
Hasbi pergi meninggalkan kesal mendalam di hati Amir. Sedangkan pria itu membawa serta harga dirinya yang jatuh dihadapan banyak orang.
Mobil pajero sport putih miliknya pun akhirnya meninggalkan komplek Tazkiya dengan tergesa, suara ban berdecit meninggalkan jejak pada paving di depan aula utama.
"Monggo dilanjutkan Pak, ngapunten jadi ketunda kerjaannya gara-gara aku," ucap Amir berkata pada seluruh pekerja yang tengah menyiapkan tenda dekorasi untuk acara nanti malam.
"Itu Mas, berdarah," tegur salah seorang pekerja.
Amir meraba wajahnya yang terasa nyeri disudut bibir kanannya. Seperti ada luka disana, darah segar nampak tercetak jelas kala jarinya menyentuh sobekan itu, sedikit terasa asin bercampur anyir saat Amir meludahkan cairan dari mulutnya ke tong sampah tak jauh dari aula.
"Ga apa Bang, ini cuma kegores dikit...." sahutnya seraya melangkah masuk kedalam.
Umma yang mendengar kejadian barusan dari khidmah wanita tergopoh menghampiri Amir yang hendak masuk ke kamarnya.
"Mir, sini umma lihat," seru umma memwbawa kotak obat P3K dan menarik lengan Amir duduk di ruang keluarga.
"Biar sama Aiswa, Umma ... nanti dia ngambek," lirihnya menahan perih yang mulai datang.
"Gitu ya, ya sudah sana sama Aish," jawab umma seraya menyerahkan box putih itu padanya.
"Syukron Umma...." senyumnya terbit meski ia meringis menahan nyeri.
Umma menggelengkan kepala pelan melihat menantunya itu, sabar mu akan berubah manis Mir, do'anya terucap dalam hati.
"Kak, umma ingin bicara nanti ya." Saat Maryam melihat Ahmad hendak masuk ke kamarnya.
"Aku juga, nanti ke kamarmu lepas ni yaa akhi," sambung Amir saat telah ada di depan pintu sebelum memutar handle kamarnya.
"Ya Umma ... ketuk saja pintunya ya Mir nanti," ujarnya diangguki oleh Amir.
Lelaki tampan itu masuk ke kamar dan menutup pintunya pelan karena Aiswa sedang berbaring membelakanginya.
Nampak dari kejauhan, jemari kanan istrinya tersemat tasbih digital yang masih dia gerakkan tanda Aiswa tidak tidur. Amir memanggilnya pelan khawatir dirinya akan terkejut.
"Sayang, tidur ya?"
Aiawa membalikkan badannya perlahan mendengar suaminya memanggil.
"Allah, Bii kenapa...." ia terkejut dan bangkit dari posisinya melihat sudut bibir Amir nampak berdarah.
"Ga apa, duduk aja Rohi, masih pusing kan?" tanyanya cemas.
Aiswa yang terlanjur panik serta khawatir, tiba-tiba menurunkan kakinya dan langsung berdiri disisi ranjang. Saat akan melangkah pandangannya mulai kabur dan ia sedikit terhuyung.
Amir sigap menangkap tubuh lemah istrinya sebelum ia jatuh terduduk dilantai.
"Sayang....!" serunya setengah berlari agar dapat menyangga tubuh Aiswa.
__ADS_1
"Bii, pusing banget."
"Kan, ku bilang juga apa, duduk saja ... sudah bagus tadi tiduran ... malah maksa bangun," balas Amir membaringkan Aiswa kembali.
"Duduk nyandar aja Bii, aku bisa ko."
Amir menata beberapa bantal di kepala ranjang agar Aiswa nyaman bersandar disana.
"Sini, aku bersihkan lukanya Bii," pinta Aiswa agar suaminya memberikan kotak putih yang ia bawa.
"Aku saja, ga banyak ko ini Rohi, dan aku gak apa," jawabnya menenangkan Aiswa.
"Bii, izinkan aku." Tatapnya memelas.
"Aku selalu kalah jika sorot mata kamu sudah memohon gitu sayang ... ya sudah, ini, tapi pelan yaa dan jangan marah jika aku nanti cerita," imbuhnya lagi menyerahkan kapas dan antiseptik luka ke tangan Aiswa.
"Dia melukaimu lagi?"
"Kamu tahu pelakunya?"
"Siapa lagi, cuma dia yang bisa melakukan ini pada suamiku ... karena aku tahu, Qolbi ku ga akan pernah kasar pada orang lain apabila tidak diganggu dan dia harus memilih antara bertahan atau melawan."
Aiswa menuangkan cairan antiseptik pada kapas lalu mulai membersihkan luka di sudut bibir Amir, perlahan, sangat lembut.
"Sakit ga Bii?"
"Gombal, padahal perih ya," Aiswa tersenyum manis.
"Sembuh lihat senyum istriku," selorohnya memuji Aiswa.
"Coba kita lihat, masih bisa ngomong ga setelah ini." Tiba saatnya Aiswa akan memberi lukanya obat.
"Sakkit, Rohi, pelan donk sayang...." Amir menahan tangan Aiswa saat hendak menempelkan kembali obat untuk lukanya.
"Ini pelan ko Bii, tadi bilangnya abecede sekarang sakit, gombal itu emang gampang menguap." Aiswa tertawa.
"Emang sakit setelah diberi obat sayang ... aku jadi tahu kenapa Buya melarangmu membawa teman wanita ke kamar."
"Kenapa emang?" Jawabnya seraya membereskan bekas peralatan obat yang telah selesai dia pakai.
"Kamu sangat cantik tanpa hijab Aiswa, wajar Buya melarangmu membawa teman wanita ke kamar karena beliau takut kecantikan putrinya menumbuhkan hasad atau bahkan disebarkan tanpa sepengetahuan mu kala dirimu tak berhijab didalam kamar sayang," terangnya panjang.
"Aku ga kepikiran sampe sana Bii, iyakah?"
"Iya ... apalagi rambutmu hitam legam begini, panjang pula," bisiknya sambil menyelipkan anak rambut yang menjuntai kebelakang telinga.
"Aku kembalikan ini dulu ya, baring lagi yuk agar malam nanti segeran meski kamu ga keluar."
__ADS_1
Aiswa menurut tanpa banyak kata, memang kepalanya pusing bagai kurang darah.
"Joanna sedang jemput dokter, aku curiga tensimu rendah sayang, kelelahan ... apakah setiap terbang, kamu jetlag parah begini?"
Aiswa mengangguk samar.
"Dan yang merawatmu?"
"Kakak atau Joanna, Mama ga berhenti telpon Joanna jika aku di asrama."
"Astaghfirullah Aiswa, dan kamu bertahan? pergi pulang selalu seperti ini?" Amir urung keluar kamar mendengar pengakuan Aiswa, perjuangannya luar biasa jauh dari keluarga demi mimpinya.
Aiswa mengangguk kembali. Sedangkan Amir menarik nafas panjang, tak habis pikir derita yang istrinya rasakan.
"Sekarang ada aku, dan aku ga akan memaksamu pergi jika kau tak ingin ... kita ikut event nasional saja yaa nanti sayang, yang ga lama naik pesawat jika memang terpaksa harus pergi." Amir meraih tubuh lemah itu dalam pelukannya, merebahkan perlahan hingga ia nyaman.
"Ku tinggal sebentar ga apa?"
"Ada Umma kan disini lagian aku belum butuh apa-apa ... memang mau pergi kemana Bii?" tanya Aiswa cemas.
"Ke kamar Ahmad."
"Yassalam, kesebelah doank," Aiswa tertawa meski wajah Amir terlihat serius. Setelah menghadiahi banyak kecupan diwajah istrinya yang hendak dia tinggal, Amir pun keluar kamar membawa serta kotak P3K.
Tok. Tok.
"Akhi, boleh aku masuk?"
"Fadhol Mir," sahut suara dari dalam. Ahmad lalu menyilakan adik iparnya itu duduk di sofa kecil dalam kamarnya.
"Sesungguhnya aku malu bertemu denganmu Mir," Ahmad membuka percakapan.
"Kenapa? kamu tetap sahabat ku bahkan kini kakak iparku," seloroh Amir mencairkan suasana canggung yang terjadi diantara mereka karena peristiwa khitbahnya untuk Aiswa.
"Salah ku dulu... pantaskah aku kini menghadap muka pada kalian semua? Buya bahkan hampir tak pernah menegurku lagi dan kurasa ini hukuman setimpal untukku," ujarnya lemah disertai nada penyesalan.
"Boleh aku tahu alasannya? detail? apa yang mendasari seorang Ahmad Hariri yang nota bene putra penerus Tazkiya?"
Ahmad menarik nafas panjang, ingatannya seakan diputar kembali. Mungkin ini saat tepat baginya membuat pengakuan dosa pada Amir, sosok bersahaja dihadapannya.
"Aku...."
.
.
...__________________________...
__ADS_1