
Menjelang Ashar Amir dan keluarga kakaknya tiba di pondok Al Multazam Semarang, milik mertua Abyan. Benar yang dikatakan sang kakak saat diatas kereta, ia merasakan suhu badannya mulai meninggi, demam dan keluar keringat dingin sebesar bulir jagung di dahi yang mulai turun membasahi wajah tampannya.
Melihat adiknya kian lemah, Abyan memapah Amir masuk perlahan kedalam kamar tamu yang telah disiapkan di kediamannya sembari meminta pada istrinya untuk memanggilkan salah satu asisten rumah tangga pria agar membantu mengambilkan air hangat yang akan Abyan gunakan untuk mengompres kening adiknya.
" Istirahat Mir, sehari saja. Bila urusanmu mendesak, kakak bisa mewakilkan, " pintanya sembari menyeka kening Amir yang berkeringat.
Amir masih menimbang apakah memang seharusnya diwakilkan oleh sang kakak atau tidak. Tapi mengingat betapa Almahyra berharap, Amir akhirnya menyerahkan kedua ponsel itu kepada Abyan.
" Ini kak, kalau dia kirim pesan padaku, balas saja. Aku janji akan mengembalikan ponselnya hari ini, kasihan, banyak file penting di dalamnya. " Amir menyerahkan ponselnya dan ponsel Almahyra pada Abyan.
" Baik, kalau sudah agak enakan, langsung sholat yaa lalu istirahat lagi, " ujar sang kakak sembari menyodorkan segelas air untuk meminum obat pereda nyeri yang dibawakan asisten rumah tangganya.
" Iya. "
Setelah dikompres oleh Abyan dan meminum obatnya tadi. Kini Amir perlahan tertidur tanda reaksi obat mulai bekerja.
Abyan lalu keluar kamar tamu dengan membawa kedua telepon genggam itu di tangannya menuju kedalam kamar pribadinya. Dia meletakkan kedua benda itu diatas meja nakas, namun saat benda pipih itu berdering beberapa kali Abyan tak mendengarnya sebab sedang berada di kamar mandi.
" Gimana sih, ko ga diangkat? aku butuh file itu, " Almahyra mulai panik.
Ia kembali mencoba melakukan panggilan beberapa kali dan hasilnya sama. Namun sejurus kemudian, notifikasi pesan masuk dari nomor Amir terlihat di pop-up ponsel Emilia yang tengah ia pegang sedari tadi.
" Oh, dia sakit dan ini yang balas kakaknya. Apa?! Al Multazam... Bila ini kakaknya, berarti dia adik iparnya Mba Qonita? what!!, " Alma memekik tak percaya.
Pemilik pondok Al Multazam dan Al Islah adalah kakak beradik. Qonita, istri Abyan adalah sepupu jauhnya sebab Almahyra adalah keponakan pemilik Al Islah dari pihak istri. Qonita adalah anak tunggal, jadi wajar bila Almahyra langsung menebak bahwa Amir adalah adik Abyan, suami sepupu jauhnya itu.
" Ya Allah dunia ini betul tak selebar daun kelor. " Almahyra lalu membalas pesan kembali bahwa ia akan meminta seseorang mengambil ponselnya kesana. Ia malu bertemu dengan keluarga itu, terkesan sekali bahwa ia tidak sabaran. Terlebih bila diketahui bahwa ia lah pemilik ponsel yang Amir temukan, mau ditaruh dimana wajah cantik nya itu.
Namun nampaknya nasib baik tak berpihak padanya kali ini. Tidak ada satupun santri yang bisa ia mintai tolong sore itu. Suasana pondok sangat lengang, maklum saja semua santri masih kajian di kelas masing-masing.
" Alma, Mba Qonita sudah pulang dari Jakarta, kamu diminta ke sana karena banyak hantaran sayang kalau tidak di ambil, mubadzir, " Bibinya menepuk bahu Almahyra yang sedang duduk dimeja makan rumah itu.
" Alma Bi? sekarang? besok saja boleh?, " elaknya.
" Besok Mba mu pergi tapi terserah kamu saja, yang penting kabari dulu kapan ingin kesana, " Bibi berlalu meninggalkan Alma kembali.
Setelah negosiasi panjang dengan sang Bibi, akhirnya Alma memutuskan berkunjung esok jam sepuluh pagi sebelum Qonita pergi.
*
Amir hanya membuka mata untuk sholat dan makan sepanjang sisa waktu hari ini. Perlahan kondisi badannya mulai kembali normal dan ia berusaha bangkit keluar kamarnya perlahan.
" Mir, sudah enakan?, " tegur Abyan saat melihatnya keluar dari kamar dan duduk di sofa ruang keluarga.
" Alhamdulillah mendingan ka, syukron. Ada kabar dari pemilik ponsel itu ka?, " tanyanya ketika Abyan telah ikut duduk di sampingnya.
__ADS_1
" Besok katanya kemari. Oh iya, besok juga sepupu Mba mu mau ambil oleh-oleh hantaran, kalau Mba mu pergi, kamu berikan yang bingkisan biru diatas meja makan itu yaa Mir.. Kakak takut bentrok ada majelis. " Abyan menitipkan amanah.
" Itu? Baik ka. "
" Jangan lama-lama disini, dingin, istirahat lagi sana, kakak mau temani Abuya sebentar didepan, " Abyan menawarkan memapah adiknya itu kembali masuk ke kamar.
" Iya kak, kepalaku masih sedikit berat, " bangkit nya perlahan di papah sang kakak kembali masuk ke kamarnya.
***
Keesokan pagi, Al Islah.
Alma bejalan mondar-mandir di dalam kamarnya, gelisah karena beberapa menit lagi, ia harus ke Al Multazam untuk mengambil ponsel sekaligus bingkisan oleh-oleh dari sepupunya.
Gamis polos navy dengan variasi ruffle dibagian depan, dipadu dengan hijab abu bermotif pattern berwarna senada gamisnya, terlihat sempurna dan anggun membalut perawakan gadis dengan tinggi semampai, berkulit kuning langsat itu. Tanpa polesan make-up berlebihan diwajah, kecantikannya terpancar alami.
Setelah yakin penampilannya telah rapih, ia pun pamit pada Bibi yang baru saja selesai sholat duha dikamarnya.
Alma lalu menuju parkiran samping kediaman sang paman, mengeluarkan sepeda motor mio matic merah kesayangannya untuk menuju kediaman Qonita.
Karena jarak yang dekat, ia hanya membutuhkan waktu lima belas menit perjalanan. Kini Alma telah berada di halaman depan kediaman Qonita yang terletak di dalam area pondok pesantren Al Multazam.
" Assalamu'alaikum, " Alma mengucap salam.
" Mba Qonita mana?. "
" Sedang keluar dengan Ustad Abyan, tapi sudah diamanahkan ke Mas nya, sebentar yaa Mba Alma, " pria paruh baya itu kembali masuk kedalam rumah.
Alma menunggu di ruang tamu dengan cemas, dalam duduknya ia pun rasa tak tenang. Lamat terdengar suara langkah kaki yang mendekat menuju ruangan dimana ia berada, hatinya menjadi semakin tidak karuan.
" A-a.. Assalamualaikum, " suara Amir tercekat saat pandangan keduanya bertemu.
" Wa'alaikumussalam, " Alma segera menundukkan pandangan. Ya Allah, mahluk-Mu, Maa sya Allah sempurna. Jantungnya kian berdentum hebat hingga Alma khawatir Amir dapat mendengar suara detakannya.
" Diminum dulu Mba Alma teh nya, " Amir datang dengan asisten kakaknya yang membawakan minum untuk tamu.
Dia, Almahyra? Maa sya Allah, indahnya ciptaan-Mu ya Robb. Amir takjub.
" Syukron, Kang " jawabnya lembut.
Setelah pria paruh baya itu pergi, keheningan menyelimuti ruangan beberapa saat hingga Amir memberanikan diri membuka suara lebih dulu.
" Hm, Alma ya? aku minta maaf kemarin tidak bisa menepati janji mengembalikan ponselmu. Ini silakan, diperiksa kembali. Aku sama sekali tak membukanya meski adik iparku memberitahu pin numbernya, " Amir menyodorkan ponsel Almahyra diatas meja.
" Seriously? hal hadza shahih?, " (benarkah demikian?) Alma tak percaya.
__ADS_1
" Na'am, lam 'aftahh, " (Ya benar, aku tak membukanya) jawab Amir singkat.
" Eh, afwan kelepasan, Pak Amir bisa bahasa Arab juga?, " pertanyaan bodoh Alma. Tentulah ia bisa, kan tadi udah jawab. Hatinya merutuki kebodohannya.
" Yakfika bi (Amir), wallah ma asanna bik, ya Alma. " (cukup Amir saja, aku tidak lebih tua darimu Alma).
" Asf likawnih, afwan. " (Maaf sudah tidak sopan) Alma tertunduk malu.
" Nevermind Alma, aku panggil nama saja keberatan tidak?, " tanya Amir mencairkan suasana canggung yang kembali datang.
" Boleh Ka, Alma saja. Hm, ini terimakasih banyak. Ana tidak bisa lama karena harus prepare untuk acara lusa nanti. Afwan, Mba Qonita menitipkan sesuatu untukku kah uhm untuk Bibi ku tepatnya?, " Tanya nya ragu.
" Maksudmu, bingkisan oleh-oleh?. "
" Na'am.... "
" Yassalam, ternyata kamu orang yang sama? sebentar aku ambilkan. " Amir masuk kedalam mengambil bingkisan diatas meja makan yang dititipkan Abyan padanya semalam.
" Ini, semoga berkenan, " sodornya ke hadapan Alma saat ia kembali.
" Syukron, ana pamit dulu ya kak. " bangkit nya dari duduk menuju pintu keluar.
Baru saja Alma hendak memakai sandalnya, Qonita datang menyapa dari balik punggungnya.
" Eh Alma, sudah ketemu sama Amir? udah kenalan donk yaa?. "
" Baru saja Mba, " jawab keduanya bersama.
" Aih, kompak. "Abyan menimpali. Nampak dari bahasa tubuh mereka berdua, keduanya terlihat malu-malu saat pasangan suami istri itu menggodanya.
Karena Alma terburu, ia langsung pamit undur diri dari kediaman sepupu jauhnya setelah mengucapkan banyak terimakasih atas bingkisan yang ia bawa.
Sepuluh menit berlalu. Abyan dan Qonita saat ini telah berada di kamar mereka dan masih membicarakan tentang keduanya.
" Buya, afwan bila Amir suka dengan Alma setelah perkenalan mereka tadi, aku kurang setuju. Ada hal yang ga bisa aku ceritakan, takut fitnah, " ucapnya khawatir saat ia membantu suaminya berganti baju.
" Kenapa? mitos itu? aku ga percaya sayang. "
" Buya tahu? jangan yaa, aku mohon. Aku sayang adikmu bagai adikku sendiri Buya, " Qonita mulai berkaca-kaca.
" Umma sayang, hati-hati fitnah dan hasad... Mitos itu.... " Abyan membelai wajah sendu istrinya.
___________________
Apasih?
__ADS_1