DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 20. GAMALIEL


__ADS_3

Amir masih terdiam beberapa saat hingga Mahen menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah kakak iparnya itu.


" Ka, are you ok? Ka, " tanyanya cemas.


" Eh, tadi siapa ya? "


" Lho, aku mana tahu. Ka Amir ga kenal suaranya? "


" Malaysian Bos, baru saja tiba di Bandara lima jam lalu, menginap di Rich Sulthan Hotel suite room 502 lantai 5 hadap utara, " Rey memberikan informasi lengkap.


" Name Rey? "


" Dia baru saja mengirimkan pesan pada Den Mas, please check, " sambung Rey. Amir membuka aplikasi pesannya.


" Gamaliel ... ya Allah aku lupa suaranya sangat berbeda tadi ... Mas, jadi begini cara kerja bang Rey? " tatapnya kagum pada Mahen.


" Yups ... Gamaliel? teman ka Amir? "


" Gamaliel Arbi teman kecilku, kami satu sekolah saat SD, keluarganya punya bisnis perkebunan Palawija jadi dia tidak menetap. Terakhir dia pindah ke Malaysia saat Tsanawiyah karena Baba nya sakit dan harus dirawat intensif di sana. "


Ponsel Amir berdering kembali, dengan nomer yang sama terpampang dilayar. Amir menekan tombol loudspeaker agar Mahen bisa mendengar percakapan mereka.


" Assalamu'alaikum, sorry aku ga mengenali suara kamu Gamal, terdengar sangat berbeda... apa kabar? "


" Wa'alaikumussalam, kejam sekali. Aku baik, Baba sudah meninggal Mir, 3 bulan lalu. Makanya aku balik dan rencana mau stay di Indo lagi nemenin Mama. Aku masih di Jakarta, kamu dimana? susah payah aku cari kontak kamu tapi malah di reject melulu. "


" Innalillahi wa inna ilaihi roji'un allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu. Mama dimana? ... aku sedang di Jakarta. "


" Semarang, sudah menetap di sana. Kamu punya hutang padaku dulu, traktir aku sampai kenyang atas kesalahan mu dulu menyembunyikan kopiah ku saat akan mengaji, " tuturnya panjang lebar.


" Ckckck masih ingat aja, ok aku akan kabari kapan bisa pergi yaa. Ada urusan penting yang aku harus selesaikan. "


" Ok, dua hari lagi aku balik lho. " Amir mengiyakan keinginan sahabat kecilnya itu untuk bertemu setelah urusan Aiswa selesai.


Mahen menginstruksikan pada Rey, via pesan singkatnya agar menyelidiki siapa Gamaliel Arbi, apakah teman yang layak untuk sang kakak atau sebaliknya. Jujur saja, ia sedikit khawatir karena Amir sedang dalam kondisi mudah di goyahkan pendiriannya.


" Rencana ka Amir atas Aiswa bagaimana? "


" Aku sebenarnya sangat ingin menanyakan pada Ahmad mengapa ia tak menyampaikan maksudku ke Yai. "


" Maksudnya? " Mahen kurang mengerti pernyataannya.


" Aku pernah mengutarakan perasaanku tentang Aiswa pada Ahmad saat ia masih pergi pulang ke Madinah dulu, setelah aku menjenguknya dan bertemu Aiswa di sana. "


" Ya Allah, berarti Hasbi menimpa khitbah Kakak? " Mahen terkejut.


" Belum tentu, Yai ga mungkin menerima bila Ahmad menyampaikan maksudku dulu. Aku takut dia khilaf, maka Yai menerima Hasbi. Niat Ahmad inilah, disengaja atau tidak dan apa alasannya, " lirihnya menahan prasangka.

__ADS_1


" Baiknya Ka Amir bertemu Ahmad dahulu. "


" Ahmad menghindariku Mas, pesan dan panggilanku tidak pernah di balasnya. Entahlah, mau ku husnuzon tapi ... inilah yang menahanku saat Abah menawarkan akan mengkhitbahkan Aiswa dulu. Aku ga mau melangkahi sahabatku sekaligus kakaknya karena aku mengenal dan bisa mendekati Aiswa adalah berkat izin darinya dulu. "


" Kenapa baru bilang ka? kalau dijelaskan seperti ini kan Ka Abyan ga semarah itu. "


" Percuma ga akan paham Mas, aku tetaplah salah meski Aiswa yang mendatangiku. Yang ku inginkan, Ahmad menanyakan padaku karena aku telah memberi tahunya dengan menanyakan mengapa Aiswa kabur? nihil, tak direspon. Tapi aku terkejut saat Ka Abyan bilang Yai menanyakan Aiswa padaku. Info dari mana itu? aku tahu Aiswa punya bodyguard selain agent Mas yang menghalangi mereka menemukan Aish bukan? "


" Kemampuan agent tergantung analisanya dan alat canggih yang mereka pakai Ka. Bisa jadi lamban karena tidak pro berhadapan dengan lawan atau justru sesuai tenggat kerja mereka, slow. "


" Baiknya Mas? "


" Aku mediasi dengan Ahmad gimana? kita ketemu diluar? seraya menyerahkan Aiswa? aku akan menemui nya di luar pondok besok ... Rey? "


" Ahmad besok akan ada jadwal keluar di jam 10 pagi presentasi di perusahaan advertising untuk penawaran paket tour, Bos. "


" Aku handle ini yaa Ka ... buatlah janji Rey, aku ingin bertemu. "


" Copied, Bos. "


" Sudah malam, istirahat dulu ka. Naya sedang membujuk Aiswa juga agar hatinya melembut. "


Ketiganya keluar dari ruangan kerja Mahen. Rey dengan Amir pulang menuju ke unit Rey di lantai yang sama. Sedangkan Mahen menuju kamarnya, bersiap tidur dan menyusul Naya dipembaringan yang telah terlelap.


***


Naya dan Aiswa sudah sibuk menyiapkan sarapan bagi mereka. Mahen dan Amir masih berbincang di balkon menikmati udara pagi Jakarta yang masih sejuk di jam ini.


" Aku ketemu Gamal dulu ya Mas, janji dengan Ahmad besok kan fix nya? "


" Iya kak, pakai Vios ku saja yaa. Naya hari ini ikut dengan ku ke kantor, Aiswa disini atau diajak? jika diajak, aku minta Candi menemani kalian pergi. "


" Mana mau dia disini sendirian? Candi? Mega maksudnya? "


" Iya, Mega Chandini agent ku yang menyamar sebagai teman kampus Naya dulu. Dia bisa menjaga Aiswa apabila ada paksaan dari orang suruhan Ayahnya atau Hasbi. " sahut Mahen sambil menyeruput kopinya.


" Aku baru tahu, Mega itu bodyguard Naya sejak dulu. Makasih banyak Mas, jagain Naya sebegitunya. "


" Dia nyawaku, aku yang makasih dia bersedia hidup dengan ku yang begini. Naya bilang jodoh nya om-om. " Obrolan pagi yang ringan berhasil mengundang tawa keduanya hingga saat sarapan tiba.


Tak lama setelah itu, Mahen dan Naya pamit ke kantor karena Rey telah menunggu mereka di basement.


" Aish, mau ikut ga? Jam sembilan nanti kita keluar sebentar ditemani Mega menemui temanku. Mega? Mas Panji udah bilang kan? " tanyanya pada Mega yang masih sarapan.


" Sudah Den Mas. Nona Aiswa mau aku bantu bersiap? " tanyanya dari meja makan.


" Aish ikut ... tidak usah Ka Mega... Ka, Mas Panji itu siapa? jarak usia Ka Naya dan suaminya jauh yaa, dia terlihat sangat dewasa tapi kalau lagi sama ka Naya jadi ikutan lucu. "

__ADS_1


" Raden Panji Mahendra, Raden Panji itu gelar kehormatan buat Mas Mahen, dari sinuhun. Uyut meminta kami memanggil dengan gelarnya, beda usia 14 tahun dengan Naya. Kenapa? "


" Keluarga kakak, semuanya lembut dan romantis, " tunduknya seraya berpaling langkah menuju kamar untuk bersiap.


Amir hanya tersenyum menanggapi pernyataan Aiswa. Sementara menunggu gadisnya siap, Amir mengabarkan akan mengunjungi Gamaliel di hotel tempatnya menginap.


***


Pukul 10 pagi.


Gamaliel belum turun dari kamar saat Amir dan Aiswa menunggunya di Coffe shop lantai dua hotel tersebut.


" Mir, sorry lama ya ... aku tidur lagi habis breakfast tadi ... dengan siapa? sendiri? " Gamaliel menyapa dan memeluk sahabatnya lama.


" Makin keren aja, kamu berubah banyak. Aku dengan dia kesini, " tunjuknya pada Aiswa dan Mega yang duduk di meja belakang mereka.


" Calonmu yang mana? ... cerita donk, bisnis Abah makin besar yaa? aku dapat kontak mu dari admin di website-mu ... susahnya ampun padahal cuma minta nomor doank banyak interogasi macam polisi saja. "


" Calonku masih rahasia ... yaa begitulah adanya. Istrimu mana? "


" Justru aku balik sini, kata Mama mau dikenalkan dengan gadis pilihan Mama, ga asik banget tau ga sih tapi mau gimana lagi, Mama sisa satu-satunya orang tuaku. "


" Ikhlas aja, siapa tau cinta sejati kan? " Lama keduanya mengobrol seru saling melepas rindu hingga sampai dimana Gamaliel meminta berswafoto dengan Amir untuk ditunjukkan pada ibunya nanti bahwa ia telah terkoneksi lagi dengan sahabat kecilnya.


Tak lama setelah itu, Amir pamit pulang karena Gamaliel bilang akan bertemu dengan kliennya saat lunch. Pria metro seksual macam Gamal tentulah aktif bermedsos. Dia memposting beberapa foto saat kembali menginjakkan kaki di tanah air juga foto hasil reuni mini mereka dengan dibubuhi caption : Welcome home ke akun medsosnya.


Lalu Gamaliel beranjak dari sana untuk kembali ke dalam kamarnya dan bersiap menemui klien.


***


Saat yang sama, di tempat lain.


Seseorang tengah menscroll akun medsos almamaternya ketika di Singapura dulu.


Matanya menangkap sesuatu pada sebuah postingan yang baru saja lewat di berandanya. Ia sepertinya butuh memastikan. Tanpa membuang waktu lagi, dirinya mengirimkan sebuah pesan.


" Hai bro, boleh tahu maksud postingan mu yang ini? siapa dia? "


Lama tak ada jawaban hingga beberapa menit kemudian. Sebuah pernyataan yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya menimbulkan spekulasi di otaknya yang telah tersulut emosi.


" *****k...!! " teriaknya sembari melempar semua benda diatas meja.


" Dimana? kita harus ketemu segera.... " Tulis pesannya untuk seseorang yang sangat ia ingin temui.


.


.

__ADS_1


...________________________________...


__ADS_2