DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 224. GETTING CLOSER


__ADS_3

Rayyan menepi, ia mencoba melihat jarak antara lokasi kediaman Dwiana dengan titik temu saat ini.


"Astaghfirullah, hampir 45 kilometer. Wajar saja, gak ketemu. Dengan kediaman ku saja sekitar 37 kilometer. Ternyata nyarinya salah pemetaan ... eh, padahal masih dalam sekitaran kota Jakarta ya. Apa dia pakai jasa? siapa?"


Fokus Rayyan hilang saat ponselnya berdering. Ia pun menunda kecurigaannya itu dan melanjutkan perjalanan kembali.


Keseharian Dwiana masih sama. Berkutat dengan dojo dan cafe Triple R yang ia kelola bersama-sama Renata.


Tak lupa, dia juga membantu Naya menyiapkan stasiun Relay dari radio Solo tempatnya ngehost program acara cover live musik, agar dapat segera mengudara.


Hanya saja untuk saat ini, rencana program yang di dusun Mahen lebih ke sharing tentang masalah kesehatan, keseharian, parents juga healing.


...***...


Dua bulan berikutnya.


Pagi ini, Ahmad baru saja kembali dari agenda bulanan yang rutin ia lakukan semenjak menikah. Mengunjungi istrinya di London.


Saat terakhir setelah honeymoon, keduanya sepakat bahwa, hanya Ahmad yang akan datang ke sana, bukan sebaliknya.


Lusa adalah acara syukuran empat bulanan Aiswa. Sebenarnya sudah lewat sejak dua pekan yang lalu. Namun dua A baru sempat menyambangi Tazkiya setelah syukuran di Solo atas permintaan Danarhadi.


"Bii, Dwi ko gak ada kabar lagi ya? aku send e-mail cuma di baca doank ... aku pengen ketemu," keluh Aiswa saat keduanya duduk di teras.


"Nanti juga datang ko, yang penting sudah kasih kabar kan? kalau Dewiq gak mungkin balik, sebab Ahmad pulang sendiri."


"Kakak lagi super sibuk nyiapin kepulangan dia tiga bulan lagi kan? aku juga inginnya sebelum lahiran udah wisuda, tapi gak bisa ya," ucap Aiswa sedikit kecewa.


"Jangan maksain. Kan itu jika normal kuliah, sekarang kan online hanya dua sampai tiga kali seminggu ... jangan nyesel sama keputusan yang udah di ambil. Gak baik, adek denger loh," Amir mengingatkan keinginan Aiswa saat di tanya ingin menunda kehamilan atau sebaliknya.


"Bukan nyesel. Aku cuma berhayal, andai bisa." Aiswa meraih ponsel suaminya, dia sedang ketagihan main game cacing.


"Santai aja Sayang, kampusnya juga belum akan digusur dalam waktu dekat. Masih kokoh berdiri disana, jadi kalau Umma wisuda, kita jalan-jalan lagi ... adek udah lahir, gemes ya, wisudawatinya bawa baby," kekeh Amir, mengusap perut Aiswa yang mulai membuncit.


"Ehem, maaf iklan ya Pak, Bu." Ahmad bergabung dengan mereka di teras.


"Mir, tentang short trip dua minggu lagi kan? pas usia kandungan Aish lima bulan?" tanya Ahmad saat ia telah duduk dan menyerahkan draft susunan acara.

__ADS_1


"Iya, biar gak capek. Kita kemarin dari Jerman terus Dubai karena kontrak kerja. Lanjut ke Solo, sekarang ke sini. Cuma jeda waktu rata-rata dua minggu buat Aish istirahat. Alhamdulillahnya gak ada keluhan ... Aku transfer sisanya sekarang ya," ujar Amir, meminta ponsel yang sedang di mainkan Aiswa.


"Kuat banget kamu, Dek ... Gak usah, pelunasan pinjaman aja gimana? alhamdulillah aku ada. Gak apa lah tabungan menipis yang penting aku gak punya hutang. Jadi fokus lunasin ruko aja nanti. Barangkali Marsha mau make kan udah siap." Ahmad menyerahkan kuitansi pelunasan pinjaman dari Amir agar di tanda tangani.


"Gimana gak kuat, gue kan rajin ngajak olahraga dua-duanya," Amir tertawa. Aiswa tak menanggapi karena kini ia sibuk berkirim pesan dengan Naya.


"Olahraga? .... setdah, gue lola mulu," kesal Ahmad melempar map pada sahabat rasa adik ipar nya itu.


"Bener nih, gak mau uang?" tanya Amir di sela tawanya.


"Iya, lillah gue. Rezeki sebab memudahkan urusan orang lain. Menunaikan kewajiban membayar hutang, pasti Allah ganti ko ... ayo sign," pinta Ahmad serius.


"Honeymoon tiap bulan, berat ongkos ya?" sindir Amir.


"Ya gimana lagi, masih tiga bulan ke depan kan dia balik sini. CoAss disini, alhamdulillah disetujui. Semoga gue lekas nyusul dah, menabur bibit melulu, kapan tumbuhnya," seloroh Ahmad.


"Nabur kan kudu di siramin, kalau cuma nebar doank lalu di tinggal ya gersang," balas Amir tertawa lagi.


"Kebiasaan Lu, dah ah, lama-lama bisa panas gue di sini." Ahmad bangkit hendak masuk kembali ke dalam rumah.


"Dek, sehat-sehat ya kamu punya laki agak anu," imbuh Ahmad mengusap kepala Aiswa yang masih menunduk.


"Boy, jangan kayak buapakmu nanti ya kalau udah gede," sambungnya lagi, ingin mengelus perut adiknya.


"Duh, jangan pegang yang bukan miliknya," Amir menggulung map lalu di pukulkan ke tangan kiri Ahmad saat ia hendak mengelus perut Aiswa.


"Pelit, dia adek gue."


"Punya gue itu. Lagian tetep aja, Lu laki," sungut Amir tak terima ada yang menyentuh Aiswa selain dirinya.


"Bii, kebiasaan. Ribut melulu sama kakak. Kata Kak Naya, bulan depan mau launching radio ya?"


"Hah, jadi? Maa sya Allah Mas Panji, ada aja jalannya mancing rezeki," kagum Amir pada adik iparnya, begitu memanjakan Naya.


"Satu dua sama Qolbi, Syukron Bii ... pulang yuk, Bii ... mau makan siang pake empal asem, Haji Mahmud," rengek Aiswa.


"Hmm, muji ada maunya. Pulang ke Jawa terus habis makan balik sini lagi ya? 230 kilometer cuma buat makan siang, Rohi, bener-bener ya."

__ADS_1


Aiswa hanya tersenyum menanggapi keluhan suaminya.


"Yassalam, kuat banget kalian ya kalau urusan beginian ... kemon yuk," ajak Amir berniat membawa mereka ke warung cabang yang dimaksud namun masih sekitaran Jakarta.


Yang penting sama. Gak usah bilang, Mir.


...***...


Siang Hari, Cipayung.


Dwi membaca e-mail dari Aiswa pagi tadi dan baru sempat membalasnya siang ini.


"In sya Allah, aku datang mau ngelus keponakanku," balas Dwi.


"Wiq, balik ga? gue minta tolong sama Lo, jangan lacak IP gue. Please, berikan gue kesempatan, cinta kasih kalian hingga saat ini masih modal kuat bagi gue untuk bangkit." Dwiana selalu mengingatkan hal yang sama pada Dewiq. Mahen bilang, karena Ulfa bisa menemukan posisinya kini.


Setelahnya ia berkirim pesan pada Naya. Wanita cantik itu pernah mengatakan bahwa ia mempunyai satu ruangan rahasia yang membantunya melatih emosi juga penenangan jiwa.


"Kak, ajari aku. Sudah tujuh kali pertemuan dengan dokter kan. Beliau bilang aku banyak kemajuan. Aku juga ingin mengikuti jejak Kak Naya," tulisnya.


"Sure, besok pagi ya, setelah sarapan. Jam Maira tidur, kita relaksasi ala aku," balas Naya.


Dwiana sudah banyak berubah. Metode yang psikolognya gunakan adalah sharing, hypno sound, fisioterapi untuk relaksasi otot dan syaraf serta sugesti positif.


Gadis yang semakin cantik karena merubah sedikit demi sedikit gaya berbusananya berkat Renata, kian percaya diri. Senyumnya lebih sering terlihat.


"Mba, Kak, Aiswa, Dewiq dan kamu ... thanks," lirih Dwiana mengusap galery di gawai miliknya.


.


.


...__________________________...


...Ketika mommy sharing dengan seorang ahli, ternyata setiap ibu dan anak berpotensi mempunyai luka. Bentakan, cubitan, kata-kata kasar, yang terjadi berulang sedikit banyak berpengaruh dalam membentuk karakter....


...Setelah bincang kurang lebih dua jam itu, mommy simpulkan bahwa, jangankan punya masa kecil kelam, keseharian saja jika sang Bunda stress, ini juga berpotensi menaruh luka bagi anak....

__ADS_1


...Bukan hanya anak, sikon dari pasangan pun juga demikian. Kompleks memang mengenai emosi dan jiwa ibu anak. Bahkan sedikit yang menyadari bahwa healing/me time itu penting. Siapapun kita, jika dihadapkan pada konseling... ternyata ketahuan, punya luka. Namun, kekuatan mental seseorang menentukan dia peka atau tidak. Bisa menyembuhkan dirinya sendiri atau justru butuh bantuan. Who knows... Sehat lah wahai Ibu, jiwa raga... luv ❤😘...


__ADS_2