
Setelah memastikan segala dokumen untuk Danesh Aeyza, team dokter yang diketuai oleh Hermana Arya memberangkatkan kedua pasien yang tak lain putri dan mantan istrinya menuju Rumah sakit di Malaysia untuk penanganan lebih lanjut.
Dewiq seharusnya ikut bersama dengan rombongan namun ia mengurungkan diri sebab kejanggalan yang dia rasakan saat menemani Aiswa kemarin.
" Dia seperti mendengar ku dari reaksinya meski lemah ... apa mungkin dia.... "
" Ulf, Ulfa.... " serunya memanggil sang aspri.
" Ya Nona, "
" Aku ingin bertemu Aiswa, tolong sterilkan lokasi. "
" Baik, tunggu sebentar Nona, " jawabnya. Ulfa memberikan instruksi pada Joanna yang ditugaskan mengawasi perkembangan Aiswa.
Beberapa menit setelahnya.
" Nona, mari ... Joanna memberi waktu anda dua jam. "
Dewiq menaiki BMW sportnya, memacu membelah jalanan yang sedikit steril untuknya agar dapat melesat cepat. Lima belas menit berlalu begitu saja, Dewiq tergesa-gesa menuju ruangan Aiswa.
" Ais, aku tahu kamu bisa mendengarku ... jangan berpura dihadapanku. " Nafasnya tersenggal.
" Aiswa Fajri! tahukah kamu bahwa aku takut? takut kehilangan kedua adikku?... kamu, jangan tinggalkan aku, Aiswa! " sentaknya mencengkram brangkar erat.
" Kumohon, sebutkan apa maumu ... Aiswa, aku akan berusaha mewujudkannya, kau tahu kan? hanya kamu dan Dwiana sahabat yang aku punya, " suaranya bergetar putus asa, takut apabila dugaannya meleset.
Ia memukul ranjang besi itu dengan tangan mengepal, dadanya sakit menahan gejolak amarah yang dia tahan akibat kebodohannya.
Hening.
Hening.
Saat Dewiq mulai acuh, terduduk kemas di kursi samping ranjang Aiswa, menyeka keringat yang bercampur air mata. Dari sudut matanya dia melihat jemari Aiswa bergerak.
" Kak, k-au ka-h itu, " lirihnya.
" Ais, Aiswa, " gumamnya.
__ADS_1
" Apakah a-ku sud-ah mati? "
" Tidak, tidak boleh mati sekarang ... bicara perlahan, aku akan mendengarkan. "
" Qol-bi? "
" Dia di China, mengobati Aruni dan akan kembali tiga bulan kemudian ... kau ingin aku memintanya datang? "
Dewiq melihat bulir air mata mengalir dari sudut mata yang terpejam. Dadanya naik turun, mungkin menahan sesak akibat segala rentetan peristiwa yang menderanya.
" Mana yang sakit? "
" A-ku di-mana? "
" Rumah sakit, milik keluarga ku ... kamu aman, kejahatan Hasbi padamu akan segera terbongkar ... Ulfa melaporkan padaku bahwa Abuyanya telah mengetahui dia berpoligami. "
" Aku ber-mimpi b-er-temu wani-ta, dia menyebut dirinya umm-i ... dia bilang padaku, belum waktu-nya aku pu-lang ... dia bukan menungguku, entah siapa yang d-ia mak-sud, juga ada seorang anak ke-cil disam-pingnya. "
" Lupakan, yang penting kamu sudah siuman ... kepalamu cedera serius Aiswa, apakah sakit? "
" Hem, sangat sakit dan aku tak bisa mem-bu-ka mata-ku. "
" Aku, ra-sanya tak ingin kembali ... ada-kah jalan? "
" Bila kau ingin lepas darinya, kita butuh rencana ... akan aku bereskan semua untukmu. "
Aiswa, kamu pasti akan sangat kesakitan setelah ini. Luka operasi di kepalamu meski bisa ditekan menggunakan obat-obatan namun rasanya pasti akan sangat menyiksa, aku harap kamu tidak akan kehilangan memorimu nanti.
" Bertahanlah, namun jika kau benar-benar ingin menyerah, lepaskan perlahan ya Aiswa ... terutama cintamu, agar ketika kamu kembali menghadap Tuhan, kamu telah dalam keadaan damai dipangkuanNya. " Dewiq menyeka air matanya yang kembali turun membasahi pipi.
" Aku le-lah. "
Tuutt.Tuut.
Dewiq panik, ia berteriak agar Ulfa memanggil dokter termasuk Laura. Panggilan darurat dari sang Putri Mahkota membuat mereka sigap dalam sekejap.
" Nona, untung anda cepat bertindak dengan memberinya CPR, jika tidak entah apa yang akan terjadi. "
__ADS_1
Dewiq mencelos, kakinya lemas. Ia mengajak Laura bicara empat mata dengannya. Entah pembicaraan apa yang ada dibenaknya dan akan dia sampaikan pada Laura saat itu, yang jelas dia akan melakukan semuanya maksimal.
" Ulf, Ulfa ... haus, aku lapar, " keluhnya ketika kondisi Aiswa berangsur normal meski banyak alat medis masih menempel di tubuhnya.
" Five minutes, " balas Ulfa yang sekejap menghilang.
Wajar jika anda lelah Nona, hampir dua hari anda kurang istirahat, memperhatikan Nona Danesh dan Aiswa serta ibu anda. Lupa bahwa diri sendiri butuh istirahat meski anda seorang dokter.
Kelak, anda akan menjadi dokter hebat yang peka akan perasaan pasiennya, Nona Dewiq. Sekaligus dokter mafia, haha. Hermana Arya tak salah memilih anda menjadi pewaris tunggal kerajaan medisnya. Anda tangguh, Dewiq Arzu Hermana.
***
Umma panik ketika banyak dokter berlari menuju ruangan Aiswa, dia dan suaminya dilarang mendekat.
Tak lama kemudian, rombongan pria berjas putih itu pun keluar satu persatu dengan wajah lega.
Saat umma dan Hariri salim hendak masuk keruangan Aiswa, tangan pemilik ponpes Tazkiya itu dicekal seseorang. Abuya melihat ke arah kanan, pada sumber langkah kakinya yang dihambat.
" Yai Maksum, alhamdulillah, " serunya bahagia.
" Alhamdulillah, takdir kita bertemu, ana ingin menyampaikan sesuatu Yai ... dimana kita bicara? "
" Masuk dulu, do'akan Aiswa, " pinta Hariri salim.
" Tapi ana.... " Kyai Maksum menahan diri, rasanya ia malu bertemu menantunya.
" Kenapa Yai? "
.
.
...____________________________...
...Happy Eid Adha Mubarok 1443 H...
__ADS_1
...Dari semua couple 3A...