
Keesokan hari, Orchid.
Sheila hijab menghubungi Amir untuk penandatanganan kontrak kerjasama mereka. Keduanya sepakat bertemu di lokasi sekitar komplek Orchid Land Cibubur pukul sepuluh nanti.
Sesuai dengan jam yang telah disepakati, kedua kakak beradik serta Aiswa dan Maira menuju Resto untuk bertemu Nyonya Sheila. Satu jam lamanya mereka bercengkrama setelah prosesi resmi hingga ketiganya berpisah.
Amir pulang ke Tazkiya, Naya kembali naik ke atas unitnya bersama Maira, sedangkan Sheila terbang menuju Jerman, untuk persiapan launching showroom Sheila di sana. Dua minggu lagi, pagelaran perdana mereka akan digelar, artinya Aiswa harus betul-betul fit ketika akan melakukan perjalanan jauh kembali di usia kehamilan trimester awal.
"Sehat ya sayang, biar kita bisa jalan-jalan. Babymoon," ucap Amir menciumi perut Aiswa saat akan melajukan mobilnya menuju Tazkiya.
"In sya Allah. Nanti kita balik dulu berarti ya Bii, gak di sini terus kan?" tanya Aiswa.
"Iya pulang sayang, kenapa?"
"Aku kangen kamarku di sana, kangen keramaian suara pekerja yang happy kalau siang saat jam makan. Kangen duduk sore di butik sambil jajan," tawanya riang.
"Mulai betah ya?"
"Betah sejak awal, hanya saja semua situasi kenormalan aktivitas itu ku dapat cuma saat di sana. Kalau di sini kan gitu, sepi. Paling santri doank bolak-balik," ujar Aiswa.
"Yakin?"
"Ish, iya lah. Juga kalau di sana tuh, mau pergi sama Qolbi lama juga bebas aja gak beban. Mau di kamar seharian juga nyaman banget. Kalau di sini bentar ada tamu, bentar ada kiriman makanan, dipanggil Buya buat ketemu lagi sama ini itu. Ya resiko anak Buya sih, tapi aku pengen bernafas lega...."
Amir menarik tuas rem saat lampu lalu lintas berwarna merah. Dia menoleh ke arah kirinya, hanya diam memandangi istrinya yang bicara dengan raut wajah bahagia.
Segitunya ya Rohi, cuma pengen hal yang sederhana, tapi kamu baru bisa melakukan itu sekarang. Ck, sabarnya istriku.
"Ko liatinnya gitu?" Aiswa heran pada suaminya yang senyam senyum daritadi.
"Mulai sekarang, kamu bebas mau ngapain aja, asal sama aku," Amir mengusap kepalanya.
"Iya, sama Qolbi," Aiswa tersenyum manis. Saking manisnya hingga mengalahkan gula sakarin.
"Cantik bener sih Rohi, ya Allah gemes," bisiknya mesra.
"Awas loh jangan me-sum, bentar lagi lampunya hijau," tawa Aiswa kembali terdengar.
Semoga saat hidup denganku, banyak bahagia yang kamu capai ya sayang.
"Aamiin," ujar Aiswa.
"Ko tahu?"
"Qolbi serius gitu, habis liat aku kalau ga sholawat biasanya doa," tunduk Aiswa malu.
"Allahumma ba'daha ya Robb ... kamu tahu aja ya," senyum Amir terbit.
"Tahu lah, kebiasaan baik suamiku kan gitu. Bii, nanti jangan suka senyum kayak tadi. Itu milikku," cicitnya pelan.
__ADS_1
Amir hanya tertawa menanggapi protes istrinya itu.
"Bii."
"Ya," jawab Amir cepat.
"Jangan senyum kalau ada perempuan lain ya," pinta Aiswa lagi yang hanya di angguki Amir.
"Bii."
"Iya, sayang," jawab Amir, meski pandangannya tetap ke depan.
"Bii."
"Hmm, aku milikmu, semua milikmu," balasnya lagi.
"Dih bukan itu," cebik Aiswa.
"Loh, udah ganti?" Amir tak habis pikir, secepat itu moodnya berubah.
"Biiiiiiiiii," Aiswa mulai merajuk.
"Iya Rohi, iya ... kenapa, kan aku lagi nyetir ini sayang, mau apa?"
"Mau itu boleh ga?" tunjuk Aiswa pada penjual asinan di sisi jalan saat akan masuk tol.
"Gak boleh ya? ya udah," moodnya berantakan, padahal Amir belum menjawab.
"Gak usah, udah ga pengen."
"Hah? secepat itu?"
"Bii," Aiswa tak menghiraukan pertanyaan suaminya.
"Iya," kali ini Amir betul-betul menepikan mobilnya. Menghadap Aiswa, menunggu apa yang akan ia minta.
"Gak jadi ah, Qolbi liatinnya gitu," lirih Aiswa.
"Astaghfirullah ... bumil, sayang minta apa? aku belikan," bujuk Amir lagi mumpung belum masuk tol pikirnya.
"Pulang ke Cirebon," pinta Aiswa dengan sorot mata berbinar.
Jedddeeeeeerrrrrrrr.
Bagai mendengar kekehan kuntilanak di siang bolong. Horor seketika menyelimuti suasana di dalam mobil.
"Rohi, serius? bentar lagi loh nyampe ke Umma. Masa balik sih sayang?" Amir bicara pelan, membelai pipi Aiswa.
"Jauh ya?"
__ADS_1
Astaghfirullah, sabar, sabar. Amir hanya bisa menarik nafas dalam.
"Tuh kaaaaaaan." Jurus andalan keluar. Aiswa mulai berkaca-kaca.
"Yuk jalan, kita kembali pulang. Aku telpon Umma dulu kalau gitu," Amir menekan tombol panggilan cepat di ponselnya.
"Assalamu'alaikum Umma ... kita ... Umma, masak apa? Aish lapar," Aiswa menyela perkataan Amir.
"Hah? ga jadi balik?"
"Siapa mau pulang?" tanya Aiswa, mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Tadi katanya barusan," Amir terheran. Dulu Qiyya tak seperti ini pikirnya.
"Kalian dimana, lekas ke sini. Umma masak kesukaan Aish ini, juga bikin sesuatu yang segar," suara Umma di ujung telepon.
"Ayo, ke Umma," Aiswa bersorak diiringi helaan lembut suaminya, saking Amir takut mood Aiswa berubah bila mendengar tarikan nafasnya.
...***...
London, saat yang sama.
Dewiq masih packing barangnya ke dalam koper di kamar. Dia akan pulang ke Indonesia menghabiskan waktu jeda ujian selama sepuluh hari.
Sudah hampir satu pekan, dia dan Ahmad tidak saling komunikasi. Hanya kabar dari Mama sesekali ia dapatkan sebagai pelipur rindu.
"Bear ... Bear ... Bear, setenang ini aku membiarkan kamu di sana, meski tanpa kabar untukku. Seyakin itu aku padamu, My Bear," lirihnya seraya menata beberapa benda yang ia bawa untuk calon suaminya itu.
Dewiq meraih ponsel diatas ranjang, menjatuhkan dirinya disana. Ia pun meninggalkan koper yang masih belum rapi di lantai.
Jemarinya membuka galery, memandang foto teduh Ahmad saat tersenyum dari samping. Ia mendapatkan ini dari Aiswa, bahkan rela melakuan hal bodoh yang Aiswa minta darinya, demi menebus satu foto lelaki itu.
Tanpa sadar, air matanya luruh.
"Pikiranku mencarimu Bear, dia menanyakanmu sepanjang hari ... ternyata sama sakitnya ya, merindu dalam diam dengan mencintai diam-diam ... kangen kamu Bear, sangat," isakan Dewiq makin terdengar.
"Aeyza ... kini aku mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa daya," lirihnya di sela isakan.
"Aku dan kamu, akankah seerat nadi? aku tak akan gigih mencari bahagia, karena rasa itu tercipta begitu saja kala bersamamu ... rinduku berlabuh padamu, mengendap dan ikhlas bagai kopi dengan ampas, yang tak pernah tercecap namun sungkan untuk di hempas."
Dewiq meringkuk diatas tempat tidur, hatinya sakit dan sesak dalam waktu bersamaan.
Mama Rosalie melihat pintu kamar putrinya yang sedikit terbuka.
Maksud hati melihat apa yang sedang dilakukan Dewiq namun ia justru tanpa sengaja mendengar semua kalimat rindu yang dia tujukan untuk Ahmad. Senyum Mama terbit sekaligus prihatin.
"Kak, maafkan kami yaa akhirnya kamu harus menderita karena menahan rasa. Bersabarlah, sisa dua hari lagi Ok?" lirih Mama Rosalie, seraya mengusap bulir bening yang meluncur turun di pipi mulusnya.
.
__ADS_1
.
...____________________________...