DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 60. MILIKKU


__ADS_3

Minggu, kediaman Wardhani.


Hari ini kedua orang tua Aruni akan kembali ke Turki bersama Aksan. Sejak selesai akad, Aruni memang menghindari sahabatnya itu, alasannya klise selain statusnya yang kini telah menjadi istri, dirinya juga tak ingin memicu rasa cemburu.


" Runi mana? aku mau pamit, " tanyanya pada Amir.


" Istriku sedang kurang enak badan, afwan, aku tidak mengizinkanmu masuk ke dalam kamar kami ... bila ada yang ingin kamu sampaikan, silakan padaku ... akan aku sampaikan padanya nanti, " pungkas Amir sedikit jengah.


" Mas, titip adek yaa, sedikit manja bila sedang itu dan suka kram perut hingga hari kedua. Doa kami selalu untuk kalian, " ucap Mama.


" Titip sabar untuk menghadapi tingkah Runi yang terkadang masih kekanak-kanakan ya Mas, " sambung Abi. Amir tersenyum seraya memeluk mertuanya erat.


Aksan hanya menelan ludah kasar, ingin menyampaikan selamat menempuh hidup baru meski hati tak ikhlas, namun pura suaranya pun sepakat berkompromi. Lengket bak menelan permen karet bercampur lem alteko.


Setelah mengantar mereka hingga mobil yang membawanya kian jauh dalam jangkauan mata, Amir kembali masuk.


" Mir, Alma mana? "


" Lah, ga tahu, kan Lu lakinya ... emang talinya lepas ya? "


" Sialan Lu, bini gue kucing apa dikata tali lepas, " sungutnya tak terima.


" Sih, ga ketahuan kemana. Bilangin suruh izin jika hendak kemana-mana ... coba telpon aja Mal." Terus melangkah masuk mencari Qiyya, apakah masih ditaman samping ataukah sudah kembali masuk kamarnya.


" HPnya ga dibawa ... mana ni rumah kek gada mahluk pula, pada kemana sih? "


Amir tak menghiraukan Gamal yang mengoceh sendiri di ruang tamu. Dia mencari ke sayap samping rumah megah itu dan menemukan Qiyya tengah bersama Alma di taman, seperti sedang membicarakan sesuatu. Amir mengendap dibalik tembok sisi jendela yang menyekat antara taman dan ruang keluarga.


" Runi, pasti kamu bahagia banget ya bisa menikah dengan Ka Amir, " selidik Alma.


" Jika aku boleh mengutip jawaban Sayyidah khodijah saat dihadapkan pada pertanyaan yang sama ketika Baginda Nabi memilihnya sebagai istri, maka aku akan menjawab sejak kakak melamarku dan kami menikah dua hari lalu, aku tidak pernah memikirkan bagaimana agar aku bahagia bersamanya ... justru aku memikirkan bagaimana kakak bisa bahagia menikah dan hidup bersamaku, " ujar Aruni lirih namun penuh penghayatan.


Tiba-tiba dari arah belakang.


C-up. Amir menyergap memeluk dan mencium pipinya.


" Adem banget sih ... kenapa bisa begitu? " mengabaikan Almahyra, sambil memeluk Aruni yang masih duduk di kursi taman.


" Karena aku ingin memuliakan suamiku yang istimewa dengan segala yang Allah beri padanya, lalu dianugerahkan padaku ... apakah bisa dengan keterbatasan ku? "


" Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad ... kita pasti bahagia sayang. " Menghujani pucuk kepala serta pipi Aruni, membuat Alma sedikit tak enak hati.

__ADS_1


" Sholli wasallim wabarik alaih." Membelai kepala Amir yang berada disamping pipi kirinya.


" Alma, dicari Gamal didepan, " ucap Amir tak menatap wajahnya.


Almahyra beranjak bangkit, meneruskan langkah dimana suaminya berada.


Sengaja ya Kak, memanasiku? bahkan kini kamu tak sudi melihatku lagi?


Satu pekan kemudian, Abah mengadakan syukuran acara ngunduh mantu di kediamannya Cirebon, bersama buyut mereka Danarhadi sekaligus peresmian butik dan studio yang dihadiahkan Amir bagi istrinya.


" Cantik banget interiornya Mas, aku suka ... makasih ya. " Girangnya.


" Imbalannya jangan lupa Dek, belum buka puasa nih, " bisiknya mesra.


Blush. Wajah Aruni seketika merona. Masa haidnya yang terkadang panjang lebih dari sepekan membuat Amir harus menunda unboxing malam panas mereka.


" Aku dengar loh Kak ... aturan unboxing itu 1x24 jam, kesian masih disegel. " Senyum usil Naya.


" Maasss, ini loh bininya lepas, " seru Amir pada adik iparnya yang sedang bicara pada Abah diparkiran butik mereka. Mahen menghadiahi Naya dengan tatapan tajam darinya, seketika membuat nyali Naya menciut.


" Beneran pawangnya. " Tawa Amir tak bisa ia tahan.


*


C-up. Mencium pucuk kepala istrinya yang serius menggambar.


" Sayang, sholat sunnah dulu, " ajaknya menarik lembut tangan Qiyya agar menyudahi aktivitasnya.


Tanpa banyak kata, Aruni mengikuti arahan suaminya. Dirinya sadar akan kewajiban malam ini yang mungkin akan diminta oleh sang suami.


Setelah keduanya selesai, Aruni menaiki ranjangnya lagi. Dia nyaman dikamar baru mereka. Amir sepertinya tahu warna kesukaannya, terlihat dari semua ornamen yang tertata rapi di meja rias yang tampak masih baru, perlengkapan mandi yang tersusun rapi bahkan handuk dan sandal dengan warna senada. Biru langit.


Interior kamar baru membuat ia betah berada didalamnya, wallpaper doff perpaduan sky blue, broken white serta navy yang melekat didinding kian membuat sejuk mata memandang.


" Minum dulu Dek, " sodornya pada Aruni.


Amir memandang wajah istrinya yang tertutup sebagian anak rambut yang menjuntai, menyelipkan ke belakang telinga lalu mengangkat wajahnya yang tertunduk.


C-up. Mencecapi setiap jengkal bibir ranum basah yang membuatnya ingin melakukan lebih.


" Sayang, boleh? " tanyanya memastikan Aruni bersedia dimilikinya utuh malam ini.

__ADS_1


Aruni hanya menganggukkan kepala perlahan, malu.


Mas, kalau habis sholat masih ada butiran air sisa wudhunya kenapa cakep banget sih.


Amir meraih remote di atas meja nakas, meredupkan lampu kamarnya serta menurunkan suhu pendingin ruangan.


" Ko diturunin, dingin Mas. "


" Nanti juga gerah. " Amir kembali mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Aruni yang paham niat suaminya, menyambut perlakuan Amir, membelai rupa pria yang mulai mengabsen semua bagian wajahnya satu persatu.


" Cantik ... lembut .... manis dan seksi ... istriku. "


Benar saja, suhu ruangan yang mulanya dingin kini mulai menghangat sebab peluh yang mulai muncul dan luruh.


Tak ada sangkalan dari wanita cantik dibawah kungkungan tubuhnya, hanya anggukan samar disertai senyuman manis yang sialnya makin memicu hasrat kelelakian.


" Robby habli minasholihin, " lirih Aruni, sakit berperih sedetik lalu hilang entah kemana berganti gelombang nikmat yang mengggulung mendera sukma.


Amir menjeda sesaat, membisikkan untaian doa ditelinga Aruni.


" Bismillâhil ‘aliyyil ‘azhîm. Allâhummaj‘alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbî. Allahumma jannibnisy-syaithân wa jannibisy-syaithân ma razaqtana ... buka matamu sayang, " pinta Amir seraya menyeka keringat di dahi Aruni.


Amir mengecupi wajah dan dahi istrinya. Keduanya lalu terjatuh, saling memeluk erat menyatukan peluh.


"Syukron sayang, milikku."


Haknya telah dipenuhi meski Aruni tahu dalam hati kecilnya, pria yang kini menjadi suaminya ini belum menaruh suka terlebih cinta. Namun, rasa hati ingin egois, berpura menyatakan diri bahwa dialah yang terpilih dan berhasil menjadi Nyonya Zaidi.


"Bolehkan jika aku berharap sedikit lebih banyak dari yang seharusnya? apakah aku akan di sebut merebut milik saudari sesama muslimah? Tapi kan, Aiswa telah lebih dulu menikah. Bukankah, di larang mengharapkan seseorang wanita yang telah menjadi milik saudara seiman lainnya?" batin Aruni bergejolak. Antara bahagia juga risau atas apa yang baru saja dia terima.


Tak dipungkiri, dia tentu tahu alasan Amir menikahinya. Meski kerap menyatakan sayang dan sangat berusaha memuliakan dirinya namun hati wanita, tentu tidak dapat di bodohi.


.


.


..._______________________________...


...Mommy ga mood nulis karena kangen kakak yang sudah berangkat mondok lagi, hiks.....


...Tapi demi kalian, mommy paksakan hingga terlambat UP......

__ADS_1


...Kalau kurang panas, nyalain kompor yaa... 😌...


__ADS_2