Naya pada Mahen.


"Jangan lupakan dia anak siapa, relasi bisnis serta pengalaman dia bermukim lama di luar negeri membawanya di titik sekarang, sayang ... makanya aku menahan dia disini," lirih Mahen.


"Betul, terlihat tak melakukan sesuatu namun andilnya justru yang paling berpengaruh, dan kawannya semua bukan orang sembarangan ternyata," sambung Naya.


(bab 198, narasi tengah paragraf sebelum Mahen membuka laptopnya. Ahmad menelpon beberapa kawan.)


"Mas, Papa akan terbang sesaat lagi, kawanku memberikan izin terbang di ketinggian aman mungkin tiga jam lagi mereka tiba ... Keduanya telah sadar," ujarnya lirih.


"Ok, aku akan siapkan di Soetta. Istirahat Mas karena setelah ini kita akan dihadapkan pada perawatan medis," pinta Mahen.


"Iya." Ahmad menjawab singkat, ia kembali menelpon kedua kawannya mengucapkan banyak terimakasih atas segala kemudahan akses yang diberikan untuknya.


Di dalam Heli.


"Pa, Bear?"


"Berkat dia dan team Mahendra, kamu ditemukan. Tidur Kak, agar cederamu tak parah. Mama mu luka serius namun Rayyan sudah on the spot," ujar Hermana Arya.


"Aku gak kenapa-kenapa. Hanya sangat pusing."


"Banyak kejutan menantimu di sana," bisik sang ayah.


Dewiq cedera lengan kanan, memar akibat benturan. Tangannya memakai gips sementara. Dahinya luka nampak kebiruan, kakinya lecet dan sedikit bengkak akibat terhimpit.


Fisiknya yang kuat, serta dia tahu cara melindungi diri dari hantaman membuat Dewiq tidak terluka parah.


...***...


Mansion, Tiga jam berikutnya.

__ADS_1


Amir menarik Naya ikut serta untuk menjemput keluarga Hermana. Hanya mereka yang pergi.


Mahen menarik lengan ibu muda itu hingga menabrak badan tegapnya.


"Jangan terburu-buru, lakukan rencana dengan sebaiknya. Yakin Quennaya pasti sempurna," bisik Mahen.


"Thanks Abang, aku pergi," balas Naya mengecup bibir suaminya.


Tiga puluh menit kemudian, Soetta.


Naya meminta Quennaya bersiap. Layar sudah dia sewa untuk menampilkan sesuatu. Ahmad tegang, sang Kakak menemani di sisinya. Mereka di sayap kiri landasan tempat private jet biasanya landing.


Tibalah Heli yang di tunggu, turun perlahan menyentuh Helipad. Rayyan sudah siap di ujung sana.


Hati berdebar menunggu detik-detik penumpangnya turun.


"On position ... one ... two and go...." bisik Naya di earphone. Ia pun melihat drone mulai mengudara.


Dewiq menatap sekilas landasan, tak ia sangka akan menyentuh tanah air kembali. Hingga netranya menangkap sesuatu di layar yang terpasang di tower serta gate, membuat dia menangis haru.


Layar besar di Bandara menayangkan gambar dirinya yang menangis di dalam Heli. Disusul sosok Ahmad yang menunggunya di tepian.


"Ganti slide...." lagi, Naya memberi instruksi.


Semua perjalanan cintanya dengan Ahmad. Chat lucu mereka serta saat khitbah dan umma menyematkan gelang di tangan kirinya, semua bergulir indah.


Diiringi suara Naya menyanyikan sebuah lagu yang menyentuh, mulai mengalun.


"Kamu, istriku, Marsha...." ucap Ahmad bagai announcement kala Amir mendekatkan micro mic agar Ahmad dapat bicara, di sela lagu yang Naya bawakan.


Suara pria yang dia cintai bergema di seluruh Bandara. Semua layar televisi di sana menampilkan slide ucapan ijab qabul yang Ahmad lakukan di saat dirinya masih belum di temukan.


Suasana Bandara, seakan membeku, semua melihat ke arah dimana layar menampilkan adegan romantis.


"Take me back into the arms I love ... Need me like you did before."


(Kembalikanlah aku ke dalam dekapan tanganmu yang kucinta ... butuhkanlah aku seperti dulu)


"Touch me once again, and remember when."


(Sentuh aku sekali lagi, dan ingatlah saat.)


"There was no one that you wanted more."


(Tak ada orang lain yang lebih kau inginkan.)


Suara Naya mengalun merdu, membius seisi Bandara.


Dewiq di bimbing Hermana Arya turun perlahan, juga sang istri yang langsung di susul Rayyan.


"Gila, Naya, suaranya keren, menghayati," ucap Rayyan seraya berlari.


Ahmad perlahan mendekati istrinya. Ia semakin mempercepat langkah kala melihat sang istri terlihat lemah.


"Don't go you know you will break my heart... won't love you Like i will."


(Jangan pergi, kau tahu kau kan hancurkan hatiku ... takkan mencintaimu seperti diriku."


"I'm the one who'll stay ... And you know I'll be standing here still."

__ADS_1


(Akulah yang kan terus di sini ... dan kau tahu aku kan terus di sini.)


Papa melepaskan Dewiq yang ingin menghampiri suaminya. Ia berjalan tertatih dengan air mata berderai membasahi wajahnya.


Kedua insan itu sama-sama saling merindu, mencintai namun sebuah insiden semakin mengukuhkan keduanya.


Suara Naya, sangat berpengaruh pas, saat keduanya saling memeluk.


Grep. Ahmad mendekap erat, menciumi wajah istrinya. Bertepatan dengan reff bernada tinggi yang Naya bawakan.


"I'll be waiting for you, here inside my heart."


(Aku kan menantimu, disini di dalam hatiku.)


"I'm the one who wants to love you more."


(Akulah orang yang ingin lebih mencintaimu.)


"You will see I can give you, everything you need."


(Kau kan melihat bahwa aku bisa memberimu. Segala yang kau butuhkan.)


"Let me be the one to love you more."


(Biarkan aku menjadi orang yang lebih mencintaimu.)


Di dalam Bandara, riuh tepuk tangan ribuan calon penumpang, bagai mini konser. Suasana haru sekaligus bahagia menyertai mereka. Ucapan doa serta selamat bagi keduanya bergema. Semua mata masih tertuju pada layar di setiap sudut Bandara, masih ditemani lagu yang Naya bawakan.


Para calon penumpang yang mengetahui lagu romantis To Love You More, mengikuti irama nada yang Naya bawakan, hingga terciptalah alunan suara layaknya paduan orchestra.


"Kinoy, kinoy dinara ... we miss you," teriak salah satu calon penumpang.


"Dia kinoy?... hey Kinoy, here we are...." salah satu fans Naya saat dia siaran radio dan cover live song meneriakkan nama panggung Naya beberapa kali.


"Konoooyyyyy, balik siaran cover live lagi ... Kinoy ... Kinoy ... Kinoy...." seru mereka saat Naya selesai.


Mama telah Rayyan bawa lebih dulu bersama Hermana Arya. Naya dan Amir masih menunggu keduanya, pasangan itu masih saling memeluk.


"Love you Marsha, maaf aku gak ikut nyusulin kamu ya sayang, aku mencoba segala upayaku dari sini," bisik Ahmad.


"Bear, terimakasih. Ini sangat indah," Marsha menangis.


Naya mengucapkan banyak terimakasih pada pihak Airport, waktu sepuluh menit telah ia sita. Juga memohon maaf untuk para passenger yang akan boarding, landing dan lainnya menjadi sedikit terhambat.


Quennaya, telah siap mengamankan pasangan pengantin saat akan keluar menuju parking lot area.


Amir memeluk sang adik untuk menghindari teriakan fans yang berlari menghampiri Naya saat mereka muncul di pintu gate kedatangan.


Mega dan Pras mengevakuasi Nona mudanya itu kala Naya berhenti sejenak menyapa fans nya dari Solo.


"Thanks yaa kalian masih ingat aku ... sampai jumpa lagi, hati-hati dijalan," sapa Naya ramah, menyalami bahkan memeluk beberapa gadis dan wanita yang menghampirinya.


"Kalah pamor sama adikku, fans kamu dimana-mana. Hati-hati Nduk," bisik Amir mendekap adiknya perlahan masuk ke dalam mobil.


.


.


..._______________________...

__ADS_1


...Coba seach lagunya ya biar dapat feel, to love you more... done.. sisa satu lagi... ...


__ADS_2