
Setelah Vios hitam keluar perlahan dari komplek Tazkiya, ia mengarahkan laju kendaraan roda empat itu menuju Bekasi, guna melihat perkembangan sekolah miliknya sebelum dirinya bertolak ke London, esok pagi.
Satu jam perjalanan yang dia tempuh berjibaku dengan kamacetan yang lumayan panjang akhirnya sampailah di Arza Tahfidz Boarding Scholl miliknya.
"Alhamdulillah, sudah banyak perubahan dan terlihat makin baik meski baru dari tampilan luar," Amir melihat dari dalam mobilnya. Ia sengaja tidak memberitahukan perihal kedatangannya kemari.
Hanya ingin mengunjungi sejenak tanpa merepotkan staff dengan prosesi resmi dan sebagainya.
Kaki panjangnya keluar dari mobil sedan yang membawanya, lalu berjalan menyusuri lorong kelas menuju ruang kepala sekolah.
"Ya Allah, Nak Amir, dengan siapa?" seru H. Amsori saat melihatnya dari ruang guru, orang kepercayaan Abah. Beliau kemudian mengajak Amir masuk ke ruangannya di ujung koridor.
"Sendiri Pa Haji, cuma mampir," balas Amir menyalami pria sepuh di depannya.
"Kemarin Abah juga bilang kalau Nak Amir di Jakarta, ana bilang laporan lancar dikirimkan ke email Nak Amir, dan bukti tertulis juga lengkap." Pungkasnya saat keduanya telah duduk disofa.
"Bukan itu Pa Haji, aku hanya ingin mengunjungi saja, karena aku akan ke London besok, do'anya yaa semoga dia mau kembali...." pintanya sembari menerawang melihat anak-anak didiknya tengah muraja'ah hafalan mereka di Aula sekolah yang merangkap mushola.
"London, menemui siapa?"
"Pa haji inget ga? dulu pernah bilang padaku saat masih kuliah akhir di Tazkiya, tentang melepaskan diri dari perjodohan yang Abah sering minta?"
"Iya, Ana ingat Nak," ujarnya sambil tersenyum mengingat kala itu Amir justru menemuinya karena tak berniat pulang saat Abahnya menyodorkan foto seorang gadis.
"Saat aku belum punya apa-apa lalu Pa haji waktu itu bilang, kalau mau bebas memilih gadis untuk dijadikan istri maka harus punya sesuatu dan sekufu apalagi jika gadis itu adalah anak seorang Kyai ... akhirnya ketika Abah bilang padaku lokasi ini, aku iyakan ... dan mulai dirintis sejak aku sudah lulus, kemudian mengabdi belajar bisnis pada Abah," kenangnya mengingat perjalanan yang membawanya menuju Aiswa.
"Lalu Nak Amir mantap mengelola ini setelah perjumpaan dengan gadis itu kan? siapa namanya? putri Yaimu...." tebaknya kemudian dengan wajah berseri.
"Na'am, Aiswa fajri ... besok aku akan menjemputnya, aku sudah melamarnya siang tadi dan lamaran ku diterima ... juga sudah menghubungi Abah via pesan," sambungnya dengan nada lembut, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Dia tak pernah mengira jika obrolan ringannya beberapa waktu silam membawanya hingga di titik ini.
H. Amsori melepas kacamata yang bertengger di wajah tuanya, menepuk bahu Amir pelan seakan dia juga merasakan lelah perjuangan lelaki yang bagai putranya ini hingga sedikit lagi mencapai hasil.
"Mimpi, cita-cita, harapan, doa, semua jika diucapkan berulang pasti akan sampai... Ana ingat semua yang Nak Amir inginkan waktu curhat dulu ya dan sekarang satu persatu terwujud, barokallah...." serunya haru, beliau menghapus bulir bening yang muncul disudut matanya.
Yang dia tahu, anak itu sejak dulu lebih suka memendam perasaannya dan tragedi lalu pasti membuatnya terluka dalam hingga Aruni hadir dan berpulang.
"Doakan aku Pa Haji, hatiku rasanya ga karuan...."
"Kheir, in sya Allah Kheir, aamiin...." obrolan ringan nostalgia mereka berdua berakhir hingga adzan ashar berkumandang ditutup dengan sholat berjamaah di mushola.
__ADS_1
Malam hari, orchid.
Amir menghubungi ayah mertuanya H. Emran untuk meminta izin jika dirinya dalam waktu dekat mungkin akan kembali menikah.
Memohon maaf serta menjelaskan semuanya pada sang Ayah mertua. Diluar dugaan, justru Abi Aruni menyuruhnya agar lekas berumah tangga kembali dan berterimakasih telah menjadikan putrinya istri paling bahagia disisa hidupnya.
Terutama Mama, responnya malah ingin ikut saat melamar calon istri untuknya, Mama ingin menitipkan langsung menantu sempurnanya itu pada sang bidadari terpilih agar menjaganya sebaik mungkin melebihi peran Aruni sebelumnya.
Panggilan pun berakhir setelah mereka melepaskan rasa haru yang tak bisa ditahan mewarnai perbincangan malam itu.
Sebelum tidur, dirinya berkirim pesan siaran ke semua keluarga, adik serta kakak tak lupa gamal dan Uyut, agar perjalanan kali ini dimudahkan.
Setelah menyiapkan koper dan coat, Amir pun istirahat agar esok tubuhnya kembali fit.
"Alhamdulillah, semua langkah selesai... Bismillah dengan doa dan restu kalian semua, yang berperan penting dalam perjalanan cinta dan hidupku ... aku berangkat menjemput mimpi terbesarku kali ini...." ucapnya saat akan bersiap tidur.
Keesokan Pagi.
Jam empat dini hari tadi Amir sudah ada di Bandara Soetta untuk boarding menggunakan pesawat transit melalui Singapura kemudian meneruskan perjalanan menuju London.
Kini dirinya telah berganti pesawat menuju London.
*
Sementara di tempat lainnya.
Pagi ini sembari sarapan oat disofa apartement nya, Hasbi sedang melihat ulasan di televisi tentang trend mode saat ini, termasuk siaran ulang tentang event expo gelaran perusahaan yang tak sempat dia hadiri. Dirinya memang ingin menghadiahkan sesuatu untuk Serli, istrinya yang sedang belajar mengenakan hijab.
Saat hendak menyuapkan suapan terakhir, tangannya menggantung di udara melihat tampilan dilayar besar itu.
"Aiswa?" dia meraih remot lalu menekan tombol stop dan zoom pada gambar disana.
"Aiswa, kamu ... masih hidup?" dirinya gusar, mencari ponsel yang lupa dia simpan dimana hingga Serli membawanya sebab ada pangggilan dari kampus.
"Oh no, jangan sampai Mas tahu," gumam Serli menatap tampilan didepan matanya.
"Sayang, handphone ku, terimakasih." Hasbi meraih ponsel dengan kasar dari tangan istrinya, terlihat menghubungi seseorang diujung sana.
"Kamu kenapa? ngomong apa tadi?" tanyanya curiga pada Serli.
__ADS_1
"Ehm-engga ko, aku ga bilang apa-apa," jawabnya menghindar.
"Iyakah? wajahmu lain, sayang," cecarnya mengikuti Serli keruang makan.
"Ga ko, siapa juga ... Mas tapi, untuk apa sih, kamu sudah punya aku kan?" imbuhnya khawatir.
"Mereka menipuku, memalsukan kematian seseorang bukanlah pelanggaran biasa ... aku mencurigai Hermana Arya, rumor mengatakan klan penguasa medis itu baru saja meluncurkan satu obat booster untuk kondisi kritis, pengajuan proposal kerjasamaku ditolaknya berkali ... jika mereka ada skandal dan terlibat ini mengingat Aiswa dirawat di rumah sakit miliknya, Klan Hermana akan jatuh dan aku akan mudah menawarkan opsi," jelasnya panjang lebar.
"Sudah, stop ... aku tak meminta suamiku milyuner, aku hanya ingin kamu sayang padaku, Mas." Bujuk Serli agar Hasbi tak terlalu berambisi.
"Nikmati hasilnya saja sayang ... aku pergi dulu," kilahnya menghindari topik perdebatan dengan Serli.
Hariri salim, Hermana, apakah kalian sekongkol menipuku?
***
Heathrow, London.
Hampir empat belas jam dilewatinya, kini Amir tengah menunggu Bell Boy Hotel yang menjemputnya di Bandara.
Cuaca dingin menyergap kulit wajahnya yang tak tertutup syal penghangat. Hingga suara bariton seorang pria menegurnya dari samping.
"Hi, sorry i'm late Mr. Amirzain ... i'm Fred from Montana Hotel ... this is your luggage, Sir? I'll take all your personal belongings." (Maaf aku terlambat, apakah ini bawaan Anda? aku akan membawa semua milik Anda)
"Nevermind, it hasn't been long ... yes it is, thanks you." (Tidak mengapa, aku belum terlalu lama menunggu).
Awak Hotel tempatnya menginap meminta agar Amir mengikuti mereka ke mobil yang telah siap menjemputnya di parking area.
London, bantu aku...
.
.
...________________________...
visual sikit yaak.. ðŸ¤
__ADS_1