
"Angela ... aku merindumu lagi."
Tujuh tahun yang lalu.
Aku berkenalan dengan seorang gadis bernama Angela Wilson, adik kelasku saat high school menemani papa bertugas menjadi seorang dokter spesialis kejiwaan di rumah sakit Central Melbourne, Australia.
Dia adalah gadis yang ceria, energik, tomboy dan apa adanya. Satu satunya teman wanita yang aku punya sejak kepindahanku, dia cinta pertamaku.
Aku begitu terkesan dengan Angela karena kejujuran sikapnya diantara berpuluh gadis yang mendekatiku yang selalu saja dihiasi kepura-puraan. Rasa itu ku biarkan tumbuh hingga menghasilkan jutaan bunga yang memenuhi kebun cinta dalam relung hati.
"My angela, besok aku akan mengunjungimu ya, membawakan bunga lily kesukaanmu ... rasanya sudah lama sekali aku tak menginjakkan kaki disini sejak kejadian itu."
"Lusa adalah hari peringatan kematian papa, meskipun jasadnya tak dikebumikan disini namun banyak kenangan manis bersama beliau di negara ini, kota yang sama kala aku mengenalmu."
Memancing bersepeda mendaki gunung hingga selancar. Rayyan sangat menikmati masa remajanya bersama sang papa sebelum vonis penyakit itu datang.
Papa menyendiri, merasa dirinya tak lagi berguna karena kelumpuhan akibat cedera tulang belakang yang sering ia abaikan. Papa divonis paralisis, gangguan syaraf yang berfungsi mengatur gerakan otot tubuh. Beliau pernah mengalami cedera tulang belakang karena hobinya mendaki serta olah raga ekstrem lainnya.
Mama pun dilarang menemuinya, alasannya malu karena seorang Rayhan Atmaja yang dikenal aktif energik dan romantis kini lumpuh dan harus menghabiskan sisa hidupnya dikursi roda.
Papa adalah dokter kejiwaan namun tak sanggup menata jiwanya agar tetap waras. Keputusasaan Papa akhirnya membawanya pada penurunan semangat untuk hidup. Tak lagi melakukan upaya medis seperti fisioterapi, okupasi, ataupun mengkonsumsi obat hingga stress berat menderanya.
Mama nekad datang diam-diam mengunjungi kami disini setelah enam bulan Papa melarang menjenguk.
Enam bulan setelahnya, terus berjibaku dengan rasa malu serta putus asa, Papa akhirnya berpulang di pangkuan Mama. Di hari itulah duniaku runtuh, aku limbung kehilangan sosok idola yang selama ini merangkulku.
Karena kami tiada sanak saudara disini akhirnya Mama memintaku ikut pulang. Meninggalkan negara ini, meninggalkan cintaku, meninggalkan Angela tanpa penjelasan.
Aku melupakannya sejenak untuk menata hati karena rasa sesal yang tak peka mengenali gejala saat Papa sering mengeluh sakit. Ku pikir beliau adalah seorang dokter yang pasti aware atas kondisinya, namun aku salah.
Penyesalan inilah yang membawaku menempuh jalur pendidikan dokter. Rayyan Ar-rasyid, dokter spesialis syaraf, karena tergugah ingin mengetahui secara detail penyebab sakit Papa.
Ditahun ketiga Papa berpulang, aku mengingat Angela kembali. Memberanikan diri mengikis jarak dari London ke Australia bergegas untuk menemuinya, berharap dia memaafkanku dan bersedia ikut denganku melanjutkan hubungan kami, merajut masa depan bersama.
Namun sayang, gadis yang kucari telah berpulang, ia menderita leukemia yang tak disadarinya.
Duniaku kembali hancur, pujaan hati yang terlupakan kini benar-benar meninggalkanku. Aku tak sanggup membayangkan betapa rasa sakit kala penyakit itu menggerogoti tubuhnya namun aku tak ada disisinya.
"Kamu tahu Angela, betapa aku sulit melupakanmu kala itu, tujuh tahun yang lalu ... gadis yang seakan mempunyai mesin waktunya sendiri tak mengenal lelah menjalani hari yang berat, sekolah sekaligus bekerja di sebuah cafe untuk biaya hidupnya yang terbuang di panti asuhan."
__ADS_1
"Maafkan aku meninggalkanmu sendirian disini, maafkan aku pernah melupakanmu, Angela Wilson...."
Rayyan memandang pekatnya langit Melbourne malam ini. Angin dingin mulai menyentuh pori kulitnya yang putih bersih, menyapu bulir bening yang masih saja hinggap kala mengingatnya, mengenang cintanya pada seorang gadis bernama Angela Wilson.
Dia bagai Dwiana.
Tak merasakan kasih sayang, selalu sendiri menjalani harinya, namun tetap energik dan ceria. Bila Angela lemah lembut, lain halnya Dwiana, selalu saja bermulut pedas.
Degh.
"Dwiana?"
"Apa kabarnya kamu bocah, semoga baik saja meskipun jauh dari keluarga ... yakinlah bahwa kamu tak pernah sendiri, Tuhan pasti akan mengirimkan pelindung untuk mu suatu saat nanti."
Kring. Kring.
Panggilan masuk ke ponselnya.
"Arzu?"
"Dokter Rayyan, kamu dimana?"
"Aussie, why?"
"Bukan, aku mengunjungi kenangan Papa ku juga seseorang disini, aku sedang cuti ... jangan menggangguku, ada apa?"
"Aku meminta rekomendasi untuk fisioterapi disini donk, aku kurang percaya jika tak mendapat rekomen oleh yang ahli di sesama bidang, kamu lebih tahu kondisi Mamaku."
"Dokter Darren Anderson, seniorku."
"Yang wanita ga adakah?"
"Duh siapa ya, nanti akan aku carikan ya ... kamu mengganggu nostalgia ku, Arzu!" sergahnya jengkel.
"Daripada nostalgia ga jelas, mending bantu aku agar tak khawatir mumpung kamu disana karena aku ga percaya bila meminta bantuan orang lain ... kebetulan yang indah bukan?"
"Kebetulan apa?"
"Kamu di Perth, Sidney, Melbourne, Darwin?"
__ADS_1
"Ck kepo, aku ga ingin diganggu, sudah tanya nya?"
"Come on, dimana? aku meminta bantuan yang berhubungan dengan nyawa," pinta Dewiq diujung sana khawatir akan kondisi Dwiana.
"What, who?"
"Dwiana ... she's in Melbourne ... there were no obvious warning signs that she was sick until that day." (Dia di Melbourne, padahal tidak ada tanda bahwa dia saat itu_ke Indo_ sedang sakit.)
"So?"
"She stayed for a third day and the pain was even worse ... please kamu kunjungi dia jika sempat atau kamu kirimkan seseorang untuk memeriksanya ... i beg you." (Dia bertahan disana hingga tiga hari namun sakitnya malah semakin parah)
"Address? I'll try and i will visit her tomorrow, maybe." (Akan aku coba dan mungkin mengunjunginya esok)
"Ring Rosetta, studio flat A 2nd floor, Melbourne, jangan besok, segera ... Aeyza bilang siang tadi dia masih sangat lemas ... come on Dokter Rayyan, i beg you please...." (Ayolah Dokter Rayyan, ku mohon)
"Disini pukul dua belas malam Arzu, beberapa jam lagi pagi, sabarlah ... aku ngantuk, bye."
Rayyan menutup sepihak panggilan dari Dewiq. Dirinya lalu mengecek jarak antar apartemen Dwiana dengan lokasinya kini. Dekat, hanya dua puluh menit dari sini.
"Cuti ku terganggu ... aku akan melihatmu dulu Dwi, memastikan kau baik saja lalu aku akan mengunjungi Angela."
*
Apartemen Dwiana.
Gubrak.
Tubuhnya oleng sebab pandangan yang berkunang. Pot bunga di atas rak bukunya pecah berserakan dilantai akibat tak sengaja tersenggol saat dia berusaha menahan badannya agar tak jatuh.
Suhu tubuhnya naik turun dan panas itu datang kembali. Bibirnya sepucat mayat, badannya gemetar namun ia haus, sangat haus. Botol minumnya kosong, ia kehabisan tenaga untuk mengisinya. Hingga terpaksa saat ini berjalan perlahan menuju lemari pendingin berharap air sejuk dapat meredam panas dari dalam tubuh. Membasahi kerongkongan yang bagai tanah tandus negara Euthopia.
"Ha-us, Tuhan, jangan biarkan aku ma-ti dalam kesendirian," air matanya luruh, panas membasahi wajahnya.
"Ali-en...."
Brugh.
.
__ADS_1
.
..._________________________...