
Hingga pagi menjelang, Aruni belum sepenuhnya sadar. Sesekali dia hanya mengeluhkan nyeri. Dokter Laura yang memang di tugaskan oleh Mahen setia memantau perkembangan pasien titipan nya langsung.
Sepagi ini, beliau sudah hadir menemani Aruni kala Amir harus membersihkan diri dan mengisi asupan bagi tubuhnya. Ia sadar meski semua makanan yang masuk tiada rasa namun kehadirannya sangat dibutuhkan.
Paksakan, ga boleh ikut sakit.
Saat dirinya kembali ke ruangan, Dokter Laura mengatakan bahwa siang ini Aruni sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan. Tetap didampingi oleh suster wanita yang standby didalam kamar nanti.
"Sesuai permintaan Pak Mahen, akan ada suster jaga khusus untuk beliau disini ya Pak Amir, dan dokter di depan cluster, " ucapnya saat akan pergi dinas.
"Terimakasih, Dok sudah sangat care dengan kami," balas Amir pelan, entah harus bilang apa ke adik iparnya, meski raganya tak ikut hadir namun Mahendra begitu detail mengurusi segala kebutuhannya tanpa diminta.
"Aku akan tetap memperhatikan kondisi Bu Aruni hingga beliau sehat kembali hingga kondisinya betul-betul stabil."
Amir hanya mengangguk lemah mendengar penjelasan dokter Laura. Setelah kepergian beliau, dokter visit yang menangani istrinya berkunjung.
"Banyak berdoa ya Pak, semoga pasien lekas pulih." ujarnya seraya beralih ke ruangan lainnya.
Tak banyak yang dia bisa perbuat, Amir memandangi foto bayi nya yang semalam telah dikirimkan oleh dokter Amel padanya.
Sayang, namamu Naufal Asmaralaya, lelaki tampan dari surga. Kamu anugerah dari Allah, miracle, bertahanlah sebisa mu yaa, maafkan Abi dan Mommy belum bisa menemuimu disana. Kuatlah Nak, seperti mommy.
Amir membiarkan dirinya larut dalam bahagia meski pedih. Dihadapannya terbaring wanita kesayangannya dan diujung sana, anak kandungnya berjuang sendiri.
Allah, nikmat Tuhan manalagi yang kamu dustakan.
Perlahan mata yang tertutup itu mulai terbuka, menetralkan arah cahaya yang sedikit menyilaukan bagi iris mata yang sudah lama terpejam.
"Sayang,"
"Ma-s," lirihnya.
"Aku disini, mau minum? dokter bilang kamu sudah boleh minum meski belum banyak."
"A-deknya,"
"Selamat, jangan mikirin adek dulu, kamu sehat dulu ya."
__ADS_1
"Aku mau li-hat."
"Nanti, kalau sudah enakan, Ok? semangat Qiyya biar bisa ketemu adek, ya!"
Aruni hanya bisa meluruhkan lagi, entah sudah yang keberapa kali butiran bening sellau saja hadir menghiasi wajah pucat nya.
"Siang nanti kita pindah ruangan, Mama juga sedang dalam perjalanan kesini menemani kita."
"A-dek Mas, li-hat."
"Sayang, nanti siang yaa, janji."
Amir berusaha mengalihkan keinginan Qiyya melihat putra mereka. Bukan tanpa alasan Amir menahan diri, Aruni mudah drop di kondisinya saat ini. Jika mereka sudah pindah ruangan mungkin akan lebih leluasa apabila istrinya merajuk.
Ba'da dzuhur.
Abah tiba dirumah sakit bertepatan dengan kepindahan Aruni ke kamar perawatan. Didalam sana telah siap berbagai kebutuhan untuk mereka, siapa lagi yang menyiapkan semua ini jika bukan Mahen.
"Den Mas, aku ga bisa lama, dirumah ga ada orang. Abah, punten Alex langsung pulang ya," sapa Alex saat brangkar Aruni sudah rapi.
"Bang, makasih yaa ... aku titip pantau butik dan admin disana meski Mas Panji juga handle sih jika tentang Queeny, " mohon nya lemah.
"Daripada Alex makan gaji buta, mending bantuin dirumah ... pamit nggih Bah, Den Mas, moga Non Roro Runi lekas sehat dan adek baby juga, aamiin." Pamitnya keluar ruangan.
Setelah kepergian Alex, abah menghampiri ranjang menantunya. Melangitkan doa pada Sang Khalik, satu-satunya tempat memohon dan menyandarkan segala asa.
"Bah, aku ga kuat, " isaknya kembali saat abah menepuk pundaknya, seraya menuju sofa dalam ruangan itu.
"Rezeki Mir, nikmat itu bukan cuma yang lapang namun juga yang sempit, ujian itu banyak macamnya ... tujuannya yaa buat menaikkan taqwa dan keimanan serta derajat dimata Allah, selain itu bahwa kamu dipilih karena mampu."
"Tapi...." amir duduk disamping Ayahnya.
"Husnuzon, Kheir insya Allah apapun yang terjadi itu baik, kata Allah."
Amir terdiam meski hatinya menahan sakit. Dia meraih ponselnya dari dalam saku celana. Menyerahkan gawai itu ke tangan abahnya, setelah sebuah foto terbuka disana.
"Maa sya Allah, cucuku ... persis kamu waktu bayi Mir, siapa namanya?"
__ADS_1
"Naufal Asmaralaya, aku ga kuat lihat dia Bah, kasihan," tangisnya pecah.
"Ikhlas, apapun yang Allah beri suatu saat akan diminta lagi ... bukan berarti kita tidak bisa menjaga amanah namun semua adalah miliknya, kamu sudah di titipin, menjaga dengan sebaiknya. Allah ga tidur Mir, mungkin kedudukannya akan lebih mulia bila nanti memang akan Allah ambil lagi."
"Gimana Qiyya nanti? apa dia ga shock?"
"Abah rasa, Runi sudah jauh lebih siap daripada kamu ... Runi bisa saja drop namun dia tahu itu yang terbaik ... bismillah Mir, ikhtiar lagi."
Amir mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Abahnya. Teringat Ummi, Abahnya banyak berubah, sungguh dia bersyukur dalam kondisi demikian selalu hadir sosok lembut disampingnya kini.
Sebagai anak, dia rasanya lemah. Amir menyandarkan kepalanya dibahu sang Ayah, memeluk lengannya seakan butuh sandaran agar dirinya kembali kuat.
"Sudah jadi ayah ko masih manja gini ... kuat ah, banyak yang butuh kamu Mas."
"Aku tetap anak Abah, aku masih butuh Abah."
"Lah iya, anak Abah tapi apa ga malu kamu? biasa meluk Runi ko malah begini," Abah terkekeh berusaha menghibur putra keduanya ini.
"Biarin, Qiyya lagi ga bisa dipeluk." Amir memejamkan matanya yang pedih akibat kurang tidur serta berkali terisak.
"Tidur gih, mumpung Runi juga masih belum bangun." Abah membelai kepala Amir perlahan, menyalurkan sayang yang dia punya. Setelah kepergian istrinya, memang dirinya sangat berusaha menjadi sosok orang tua yang lebih lembut meski sejatinya watak itu tak ada.
Deru nafas halus berhembus pelan tanda sang empunya raga telah terlelap. Abah masih memandang wajah mungil cucunya yang dipaksa lahir kedunia sebelum waktunya.
Bila kamu tak sanggup bertahan, pergilah dengan damai, doakan kedua orang tuamu dan sambut mereka kelak di pintu surga ya sayang. Eyang bersaksi bahwa ibumu adalah wanita sholihah serta Abimu seorang yang bertanggungjawab terhadap kalian, Naufal cucuku.
Ting. Notifikasi pesan masuk ke ponsel Abah.
Menantunya, Mahendra memberikan kabar bahwa Naya telah masuk rumah sakit untuk kontrol akhir sebelum lahiran nanti. Dia meminta doa agar dilancarkan dalam prosesnya sekaligus meminta maaf tidak dapat pulang menjenguk kakak iparnya.
"Nikmat, aku dihadiahi dua orang cucu dalam satu waktu."
"Semoga kalian baik dan sehat selalu yaa, Abah sudah renta seharusnya Abah yang lebih dulu berpulang, bukan kalian tapi usia itu ya rahasia Allah." Abah bermonolog sembari pandangannya tak lepas dari brangkar didepannya.
Naufal Asmaralaya, sungguh nama anakmu indah Runi, seperti kisah kalian.
.
__ADS_1
.
...__________________________...