DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 80. PERCOBAAN


__ADS_3

Persiapan Aruni mengikuti sebuah event bergengsi di Bandung pekan depan, nyatanya menguras perhatian Amir.


Rencana memeriksakan kondisi terkini istrinya terlupakan, sebab terbawa suasana oleh Aruni yang sangat excited.


Naya yang baru saja keluar dari kamar seraya tangan kanannya mengelus perut buncit yang tegang sedari tadi membuatnya tak leluasa berbaring.


Ia pun menghampiri sang kakak yang berada di ruang keluarga, melihat beberapa lembar kertas berserakan dilantai membuat Naya penasaran. Pasalnya kakak keduanya itu jika sedang menggambar selalu memakai tab nya bukan manual seperti yang dilakukannya saat ini.


Design Queeny pun telah lancar meluncur untuk launching series terbaru hingga mengundang komentar adik bungsunya.


"Weish, Kak produktif sekali ... bawaan bayi ya, kejar setoran, " kekeh Naya melihat sang kakak begitu serius mengerjakan projectnya.


"Astaghfirullah, Nduk aku lupa," bisiknya ditelinga Naya yang duduk tak jauh darinya disofa ruang keluarga, masih dikediaman sang adik Orchid Tower.


"Apa?" sahutnya sembari meraih salah satu kertas di sofa.


"Periksa Qiyya ke Obgyn, gimana yaa?"


"Kakak inget ga, bikinnya kapan? eh haha ... maksud aku, ha-id Mba Runi, terakhir kapan? " gelaknya.


"Kamu itu kebiasaan ... mana aku tahu, emangnya Mas Panji inget apa? "


"Ga mikirin itu ya Kak, yang penting tancap ... ingetnya pas bisa ditengok aja," Naya terbahak.


Pletak.


Amir menjitak kepala adik bar-barnya itu. Kebiasaan Naya yang bicara asal terkadang membuatnya malu.


"Aduh, sakit ... penganiayaan ibu hamil ini ... Abang selalu ingat lah kapan aku ha-id, kan dia rajin ngitungin hari nanya hampir tiap hari kapan aku sholat lagi, hahaha." Tawanya makin menjadi.


"Astaghfirullah, Abaaaaahhhh....! " teriak Amir memanggil Abah yang sejatinya sudah kembali ke Solo tadi pagi.


"Untung Abah udah balik, aku puas." Masih tertawa lepas. Dirinya bahagia dapat menggoda Amir karena kakaknya itu tidak akan marah padanya terlebih ditengah kondisinya saat ini.


"Mba Runi ... ini suaminya amnesia, getok aja ga perhatian sama bininya."


"Nduk, jangan kenceng-kenceng, dia ga tahu lho ... nanti dia mogok ke dokter kalau dibujuk sekarang, mau event pula, bisa ngambek... ini cita-cita nya. "


"Kak, jaga kesehatan aja dulu ... vitamin atau susu ibu hamil, kalsium jangan lupa dan test pack ... minta Mba Runi test kalau mau subuhan."


"Nanti aku beli kebawah sekalian belanja buah di market ... stok buah kamu habis itu Nduk, aku ngerepotin ya disini? apa aku pindah sewa unit aja yaa? " Amir khawatir kehadirannya dengan Aruni yang sudah satu pekan mengganggu privasi keluarga kecil adiknya.

__ADS_1


"Kalau kakak mau Abang ngamuk, coba saja."


"Coba apa Kak? assalamu'alaikum, " sapa Mahendra tiba di kediaman. Menghampiri mereka berdua yang tengah asik bercengkrama, menghujani Naya dengan kecupan dan pelukan.


"Honey, kalian bikin Ayah kangen," tangannya mengusap pelan perut Naya yang membuncit.


"Wa'alaikumussalam ... aku mau sewa unit Mas, " sambung Amir berpura tak melihat pameran kemesuman mereka yang tidak tahu tempat.


"Buat apa? tempatku kurang luaskah? atau Naya menyakiti Mba Runi? atau aku tak becus menjamu tamu ku? " jawabnya serius meski masih menciumi perut istrinya.


"Nah kan, aku ga ikutan ya Kak." Naya menimpali.


"Ga jadi deh, hahaha ... ampun Mas, lupain aja." Jawab Amir tak enak hati.


"Kalau Naya berulah hingga menyakiti Mba Runi atau menjamu kalian setengah hati selama aku tak ada dirumah, bilang padaku Kak ... aku berarti tak bisa mendidik istriku dengan benar."


Glek. Kedua kakak beradik itu saling bersitatap. Tak menyangka reaksi Mahen demikian serius.


"Bukan gitu Mas, aku hanya takut merepotkan atau menggangu privasi kalian."


"Privasiku dan Naya tak terbingkai Kak kecuali kalau anu," Mahen tertawa disaat kedua orang dihadapannya takut salah bicara.


"Mba Runi kemana?"


"Tidur Mas ... akhir-akhir ini dia gampang banget tidur, ga ada tiga detik udah pules, "


"Coba test pack Kak, jangan macam aku, Naya hamil enam minggu ga ketahuan padahal mood swing banget waktu itu tapi aku ga peka ... maafin Ayah ya Nak ... hikmah dibalik punya bini tarzan gini kali ya Kak," kecupnya lagi pada perut istrinya yang masih setia dia peluk sedari tadi.


"Mandi, ganti baju dulu biar legaan, Abang dari lapangan kan hari ini." Usap Naya pada kepala suaminya yang kini sudah berbaring dipaha Naya yang masih duduk di sofa.


"Aku udah mandi dan ganti baju di kantor sebelum pulang sayang ... Kak, kondisi dan gejala Tri Mester kehamilan itu beda-beda ... mungkin Naya muntah tak beraturan waktunya, demam udah macam typus saja naik turun beberapa hari sedangkan Mba Runi beda, tidur melulu."


"Gitu ya?"


"Coba search Kak ... aku juga sama, mencari tahu artikel tentang kehamilan akhir-akhir ini untuk dibaca, lumayan menambah pengetahuan dasar."


Amir meraih laptopnya lagi, mengclosed beberapa sheet yang tengah dipakainya. Lalu mulai melakukan pencarian mengenai tanda awal kehamilan.


***


Java Jazz Festival, Bandung.

__ADS_1


Ini adalah event tahunan bergengsi untuk para designer pemula. Mirip ajang pencarian bakat dalam bidang fashion untuk mendapatkan designer baru yang penuh inovasi.


Tahun ini pagelaran yang diselenggarakan oleh beberapa Brand lokal yang sudah meng-asia bahkan mendunia turut andil sebagai sponshorship.


Tentunya kesempatan emas bagi para amatir salah satunya Aruni. Meski beberapa bulan lalu dia mengantongi peringkat dua Etnik fashion week di Jogja, tetap saja tak membuat hatinya tenang kala penjurian berlangsung.


Mereka membawakan sekiranya lima gaun untuk unjuk gigi dalam festival kali ini. Mengusung tema heaven on earth, yang digambarkan apik lewat pemilihan kombinasi warna teracotta dan pastel untuk gamis dan kaftan. Cutting khas Aruni yang penuh dengan lipatan-lipatan kecil, membutuhkan ketelatenan dan kejelian saat membuatnya, menyita perhatian salah satu juri.


Masa tenang setelah event sore itu dipergunakan oleh Amir untuk merelaksasikan tubuh mereka. Tak dipungkiri lelah mendera hingga Aruni pun langsung tertidur ketika tubuhnya baru menyentuh ranjang kamar hotel tempatnya menginap.


Amir tak sabar, ketika sang istri terbangun di tengah malam mengeluhkan lapar. Dia memberi sesuatu padanya.


"Buka didalam, lalu coba."


"Apa ini Mas? "


"Jangan putus asa nanti, masih banyak kesempatan dan harapan ... Ok? "


Amir menyerahkan satu bungkusan tipis warna biru langit ke tangan Aruni.


"Aku menunggumu disini yaa, " balasnya seraya menutup pintu toilet dan bersandar.


Degh.Degh. Amir tak sabar melihat hasinya sementara Aruni didalam terheran.


"Ko test pack? kan aku sedang haid mulai isya tadi, meski flek." Bahunya mengendik heran.


Dia hanya iseng mengikuti petunjuk pemakaian yang tertera dibelakang kemasan. Merasa tidak penting menunggu, Aruni meninggalkan alat itu begitu saja di wastafel setelah mencuci nya kembali.


Cklak.


"Sudah?"


"Hmm, tapi aku haid Mas,"


"Haa...."


.


.


..._____________________________...

__ADS_1


__ADS_2