DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 131. FIND HER


__ADS_3

Tepat jam lima waktu setempat Amir kembali ke Hotel, kemacetan panjang akibat mobil terguling menghambatnya ketika lebih dari separuh perjalanan telah dia tempuh.


Setelah mengkonfirmasi ke receptionist bahwa kendaraan sewaanya telah terparkir di basement, ia pun naik ke kamarnya. Membersihkan diri lalu menyusun rencana untuk esok pagi. Termasuk meminta bantuan pada IT Kusuma, Kusno kalani.


Malam ini dia meminta pada room service agar mengantarkan dinnernya ke kamar ba'da isya. Berbeda dengan hari sebelumnya, meski ia lelah namun semangat malam ini membara, rasanya malam begitu panjang dilalui, seakan tak sabar menunggu hingga terbit mentari.


Jemarinya lincah browsing tentang program studi di Central Saint Martin, dirinya juga mencari tahu tata letak asrama, kantor serta jalan darurat apabila Aiswa tetap menghindarinya.


"Ok, rutenya begini, paling enak ngamatin dia diluar sih, karena one gate system jadi kemungkinan dia kabur lewat jalan lain kecil kemungkinan."


"Atau paling jika kepergok, dia akan sembunyi di sini dan sini ... Ck, Pak Kusno memang lihai membuat tampilan capture yang ku kirim menjadi 3D begini ... bagai minecraft," kekehnya tak habis pikir, terbuat dari apa otak para IT sebenarnya.


"Segini tuh kamu masih bisa menghindariku ya Rohi, shadow punya Mas Panji belum turun ... mencari pelarian Naya yang rumit saja mereka mampu apalagi jika hanya begini ... aku saja yang lambat," ia mendengus merutuki kemampuannya yang terbatas.


"Sampai jumpa esok ya habibati," kenangnya pada wajah Aiswa yang tak mau hilang dari pelupuk mata.


Keesokan hari.


Setelah breakfast dikamar, Amir turun ke lantai dasar menuju receptionist untuk mengambil kunci mobil sewaanya seperti kemarin.


Tepat pukul sembilan pagi, dirinya bertolak ke arah selatan, jarak sembilan belas mil atau sekitar tiga puluh satu kilometer harus ia tempuh. Prediksi google map jika tidak terhambat kemacetan akan menghabiskan waktu sekitar sembilan puluh menit atau sekitar satu jam setengah perjalanan tanpa jeda.


"Pantas saja ga ketemu, jarak dari Bandara lumayan jauh, untung aspal jalannya mulus ... semoga ketika tiba disana saat jam istirahat siang, Aiswa pasti keluar untuk mencari Masjid karena didalam komplek kampusnya tidak terdapat mushola atau bahkan Masjid."


Agar tak merasa bosan atau mengantuk dalam perjalanan yang baru saja dia mulai. Tangan kirinya menyentuh tombol radio, membiarkan signal otomatis mencari gelombang frekuensi terdekat yang tengah mengudara.


Seketika wajahnya sumringah mendengarkan lagu yang mengalun perlahan, dia lalu memutar tombol volume agar alunan musik merdu itu lebih jelas terdengar.


"Nafsil hanin fill bode wizekerool ghomilah" (Aku masih memiliki kerinduan yang sama dan mengingat kenangan indah kami)


"Arrab menni shwayya shwayya." (Mendekatlah sedikit demi sedikit)


"Wal hagabansaha wa awad'na lahna khadna haa." (Dan tidak ada yg bisa menghapus janji yang kita buat satu sama lain)


Tanpa sadar, lisannya lirih mengikuti irama lagu romantis nan merdu. Dadanya bergemuruh, ada rasa bahagia membuncah disana.


"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala jeratan nafsu akan sesuatu yang belum halal bagiku, aamiin."

__ADS_1


Sementara ditempat lain, saat yang sama.


Aiswa sedikit flu sejak kemarin, kedatangan Rayyan pun seperti biasanya tak dia gubris meski dengan dalih membawakan obat. Dia lupa bahwa keluarga Hermana adalah satu profesi dengannya, sungguh bodoh, pikir Aiswa.


"Nona, ayo, hari ini kita pulang cepat bukan? kita bisa ke strawberry cafe untuk menyesap shorbet dan cheesecake kesukaan Anda," rayu Joanna melihat Aiswa lesu tak semangat.


"Hatiku rasanya bahagia meski tubuhku lelah, Jo ... kau paling tahu, sejak event expo di Malaysia aku tak berhenti kuliah dan mengerjakan project selanjutnya," keluhnya berusaha membujuk Joanna agar dia diizinkan keluar asrama pagi ini.


"Satu jam Nona, ayo... lunch nanti Anda kan keluar juga."


"Baiklah Nyonya Joanna yang disiplin, aku mengikuti keinginanmu ... Jo, katakan padaku kapan kau ingin liburan, aku sayang padamu, jangan bekerja terlalu lelah Jo," sinisnya sambil lalu.


Ckck, sangat berbeda dengan Nona Aeyza, beliau tidak pernah membantah bahkan membentakku meski tak sejalan dengan keinginannya.


Aku jadi bertanya, mengapa dulu dia sangat tertekan dan terkekang, jika watak aslinya lembut?


*


Akhirnya setelah mengikis jarak membentang, Amir memarkirkan mobilnya di parking area yang kebetulan masih kosong.


Dirinya turun dari mobil, duduk di kursi taman kota melihat ke seberang betapa megah kampus Aiswa.


Satu jam kemudian.


Aiswa.


Seperti dugaannya, gadis itu keluar berjalan kaki diiringi Joanna disisi kirinya. Mereka tak menyadari kehadiran Amir karena saat itu sekitar tengah ramai.


Amir mengamati dari jauh kemana arah tujuannya, sembari bangkit perlahan mengikuti keduanya.


Cafe, Strawberry.


"Benar, kesukaanmu ternyata masih belum berubah," wajah tampan itu tersenyum membuat para gadis yang berpapasan dengannya pun berbisik, beberapa bahkan berani menggodanya.


Aiswa masih tak menyadari sepasang mata teduh itu kian lekat mengawasi segala gerakannya. Hingga mereka memilih tempat duduk di pojok cafe, Amir pun masuk setelah gerombolan gadis bule yang menggodanya tadi memilih tempat yang sama.


Dia menuju ke bagian order, memilih menu yang sama dengan Aiswa lalu meminta waitress mengantarkan ke meja dimana Aiswa berada.

__ADS_1


Jantungnya berdetak cepat saat langkah kian dekat ke meja.


"Assalamu'alaikum, Rohi ... masih ingat padaku?"


Glek. Uhuk. Aiswa terkejut, pun demikian Joanna.


"Boleh aku duduk? ... Nona Joanna, silakan Anda pindah ke sebelah Nona Danesh Aeyza Hermana," ujarnya lagi, masih dengan nada lembut.


Joanna tak lagi bisa menghindar kali ini, hingga mau tak mau mengikuti arahan pria di depannya yang masih berdiri.


"Syukron ... Aku harus memanggilmu siapa? Aiswa atau Aeyza?" tuturnya dengan wajah yang entah terlihat seperti apa, yang jelas hatinya lega kali ini Aiswa tidak kabur lagi.


Hening.


Hening.


Hingga waitress datang mengantar menu yang Amir pesan, dia tetap bergeming.


"Kamu tahu ... Rohi, cheesecake dan strawberry selalu mengingatkan padamu, bahkan Naya pun sangat ingin tahu kenapa aku suka dengan keduanya ... tak mungkin aku jawab, jika ini adalah menu favoritmu, bukan?"


"Bahkan Naya pernah bilang, kapan persisnya aku suka membuat pola gambar ... tak mungkin aku jawab sebab aku fans salah satu akun medsosmu bukan?"


"Mengapa?" Akhirnya Aiswa bersuara.


"Karena kamu begitu tinggi dan bukan milikku, aku harus menyimpan semuanya disini." Tunjuknya pada dada.


"Aku tahu kamu merasa sama perihnya denganku. Menahan rindu itu sungguh menyakitkan, bukan? Tapi jangan khawatir, aku tidak akan menyerah hanya karena tikaman rindu dan tusukan cinta."


"Rindu bilang, ia adalah kesabaran. Untuk memenangkannya, kita hanya butuh berteman dengan waktu, tunggu, dan mampu. Yang jauh hanya pijakan bukan perasaan. Yang berjarak hanyalah raga bukan rasa."


"Aku menanti penjelasanmu, tanpa menghakimi," tuturnya lembut untuk semua kalimat yang keluar dari bibirnya.


Sh-itt, dia romantis dengan caranya, pantas Nona tak bisa move on.


"Bii, aku...."


.

__ADS_1


.


...____________________...


__ADS_2