DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 64. TERLANJUR BASAH


__ADS_3

Umma enggan beranjak dari ruangan dokter itu, masih duduk menangis tersedu sembari menyebut nama putrinya.


Dokter pria itu memberikan dugaan diagnosa awal pada Aiswa merunut dari laporan saat pasien baru saja tiba, dehidrasi dan hilang keseimbangan akibat asupan oksigen yang mensuplai otak berkurang.


Aiswa didiagnosa cedera otak anoxic ringan, karena adanya benturan saat ia terjatuh menyebabkan sedikit terjadi pembengkakan otak. Akibat trauma, cairan pada otak otomatis mendorong ke atas tengkorak.


Pembengkakan pada akhirnya menyebabkan otak menekan batang otak, sehingga mengganggu RAS (Reticular Activating System) bagian otak yang bertanggung jawab untuk membuat seseorang tetap sadar.


Sang dokter berusaha menjelaskan dengan bahasa sederhana sembari menunggu dokter Laura datang.


Tak berapa lama, dokter wanita yang ditunggu pun tiba. Dirinya izin meminta waktu untuk diskusi berdua dengan rekan sejawatnya itu.


" Nyonya Maryam, aku akan melakukan serangkaian test bagi Nyonya Aiswa, untuk saat ini beliau akan kami observasi intens. Ada beberapa dokumen yang memerlukan persetujuan anda atau walinya, termasuk membentuk team dokter yang terkait untuk kasus putri anda, bagaimana? "


" Lakukan apapun yang terbaik untuk putriku, dokter, " pinta umma masih tersedu.


Dokter Laura memeluknya, merasa trenyuh sadari ia mengenal sosok Aiswa. Dialah yang selama ini menangani wanita cantik nan sholihah itu.


" Baik ... aku ingin bertemu suami dan keluarga anda, mari kita kunjungi Nyonya Aiswa di kamarnya. "


" Aiswa saja dokter, " sela Umma masih terisak.


Dalam kamar rawat inap.


" Perkenalkan saya Laura, yang akan menangani Aiswa lebih lanjut, saya ingin bicara pada suaminya, bila diizinkan. "


" Saya dokter, "


" Umma ikut dokter, aku mohon, " pintanya memelas.


" Mari ke ruangan saya, Bapak Ibu. " Dokter Laura akan memberikan gambaran terburuk terkait hasil test yang akan mereka hadapi nanti.

__ADS_1


Saat ketiganya telah duduk didalam ruangan dengan interior serba putih itu, dokter Laura memulai penjelasannya.


" Terlalu dini tapi harus saya sampaikan, kemungkinan terburuknya dia akan koma untuk waktu yang tidak dapat ditentukan ... bisa merujuk pada kondisi vegetatif ... kabar baiknya, bila semua lancar kemungkinan memorinya akan sedikit terganggu, dan tidak terjadi komplikasi gangguan organ lainnya. "


" Innalillahi, "


" Aiswa, " Umma kembali menangis.


" Saya akan melakukan segala yang terbaik, maafkan bila lancang Nyonya, Tuan ... Aiswa bagai adikku ... saya membutuhkan support dari anda berdua untuknya dan persetujuan penanganan medis, silakan. " Laura menyodorkan sebundel berkas pada keduanya.


Tanpa banyak kata, Umma menandatangani semua berkas. Ia hanya ingin putrinya kembali sehat.


Setelah semua prosedur administrasi dilakukan, Aiswa mulai dibawa ke ruang intensif beberapa waktu lamanya untuk menjalani serangkaian test bagi kesehatannya.


" Lepaskan Aiswa, Hasbi, Umma mohon. "


" Apa kata orang nanti Maryam, suaminya meninggalkan disaat istrinya koma. Kamu ingin mencoreng mukaku lagi? " sergah Buya saat mereka berkumpul lagi di kamar Aiswa.


" Aku akan di sisinya, " Hasbi menimpali.


" Aku mengerti, Buya ... aku mohon pamit pulang sejenak, dan akan kembali secepatnya. " Pamitnya pada keduanya.


" Hati-hati Nak, " Hariri Salim melepas menantunya.


***


Apartemen.


Hasbi pulang ke apartemennya setelah dari rumah sakit. Ia harus meminta Serli pindah sementara ke rumahnya dulu sebab Abuyanya akan datang.


Namun karena sejak kemarin ia tak pulang dan langsung ke rumah sakit, nampaknya rencana hanya tinggal rencana. Kyai Maksum sudah tiba dengan kakak sulungnya.

__ADS_1


" Sayang, aku pulang. "


Hening.


" Sayaaaaang, Serli, " serunya lagi dari ruang tamu. Tumben istri seksinya itu tak langsung menghampiri padahal biasanya dia sudah siap menyambutnya sejak membuka pintu.


" Sayaa-- "


Glek.


" Siapa dia, jelaskan! " Kyai Maksum geram, datang menghampiri Hasbi dari ruang keluarga. Menarik Serli agar duduk bersamanya.


" Istri pertamaku, Serli Oktavia. " Terlanjur basah, pikirnya.


Plakk. Plakk.


" Buya, jangan ... salahku, salahku, jangan pukul Mas Hasbi, " tangis Serli pecah merangkul kaki Buya agar tak memukuli suaminya lagi.


" Serli, duduk dulu ... jelaskan pada Buya, " pinta kakak sulung Hasbi.


" Buya ndasmu!! "


" Dia menyelamatkan aku dari deportasi akibat kesalahan kawanku dan kecerobohanku salah menggunakan visa visit saat di UK, setelah lamaranku ditolak oleh Naya dulu. "


" Aku satu kampus dengannya di Singapura dulu, dan kebetulan kami menghadiri acara yang sama di UK, dia yang membantuku bangkit dari keterpurukan dan nyaris bunuh diri ... jika bukan karena Serli, anak Buya ini sudah tak ada didunia! "


" Apa yang Buya lakukan untukku saat harus berjuang sendiri demi cintaku pada Naya, Buya justru menyerah begitu saja padahal Raden Arya Tumenggung sudah merestui ku ... tidak ada yang memihakku kala itu ... bahkan Amir!! " Hasbi menyalak menggebu.


.


.

__ADS_1


..._____________________________...


...Ainnaya oh Ainnaya, pesona mu terlele.. Maafin mommy narik kamu dari judul satunya sebagai sumber konflik ya... 🤭...


__ADS_2