
"Yang donor darah untuk Reezi, itu kamu ya?" Serli menanyakan perihal pendonor rahasia bagi putranya, pada Aiswa.
"Ko tanya begitu?"
"Karena Mas Hasbi bilang, saat aku pingsan. Kalian masih ada di RS. Jeda waktu dari kamar Reezi kan lama. Berarti kalian melakukan sesuatu dahulu sebelum pulang. Dan kalian berdua pamit sesaat setelah suster meminta kami menyediakan pendonor dengan rhesus yang baik," ungkap Serli.
"Itu urusannya Allah, Mba," jawab Aiswa.
"Makasih banyak ya Aish, sudah bantu donor. Menolong Reezi. Jangan-jangan kamu sudah hamil ya waktu itu," Serli memastikan.
"Belum. Masih gencar bikin," balas Aiswa asal. Dia tak tertarik melanjutkan, dan asik main dengan Reezi yang menggenggam kuat jemarinya.
Kamu, ada darahku mengalir dalam nadi, Nak. Sehat selalu ya, jadi anak sholeh. Karena darahku di teteskan oleh kesholehan para pendahulu.
Aiswa fajri bukanlah wanita sholihah, namun ayahku, eyang ku juga nasab ke atasnya. Reezi, in sya Allah akan selalu jadi alasan bagi mama papa agar tetap mengingat Rabb-Nya, aamiin.
Serli, melihat Aiswa memandang Reezi. Ia yakin, wanita muda yang semakin cantik ini tengah mendoakan puteranya. Dia juga menciumi telapak tangan Reezi bolak balik. Mengusap kepala serta menciumi ubun-ubun putranya.
"Nginep sini, ya. Biar semua tuntas," pinta Aiswa.
"Aku gimana Mas Hasbi saja. Aish, aku minta maaf ya atas semuanya...."
"Lupakan Mba, agar hati lapang. Karena aku juga sudah lupa. Qolbi segalanya buat aku, dia selalu memotivasi apa yang menurutku sulit menjadi lebih mudah ... Qolbi pasti akan sangat berusaha agar aku bahagia, jadi aku juga begitu ... Qolbi harus bahagia saat hidup denganku...." ucap Aiswa mengusap kening Reezi, karena bayi itu mulai mengantuk.
Serli tercenung. Semudah itu Aiswa memaafkan mereka bahkan menyayangi putranya.
Aiswa lebih banyak diam ketika Serli mengeluarkan semua unek-uneknya. Dia hanya menyediakan telinga dan menanggapi seperlunya.
Dia adalah istri Hasbi, disaat yang sama kala itu. Aiswa ingin wanita di hadapannya ini tak lagi membandingkan dirinya dengannya.
"Hampir Ashar, aku siap-siap ya Mba. Biasanya Qolbi ngajak murojaah bareng setelah sholat," ucap Aiswa.
Serli paham, ia pun pamit, membawa Reezi serta keluar kamar.
Setelah kepergiannya, Joanna berkomentar.
"Nona, kan udah berlalu ya. Masa diungkit terus? gak sopan," sungut Jo.
"Dia sedang membuang rasa penyesalan, Jo. Makanya aku hanya mendengarkannya bukan? Biarlah, yang penting aku sudah lupa...."
"Karena Den Mas, ya," lanjut Joanna.
"Iya, Qolbi terkadang mempengaruhi pola pikir ku. Kata aku A, tapi Qolbi bilang B meski ujungnya A ... dia tak menegur langsung meski tujuannya sama. Tapi Qolbi selalu menyetarakan dengan pikiranku dulu baru kemudian aku di bawa menuju pemikirannya ... cerdasnya suamiku," Aiswa tersenyum kala mengingat setiap perdebatan kecil, meski hasil akhirnya sama.
"Oh ya, aku mau telpon Kakak. Tapi belum izin Qolbi mau bilang apa saja...."
__ADS_1
"Harus ya?"
"Aku yang ingin suamiku tahu segala yang aku ucapkan. Setiap yang keluar dari mulutku, jika isinya keburukan, Qolbi akan ikut menanggung kesalahanku ... aku gak mau, Jo," tegas Aiswa.
"Manisnya sampai ke dasar." Joanna tersenyum, iri dengan kedua majikannya.
Seharian, Aiswa tak melihat suaminya meski satu rumah. Ia membiarkannya bebas menghabiskan waktu dengan keluarga untuk menjalin kembali tali silaturahim yang sempat terputus.
Ba'da maghrib, Amir baru masuk ke kamarnya.
"Biiiiiiiiiiiiiiiii," senyum Aiswa sumringah.
"Ya Allah, aku kangen banget sama kamu, Sayang. Boleh peluk gak? masih punya wudhu kan?" Amir mendekat ke ranjang dimana Sang pujaan hati berada.
"Boleh, gampang nanti wudhu lagi," jawab Aiswa, membuka kedua tangannya lebar menyambut Amir.
"Mereka pulang ba'da isya nanti. Semua sudah selesai ... lega banget rasanya," Amir menghidu wangi Aiswa yang membuatnya kangen.
"Alhamdulillah kalau semua sudah berakhir. Balik ke Jakarta, Bii?" Aiswa mengusap punggung suaminya.
"Ke Tegal, Sayang. Ke Yai Maksum, kan dekat dari sini."
Keduanya meleburkan rasa, hampir tak percaya jika semua yang telah terjadi. Menimbulkan rasa sakit teramat, kini perlahan berganti suka cita.
"Enggak. Coba liat sekeliling, Bii. Semua ini Qolbi buat untuk aku kan? agar aku betah di kamar, tempat paling nyaman dan aman ... jadi jika suamiku saja memikirkan kenyamanan dan keamanan ku meski di dalam rumahnya ... mengapa aku harus risau bila harus ada didalamnya?"
"Baiti jannati, bukan hanya karena rumah tapi lebih utama isinya. Ada Qolbi di seluruh ruangan ini, meski aku rindu bau Qolbi ... tapi tanpa aku keluar kamar pun, Qolbi sudah menyiapkan segalanya ... kulkas seisinya, entertain, ilmu, cemilan, mau cari apalagi?"
"Kamu paling bisa bikin aku adem padahal aku sudah cemas," Amir mengeratkan pelukan.
"Loh, kebalik. Karena Qolbi sumber ke-ademan ku...." Aiswa mengurai pelukan.
"Sayang, setelah mereka pulang, kita jalan sebentar yuk," ajak Amir.
"Gak ah. Aku cuma mau Qolbi. Juga ingin telpon kakak, boleh?"
"Boleh."
"Aku bilang apa aja nanti?" tanya Aiswa.
"Jangan mengungkit masalah mereka ya Sayang, jika tidak di minta pendapat. Jikalau pun nanti mereka butuh bantuan, sampaikan secara netral tidak memihak keduanya ... jadi, tanyakan kabar dan kesibukan saja, kita tampung informasi dulu. Apabila mereka ingin di jembatani, kita sudah tahu sela waktu luang diantara keduanya," jelas Amir.
Aiswa hanya diam, tersenyum melihat wajah suaminya.
"Buat Adek," ujar Aiswa, mengecup kedua mata suaminya.
__ADS_1
"Ini juga buat Adek," kali ini kecupan di kedua pipi Amir.
"Masih, buat Adek," ia mendaratkan ciuman lembut di bibir pria miliknya.
"Semua untuk Adek, semoga Adek kayak Abinya, aamiin," imbuh Aiswa membelai wajah suaminya mengusapkan pada perutnya yang mulai sedikit membuncit.
"Rasanya tuh, apa ya, gigit boleh gak?" Amir gemas sendiri.
Aiswa hanya tersenyum manis, masih menatap lekat suami tampan miliknya.
"Rohi, jangan naikin mood."
"Apa sih, Bii. Kan aku lagi puas-puasin lihat Qolbi, ngefans, biar Adek mirip Abinya," Aiswa tertawa karena kalimatnya sendiri.
"Masa gak ada Ummanya? bikin berdua loh."
"Harus lebih banyak mirip Qolbinya daripada aku. Ya Allah kalau boleh di fotokopi, atau di cangkok aja deh. Aku ingin anakku bagai suami tampan ku ... jangan ada yang dibuang semua hal baik darinya, aamiin."
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad," ucap Amir.
"Sholli wa sallim wa barik alaih," balas Aiswa.
"Belum bosen?" tanya Amir melihat Aiswa tak berkedip memandangnya.
"Enggak akan bosen ... ya Allah Dek, Abi kamu," gumam Aiswa menelusuri setiap inci wajah Amir yang ia tahan sedari tadi.
Amir membiarkan istrinya melakukan apapun terhadap dirinya. Ada rasa bahagia memenuhi hati melihat Aiswanya seperti ini.
Nikmat ini, hanya milikku.
C-up.
"Love you Habibi Qolbi, Amirzain zaidi, suamiku satu-satunya hingga Jannah."
"Maa sya Allah ... love you Sayang, Eini Rohi Habibati, Aiswa fajri bidadari fii dunya wal akhiroh hattal Jannah."
C-up.
.
.
..._______________________...
...Nulis sendiri, ko malu yaa.... aduh mamae ðŸ¤...
__ADS_1