DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 22. MEDIASI


__ADS_3

Mahen tak dapat menahan Aiswa saat ia setengah berlari menyusul Naya yang telah menuju kamar Hasbi lebih dulu.


" M-as, " panggil Amir saat matanya sedikit terbuka dan melihat Mahen yang duduk disampingnya.


" Ka, dokter bilang jangan banyak gerak dulu. "


" Ti-tip Aish, " ucapnya lemah.


" Besok aku akan ke Tazkiya, Ka Abyan yang minta. Aku sekalian akan menanyakan pada Ahmad dan Kyai tentang pernyataan Ka Amir sebelum Hasbi. "


" Ga usah, aku sudah tahu. "


" Istirahat Ka, Aish aman. Kita bicarakan besok lagi, orangku berjaga di luar. Jangan khawatir. "


*


Ruangan Hasbi.


Naya duduk di kursi samping brangkar Hasbi dengan Mega yang menempel ketat padanya. Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang terjeda.


" Karena ... Abang sudah dua kali melamarku lewat Ka Amir, saat keluarganya hendak ke rumah, Bapak harus operasi pemasangan ring jantung jadi tertunda. Ka Amir tak mungkin menimpa khitbah Abang. "


" Bohong... ! kamu juga tidak memenuhi janjimu tentang kepasrahan akan keputusan Raden Arya Tumenggung Danarhadi. "


" Aku sudah, tapi pernyataanmu pada Om Galuh yang menyatakan mundur, apa itu dilakukan tanpa sadar? "


" Salahku yang menceritakan padamu tentang Aiswa. Aku pikir, A hasbi akan membantu ka Amir tentang lamaran dia agar ka Ahmad menyampaikan pada Yai, karena tak kunjung mendapat balasan. Mengapa justru kamu menimpa nya? aku kecewa padamu. "


" Karena, kamu ... Naya, aku masih--"


Brakk. Pintu kamar Hasbi dibanting keras.


" Masih apa? masih cinta dengan ka Naya? lalu aku? kau gunakan aku sebagai senjatamu untuk membalas kekalahanmu yang bukan karena kesalahanku? juga bukan kesalahan ka Amir!! kamu salah kaprah Hasbi!! " teriak Aiswa.


Rey bingung saat gadis itu hendak menyerang Hasbi, ia sungkan meski hanya sekedar menahan lengannya. Untunglah Mega sigap menghalau amukan Aiswa.


" Tanyakan pada Ahmad, kenapa dia membantuku? tanyakan padanya, kenapa dia justru tega menghancurkan adiknya sendiri. " Elaknya melempar kesalahan.

__ADS_1


" Karena kamu, bujukan kamu. Aku muak melihatmu!! " amuk Aiswa lagi.


" Ckck sayang, jangan kasar dengan calon suamimu. "


" A ... aku baru tahu sifat aslimu yang seperti ini. Raden Ahmad Hasbi ternyata mempunyai mental receh. " Naya bangkit berdiri karena Rey menarik pelan lengannya menjauh dari sana.


Naya bergeming sesaat, jemari kirinya perlahan melepaskan cekalan tangan Rey di lengan kanannya dan ia menghampiri Hasbi.


Plakk.


Naya berpaling, segera menyeret Aiswa serta keluar dari sana. Hatinya sakit.


Ketika mereka kembali ke ruangan Amir, Mahen seketika memeluk istrinya yang sudah banjir air mata. " Sayang, bukan salahmu, bukan ... "


Aiswa memilih duduk disamping brangkar kekasihnya, melihat kondisinya yang lemah dan alasan dibalik peristiwa ini semakin membuat hatinya bangga pada sosok yang terbaring dihadapannya itu.


" Ka, terimakasih ... kamu membela dan menghargaiku. Aku janji akan bertahan hidup meski dengan sisa kenangan denganmu. Aku tak menyesal melakukan ini semua karena ternyata kemungkinan kita bisa bersatu itu ada meski kehendak Allah tidak. Mungkin campur tangan orang-orang disekitar menginginkan agar kita belajar memaknai nikmat cinta sebagai anugrah dari Sang Maha Rahiim. "


" Kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kesabaran itu ada dua macam : sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini. Aish, maafkan aku. " usap Naya pelan dibahu kanannya.


" Iya, seperti petikan surah Ali Imran yang pernah ia sampaikan padaku ... aku tahu cerita perjuangan cinta ka Naya, aku dan ka Amir juga telah sama berjuang, namun aku paham sekaligus bangga ia menjaga hati dan aqidahnya dengan baik meskipun aku memaksanya untuk melawan tapi dia tetap teguh. Aku bangga mencintainya. " tatap Aish pada sosok lemah di pembaringan dengan air mata luruh membasahi pipi putihnya.


" Sudah, tapi aku akan kembali dengannya, setelah dia pulih. Tolong sampaikan pada Buya, Ka. "


" Baik, pulang yuk. Orang Abang akan berjaga disini. "


" Bolehkah aku merawatnya? hanya sampai aku kembali, aku mohon ka Naya. "


Naya memandang Mahen yang sedari tadi memeluknya, meminta persetujuan darinya.


" Boleh, ditemani Mega dan suster yaa Aish. Aku dan Naya pulang dulu yaa, besok pagi Naya kembali lagi, " Mahen menimpali.


" Ya Khayr, syukron Ka, Mas. "


" Afwan Aish. " Naya memeluknya lama. Jarak usia mereka yang terpaut tiga tahun membuat Naya semakin merasakan hati yang sesak. Mereka berdua pun keluar dari ruangan Amir menyusuri lorong menuju basement.


" Abang, rasanya sama seperti ketika aku harus merelakan dan menjauh dari Abang dulu. Sesak dan sakit. "

__ADS_1


" Semuanya karena keteguhan hati ka Amir, dan aqidah kita Sayang. Itu yang membuat perjuangan mereka berat. " Mahen tetap memeluk wanitanya hingga mereka masuk ke mobil dan meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke Orchid.


***


Tazkiya, keesokan harinya.


Mahen mengunjungi kediaman pemilik Tazkiya yang mashur dengan Rey.


Keduanya dipersilahkan masuk dan menunggu di ruang tamu kediaman Kyai Hariri.


" Assalamu'alaikum, maaf agak lama tadi tanggung masih dzikir pagi. Mahen yaa? aku hadir waktu resepsi kalian. "


" Wa'alaikumussalam, betul Yai. Aku mewakili keluargaku menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan ka Amir karena tidak segera meminta Aiswa pulang. Mereka berdua tidak melakukan sesuatu hal yang melanggar norma, Aiswa tinggal di Al Islah... " Mahen langsung menjelaskan runut peristiwa yang sebenarnya.


" Innalillahi, aku tidak tahu itu Nak, Ahmad tidak menyampaikan padaku. " Kyai Hariri menundukkan pandangannya. Mahen merasakan bahwa sosok tegas di depannya ini tengah menyesal.


" Aiswa meminta, ia akan kembali setelah ka Amir pulih. Aku menjaminkan diriku bilamana kakakku tidak menepati janjinya atau pun Aiswa yang menghindar kembali, aku yang akan membawanya kembali pulang. Anda bisa memegang janjiku, Yai. "


" Aku sesungguhnya tidak pernah meragukan keluarga H. Ahmad zaid sanusi, mertua mu. Didikannya berhasil membuat setiap anaknya punya pendirian teguh, termasuk Naya istrimu. Aku pegang janjimu Nak Mahen. Jagalah Aiswa untukku. "


" In sya Allah ... aku pamit Yai, lusa semoga kami telah kembali dengan Aiswa. Jazakallah kheir, assalamu'alaikum. " Mahen bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar kediaman Kyai Hariri menuju mobilnya untuk kemudian melanjutkan perjalanannya kembali ke kantor.


***


Hasbi memilih pulang ke apartemen nya ketimbang dirumah sakit. Ia merasa muak saat menanyakan Aiswa pada suster yang menjaganya, namun justru malah mendengar dari para perawat yang mengatakan bahwa Amir dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya sedangkan ia tidak.


Kadar kebenciannya pada Amir semakin meningkat saja akibat berita itu. Ia lalu meminta supir pribadinya untuk menjemputnya di rumah sakit karena ia masih kesulitan untuk berjalan.


Saat dirinya baru saja masuk kedalam apartemennya, merebahkan diri di kamar. Pintu apartemennya di ketuk seseorang dari luar.


" Jangan Pak, jangan masuk. Den Hasbi sedang sakit. "


Terdengar suara ART yang menahan seseorang memaksa masuk rumahnya.


" Mana dia, Hasbi...!!! " teriaknya emosi.


.

__ADS_1


.


..._________________________...


__ADS_2