
Amir masih terpaku di tempatnya, memandangi ponselnya yang telah mati akibat panggilan yang diputuskan sepihak oleh wanita diseberang sana.
" Siapa dia? apakah dia yang membantu Aiswa kabur dulu? Ul-fa, eh dia sih bodyguard yaa lagipula ia tahu aku. Bukan, bukan Ulfa, mungkin majikannya, " gumamnya.
Dan Hasbi, mengapa ia menyebutnya dengan pria breng-sek?
" Ustadz, ko ngelamun? sudah mau pulang? " tegur seorang guru yang melihatnya termenung lama.
" Oh Na'am Kang, ana pamit duluan. "
Amir terus menundukkan pandangannya saat dirinya keluar dari kantor berpapasan dengan beberapa asatidzah hingga tiba di parkiran Aula depan MA Al Islah.
Baru saja akan membuka pintu mobil, tak ia dapati benda itu di saku celananya. Sadar kuncinya tertinggal di meja kerja saat ia akan meraihnya tapi malah mengangkat panggilan masuk tadi.
Dalam perjalanannya kembali ke kantor. Amir tak sengaja mendengar perbincangan sesama ustadz yang tengah asik menggunjingkan sesuatu.
" Kabarnya keponakan Yai akan di khitbah oleh pria dari negara tetangga. "
" Mereka akan bertemu sore nanti, semoga kali ini tidak terjadi lagi hal serupa. "
" Ana kira bakalan dengan Ustadz Amir ... pantas saja bukan orang sini. Kalau orang sini, tentulah mana mau dengannya. Cantik sih, pintar, dan santun tapi mitosnya seram. "
" Mana boleh, kan ustadzah Qonita itu paham. Kalau bukan ponakan Yai, belum tentu ada jodohnya yaa. "
" Ehheemmm ... asik bener nih ustadz ngobrolnya, " tegur Amir melewati mereka. Tampak keterkejutan tercetak jelas di masing-masing wajah yang tengah asik berghibah ria.
" Tadz, antum ga merasa bila ponakan Yai menaruh suka? "
" Siapa? " jawab Amir.
" Almahyra. Kabarnya akan di khitbah oleh pria dari negara tetangga. Sepertinya dia tidak mencari tahu lebih dulu mitos tentang Almahyra. "
" Mitos? mitos apa? " Amir heran, selalu mitos yang dibahas.
" Mitos tentang sumpah serapah seseorang yang menaruh dendam pada kedua orang tua Almahyra, kalimat nya bagai kutukan. Bahwa.... "
" Astaghfirullah, doyan ya tadz ghibah. " Suara kepala sekolah membubarkan kerumunan di meja salah satu guru.
" Ya akhi, jangan didengarkan. Lanjut saja bilamana hatimu teguh. Serahkan pada Allah. " pungkasnya.
" Afwan, bukan ana yang akan memulai proses khitbah. Ana pamit Ustadz. " Amir menggelengkan kepala melewati mereka dan kembali menuruni tangga menuju lantai dasar untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Amir mengetukkan jarinya diatas stir mobil saat ia berhenti di lampu merah.
" Nanti sore, Alma akan bertemu dengan calon nya. "
Degh.
" Gamal? apakah Alma akan bertemu dengan Gamal? astaghfirullah bodohnya aku baru menyadari kata-kata Alma tentang pria dari negara tetangga. Dan Gamal bilang, gadis itu calon sarjana sastra Arab sekaligus ponakan pemilik sebuah pesantren. Ya Allah.... " Amir meraup wajah kasar, dikejutkan oleh suara klakson mobil dibelakangnya tanda lampu telah hijau.
Ia pun memutuskan melakukan panggilan handsfree.
" Assalamu'alaikum, dimana? " tanya Amir saat panggilannya tersambung.
__ADS_1
" Rumah, mau siap-siap. Jadi nemenin aku kan? "
" Kayaknya ga bisa Mal, aku ada kegiatan menambah hafalan ku. "
" Gimana donk Mir, kamu udah janji lho. "
" Aku ga janji, cuma bilang akan aku usahakan. Pergilah sendiri, toh dia dengan bibi dan sahabatnya, di Paviliun pesantren kan? "
" Iya sih. Ok deh, aku kabarin hasilnya yaa, sekalian mampir ke Multazam. "
"Ya khayr, fadhol. "
Hatinya mulai tak tenang, mitos hingga berujung kutukan? Amir jadi penasaran dengan semua ini.
Sesampainya dirumah, dirinya langsung mencari keberadaan Qonita.
" Mba, Mba. Dimana? "
" Dapur Mir, " sahut kakak iparnya itu.
" Mba, mitos apa? Alma. " Nafasnya terengah.
" Ga usah dibahas, pergi bersih-bersih dulu gih lalu makan, sebentar lagi kakakmu pulang. "
" Engga, bilang dulu. " Paksanya.
" Mir, sudah ku bilang jangan mencari tahu. " Suara Abyan tak suka.
" Lalu? bila Gamal menaruh suka pada Alma, apakah dia akan mendengarkan mu? jangan menyulut api permusuhan lagi sebab wanita, Mir. "
" Aku tidak, hanya ingin tahu. "
" Bukan urusanmu ... sayang, kita makan sekarang, tolong siapkan, " pintanya pada Qonita yang sedari tadi diam.
" Duduk dan makan. Kakak akan ceritakan nanti, tapi janji dulu. "
" Janji apa ka? "
" Ya nanti, kalau kamu sudah tenang. "
Amir hanya mendengus kesal. Kebiasaan kakaknya yang kaku semakin membuatnya jengah. Tak sabar rasanya ingin segera berakhir kewajiban mengajar di Al Islah agar dirinya dapat segera terbang ke tanah suci dengan uyut tercinta.
***
Ditempat lain, Jakarta.
Aiswa telah kembali ke rumah orang tuanya setelah menginap beberapa hari di Hotel. Ia meminta pada suaminya agar tetap bersama Umma, paling tidak hatinya lebih tenang karena Hasbi tak akan berani berbuat macam-macam padanya.
" Ini kamar kalian, sudah Umma rapikan. " Aiswa akan menempati kamar paviliun.
" Kangen kamarku yang dulu. "
"Jangan Aish, kasihan suamimu nanti canggung bila satu rumah dengan kami, " tolak Umma halus.
__ADS_1
" Engga apa-apa ko Umma, aku nyaman dimana saja Aish ingin tinggal. " Hasbi berusaha menengahi berharap Aiswa perlahan membuka hati sebab ia mengikuti segala kemauannya.
Umma nampak menimbang, lama.
" Ya sudah, boleh. Sana masuk kamarmu. " Senyum Aiswa seketika terbit, tak lupa mengecup pipi Umma kesayangannya sambil berlari masuk ke dalam rumah.
" Sayang, beresin bajunya nanti lagi yaa. " Hasbi menaruh kopernya sembarang ketika masuk kekamar mereka.
Seperti biasanya, Aiswa bergeming. Hasbi melangkah mendekat ke sisi ranjang dimana istrinya tengah berbaring menelungkupkan wajahnya.
" Sampai kapan begini? disini ga ada sofa, aku tidur denganmu ya. " Belainya di kepala Aiswa.
" Terserah. "
" Jangan salahkan aku nanti Aish. "
" Bilang saja maumu, akan aku kabulkan. "
" Baik, aku ingin memilikimu seutuhnya saat ini. "
Aiswa membalikan badannya lalu ia duduk menghadap suaminya itu. Perlahan hijabnya ia buka, mengurai rambut hitam panjangnya, mahkota yang selama satu pekan ini tak pernah ia perlihatkan meski pada suaminya.
Hasbi menatapnya takjub, jemarinya terulur membelai wajah putih mulus itu, menyelipkan surai panjangnya ke belakang telinga.
Cup.
Kecupnya pelan pada bibir Aiswa, menahan tangan gadis itu yang hendak membuka kancing atas gamisnya.
" Biar aku. " Matanya telah diselimuti kabut gairah namun Aiswa justru menutup rapat tak ingin melihat apa yang akan dilakukan suaminya itu terhadap tubuhnya.
Hasbi semakin mendekap erat, perlahan ia merebahkan kembali tubuh istrinya, meng-ecupi, mengabsen setiap inci wajah ayunya tanpa ada yang terlewat.
Tubuh Aiswa bergetar menahan gelombang rasa yang asing, hati dan otaknya mengatakan tidak namun berbeda dengan reaksi tubuhnya.
" Lihat, tubuhmu menginginkannya bukan? relakan untukku, " bisik Hasbi di telinga Aiswa seraya tangannya mulai meraba salah satu benda kenyal yang masih terbungkus rapi itu, sedikit memberikan re-masan kecil yang sontak kian membuat tubuh kaku itu kian menegang.
Sebaris bening luruh dari netra yang memejam membasahi pipinya.
" Bukalah matamu sayang. "
Aiswa semakin terisak.
" Lupakan. " Hasbi menarik tubuhnya yang menghimpit, merapikan kembali kemeja yang sempat kusut lalu meninggalkan Aiswa dengan tangis lirihnya.
Hasbi keluar rumah dengan wajah datar tanpa ekspresi.
" Aku kesana. " Tulis pesannya bersamaan dengan tangan yang membuka pintu mobil.
.
.
...____________________________...
__ADS_1