
Soetta.
Lelaki muda berwajah tampan, mengenakan sarung hitam juga kemeja koko lengan panjang berwana krem. Menarik travel bag nya menuju ruang tunggu kedatangan internasional.
Kacamata hitam yang bertengger di wajahnya, ia lepas kala memesan secangkir kopi espresso juga slice cheesecake. Persis kesukaan ayah dan ibunya.
"Syukron," suara maskulin yang membuat para kaum hawa di sana meleleh seketika terlebih wajah kalem nan bersahaja itu mengulas senyum tipis.
Dia meletakkan baki berisi makanannya di meja sudut cafe.
"Kakak," seru suara seorang gadis, mengenakan gamis teracota juga pasmina, lengkap dengan masker.
"Maira, baby. Sini," ujarnya sumringah kala melihat sepupu cantiknya datang.
"Baby baby, aku lebih tua dua tahun darimu, Fayyadh," sungut Maira seraya menarik koper nya mendekat ke meja sang sepupu.
"Tapi tetap saja, kamu harus memanggilku kakak. Delay ya? kata Ayah, kamu gak balik hari ini," ujarnya menyodorkan cake dan kopi yang belum dia sentuh.
"Ini kesukaan kakak, aku pesan sendiri saja," sahutnya tak menjawab pertanyaan Fayyadh.
"Minta yang dingin saja, Mahya, biar kita bisa share," godanya pada adik sepupunya itu.
"Ish, nanti pacarmu marah ... ayah bilang, kakak balik hari ini jadi aku sekalian ikut balik, tuker tiket biar bisa nebeng pulang ke Tazkiya dulu." Mahya Humaira, mengabaikan senyuman manis dari pemilik wajah tampan.
"Sayangnya kamu sepupuku, sepupu dekat pula ... cantik banget sih Maira, apalagi matanya itu, persis Bunda. Ah, kangen Bunda Naya, meski bawel tapi gaul," gumam Fayyadh menggelengkan kepalanya.
Lama keduanya bersenda gurau disana hingga teguran sang uwa menghentikan keseruan mereka.
"Kalian, uwa cari gak tahunya ngetem disini," keluh Ahmad saat menjemput keponakan juga gadis cantik yang sudah dia anggap keponakan kandungnya juga.
"Fayyadh nunggu Maira, 'amm. Sekalian jalan nanti sore nganterin dia balik biar bisa nginep di Orchid," sahut Fayyadh, menyalami Ahmad.
"Iya gak apa, sudah selesai?" tanya nya lagi.
Maira hanya menangkupkan tangannya didepan dada pada sang uwa angkat.
"Sampun," jawab keduanya mengundang tawa.
"Hmmmm, kebiasaan klop nya sampai ke hati ya," ucap sang uwa seraya menarik koper Maira keluar cafe.
"Uwa, biar aku saja. Jangan, nanti ketahuan anak buah ayah bisa habis di omelin Bunda," Maira khawatir menyusahkan saudara orangtuanya itu.
Meski telah di nobatkan sebagai salah satu princess Kusuma, dia tak pernah diberikan keistimewaan apapun selain satu orang bodyguard bayangan, itupun atas permintaan sang Buyut Danarhadi.
"Cicit ku, Mahya Humaira, itu bagai koleksi guci antik...." titah Danarhadi saat bersikukuh dengan Mahen agar tak memanjakan putrinya.
__ADS_1
Jika Aiswa dan Naya di proteksi sedemikian rupa, apalagi putri dan putra mereka.
"Ya sudah, ini." Ahmad mengembalikan travel bag milik Maira.
Belum juga tangan gadis itu menyentuh benda kesayangan. Fayyadh sudah menariknya.
"Kak," cicit Maira.
'Biar aku yang akan bilang ke Bunda, kalau aku yang mau, bukan kamu nyuruh bahkan meminta, Ok?" senyumnya mengembang.
"Hmm, modus, bisa aja. Persis bapaknya, urusan merayu tuh halus ... Fayyadh, sudah punya calon?" tanya Ahmad seraya melanjutkan langkah.
"Duh meleleh," gumam Maira masih tertegun saat kedua pria itu melenggang pergi.
"Belum, nunggu Maira nikah dulu," selorohnya mengulas senyum.
Sepupu yang cantik banyak, adiknya Kaffa, adiknya Fatima, juga putri uwa nya. Namun entah kenapa, dengan Maira dia sangat sayang. Mungkin sifat ini menurun dari sang Abi yang begitu dekat dan menyayangi Naya, Bunda kesayangan Fayyadh.
Jika dengan Aiswa dia akan meminta di temani saat akan tidur, sama halnya dengan Naya. Fayyadh kerap meminta wanita cantik itu membacakan sesuatu untuknya juga lengkap dengan opini beliau.
Apabila Amir kerap menasehati dengan kelembutan, maka Mahendra sering membekalinya dengan banyak hal romantis dan cara gentle dalam memanjakan wanita.
Dua gambaran sempurna kehidupan rumah tangga yang Fayyadh dapatkan. Menjadi bekal baginya kala membina sebuah hubungan nanti.
Tazkiya.
"Kak Maira, aku kangen, USA sangat enak kah hingga jarang pulang?" protes gadis kecil itu, menghambur memeluknya.
"Ini tahun pertama kuliah kan gak boleh sering pulang kata Ayah," ucapnya saat membalas pelukan Hana.
"Maira, cantiknya. Jidah udah lama gak lihat Maira, maa sya Allah melebihi Bunda Naya ini sih. Mama tinggi pula," ujar Umma membelai wajah ayu putri Mahendra.
Maryam menarik Maira agar duduk di ruang tamu.
"Juga pandai wushu, memanah, menembak, strategi, hacker, kecuali masak, gak bisa," sambung Fayyadh, ikut duduk diujung kursi.
"Haduh, iya iya, hafalnya," cibir Umma kala Fayyadh tak terima bila dirinya hanya memuji Maira seperlunya.
"Ka Fayyadh berlebihan," kilah Maira.
"Mau jadi Intel ya kak?" tanya Hana.
"Bukan, tapi broadcast, macam Bunda. Aku suka dengan coding seperti Ayah namun passion aku di sana, makanya ke USA bukan England, apalagi Arab, macam kak Fayyadh," tutur Maira.
"Fayyadh, sana dih, ngerumpi bareng cewe," usir Farhana.
__ADS_1
"Fayyadh Fayyadh! Kak, meski kamu kakak sepupuku, tapi umurmu dibawahku. Maira saja panggil aku kakak, gak sopan dasar Hama," sungut Fayyadh kesal.
"Yeee, Hama hama, Far-ha-na ... Jiddaaah," rajuk Farhana pada Maryam.
"Iya sana, ke kamar Umma kamu tuh, istirahat," Umma tak kalah rewel melihat Fayyadh hanya diam duduk memperhatikan para gadis.
"Pandangan, pandangan dijaga. Heran, gak kayak Abinya yang hati-hati makai mata," Maryam mengomeli sikap Fayyadh yang tak jarang mencuri pandang pada Maira.
"Bawelnya jiddah ku. Memang yang paling baik itu hanya Umma dan Bunda," keluhnya bangkit menarik koper menuju ke dalam.
...***...
Cirebon.
Aiswa mendapat panggilan video kala sang putra sulung telah tiba di Tazkiya.
"Iya sayang, di sana dulu ya. Abi jemput sekalian ke Ayah Mahen nanti lusa. Boleh jika Fayyadh mau nginep di Orchid," ucap Aiswa lembut kala menanggapi keluhan putranya.
"Iya, dibicarakan dengan Abi kalau Fayyadh ingin lihat Arza School. Itu milik kamu Nak ... kembangkan lagi program tahfidz yang sudah Abi rancang disana, Fayyadh mampu ko. Kata Abi, jangkauan hafalan Fayyadh melebihi Abi diusianya ... barokallah anak Umma," imbuh sang Bunda.
"Nanti disampaikan ke Aathira dan Hanan. Mereka masih setor hafalan dengan Abi. Sudah dulu ya Sayang, Umma mau lanjutkan kerjaan design dulu, ditunggu Bunda Naya karena mau naik cetak ... hati-hati Fayyadh, miss you Sayang." Aiswa mengakhiri percakapan dengan putra sulungnya.
"Anugerah buat kami, keturunan yang shaleh shalihah ... berkat doa Abi, Buya, Umma juga Abah ... ya Robb, begitu sempurna hidupku sejak bersamanya ... lelaki pilihan, jangan kau timpakan ujian kesusahan bagi kami atas apa yang kami perbuat, aamiin."
.
.
..._________________________...
...Tamat...
...Clue ya : do'anya Aiswa. Apakah yang akan terjadi pada putra putrinya kelak? tunggu judul baru karya mommy. Jangan lupa untuk Rate, Fav yaa dan follow biar kamu dapat notif update karya dari mommy. Thanks kesayangan sudah nemenin mommy sampai disini. ❤...
...🔥🔥🔥...
...Jangan lupa klik profile Mommy buat lihat karya lainnya :...
...- Suara untuk Dilara...
^^^- Istikharah Cinta Kusuma (sekuel Di antara 3A)^^^
...- Karena Aku, anakmu (event lomba) ...
...❤❤❤😍❤❤❤...
__ADS_1