
"What, Arzu, serius?" Rayyan shock. Ia tahu jika Dewiq hanya menganggapnya sebagai teman sejawat, tak lebih. Namun niatannya untuk mendekati gadis itu nampaknya harus ia urungkan mengingat pernyataan dari sang putra sulung pemilik Tazkiya sudah terlontar didepan semua orang.
"Aku," Dewiq terdiam melihat pada Ahmad.
"Dilarang saling tatap," sindir Umma menyadarkan keduanya.
"Tuan Hermana, setelah ini kami ingin meminta waktu anda sejenak untuk membicarakan perihal khitbah anakku untuk putri sulung Anda," ujar Buya menjelaskan keinginan Ahmad.
"Baik Yai, alhamdulillah," balasnya sumringah, keinginan serta doa yang gencar ia panjatkan nampaknya Allah akan mengabulkannya. Ia ingin mendapatkan menantu yang paham agama agar dapat membawa keluarganya tak sekedar menikmati kelimpahan rezeki didunia namun kelak di akhirat nanti.
"Pa," tegur Dewiq kurang suka dengan keputusan ayahnya.
"Nak Dewiq, mufakat belum dicapai, hanya obrolan biasa ... jika keberatan, boleh menolak ko disertai alasan yang jelas," umma menenangkan Dewiq yang gelisah.
"Begitu ya, tapi waktu Aeyza? eh, maaf." Dewiq kelepasan.
"Kami yang salah maka tak ingin lagi mengulang hal demikian." Tandas Buya.
"Ayo, mari makan lagi ... ini dua orang asik sendiri aja, Mir, Aish ... ya ampun, sana masuk kalau mau begitu," tegur Umma melihat keduanya asik sendiri.
Pasangan pengantin yang merasa ditegur akhirnya menghentikan aksi mereka. Padahal Amir hanya menyeka jejak saus salad di sudut bibir dan pipi Aiswa, menghapus noda lemon tea yang sedikit menetes di hijab akibat ulahnya yang terburu melepas gelas sebelum tangan istrinya menerima sempurna.
"Maaf Umma," cicit Aiswa.
"Masuk yuk," ajak Amir
"Hetdah bukannya berhenti malah mau lanjut didalam," sergah Dwiana.
"Sirik tanda pengen," balas Aiswa seraya bangkit dari duduk.
"Kami duluan ya, sudah selesai mau lanjut dhuha lalu menyelesaikan bil ghoib 5 juz lagi, hadiahku untuknya," jawab Amir meluruskan.
"Serah dah mau apa, halal," cebik Ahmad tak kalah usil.
"Yee, ngebet juga akhirnya," kekeh Amir sambil bangkit menyerahkan piring kotor mereka ke tangan Aiswa yang sudah berdiri.
Setelah meletakkan peralatan kotornya didapur, Aiswa masuk ke kamarnya lagi.
"Bii, tungguin...."
"Pelan Rohi, katanya masih nyeri," tegurnya melihat Aiswa tergesa menuju bathroom.
"Iya masih, sedikit."
Setelah melakukan dhuha dan masih diatas sajadah, Amir meminta istrinya membuka laci dimeja nakas samping tempat tidur.
"Ini apa Bii, dua amplop?" Tanya Aiswa.
__ADS_1
"Pakai ya, sesuai syarat darimu," Amir menyematkan cincin di jari manis Aiswa begitupun dengannya.
"Ini, untuk Ahmad, aku meminjamkan tabunganku agar dia bebas dari Hasbi sayang, maaf ya baru cerita," Amir menceritakan semuanya pada Aiswa.
"Bii, ini sudah jalan kita ya berarti, dan Qolbi masih saja berbaik hati pada kami," tatapnya kagum pada sosok ini.
"Karena kamu, kebaikan umma juga khidmah pada Yai yang menggugahku, jangan bilang pada mereka ya sayang, cukup kita berdua saja dan Ahmad yang tahu ini ... aku ga akan sembunyikan apapun dari mu, tapi maaf telah mengambil keputusan sepihak tentang ini tanpa musyawarah denganmu dulu karena ini menyangkut harga diri pria dan nama baik Ahmad didepan Buya, semoga kamu paham ya sayang," tuturnya lembut.
Aiswa hanya memandangi wajah tampan suaminya, maa sya Allah, dia sangat beruntung bisa bersama lelaki ini.
"Ko liatinnya gitu?"
"Aku sayang Qolbi, sangat ... jangan duakan aku," pintanya pilu.
"Astaghfirullah, innalillahi, kamu su'udzon sama aku sayang? in sya Allah engga, minta sama Allah yaa, agar kita dijaga dari jeratan nafsu ... sini," Amir memeluk istrinya yang sudah terisak, entah perasaan apa yang menyelimuti hatinya namun ia sadar bahwa pembuktian atas cintanya mungkin belum membuat yakin padanya.
Sementara di ruang baca.
Kecuali Dwiana dan Rayyan, sekumpulan orang dewasa sedang mencari mufakat.
"Aku masih kuliah, masih lama dan takut Kak Ahmad tak sanggup menungguku."
"Jikalau kakak ada rasa dengan Nak Ahmad, utarakan saja, agar beliau tenang ... mau menikah dulu atau menunda punya momongan juga kan bisa, melanjutkan kuliah seperti Aeyza," saran Mama lembut.
"Aku, ingin mengenal Kakak dulu, boleh?" cicitnya malu.
"Biasanya berapa lama?" Imbuh Hermana Arya.
"Tergantung mereka, satu sampai tiga bulan?" Tawar Buya pada Dewiq, dan diangguki samar gadis yang tertunduk dihadapannya.
Dewiq mendadak menjadi pemalu sejak berhadapan dengan Ahmad di dapur lalu, ia merasa insecure berdekatan dengannya sekaligus dorongan keinginan untuk mengenal lebih dekat terkadang muncul.
Ahmad hanya memandang penuh arti pada gadisnya, menumbuhkan keyakinan dihati bahwa pilihannya tepat.
"Astaghfirullah," Ahmad terkejut kala Umma meraup wajahnya.
"Dibilangin, jaga pandangan, susahnya!" Tegur Umma menggelengkan kepala.
"Jaga nafsu Kak, jika kamu ga bisa merendam, puasa sana, sholat." Seru Buya menimpali sementara Ahmad menyentuh pelipisnya yang tak gatal.
Dia cantik banget kalau pakai hijab, duh, lama ya ga bisa langsung gitu.
"Baik, kita sepakat ya sesuai izin Dewiq dalam masa itu dilarang menjalin hubungan dengan pria atau wanita lainnya, betul begitu Yai?" Tanya Hermana Arya lagi.
"Betul ... sebagai tanda keseriusan Ahmad, kami mengikat Nona Dewiq dengan ini," Buya meminta Maryam memakaikan gelang pada tangan kiri Dewiq.
"Sini sayang, diterima ya, jikalau pun kalian gagal bersama, kami tak akan meminta kembali benda ini...."
__ADS_1
"Makasih Umma," Dewiq mencium tangan wanita bersahaja dihadapannya.
Hariri salim lalu memanjatkan doa khitbah diamini semua yang ada didalam ruangan. Setelah mufakat, keluarga Hermana pamit karena akan mengurus gugatan Hasbi.
"Nomer kamu?"
"Minta sama Aeyza aja ya Kak, Assalamu'alaikum." Lirihnya sambil lalu mengikuti orang tuanya.
***
Hermana Grup. Dua Jam kemudian.
Setelah mengantar keluarganya pulang ke mansion dan menerima khitbah untuk putrinya, hati Hermana Arya berbunga. Ia menyelesaikan membaca semua file dengan ringan hingga saat team lawyer Hasbi datang ke kantor nya sore hari, dia pun telah siap.
"Silakan dibaca semua dokumen yang kami punya lalu simpulkan, apakah akan melanjutkan ke pengadilan atau sebaliknya." Pungkas Hermana menyerahkan tumpukan dokumen diatas meja pada team lawyer Hasbi.
Ketiga pria kompeten itu mengamati, menelusuri dan menyimpulkan setelah satu jam berdiskusi.
"Kami mundur, semua legal ... tidak ada pemalsuan dokumen, semua masih tercatat atas nama Aiswa Fajri bahkan paspor, visa, juga identitas mahasiswanya," ujar pimpinan team.
Hermana memang tidak mengubah dokumen otentik Aiswa, hanya menambahkan alias sebutan Aeyza dibeberapa dokumen tak formal seperti kampusnya.
"Aku ingin meminta ganti rugi atas perbuatan tidak menyenangkan terhadap Hermana Grup."
"Sampaikan pada Hasbi, datanglah sendiri menghadapku atau aku akan ajukan gugatan perdata padanya."
Ketiga lawyer itu menerima surat somasi balik untuk pimpinan mereka.
*
Kantor Hasbi. Menjelang Maghrib.
Ketiga lawyer yang dia utus telah kembali, mendiskusikan masalah sore tadi dengannya dikantor.
"Apa! ... legal?"
"Benar Pak, semua legal, ini salinannya," salah satu lawyer menyerahkan berkas padanya.
"Beliau meminta Anda datang langsung, Pak atau akan dimasukkan gugatan perdata."
"F*uck.....!" amuknya melemparkan semua berkas dari atas meja.
.
.
...___________________________...
__ADS_1