DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 50. SEMUANYA KEPO


__ADS_3

Amir menarik tangan Aruni, keluar dari sana setelah pamit tergesa pada Gamal saat Hasbi mendesaknya.


Ia tak suka, memilih menghindar sebab sahabatnya itu seperti masih mencari celah untuk mengusik hidupnya.


" Kak, sa-kit. " Cicitnya lirih.


Amir yang tanpa sadar menggenggam jemari Aruni, sontak melepaskan cekalannya begitu saja.


" Eh, maaf, sejak kapan aku pegang tangan kamu? " lepasnya kasar.


" Duh, ga sopan. " Aruni tak terima, tangannya telah dihempaskan kencang.


" Ma-af, mana yang sakit? " tariknya pada jemari lentik itu. Amir lupa, bahwa Aruni bukan mahramnya saking khawatir gadis itu terluka karenanya.


" Ga usah, " tepisnya lagi.


" Dek, maaf. " Amir mengekori Aruni yang melengos pergi meninggalkannya menuju mobil mereka.


Merasa tahu tujuan akhir gadis itu adalah mobil Brio merah Qonita yang ia pakai, Amir menyalakan remote agar pintu mobil itu bisa Aruni buka.


Brugh. Dia menutup kencang pintu mobil.


" Ya ampun, salahku. " Amir menelpon Mban agar segera menuju mobilnya, ia tak ingin hanya berdua pergi dengan Aruni meski butuh ruang untuk meminta maaf atas kejadian tadi.


" Udah donk. Kan aku udah minta maaf. "


" Qiyya, ga asik aah, kamu diem melulu. " Amir masih gigih membujuknya saat dirinya telah duduk dibalik kemudi.


Parfumnya merk apa sih, nyandu banget. Adem, kek orangnya meski kadang macam kulkas, dingin dan kaku.


" Kita makan di mana? Dek, ya ampun. Mba bantuin bujuk donk, atau Mba pilihkan tempat makan deh ... Qiyya belum makan tadi, nanti maagnya kambuh. " Tanya Amir melirik pada Mban dari kaca spion dalam.


Aseekk, dia manggil aku Dek lagi. Eh, tapi aku bahagia dia begini, macam ketakutan pacarnya ngambek, lanjutin drama dulu aah.


Dia tahu aku punya maag? meski sudah lama ga kambuhan. Kakak, jangan terlalu bersikap manis padaku, bisa diabetes aku atau kena penyakit jantung karena detaknya kian tak normal.


" Roro Runi suka soto lamongan, disini dimana tempatnya Den? "


" Aku tahu yang enak di pertigaan lampu merah didepan, kita kesana yaa. " Amir langsung tancap gas menuju kedai yang dimaksud.


Karena datang saat jam makan siang, kedai telah penuh ketika mereka tiba, dan harus menunggu giliran untuk masuk kesana.


" Ugh. " Satu kata lirih yang keluar dari bibir Aruni, membuat Amir kian khawatir.


Padahal Aruni tengah tertidur menyandarkan kepalanya ke sisi kiri menempel pada kaca pintu.


" Pindah tempat yaa, Mba dia suka menu apalagi semenjak pulang ke sini? " tanyanya tak sabar sembari memundurkan mobilnya.

__ADS_1


" Soto Kudus dan sate ... meski Roro kurang suka dengan yang dibakar memakai arang, tapi jika terdesak dia akan tetap makan. "


Amir kembali melajukan mobilnya menuju lokasi kedua. Beruntung, kedai masih ada tempat kosong untuk mereka makan siang.


" Qiyya, turun yuk. Udah dulu ngambeknya, nanti boleh lanjutin lagi kalau sudah makan, biar kuat ngambek sampai lusa. "


Mban terkekeh di kursi belakang. " Roro Runi bobok Den Mas, bukan ngambek. "


" Hah? jadi daritadi dia tidur? ck, aku kena prank, lagipula cepet amat dia tidur. "


" Dia lembur sejak tiga hari lalu, begadang selesaikan baju yang Den Mas pake hari ini. Jarinya kena tusuk jarum, lumayan dalam dan ada yang tergores, beberapa kali. Perhatikan saja Den Mas, " jelas Mban.


Amir menilik lebih dekat, benar saja, beberapa titik goresan luka masih berwarna merah terdapat di ketiga jarinya, pantas saja tadi dia mengeluh sakit. Ternyata dia penyebabnya, couplean yang mereka kenakan telah membuat jemari lentik itu terluka.


" Mba tolong bangunkan dia ya, aku pesan kedalam. "


Setelah Amir masuk dan memilih meja disebelah kanan dari pintu masuk, Aruni dan Mba menyusulnya.


" Kirain kita pulang, makan dirumah, " keluhnya saat duduk dimeja masih dengan wajah mengantuk.


" Pilihan Mba, makan dulu atau aku minta Mba suapin kamu. "


" Ck, lebay, ga usah. Aku masih kuat kalau cuma angkat sendok. " Rutuknya kesal.


Ketiganya makan dalam diam, hingga Amir teringat Hasbi mengapa bisa kenal dengan Aruni.


" Qiyya, kamu kenal dengan pria tadi? ko dia tahu kamu, " selidiknya.


Aruni memasuki paviliun samping kediaman Abyan, beristirahat disana. Sementara Amir langsung masuk ke kamarnya, menunaikan sholat dzuhur dan berniat tidur sejenak. Namun semua rencananya hanya dalam angan, Abah mengetuk pintu kamarnya.


Tok. Tok.


" Mir, Abah boleh masuk? "


" Fadhol, Bah, " jawabnya sembari melipat sajadah.


" Darimana? tadi Hasbi bilang apa sama kamu, narik Aruni sampai kasar begitu. Dia sahabat Gamal juga? " cecar Abah.


" Makan, kita ga sempet makan disana tadi. Hasbi sahabat Gamal saat S2 di Singapura, dia tahu Qiyya, dan temannya sempat menggodanya saat di Soetta ... Hasbi itu sudah menikah Bah, harusnya dia menghormati Aish kan, mengajaknya serta bukan malah pergi sendiri dan berkenalan dengan gadis lain. " Runutnya setengah emosi.


" Qiyya? " Abah tersenyum sementara Amir menunduk malu. Abahnya memang peka.


" Mas ... jangan kelamaan ngumpulin dosa yang seharusnya bisa di cegah. "


" Aku tidak. " Abah manggil Mas, duh aku tahu aku salah Bah, tadi pegang tangannya.


" Kamu itu, sadarnya suka lama. Sejak kapan panggil Qiyya? " Maksud Abah apa, Amir menanggapi apa. (oleng kapten)

__ADS_1


" Bah, ngantuk. Bobo yaa. "


" Pantes kakakmu suka marah, kamu kalau diajak serius suka gini, persis Naya suka ngeles ... hmm, kamu dan Qiyya bukan mahram, Mas. "


" Aku butuh alasan dan petunjuk, in sya Allah aku akan sampaikan pada Abah siapa yang akan aku pilih. "


Amir paham, Abahnya meminta jawaban atas permintaan beberapa teman Kyai beliau yang menginginkan dirinya menjadi menantu mereka, beberapa hari lalu via pesan.


" Belum ada yang condong? foto 3 gadis itu tak adakah yang menyentuh qolbumu Mas? "


" Belum, nanti ya Bah, acara Gamal dulu lah, lalu aku ingin umroh, semoga ada kemantapan selepas dari sana. " Inilah penyebab hatinya gundah beberapa hari. (bab 49)


" Abah sampaikan dulu ini ya Nak, gih istirahat ... jangan kasih harapan sama Runi jika tidak ada niat ya, Mas. "


" Nggih, " lirihnya. Dia bimbang, beberapa hari ini ada sosok siluet yang selalu hadir dalam mimpinya, berhijab.


Amir menghampiri siluet gadis yang duduk menekuk kakinya dibawah pohon, terdengar tangisan pilu disertai kalimat putus asa bahwa waktunya sebentar lagi.


" Siapa dia? ya Allah apakah ini petunjuk darimu agar aku bisa membahagiakan dia yang kelak menjadi istriku? "


Qiyya? ... ataukah Aishwa? ah, ga mungkin kan.


Sementara di Paviliun.


" Aruni, lagi apa? " Qonita menghampiri, ia punya misi dari suaminya untuk mencari tahu tentang gadis itu.


" Lagi browsing mau ikutan lomba Mba, aku butuh asah mental... biar ga mudah down. "


" Maa sya Allah, keren. Sudah lama nge design? Buyut bilang couplean kalian bikin sendiri ya? cantik Runi, buatkan untuk resepsi Gamal juga donk. "


" Iya sejak high school, SMA mungkin disini ... terimakasih Mba, kemarin ka Amir yang milih style nya. "


" Amir itu lembut, sabar, ga bisa marah apalagi sama perempuan, ngalah ... kecuali sudah sangat sakit, dia baru akan melawan. "


" Sosok idola, apalagi kakak juga hafiz pasti jadi incaran mantu para Kyai. Beruntung yang jadi istrinya ya Mba, " Aruni menerawang.


" Memang Runi ga mau jadi istrinya? "


" Mau lah, cewek bodoh yang ga cinta sama dia, apalagi kalau dia manggil Dek, rasanya aku kayak udah jadi pacarnya aja. "


Qonita tersenyum penuh arti saat melihat ekspresi cerah wajah gadis ayu didepannya.


" Eh ... ma-af Mba, itu hm maksudnya.... " Aruni kelepasan, ia kikuk.


" Gak apa, wajar dan normal. " Masih tersenyum seraya melihat koleksi design Aruni. Misi selesai, batinnya.


.

__ADS_1


.


..._________________________...


__ADS_2