
Solo.
Siang berlalu begitu saja, Abyan telah tiba menjelang Ashar namun karena kondisi Qonita sedang hamil muda. Mereka memilih beristirahat sebelum bercengkrama dengan keluarga besar.
Malam menjelang. Ba'da isya.
Penghuni Joglo Ageng kediaman Danarhadi telah masuk ke kamar masing-masing setelah Abah memberi wejangan panjang pada Abyan dan Amir tentang bagaimana cara membantu istri baik saat menjalani kehamilan, menjelang ataupun setelah persalinan.
Abah tahu, anaknya sudah paham apa yang akan dilakukan. Namun tetap saja, sebagai orang tua, dirinya merasa wajib terus mengingatkan agar anak lelakinya mempunyai peranan yang baik dalam rumah tangga mereka.
Dikamar dua A.
Aiswa hanya berbaring dikamar setelah aksi mereka berdua siang tadi. Dia mengaku lelah sebab mules yang kini dirasakan, intervalnya kian dekat.
"Bii, gak enak perut. Begah, gimana ya?" ujar Aiswa merasakan gelombang rasa yang tak ia mengerti. Susah nafas, hingga sesak saat berbaring. Meski suaminya itu tak henti mengusap punggung seraya murajo'ah agar ia merasa nyaman.
"Mau lahir kayaknya nih, getaran cinta dari adek makin intens ... ke rumah sakit yuk," ajak Amir bangun dari posisi rebahannya.
"Masa? belum mules kenceng tapinya. Apa cara tadi siang itu gak efektif ya Bii?"
Amir hanya tertawa menanggapi keluhan istrinya disaat jelang kelahiran.
"Kamu terlalu semangat, Sayang. Mau aja di sugesti hal begitu. Aku sih Ok kamu ngajakin apa juga, cuma apa iya nyaman gitu, boro enak ya Rohi," ia kembali tertawa mengingat keluguan Aiswa.
"Ish, aku justru gak konsen Bii, takut lahir pas gituan. Maaf ya Bii, gak ada rasa jadinya," Aiswa tertawa lepas, diiringi suaminya.
"Eror nih anak Umma. Kepinteran, diajarin siapa?"
"Qolbi lah, siapa lagi," jawab Aiswa disela tawanya. Hampir tengah malam keduanya masih asik bercanda hingga....
"Bii," keluh Aiswa menahan nafas seraya menghirup nafas pendek. Ia berusaha bangun, duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Bismillah, tenang Rohi. Jangan panik, tarik nafas. Baca hana waladat ya," kecupnya di semua bagian wajah Aiswa lalu membantunya berdiri, memakaikan hijab untuk menutup aurat istrinya itu.
Ibu hamil berusia diatas dua puluh tahun itu mengikuti arahan suaminya meski ia tahu, lelaki itupun gelisah bahkan khawatir.
Amir mulai menghitung dengan stop watch pada ponselnya, jarak interval mules yang wanita ini rasakan. Bibirnya tak lepas melantunkan Al-insyirah, memeluk Aiswa yang berdiri di sisi ranjang seraya meniupkan ke kandungan istrinya.
"Yuk, jalan bisa gak Sayang?" tanya Amir pelan.
"Bisa, Bii."
Baru beberapa langkah.
"Sebentar," dia menahan langkah Aiswa ketika calon ibu itu menggenggam kuat lengan suaminya. Istrinya kontraksi.
__ADS_1
"Kamu hebat, Sayang." Setelah mereda, Amir memberi kecupan, pelukan seraya menuntun langkah pelan keluar kamar untuk menuju rumah sakit.
Abah yang masih terjaga dengan Kusno kalani terkejut mendapati kedua anaknya berjalan perlahan, sesekali berhenti karena Aiswa menahan sakit akibat kontraksi.
"Pak, siap jalan. Kerumah sakit," seru Abah pada kedua pria yang tengah duduk bersamanya tadi. Lelaki berusia lebih dari setengah abad itu menuruni tangga pendopo, dan membuka pintu mobil belakang.
"Nduk, pelan-pelan," ucap Abah saat membantu Amir, memapah menantunya masuk dan duduk di kursi belakang.
"Nggih, syukron Abah," ucap Aiswa pada mertuanya.
"Gengser, in sya Allah." Lelaki sepuh itu mengusap kepala menantunya, memberikan bekal doa. (lancar, mudah)
"Mir, hati-hati. Temani Aish ya, jangan dilepas pandangan. Abah nyusul dengan uyutmu," pesannya pada sangat putra.
"Nggih, Bah. Aku duluan ya. Tasnya ketinggalan tapi kalau Abah mau nyusulin, tolong bawakan," pintanya saat akan menutup pintu mobil.
"Uyut sudah telpon rumah sakit, di sana sudah siap ... iya, Abah bawakan sekarang ... jalan duluan Pak," titah Abah pada driver juga patwal.
Kusno masuk kedalam mengambil travel bag yang Amir siapkan diruang keluarga saat melihat majikannya itu tak menyeret koper keperluan kelahiran putranya.
Danarhadi yang mendengar keriuhan diluar kamarnya. Bergegas meminta agar Kusno menyiapkan Alphard miliknya keluar dari garasi untuk mengikuti dua A ke rumah sakit.
"Kek, aku kedalam dulu."
"Buruan Sesa, cicit ku mau lahir itu. Aku mau lihat yang pertama kali."
"Maksud ku gak gitu, sana cepat. Tausiah mulu," kesal uyut. Dia sudah tak sabar ingin segera menyusul mereka.
Jalanan menjadi lebih lengang saat patwal melintas. Malam minggu biasanya daerah protokol ramai sebab banyak anak muda kongkow. Berkat persiapan matang buyut mereka, mobil yang dipakai Aiswa meluncur cepat membelah jalanan Solo.
Rumah sakit.
Beberapa suster dan seorang dokter sudah berjaga didepan pintu IGD Solo hospitals Medica saat BMW S-Class hitam milik Tumenggung Danarhadi berhenti tepat didepan muka gedung.
Suster sigap membantu Aiswa turun. Namun sang Nyonya Zaidi, hanya ingin di papah oleh suaminya.
"Pelan, Sayang. Kalau masih mampu jalan, boleh," bisik Amir yang diangguki dokter.
"Gak apa Bu, pelan saja. Ini sudah teratur ya kontraksinya," tanya dokter saat membantu Aiswa berjalan.
"Iya, Dok. Alhamdulillah," ucap Aiswa disela tarikan nafas.
Setelah mencapai bilik, dokter menyarankan agar Aiswa berbaring karena akan dilakukan pemeriksaan bukaan jalan lahir.
"Cek dulu ya," pinta dokter.
__ADS_1
"Bii," lirihnya menarik ujung kemeja sang suami.
"Iya, Sayang. Aku gak kemana-mana, di sini. Baca terus Rohi, jangan putus," bisik Amir ditelinga Aiswa. Ia pun sama, membasahi lisannya dengan untaian doa dan kalimat Allah. Mengusap peluh, memberikan kecupan juga belaian di perut Aiswa.
"Bii, ngilu, nyeri," keluh Aiswa saat dokter melakukan pemeriksaan.
"Sabar, kita mau ketemu Adek bentar lagi," Amir memeluk, memberikan bahunya untuk sandaran kepala Aiswa saat menahan nyeri.
"Bapaknya siaga banget ini, adeknya bentar lagi lahir, bukaannya nyaris lengkap." Dokter merapikan kembali pakaian pasien, lalu meminta suster menyiapkan kamar bersalin di lantai dua.
"Alhamdulillah, Bi-ii ... hanna waladat maryam wa maryamu waladat ‘iisaa ukhruj ayyuhal mauluud biqudrotil malikil ma’buud...." Aiswa terus mengucapkan doa. Ia pun teringat sesuatu. Lalu meminta menelpon umma pada Amir yang sama sibuk membasahi lisan dengan dzikir.
Tuut. Tuut.
Dering ketiga, Umma mengangkat panggilannya.
"Ya Mir? assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam ... qUmma, maafin Aish ... saa-kiit, Bii, Umma, sa-kiit ... maaf-in Aish ya...." rintih putri bungsu Hariri salim.
Amir terus mengusap perut Aiswa, membisikkan doa serta mengajak bayinya bicara agar tak terlalu lama ibunya menahan sakit.
Hosh. Aiswa terengah mengatur nafas.
"Hana waladat, Sayang. Umma do'ain Aish dari sini ya, Aish anak Umma yang kuat ... hebat, sabar ya Nak ... in sya Allah lancar, Aish bisa meski tanpa Umma, ada Amir kan di sana, Sayang. Tabah ya, Umma redho sama Aish...." Maryam menahan isak, dia sedih, bangga menjadi satu. Sang putri melahirkan tanpa kehadirannya.
"Doa-in, maafin Aish Umma. Assalamu'alaikum," Aiswa memilih memutus panggilan, dia akan menangis bila terlalu lama bicara.
Kini Ia mengalihkan panggilan ke Mama Rosalie, juga Anggita.
"Ma, do'ain Aey ya. I-ni mau lahir-an," ucap Aiswa terbata saat panggilannya telah tersambung.
Kedua ibu tak langsungnya itu mendoakan dirinya agar lancar menjalani persalinan. Terlebih Anggita yang antusias dan semangat memberikan support bagi istri kedua menantunya itu.
Setelah semuanya dihubungi, Aiswa lebih tenang meski kontraksi datang lima menit sekali.
"Mama Anggi baik banget sama aku, Bii...." isak Aiswa, padahal dia menempati posisi anaknya di samping Amir. Tak sedikitpun rasa cemburu terpancar dari setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Rezeki putrinya Buya Hariri salim ... adek, keluar yuk, Umma dan Abi gak sabar liat kamu...." bisiknya disela doa.
"Biiiiii ... aahhh."
"Dokter...." Amir panik memencet tombol panggilan darurat dari kamarnya.
.
__ADS_1
.
...______________________________...