DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 74. GUNDAH (2)


__ADS_3

Setelah tiba di apartemennya Hasbi mengurung diri dalam ruang kerja. Seruan Serli tak ia gubris, hatinya gamang merasakan sesuatu, semacam kehilangan separuh miliknya meski dia tahu didalam hatinya belum ada cinta untuk Aiswa, hanya kekaguman sementara atas sosok cantik nan sholihah itu.


" Sekian bulan hidup bersamamu, melihatmu, entah esok bagaimana rasa hatiku, " keluhnya memandang foto pernikahannya.


Tak berbeda jauh dengan Hasbi. Hariri Salim pamit pulang setelah Kyai Maksum meminta maaf padanya.


Berjarak tak lebih dari dua kilometer memungkinkan dirinya pergi pulang rumah sakit secepat kilat.


Belum terparkir sempurna mobil yang membawanya pulang, Hariri salim langsung membuka pintu dan bergegas meninggalkan kuda besi itu disana.


Sejenak dia berdiam didepan pintu bercat lilac, mengatur nafas yang kian pendek, lalu jemarinya membuka handle pintu perlahan. Ia menjejakkan kaki keriputnya kedalam kamar Aiswa, memendar netra berkeliling, menyentuh semua milik putri bungsunya.


" Buya baru sadar, kalau Aish penyuka warna ungu ... kemana sajakah aku selama ini? " ia jatuh terduduk di sisi ranjang dalam kamar itu.


Semilir angin yang berhembus, menyapu samar janggut pria paruh baya yang mulai memutih. Wajah bersahaja penuh kerutan halus itu menengadah, mengalihkan pandang pada ventilasi kamar.


Dirinya bangkit, berniat menghirup udara segar agar bersirkulasi dengan pengap yang menghuni paru nya.


Baru ia sadari, sejajar mata memandang lurus kedepan berujung pada sebuah gedung tak lain Universitas Tazkiya. Mengingatkannya pada santri cemerlang pun bersahaja.


" Amir, persahabatanmu dengan putraku, nyatanya membawa Aiswa mengenal sosokmu. Hingga senyum mahal putriku untuk selain mahramnya ditujukan padamu ... sungguh aku bodoh tak memintamu sebagai menantuku kala Kaji Ahmad mengisyaratkan bahwa putranya masih sendiri. "


Dadanya kian terasa sempit, rongga parunya seakan menyempit menghimpit laju oksigen dalam bronkusnya. Dari tempatnya, ia melayangkan inderanya pada kumpulan asap putih menyerupai gundukan kapas yang bergumul di jumantara.


Berarak pelan terhembus sang bayu. Menyapu, memberikan kesejukan bagi raga yang tengah disergap gelisah oleh gelombang nafsu.

__ADS_1


" Bahkan Allah menciptakan udara sebanyak ini namun tak jua mampu menyuplai kelegaan untuk diriku. "


Dalam renung meratapi hal yang tak lagi sama bahkan tak mampu dia rubah, ponselnya berdering. Menampilkan satu nama yang kembali membuat hatinya bagai tersayat sembilu.


" Wa'alaikumussalaam, Ya akhi Ji Ahmad Zaid, " sapanya sendu.


" Alhamdulillah, bagaimana kabar antum dan Aiswa? " balas suara diujung sana yang juga menanyakan kabarnya.


" Ya khayr, alhamdulillah ... Allah yubarik... benar Ji? lusa ya? ana tunggu, jazakallah. "


Entah apa yang dibicarakan sahabatnya, tak lain ayah amirzain, santri putra yang sedang dia sesali, mampu membuat raga renta Yai Hariri Salim berguncang hebat meluapkan tangis dalam kesendirian didalam kamar Aiswa.


***


China.


Ponselnya sejak kemarin malam tak henti berdering namun selalu ia abaikan. Abah, memintanya meluangkan waktu sejenak setelah tiba di Soetta untuk menjenguk Aiswa dirumah sakit.


Bukan tak ingin membesuk, dirinya hanya menjaga hati Aruni agar tak berprasangka. Pernyataan cintanya hanya untuk memberikan booster semangat bagi istrinya itu.


Dia hanya takut, hatinya luruh melihat cinta sejatinya terbaring disana. Janjinya pada Aruni agar tak mendua khawatir goyah karena dia adalah pria yang tetap memiliki nafsu terlebih dihadapkan pada kisah masa lalu yang belum usai.


" Mas, jenguk Aiswa ya setelah tiba nanti, " ajak Aruni.


" Ga usah, diwakilkan Abah aja yang kesana, " elak Amir.

__ADS_1


" Ga baik menghindar, aku ngerti ko Mas, ga perlu merasa bersalah padaku Ok? aku tahu suamiku bisa menjaga hati. " Senyumnya dipaksakan.


Sesungguhnya aku tahu engkau takut aku terluka bukan?


" Entahlah, lihat nanti saja Dek. " Amir menghindari percakapan tentang gadis itu. Ia menuju balkon kamar hotel, menghimpun banyak pasokan oksigen agar tubuhnya kembali berpikir dengan baik.


" Kita jalan kemana? " Aruni berusaha menetralisir kegundahan pria yang dia cintai. Memeluk, melingkarkan lengannya pada tubuh tegap itu dari belakang, menghidu wangi bagai candu untuknya.


Entah sampai kapan aku ada disisimu, wahai pelita hati.


" Kamu mau kemana moms? search yuk destinasi untuk dua hari, sekalian tour guide nya. " Anjuran Amir yang diangguki antusias oleh Aruni.


Baru saja Amir mengangkat tuas telepon paralel diatas nakas, hendak meminta informasi tour guide pada front office. Dirinya dikejutkan oleh Aruni yang berlari ke toilet, memuntahkan segala yang dia telan siang itu.


Hampir sepanjang malam istrinya mual muntah hingga tiada makanan yang dapat masuk dalam lambung untuk dicerna, membuat Amir gusar.


" Juice please, wanna juice. "


Amir tak punya pilihan, mengabulkan permintaan dari pemilik manik mata bulat menggemaskan bukan pilihan buruk pikirnya. Pure buah yang dia pesan, tandas Aruni habiskan dalam sekejap sebelum dirinya merengek meminta agar sang suami memeluknya.


" Cepet banget tidurnya, tadi masih nangis, " kecupnya pada dahi Aruni yang telah pulas dalam dekapannya.


.


.

__ADS_1


...________________________...


__ADS_2