
Amir masih diteras saat menjelang adzan Dzuhur. Hingga semua pekerja di wanti oleh Mang sapri agar rehat dan langsung mengambil wudhu ke Mushola depan untuk sholat berjamaah.
"Sayang, sholat dulu ... Aiswa," Amir menepuk pipi istrinya pelan yang tertidur di pangkuannya.
"Rohi, sayang, Aiswa," dia kembali mengabsen panggilan untuk istrinya.
"Aiswa, pules banget yaa padahal cuma nempel sekejap jadi."
Semua pembukuan telah ia rapikan. Ponselnya pun telah Joanna ambil dan diletakkan dikamar sebelum gadis itu bergabung dengan para karyawan ke Mushola.
" Panas disini Rohi," Akhirnya Amir gemas sendiri. Ia menciumi wajah istrinya namun tetap sang pemilik raga masih pulas.
"Manjanya, bismillah." Karena sulit dibangunkan, Amir berniat menggendong Aiswa ke kamarnya.
"Bii," Aiswa membuka mata meski masih mengantuk.
"Alhamdulillah bangun juga, sholat dulu sayang. Mau jama'ah denganku atau sendiri?"
"Sama Qolbi, jangan sholat di Mushola lagi," pintanya menggelayut manja.
Amir hanya diam berdiri, mengusap kepala istrinya sayang. Menunggu Aiswa betul-betul bangkit.
"Bii,"
"Ya? mau begini terus atau masuk?"
"Qolbi ko bisa sabar ngadepin aku, Umma aja kadang kesal kalau aku begini."
"Mumpung kamu begini, dimanfaatkan buat mancing rezeki ... Aku nyari kemana lagi coba yang model begini?"
"Manja ya?"
"Enggak, manjanya kamu itu karena aku yang minta. Kamu tahu ga Rohi?"
"Apa Bii?"
"Aiswa itu mandiri, jadi aku ingin kamu ketergantungan denganku. Itu sih intinya," Amir tersenyum, sejujurnya dialah yang manja, selalu ingin menempel dengan Aiswa.
"Gitu ya," Aiswa menengadahkan wajahnya.
"He em...."
C-up.
"Bii, lagi." Amir tertawa, istrinya mulai berani.
"Skin to skin, kalau ada tabir, aku ga bisa sesering begini padamu sayang."
C-up. C-up. Seraya mengangkat tubuh Aiswa agar bangkit.
__ADS_1
"Sholat dulu yuk."
"Aku gendong belakang Bii," Aiswa bangkit, menaiki kursi meminta Amir menggendong di punggungnya.
"Ya ampun, anak Umma," sahutnya menuruti keinginan Aiswa masuk kedalam kamar mereka.
Setelah sholat dzuhur.
Cuaca terik diluar membuat Amir malas kembali ke teras, ba'da ashar sebelum pekerja pulang dia masih sempat menyapa mereka nanti, pikirnya.
"Bii, mau makan kapan? aku siapkan," tanya Aiswa saat melipat mukenahnya.
"Setelah ini sebentar 3 surat ya." Amir muraja'ah hafalannya. Sedangkan Aiswa membuka mushaf mengikuti bacaan sang suami.
Tok. Tok.
"Nona, makan siang sudah siap," suara Joanna dari balik pintu.
"Pergilah jika sudah lapar, aku nyusul bentar lagi," Amir menarik tangan istrinya turun dari ranjangnya.
Aiswa pergi keluar kamar menuju dapur. Disana Joanna sedang asik membincangkan sesuatu dengan Mba Sri.
Rupanya mereka membicarakan tentang istri Amir dulu. Aruni yang di perlakukan sama oleh suaminya seperti dirinya kini.
"Tapi Den Mas sekarang beda Jo, dulu ga begini amat. Dulu Non Runi masih boleh ke dapur atau cuci piring bantuin saya kalau sekarang kan pegang sapu juga ga boleh," ucap Mba pada Joanna.
"Qolbi itu memperlakukan istrinya sama mulianya Mba. Beliau sedang dalam kondisi tidak sehat, sangat wajar bila Qolbi melarangnya pun jika mengizinkan, itu pasti agar beliau tidak bosan selalu berada di dalam kamar," imbuh Aiswa.
"Iya Mba ... Qolbi pasti berusaha membuat istrinya bahagia, apapun kondisinya tentu Qolbi memuliakan beliau," Balas Aiswa sambil menarik kursi.
"Den Mas romantis ya Non," imbuhnya lagi.
Aiswa masih membuat lemon tea hangat untuk suaminya saat Mba Sri mengungkap semua yang terjadi kala masih ada Aruni.
"Mba, maaf ... beliau sudah berpulang, tak baik membuka tentangnya lagi. Meskipun yang dibicarakan adalah kebaikan, itu mungkin bisa menjadi motivasi aku agar lebih baik lagi selama disini," Aiswa mulai rikuh.
"Jika hatiku sedang baik, mungkin aku akan memujinya, namun jika hatiku disisipi oleh hasad maka itu akan jadi petaka bagiku. Hubunganku dengan Qolbi menjadi canggung ... aku akan berpikir berlebihan terhadap beliau meskipun sejatinya apa yang dilakukan oleh suamiku adalah sama, adil."
"Simpanlah kenangan manis Mba dengan beliau, rapat. Jika aku ingin tahu kisahnya pun, maka akan bertanya langsung pada Qolbi. Aku menganggap beliau masih hidup, bahkan dalam kenangan suamiku sehingga aku menghormatinya. Sudah resiko, masuk dalam kehidupan suamiku setelah beliau ... jadi tolong ya Jo, Mba, dijaga lisannya," Aiswa menarik diri dari sana, membawa lemon tea hangat ke kamarnya.
Amir yang mendengar semua percakapan mereka dari balik pintu hanya diam.
"Bii, ko disini." Aiswa terkejut saat melintasi pintu tengah.
Amir tersenyum melihat Aiswa, membelai wajahnya lalu menariknya ke ruang keluarga.
"Makasih sayang, sudah lembut menegur mereka ya, akhirnya yang ku takutkan terjadi," sesalnya.
"Bii, aku paham ko ... Qolbi melarang ku keluar kamar, mengerjakan sesuatu disini demi menjaga hatiku kan, dari obrolan semacam tadi. Gak apa, jangan di jadikan beban hati ya. Aku bisa menjaga hatiku," tutur Aiswa lembut.
__ADS_1
"Tapi Rohi," lirihnya.
"Aku punya dua tangan untuk menutup telingaku, punya lisan sebagai pertahananku jika mereka menyakiti dan punya Allah yang menjaga hatiku. Mau bagaimanapun jika Allah yang menjaga, segala hasad tak akan bersemayam dalam hati," ujarnya lagi.
"Aku sudah menitipkan semua ketidakmampuan dan kelemahan hati sebagai hamba pada Robb ku ... cemburu itu tanda cinta, tapi cinta juga butuh kepercayaan bukan cemburu tanpa alasan. Aku percaya Qolbi," senyumnya mengembang.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad, betapa indah pandanganku padamu kini sayang ... makan di luar yuk," ajaknya menarik lengan Aiswa bangkit.
"Minum ini dulu, Bii, baru pergi."
Keduanya lalu keluar rumah menuju butik Queeny lebih dulu, mengenalkan Aiswa pada karyawan disana lalu mencari resto untuk makan siang.
"Seafood mau gak Rohi?"
"Apa aja Bii, boleh," balasnya seraya melihat pemandangan banyaknya pedagang kaki lima.
Ini adalah perjalanan pertamanya keluar dari rumah bersama sang suami setelah satu bulan Aiswa berada di kota ini.
"Banyak makanan yaa disini Bii, pantas Joanna tadi cepet banget beliin pesanan kita, Butik Queeny juga tadi rame banget, setiap hari begitu?" tanya Aiswa.
"Alhamdulillah, iya sayang, kalau weekend kadang aku ke Butik ... besok kita mulai kerja disana yaa," ajak Amir agar Aiswa terbiasa.
"Ok."
Mereka tiba di sebuah resto makanan Sunda tak jauh dari butik. Keduanya turun menuju tempat pemesanan menu.
Baru juga masuk, Aiswa sudah mencari toilet. Ia melangkah cepat kala netranya menangkap sebuat tanda Rest Room.
"Sayang, kemana?" Amir mengejar istrinya yang setengah berlari. Langkahnya tertahan didepan pintu toilet wanita. Dia menunggu cemas, Aiswa keluar dari sana.
Huek.
Semua yang ditelannya hari ini keluar sudah. Perutnya mendadak mual saat mencium aroma kopi dari mesin pembuat minuman instan disana.
Wangi yang menjadi favorit kebanyakan pengunjung resto itu justru menjadi petaka bagi Aiswa.
.
.
...__________________________...
...Hasbi & serli
...
__ADS_1
Idola, Amirzain.