
"Buya," Ahmad membalas pelukan ayahnya.
Sebuah pelukan yang dia rindukan sejak dirinya melangkahkan kaki menempuh pendidikan di Mekkah sana, ia tak lagi mendapat perlakuan istimewa.
Buya sangat keras mendidiknya, jika bukan Umma yang selalu menegarkan hatinya yang kerap rapuh mungkin dia akan seperti Aiswa. Berani nekad memberontak.
Bukan salah Aiswa mengapa dahulu melawan Buya. Anak itu jauh lebih parah, bagai diikat benang emas di lehernya, dipakaikan jubah kebesaran serta mahkota yang memaksa tubuhnya selalu membungkuk meski dengan sesama akhwat.
Segala hal yang keluar dari pemilik nama Aiswa Fajri adalah emas, suaranya, senyumnya, tatapan matanya juga sikap manisnya. Saking ketatnya Buya menjaga Putri Mahkota miliknya.
Ketika melihat Amir pertama kalinya, dia mendapatkan perhatian penuh dan kelembutan dari pria itu, kedua rasa yang tak pernah Aiswa peroleh dari kedua lelaki pertama di keluarganya. Salah mereka, iya salah dirinya dan Buya, tak melimpahi Aiswa kasih sayang sebagai cinta pertama anak gadis keluarganya. Karena Ahmad pikir, dirinya saja sudah sangat sesak.
Aiswa, wajar jika kini kau mendapat begitu derasnya kucuran cinta kasih dari siapapun yang mengenalmu, terlebih suamimu, sahabatku. Sebagai ganjaran dari Allah atas segala keihklasan berbakti pada Buya, hingga khilafmu pun Allah jadikan teguran untuk kami.
"Buya jazakallah kheir ahsanal jaza, doakan aku selalu agar dapat menjadi putra kebanggan Buya...." Ahmad melerai pelukannya.
"Kamu sudah melakukannya Nak ... jangan ulangi kesalahan Buya dalam mendidik keluargamu nanti ya, contohlah para alim yang sabar dan telaten ... contoh Kaji Ahmad zaid ayah Amir atau malah sahabatmu sendiri ... bagaimana cara dia memuliakan adikmu, mengasihi istri pertamanya, adik perempuan bahkan para keponakannya."
"Amir sangat lembut memperlakukan wanita disekitarnya bahkan Umma pengen ciumin telapak tangan Amir namun belum kesampaian, saking apanya ? pria santun seperti Abahnya ... wajar bila adikmu terpesona, pantas bila Naya yang kata Abahnya kepala batu namun bila dinasehati Amir, dia akan melunak...."
"Nggih Buya, in sya Allah manut apa yang Buya sampaikan."
"Bibarkati Rosulillah sholawat ala nabi ... allahumma sholli wassllim wabarik alaih."
"Robbi sholli alaih."
Hariri salim menepuk lengan putranya seraya beranjak dari kamar itu.
...***...
RSPP, Jakarta, saat yang sama.
Setelah kepanikan sebab Serli pingsan baru saja ia lewati, dokter mengatakan bahwa istrinya hanya stress dan dehidrasi. Hingga saat ini Serli masih belum bersedia membuka mulutnya meski Hasbi membujuknya selalu.
"Sayang, kamu kenapa? jika permintaan maaf mu untuk Aiswa, atas dasar apa? kamu ga salah Serli," ujarnya menenangkan sang istri.
__ADS_1
"Dosa aku besar Mas, mungkin kau pun akan meninggalkanku nanti," lirihnya sebelum aksi mogok bicara.
"Apapun, aku akan tetap bersamamu sayang, kamu segalanya untukku ... kamu penyelamat ku, Serli Oktavia."
Masih dengan usaha membujuk agar istrinya melunak, suara pintu kamar dibuka oleh suster.
"Tuan Hasbi, pasien akan kembali melakukan transfusi darah, demamnya turun sejak siang tadi namun HB belum cukup naik."
"Suster, kami belum punya calon pendonor kembali, bagaimana?"
"Sudah ada stock darah untuk adeknya ko Tuan, siang tadi kami kedatangan pasangan muda pendonor sukarela ... rhesusnya juga sangat baik, mohon ditandatangani izin tindakan untuk pasien."
Hasbi terpana, siapa? kemudian ia pun menandatangani lembaran yang disodorkan suster padanya.
"Oh iya, Asi nya sudah siap? biarkan pasien menyusu dulu sebelum kami bawa keruangan tiga puluh menit kedepan," ujar suster kemudian meninggalkan kamar perawatan Reezi.
"Reezi sayang, alhamdulillah ... aku bawa kesini ya," ucapnya pada Serli diiringi anggukan pelan dari wanita ayu yang tergolek lemah diranjang sebelah Reezi.
Bayi mungil itu pun kembali tenang saat disusui ibunya. Suhu badannya stabil juga lengan kiri yang terdapat infus sudah tidak terlihat bengkak.
Air matanya kembali turun membasahi pipi. Hasbi terheran melihat sikap perubahan Serli yang amat mengkhawatirkan dirinya.
Apa yang Aiswa katakan padamu sayang?
Pintu dibuka kembali oleh Kyai Maksum setelah dari cafetaria membelikan makanan bagi putra dan menantunya.
"Bi, Buya mau bicara diluar ya," ucapnya setelah meletakkan makanan diatas meja sofa.
"Beik," balasnya bangkit dari sisi ranjang mengikuti sang ayah keluar kamar.
Mereka berdua duduk dibangku panjang dibagian depan cluster VVIP.
"Hasbi, tadi Amir kesini itu atas permintaan Buya ke Kaji Ahmad untuk membantu mendoakan Reezi ... mereka bahkan menyebut anakmu sebagai putranya, Aiswa telaten menggendong Reezi hingga tertidur pulas dalam dekapannya ... begitupun dengan suaminya tak putus melafalkan doa untuk anakmu hingga demamnya turun."
"Kedua orang yang kamu sakiti begitu lembut, Nak ... jangan lagi su'udzon pada mereka ... keduanya dari nasab orang-orang shollh ... begitupun jalur ke atasnya, kakek Amir itu meski ningrat tapi baktinya luar biasa, nurun ke Abahnya lalu ke Amir ... Aiswa jangan ditanya, kamu paling tahu bagaimana kisah kalian ... sudahi kebencianmu Hasbi, turutilah Serli, minta maaf pada mereka ... yo Nak," pinta Yai Maksum.
__ADS_1
"Entahlah Buya, aku ga paham kenapa hatiku seakan enggan mengucapkan maaf ... masih teringat jelas saat Naya menolakku, masih terasa diingatan saat Amir mengatakan bahwa dia tak mungkin mendukungku karena dia memegang amanah meski belum resmi ... sahabat macam apa itu? padahal selama khitbah itu belum sampai ke wali nya kan belum sah ya Buya."
"Nyantrinya asal jadi begini nih ... seorang laki-laki tidak diperbolehkan melamar seorang perempuan yang sudah dilamar oleh saudaranya, inget ga hadisnya Ibnu Majah?"
"Naya menolak secara halus Mas, masa kamu sakit hati sih? Naya itu ga salah loh, yang salah itu uyutnya janjiin kamu padahal Kaji Ahmad masih hidup ... dan kamu cinta buta ... keluarga beliau itu semua santun, pake adab ga grasak grusuk ... kamunya aja nafsu ... coba inget lagi, Naya bilang apa?"
Hening.
Hening.
"Semua kan diakhiri dengan ikhlas kemarin, Mahendra sudah melamar dua kali lewat Amir. Bahkan ketika ditegur Abyan, Mahendra malah siap menikah langsung jika saja Abahnya tak sedang pemulihan pasca kecelakaan itu ... otak kamu dimana Mas? Buya malu sama Kaji Ahmad ... disakiti sedemikian rupa tapi lihat, beliau dan turunannya masih mau respon sama Buya," Yai Maksum menitikkan air mata nya.
Hasbi tercenung, jadi benar yang dikatakan Amir bahwa Mahendra telah melamar Naya dua kali?
"Tapi Naya kan waktu itu bilang, dia pasrah dengan keputusan Uyutnya Buya," cecarnya lagi.
"Ya kan karena konflik keluarga mereka belum usai, Uyut masih dendam sama Abahnya ... ah sulit Mas kalau lihat masa lalu ... bagaimanapun Tumenggung Danarhadi itu salah, dari dulu salah dan sekarang taubat, pas saat Naya akan menikah."
"Kamu tahu perjuangan Mahendra? jatuh bangun sampai hampir mati? kenapa dia cacat? ga tahu juga kan betapa dia menjaga Naya? wajar bila keluarga Kaji Ahmad lebih memilih dia ... bukan karena harta tapi hatinya, usahanya, teguh imannya yang tak pernah menyentuh Naya meski gadis itu pernah di lecehkan...."
"Hah? ... aku hanya tahu dia terluka saat mengejar Naya, ku kira terapi mental biasa...."
"Kan, ga tahu, kamu sibuk dengan patah hatimu yang menyesatkan ... Kaji Ahmad cerita semuanya sama Buya alasan dibalik menolakmu ... Buya mau jelaskan rinci padamu tapi kamu kabur ke Inggris, ke Singapura ... kamu anak Buya bukan Mas, sudahi ini ... dosa besar Mas...."
Kyai Maksum menangis. Sedih yang mencoreng mukanya karena sikap anak bungsunya.
"Buya."
.
.
...____________________________...
...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ kebayang malunya Kyai Maksum ngadepin Abah akibat ulah anaknya......
__ADS_1