
Di saat yang sama, ruang tamu Joglo Ageng.
" Runi, apa maksud sikapmu ketika makan malam tadi, kamu terlihat sangat mesra bahkan aku tidak pernah diperlakukan serupa olehmu? " Aksan membuka percakapan setelah keduanya saling diam.
" Ga ada apa-apa, kenapa? "
" Sudah macam pasutri saja, " sergahnya tak suka.
" Aku hanya membantu kakak ... hmm Aksan, lupakan aku yaa sekali lagi ku mohon, aku ga bisa meneruskan denganmu, karena ucapan Bunda sedikit melukaiku. "
" Apa yang Bunda katakan padamu? jangan mengada-ada Runi. "
" Tanyakan saja pada Bunda, melihat responmu aku sudah ga mood melanjutkan. "
" Setahuku Bunda tak pernah meremehkan seseorang. "
Aruni menarik nafas panjang, hatinya memilih keputusan yang tepat meninggalkan pria ini meski dia adalah cinta pertamanya.
" Aksan, kamu adalah putra satu-satunya. Bunda menanyakan sesuatu yang tidak bisa aku jamin pun berikan jawaban pasti ... tentang ... bisakah aku hamil dan melahirkan penerus bagi keluarga besar El Zayan. " Suaranya parau, menahan perih.
" Kita bisa adopsi Runi, come on, kita pernah membicarakan ini. "
" Adopsi tidak sama dengan sedarah. Kau tahu? Bunda bilang, putranya sangat tampan dan mapan seakan mengindikasikan bahwa kamu bisa saja mendua ... sudahlah, aku mundur agar hati dan jiwaku tak semakin hancur melebur. "
" Lalu aku? "
" Pulanglah, buka lembaran baru untuk hidupmu. "
" Kamu akan menikahinya? Amir itu, apa istimewanya dariku, jelaskan agar aku tahu siapa lawanku. "
" Kalian tidak dapat disama ratakan, maaf. "
" Apa susahnya menjelaskan siapa dia, Runi. "
" Kak Amir segalanya untukku, maaf bila ini melukaimu. "
" Aku akan bicara pada Abi untuk melamarmu dan menikahimu disini. "
" Kita tak mendapat restu sepenuhnya, meski kamu tidak butuh wali ... lagipula mengapa baru sekarang Aksan? bukan sejak dulu saat kita saling menyadari punya rasa yang sama, bahkan ketika aku butuh sandaran meski Bunda menghalangi bertemu denganmu? ... aku ... melepaskan diri darimu Aksan Khalil Zayan, selamat tinggal. " Aruni menunduk lalu bangkit menghambur kedalam menuju paviliun belakang dimana kamarnya berada.
Bye Aksan, kamu sangat terlambat. Hatiku sudah berganti penghuni.
" Runi, Aruni! " serunya tak dihiraukan gadis itu.
" Ngapunten Den Aksan, biarkan Roro Runi istirahat, silakan kembali ke kamar atau jalan-jalan sekitar Joglo-an karena Ndoro masih di ruang baca, monggo. " Abdi dalem Danarhadi mencegah Aksan yang ingin mengejar Nonanya.
*
Hingga menjelang tengah malam, obrolan ketiga pria dengan orang tua Aruni baru usai. Mereka berpisah menuju kamar masing-masing kecuali Amir, mengekor pada buyut kesayangannya.
__ADS_1
" Mas, sudah mantep ya? "
" Bismillah Yut, aku ga terlalu memusingkan masalah keturunan sih, toh Abah sudah punya cucu, on going satu lagi pula ... meski nanti yang lahir dari kami adalah murni trah Kusuma. "
" Nah itu maksudku, apa ga eman? "
" Hmm, bisikan syaiton datang ... kuasa Allah itu Yut ... meskipun Qiyya sehat, mau segigih apa usaha manusia kalau kata Allah ga KUN ya ga jadi ... maka kami akan berusaha merayu agar Kun-Nya turun, " ujarnya tersenyum optimis.
" Enak aja syaiton, Uyut cuma nanya ... semoga pernikahanmu langgeng, rezeki gampil, panjang jodoh dan di titipin, aamiin. "
" Thoyyib, mawaddah hingga wa rohmah, mengundang rahmat-Nya agar menaungi kami selalu, allahumma aamiin. "
Paviliun, kamar Aruni.
Kedua orang tuanya membangunkan Aruni, menggoyahkan bahunya pelan, mengajaknya bicara meski gadis itu telah setengah melayang ke alam mimpi. Kakinya serasa ditarik untuk kembali memijak bumi dan memaksa netranya terbuka.
" Dek, Amir memintamu untuk menjadi istrinya ... apa jawabanmu? "
" Hem, iya gak apa-apa lanjutkan saja, " ucapnya masih setengah sadar.
" Dek, Runi! yang betul Nduk! " Sentak Mama, pasalnya ia tak yakin anak gadisnya menyukai saudaranya sendiri.
" I-iya Bi, Ma ... kenapa? " gagapnya.
" Jawabanmu atas lamaran Amir. "
" Hah, kakak betulan melamar ku pada Abi? dia bilang aku punya waktu dua hari untuk memberi jawaban. "
" Iya Abi, Runi juga condong pada kakak. "
" Kamu terima lamarannya? jika iya, dia menanyakan tentang mahar, dan syarat darimu untuknya ... adakah keinginanmu? "
" Nanti Abi ... tapi jika aku menerima, maharnya uang saja yang mudah ... hadiah surah Ar Rahman untukku, langsung dibacakan setelah ijab qobul... syaratku untuknya? aku ingin dia memakai cincin yang sama sebagai tanda dia milikku. "
" Amir menegaskan tak ingin poligami selama bersamamu. "
" Benarkah?... aku ga mau resepsi mewah, hanya ingin bersamanya saja, tidak ingin sah secara hukum karena dokumenku semua di Turki bukan? butuh waktu mengurusnya ... lagipula aku tak akan kemana-mana lagi. "
" Runi, Amir optimis akan kesehatanmu, kecanggihan medis itu sudah sangat maju ... berdoa pada Allah, Abi dan Mama yakin kamu sehat kembali Nduk. " Mama mengusap pelan punggung anak gadis satu-satunya.
" Dokumenmu sedang Amir dan Abi siapkan, semangat sayang ... jika kamu menerimanya, kita langsungkan akad nikah ba'da sholat jum'at karena kami harus kembali minggu pagi. " Peluk Abinya.
*
Keesokan Pagi, Aruni tidak keluar kamar ketika kedua orang tuanya pamit kembali ke kediaman Wardhani bersama Aksan.
Begitupun dengan Amir, pria itu tak menampakkan keberadaannya sepanjang hari, hanya berdiam didalam kamar sangat serius mengerjakan sesuatu.
Harus sudah siap ketika aku tinggalkan, agar yang diamanahi ringan menjalankan serta aku mudah memantau dari jauh.
__ADS_1
" Dia lagi apa yaa? tadi Mba bilang ga lihat Qiyya sarapan. " Amir khawatir. Dirinya meraih ponsel yang sedari tadi terabaikan disebelah laptopnya.
" Dek, sudah sarapan? "
Ting. Notifikasi pesan masuk.
" Kak, sudah makan? aku bikin oat buah, diantar Mba ya ke kamar. "
Pesan mereka bertabrakan, keduanya saling tersenyum memandang layar pipih ponsel masing-masing ditempat berbeda.
" Aku sedang sarapan, wait Mba antar ke kakak sekalian sari apel hangat yaa. "
" Bukan kamu yang antar? "
" Takut ganggu nanti, kakak lagi sibuk ... aku juga sedang mengisi form untuk ikut event lagi. "
" Sibuk siapin masa depan ... ambil jeda waktu satu bulan setelah kita menikah, agar aku bisa menemanimu pergi. "
" Yeee pede, aku kan belum jawab menerima atau engga. "
" Pokoknya jangan ambil event dalam waktu dekat ini, kita pacaran halal dulu, baru kerja lagi setelahnya ... Dek, belilah apapun yang kamu butuhkan untuk seserahan nanti, cardku ada kan? pinnya tanggal lahir kamu. "
Ponsel Amir berdering, Aruni mengalihkan pesan menjadi sebuah pangggilan.
" Kakaaakk ... kan aku belum menerima. "
" Abi sudah menyampaikan mahar kamu Dek, " godanya meski nyatanya belum.
" Ko Abi gitu sih, kan aku bilang nanti ... aku ga mau resepsi, syukuran keluarga saja dan juga kakak ga boleh menikah lagi selama aku menjadi istrimu. "
" In sya Allah, besok WO prepare ke rumah Buyut Wardhani untuk persiapan walimah. "
" Loh bukannya Abi bilang minggu depan yaa? Ba'da sholat jum'at? "
" Akhirnya, alhamdulillah ... syukron sayang sudah menerima lamaranku. " Amir menahan tawa, puas Qiyya termakan jebakannya.
" Diiihhhh, kakak ngeprank aku ... curaaaaaaaang.... " tutupnya sepihak.
Degh.Degh.Degh.
Dentum jantung kedua insan yang mulai saling jatuh cinta mencetak sebuah ekspresi bahagia diwajah keduanya.
.
.
...______________________________...
...Hore kondangan lagi 😂....
__ADS_1
..." Ya Allah, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu jauh lebih besar dari pada kekecewaanku. Dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku, jauh lebih baik dari pada impianku."...
...(Ali bin Abi Thalib)...