DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAN 215. LELAKI KUSUMA VS TAZKIYA


__ADS_3

Ba'da Isya.


Masih terdengar suara riuh di ruang keluarga, artinya Hasbi belum kembali. Tiga puluh menit kemudian, suasana hunian mulai lengang.


Abah mengetuk pintu kamar Aiswa.


"Nduk, makan malam. Abah temani, Amir masih di luar," ucap Abah lembut di depan pintu kamar menantunya itu.


Aiswa yang mendengar suara ayah mertuanya, menaruh mushaf di atas meja lalu melepaskan mukena dan keluar kamar. Tak lupa kaos kaki juga sandal bulu ungu membalut kaki putihnya.


"Abah tadi belum makan, sengaja nunggu Aish," imbuh Abah setelah melihat Aiswa membuka pintu.


"Qolbi udah ya, Bah," tanya Aiswa.


"Sudah, bareng Uyut juga tamu tadi. Kan gak enak kalau kurang ngormatin, Nduk," jelas Abah.


"Nggih, gak apa. Aku ngerti ko," senyum Aiswa muncul.


"Jo, suplemen mantuku mana? tolong ya, Nduk," pinta Abah pada Joanna.


Bukannya Aiswa yang meladeni Sang mertua makan, malah kebalikannya. Abah yang melayani menantunya itu.


"Jangan Bah, Aish bisa."


"Kata Amir, kamu kalau makan masih suka pakai tangan kiri. Sini, Abah suapin. Naya juga kalau di Solo, di sini, itu Abah suapin meski ada suaminya," ujar Abah.


"Gak usah. Aish bisa, bisa in sya Allah. Maunya cuma di suapi Qolbi," cicit Aiswa.


"Lah, lupa ya. Lagi demen ama laki sendiri. Monggo Nduk, makan ya. Inget Adek bayi meski gak ingin makan harus dipaksakan," Abah hanya menyiapkan menu di pinggan Aiswa lalu membiarkan menantu ayunya makan sendiri.


Sejujurnya Aiswa malu. Keluarga Kusuma, semua prianya santun, lembut memperlakukan istri mereka bahkan romantis. Ternyata ini sifat dari Abah, bahkan lembut hingga ke menantunya.


Tak lama kemudian Amir dan uyut masuk bergabung dengan mereka.


"Sini Sayang, aku suapi," Amir mengambil sendok dari tangan kanan Aiswa. Makanannya masih banyak, karena ia masih sangat berusaha membiasakan tangan kanannya.


"Maaf ya, aku makan duluan tadi," ujar Amir.


"He em, gak apa."


"Nduk, nanti ngupat di Solo ya. Pokoknya kalau mau apa-apa kudu sama Uyut," pinta Danarhadi.


Keduanya hanya mengangguk, namun Abah melayangkan protes karena Aiswa itu putri Tazkiya yang juga punya banyak peran penting di keluarganya, gak bisa di kuasai oleh Kusuma.


Meninggalkan perdebatan di meja makan, Aiswa di ajak Amir duduk di ruang keluarga. Seraya menyerahkan ponselnya untuk menelpon Ahmad.

__ADS_1


Tuut. Tuut.


"Halo, Mir. Gue baru aja rebahan mau call kamu, panjang umur," ujar Ahmad diujung sana.


"Kakak, ini Aish lah. Bukan Qolbi," balas Aiswa.


"Dek, ngapain pake hape laki Lu? gak punya pulsa, minta Amir noh, jangan pelit ama bini tar rezeki seret loh ... gih," cibir Ahmad.


"Yeeee mana ada, Qolbi gak pernah pelit. Aish mau tanya ... kalau hitungkan budget buat jalan-jalan dalam kota bisa gak? pulau deng, ke Bandung gitu, short trip atau Semarang, Jogja?"


"Untuk?"


"Qiswa dan Queeny, 30 orang All in. Belum keluarga, kalau mau dibawa semua sekitar 40 berarti, 3 lokasi ... 3 hari 2 malam," ujar Aiswa.


"Nanti aku hitungkan ya, buru-buru gak?"


"Dua hari ya kak, kabari aku. Untuk setelah empat bulanan aku, kata Qolbi syukurannya sekalian ngajak karyawan ... dah ya, gitu aja. Qolbi mau bicara, hang on...." Aiswa menyerahkan kembali ponselnya pada Amir.


"Mad, serius itu yang Aish bilang. Aku emang punya niatan begitu ... sekarang dimana? rumah atau kantor?"


"Ok, nanti aku draft besok ... di Rumah. Mir, enaknya gimana?"


"Ya cari posisi enak lah," kekeh Amir, dihadiahi cubitan Aiswa.


"Sakit, Sayang."


"Resiko punya bini jauh."


"Gimana donk Mir, gue serba salah. Kasihan sama Marsha tapi gak bisa melarang akhirnya aku diem maksudnya sih biar dia mikir gitu yaa eh malah dia nyangka kalau aku ngizinin sebab diamnya aku ... dia nangis loh Mir, aku gak tega tapi pikirku, pelajaran. Mengutamakan suami daripada ego," Ahmad akhirnya bercerita.


"Marsha?"


"Lah, Lu manggil adek gue, Rohi. Itu panggilan sayang gue lah ke dia," jelas Ahmad lagi.


"Oh kirain ban serep, karena yang asli jauh," canda Amir.


"Enak aja, emangnya Lu, punya ban serep?" sergah Ahmad.


Amir hanya tertawa sebelum menanggapi keluhan sahabatnya itu. Sedangkan Aiswa justru menunduk.


"Yang sekarang kan jauh lebih mahal, kualitas wahid, mulus pula tanpa cela," balas Amir. Mengangkat wajah istrinya, lalu menjauhkan ponsel dan mengecup lembut bibir Aiswa.


"Love you umma," bisik Amir sangat lirih.


Senyum istrinya kembali terbit, suaminya ini memang pandai membuat hati yang cemburu kembali tenang.

__ADS_1


"Oh jadi ini salah paham?" Amir meneruskan obrolan, menarik Aiswa dalam pelukannya.


"Kayaknya gitu. Tapi aku emosi saat itu, Mir ... rasanya gak masuk akal aja. Masa seminggu di rumah sakit. Dia masih lemah langsung pulang. Mana orang tuanya gak melarang pula," emosi Ahmad mulai datang lagi.


"Belum tentu, bisa jadi mereka menahan diri Mad. Gak ikut campur urusan kalian ... kuncinya ada sama kamu berarti ini, kamu merenung dah. Apa yang salah, jangan cuma mau mikirin unboxing doank," Amir tergelak di ikuti Aiswa.


"Dek, jangan ikut-ikutan laki Lu," tegur Ahmad karena mendengar tawa Aiswa.


"Qolbi bener loh Kak, apa yang mendasari kakak berbuat begitu? coba samakan dulu posisi kakak dengan kak Dewiq, bagaimana rasanya dilema antara memilih suami yang ngebet unboxing dengan ujian sekolahnya?" balas Aiswa.


"Salahku, Dek, Mir?"


"Bukan, maksud aku dan Qolbi. Kakak renungi dulu ... rasakan juga kegundahan kak Dewiq sebagai seorang istri dan anak ... gitu loh," sambung Aiswa.


"Payah Lu, pinteran adeknya segala-gala...." Amir menciumi pucuk kepala Aiswa.


"Ya gue kan baru kenal cewek, Mir, yasalam...." keluh Ahmad lagi.


"Kakak, ngeles mulu ih. Qolbi juga sama, kan kenal aku sekilas jaman dulu. Sama Mba Runi juga kan pasti Qolbi mempelajari sifat dan wataknya juga. Maksud kita, kakak paham gak sifat ka Dewiq itu macam mana?" imbuh Aiswa gemas.


"Lagi bebal, Sayang. Ahmad gak nyambung," ejek Amir lagi.


"Enak aja Lu ... gue ngerti. Jadi nanti gimana solusinya, Mir, Aish?"


"Simpulkan dulu deh versi kakak gimana, Qolbi dan aku cuma pendengar," ucap Aiswa lagi.


"Mad, pantesnya yang jadi kakak itu istri aku," Amir tertawa diikuti Ahmad.


"Ya Allah iya ya, gue ketutup mata hati. Kalian, makasih ya ... coba gue renungi dulu deh. Gini amat ya Mir, baru kawin boro anget malah dingin," kesal Ahmad menyadari kebodohannya.


Amir dan Aiswa hanya tertawa menanggapi keluhan kakaknya. Persis abege baru jatuh cinta.


"Kak, cerdas jangan cuma untuk menyampaikan ilmu saja atau bisnis. Tapi cerdas mengerti wanita, terutama istri memang butuh belajar dan peka. Aku yakin kakak paham," pungkas Aiswa.


"Syukron, Dek. Gih sana layani suamimu," suruhnya pada Aiswa.


"Gak di suruh lagi dia mah nyodorin tiap saat, Mad. Dibilang, adeknya lebih pinter segala-gala. Dah ah, mau ngelonin anak gue dulu...."


"Ngelonin? belum lahir woy ... eeehhh, setdah. Dasar bambaaaaaang...." teriak Ahmad di iringi tawa Amir yang memutus panggilan.


.


.


..._________________________...

__ADS_1


...Minim pedekate, di bilangin, susah amat sih Mad Ahmad 😌...


__ADS_2