DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 186. KELUARGA HEBOH


__ADS_3

"Do'akan aku ya Ma," pinta Rayyan meraih tangan Mama.


Setelah mengetahui respon Dwiana, Rayyan kembali ke kamar di paviliun sedangkan Mama bersama Joanna melihat butik Queeny.


Sementara di kamar.


Amir mengejar Aiswa yang nampak emosi saat menyampaikan maksud Dwiana. Ia bukan tidak memahami, namun terkejut Aiswa demikian impulsif.


"Sayang," panggil Amir mendekati Aiswa yang tengah mengaji.


"Diem Bii, aku malas wudhu lagi. Hatiku gelisah, " lirih Aiswa.


"Jangan di bawah sayang, sini naik. Aku ngerti, ga marah cuma tadi itu kurang santun," tuturnya lembut menarik tubuh istrinya ke atas ranjang.


"Aku tahu, karena kesal. Dwiana bebal yang satunya ragu tapi sok melanjutkan," sungutnya kesal.


"Wajar, kan belum terbuka satu sama lain, do'akan ya," pinta Amir membelai wajah Aiswa dengan tangannya yang berlapis mukena.


"He em, aku lanjutin ngaji dulu," gumamnya.


"Adek gak rewel hari ini? kamu pengen di bawain apa gitu Rohi? aku mau keluar dengan dokter Rayyan sore nanti," lanjut Amir masih memainkan pipinya dari balik kain.


Aiswa tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia terus melanjutkan aktivitas mengaji di ikuti oleh Amir, sekalian muroja'ah pikirnya.


Hampir dua jam namun istrinya masih setia mengaji. Inginnya mengusik tapi Amir sungkan, takut mood Aiswa berantakan dan ia kena imbasnya.


Sambil menunggu Aiswa selesai, ia meraih ponselnya. Membuka obrolan di grup chat keluarga Kusuma.


"Assalamu'alaikum, do'ain lancar dan selamat hingga saatnya nanti," tulis Amir seraya mengirimkan foto hasil USG Aiswa.


"Wa'alaikumussalaam. Ciyeeee, tokcer amat si Bapak. Beneran Kak?" balas Naya.


"Iya, baru empat minggu Nduk," Amir membalas pesan Naya.


"Alhamdulillah cucuku segera launching, yang sabar ngadepinnya ya Mir," Abah menimpali.


"Uyut mau punya cicit lagi Mas? alhamdulillah, bikin lagi yang banyak yaa biar rame, jamu Mas jangan lupa 🤭" Danarhadi tak kalah ikut berkomentar.


"Nggih Bah ... gak pake gituan ya Yut, belum juga lahir, udah suruh bikin lagi, hadeuh Uyut," Amir tak habis pikir pada uyutnya.


"Alhamdulillah, ponakan aku, sehat dan lancar semuanya ya Dek," Qonita mendoakan mereka.


"Terbukti gaya mu lebih unggul ya Mir daripada terdahulu," Abyan mulai usil.


"Sayangnya cuma aku yang ada dalam memorinya Kak," balas Amir pada Abyan.


"Maksudnya?" tanya Abyan lagi.


"Hanya aku, miliknya."


"Uhuuyyyy masih segel sekali buka langsung cetar ya Pak?" gelak Naya disertai stiker tertawa.


"Deuh, Kak Abyan lemot," ejek Naya pada Abyan.


"Perasaan baru juga kapan nikah Mir," ujar Gamal.

__ADS_1


"Mau dua bulan woy, pekan depan, Lu mau bilang apa?" cecar Amir pada Gamal.


"Yee ngegas ... Pantesan tokcer, jangan-jangan karena video gue ditonton terus ya Mir?" sambung gamal mengirimkan emot terbahak.


"Kagak lah, gue dah ahli. Emangnya Lo? heran, Milyarder kok doyan nonton begituan," balas Amir telak. Gamal mengirimkan flash disk berisi adegan film dewasa saat ia dan Aiswa membongkar kargo kemarin.


Gamal mengirimkan stiker tertawa berguling-guling.


"Selamat ya Kak, kudu syukuran nih. Unboxingnya masih segel eh langsung jadi pula, rezeki dobel donk," ujar Mahen.


"Pokoknya selamat ya Kak, lancar sehat ibu dan adek bayi hingga waktunya lahir nanti, aamiin." Almahyra ikut mendoakan.


"Aamiin, makasih ya semuanya." Pungkas Amir.


"Mas, Aiswa ga dimasukkan sini?" tanya Danarhadi.


"Gak usah Yut nanti Gamal punya bahan," sindirnya pada Gamal.


"Eh, su'udzon Lu. Mana berani Gue gitu ke bini Lu sekarang. Orang pendiem lebih serem tau daripada kek Naya itu, pecicilan tapi gak dendaman," kilah Gamal.


"Aish gak dendaman Mal, hanya lebih berani menjawab bila dia di usik," tulis Amir membalas Gamal.


"Ko aku? Abaaaaang, Gamal noh." Naya tag suaminya.


"Mal, warning...." Mahen tag Gamal.


"Yaelah, Mas Panji belagak bela bini padahal ngakuin juga," tuduh Gamal pada Mahen.


"Sudah, sudah, do'akan Aiswa sehat hingga Kusuma kedatangan anggota baru lagi, aamiin."


"Aamiin."


"Aamiin."


Naya heboh, mengirimkan banyak stiker, ditambah dengan Gamal yang tak kalah menggoda Amir. Sedangkan Qonita dan Alma sibuk menegur suami mereka, begitu pula Mahen, ikut memperingatkan istrinya yang mulai berbuat rusuh.


Abah dan Danarhadi hanya menanggapi dengan emot tersenyum atas candaan Abyan dan lainnya. Siang itu Amir habis digoda, dikuliti oleh keluarga Kusuma.


Amir tak menjawab meski ingin, dia menahan diri. Hanya kekehan dan sesekali tawanya terdengar oleh Aiswa yang masih setia mengaji.


Ya sama enaknya lah, kan punya keberanian masing-masing dalam melayani ku. Meski dulu tak semood ini.


"Ngapain sih Bii, daritadi ketawa mulu," tanya Aiswa saat ia melepas mukena dan menaruh kembali mushaf dalam rak kaca, tempat kitab Amir berjajar rapi.


"Grup Kusuma sayang, biasalah heboh. Kamu aku masukkan ke grup ya," ujar Amir.


"Ga usah ah, kan udah ada Qolbi disana. Aku lihat aja," balas Aiswa enggan.


"Bii, kabari Umma boleh gak?"


"Boleh, gih kabari."


Baru juga Aiswa akan meraih ponsel di atas meja. Panjang umur, umma calling.


"Assalamu'alaikum Umma," sapa Aiswa.

__ADS_1


"Hah, minggu depan pulang? kayaknya ga bisa deh Umma, kata Qolbi, jangan pergi jauh dulu."


"Hmm, iya, empat minggu Umma," cicitnya malu.


"Alhamdulillah aamiin, nanti Aish kirim foto USGnya yaa. Minggu depan kakak mau apa?"


"Oh gitu, nanti Aish coba bilang sama Qolbi ya Umma, tapi ga janji juga sih karena kata dokter masih riskan. Cuma Aish gak ngalamin gejala-gejala kayak ibu hamil biasanya. Enak aja gitu badan meski sesekali mual jika pagi, kan normal ya umma? .... gak minum susu karena gak suka, Qolbi ganti pakai nabeez dan kurma sama pure buah, juga suplemen," tuturnya panjang.


Begitulah Aiswa, bisa berbicara panjang dengan durasi lama hanya pada orang-orang terdekatnya yang dia merasa nyaman.


Amir menunggu dengan sabar percakapan yang sudah tiga puluh menit berlangsung antara ibu dan anak. Jemarinya mulai mengusap perut rata Aiswa yang ada disampingnya.


"Sehat terus ya anak Abi, jangan rewel sama Umma biar kita bisa jalan kemana aja," lirihnya berbisik di perut Aiswa.


Kehamilan kali ini sangat membuatnya bersemangat. Baik menjaga Aiswa ataupun hal lainnya.


Ting. Notifikasi ponselnya berbunyi.


Ahmad mengirimkan pesan padanya tentang rencana minggu depan. Persis seperti yang istrinya sedang bicarakan dengan Umma.


"In sya Allah, lihat kondisi Aiswa ya Mad, gue bercocok tanam dan berhasil." Tulis Amir membalas pesan Ahmad.


Keduanya larut dalam obrolan ponsel masing-masing hingga ketukan di pintu menghentikan sementara aktivitas mereka.


"Den Mas, ada tamu ... dari Jakarta, ibu-ibu."


"Siapa Jo?"


"Owner Sheila Hijab."


Degh.


Amir ingat, janjinya menyambangi workshop salah satu juri saat Aruni ikut Java Jazz Festival di Bandung dulu, belum terlaksana.


"Sheila Hijab? siapa Bii?" tanya Aiswa.


"Juri saat Qiyya ikut lomba dulu, dan beliau menawarkan kerjasama dengan Quenny." Amir ragu, takut Aiswa tersinggung karena ini ada hubungannya dengan Qiyya.


"Temui aja, aku gak apa ko. Siapa tahu justru menjadi penyambung cita-cita Mba Runi lagi kan?" jawab Aiswa sumringah.


"Beneran sayang?"


"Iya, habis ini aku minta ditemani nyekar ke Mba Runi, Ummi dan abang Naufal, ya Bii. Aku belum salam pada mereka semua," pintanya lagi.


Ini murni keinginan kamu, atau bawaan bayi, sayang?


.


.


...__________________________...


...Bawaan bayi, andalan. Ciye, Aiswa lebih berani ya Mir, makanya mood mulu 😂. ...


...Mau kasih visual dokter Rayyan, tapi nanti aah, buat vitamin malam aja 🤭. ...

__ADS_1


__ADS_2