
Sudah sepekan lamanya Amir tak melihat Aruni di kediaman buyutnya. Rasa hati ingin bertanya namun segan, pasalnya dia hanya menganggap Aruni sebagai adiknya, hampir sebaya Naya meski selisih usia dua tahun dengannya.
Pernikahan Gamal minggu depan, kain seragaman yang telah diberikan padanya belum terjamah tangan siapapun, masih terlipat rapi dengan bungkusnya diatas meja nakas. Amir menunggu Aruni yang membuatkan pola untuknya, namun sang empunya malah sama sekali tak menampakkan batang hidungnya barang sejengkal.
" Gimana ini, aku bawa ke butik aja deh. " Bangkitnya berniat pergi mencari butik.
Baru saja dua langkah ia beranjak, Mban menghampirinya.
" Den Mas, ada utusan dari rumah Raden Wardhani, katanya ingin bertemu, monggo. "
" Aku? "
" Nggih, " tunduknya sopan.
Amir memutar langkah menuju ruang tamu sesuai arahan abdi dalemnya.
" Assalamu'alaikum, Den Mas ngapunten mengganggu waktunya, saya diminta Roro Runi mengambil kain seragaman kagem walimah Den Gamaliel, kagengan Den Mas. "
"Wa'alaikumussalam, Qiyya ga balik sini Kang? "
Utusan tersebut terlihat bingung, siapa yang dimaksud dengan Qiyya oleh majikannya.
" Roro Runi, maksudnya ... Den Mas manggil beliau Qiyya, " terang Mba yang masih menemaninya.
" Mboten ... mengkin ndalu Roro Runi nambi rawuh saking Jogja, milet lomba pagelaran fashion etnik of the week. " (malam ini Aruni baru pulang dari Jogja karena ikut lomba)
" Qiyya pergi ke Jogja, sendiri? "
" Nggih, leres. "
" Ya sudah, jangan, biar dia istirahat. Aku baru mau antar kainnya ke butik. "
" Ampun Den Mas, jangan, nanti saya kena marah. Roro Runi jarang marah tapi sekalinya marah, serem. Saya masih butuh kerja. "
Amir tak enak hati, pasti Qiyya-nya lelah sepulang perjalanan jauh. Tapi, dia juga kasihan pada utusan itu, bisa saja kena amukan Buyut Wardhani.
Kring. Kring. Bunyi ponsel utusan keluarga Wardhani.
" Nggih Ndoro, ini sudah sampai, tapi Den Mas menolak ... nggih, " angguknya sopan meski sedang berbicara di telepon, lalu dia menoleh ke arah Amir dan menyerahkan ponselnya.
" Den Mas, Ndoro mau bicara, monggo, " serahnya pada Amir.
" Assalamu'alaikum Ka, tolong berikan kainnya ke si akang ... aku ga balik sana, kita ketemu di Hotel tempat resepsi Gamal saja yaa, baju kakak aku yang bawakan nanti. "
" Wa'alaikumussalam Qiyya, kamu ga bilang sama aku mau ikut lomba? ga pamit juga? "
__ADS_1
Loh, aku siapanya emang?
" Eh, ma-af Ka ... aku langsung balik ke rumah setelah sampai hanya mengambil syalku saja dikamar ... jangan lupa kainnya yaa, yang lain sudah pada jadi. "
" Kamu cape Qiyya, jangan yaa. Biar aku bawa ke butik, dua hari selesai. "
" Oh gitu, jadi kakak maunya gitu. Ok lah, gih bawa sana, assalamu'alaikum. "
Tut. Tut. Panggilan di putus sepihak oleh Aruni.
" Wa'alaikumussalam, " balasnya lirih seraya menghela nafas dalam.
" Sebentar Kang, aku ambil dulu kainnya. " Ia mengembalikan ponselnya.
Beberapa menit kemudian.
" Maturnuwun Kang, maaf sudah merepotkan. "
Utusan itu pamit kembali pulang setelah menerima apa yang diamanahkan padanya.
Sementara di tempat lain.
Aruni memandangi kesal benda pipih ditangannya.
" Ish, aku lupa ga izin sama dia mau ikutan lomba dan pergi ... eh, tapi aku siapanya dia sih, ko kakak keknya marah sama aku. "
Kak, benar katamu aku memang belum berpengalaman ... kiranya predikat juara dua design etnik ini bisa jadi modal mental untukku dikemudian hari, thanks Kak booster semangatnya.
Aku menyiapkan diriku disini, aku akan membangun citraku dari nol disini, temani aku ya Kak.
Lagu stasiun balapan milik didi kempot menjadi teman perjalanan Aruni sore itu. Persis, Solo adalah kota kenangan baginya.
Dua hari jelang Resepsi Gamal.
Keluarga besarnya sebagian telah berangkat menuju Semarang termasuk Naya. Hanya dirinya dan Danarhadi yang masih tinggal sebab pekerjaan buyutnya menemani Sinuhun baru akan selesai malam ini.
Pekan ini Gamaliel hampir setiap hari menelpon dirinya, meski dia dibimbing oleh Kyai Jazuli tetap saja bila tak menelpon serasa ada yang kurang, katanya.
Amir diminta menjadi pendampingnya, dilarang meninggalkan gedung hingga acara selesai, meski ia enggan karena ingin bercengkrama dengan keluarga intinya.
Terlebih dua hari lalu baru saja Mas Panji mengabarkan bahwa Naya telah berbadan dua dengan usia janin 8 minggu.
Tiga bulan sudah, aku berusaha melupakanmu, Aiswa.
...***...
__ADS_1
Semarang, H-1 pernikahan Gamaliel.
Semua keluarga besar Kusuma telah berkumpul di Semarang. Basecamp keluarga Abah di Multazam, sedangkan keluarga Wardhani, Danarhadi di kediaman Wilona dan sebagian di hotel.
Aruni baru sadar, dirinya tak punya kontak Amir. Saat hendak meminta pada Gamal, malah dia jadi bulan-bulanan anak itu. Susah payah ia berusaha akhirnya apa yang dituju berhasil didapatkan.
" Assalamu'alaikum Ka, bajunya siap, besok subuh diantar yaa. " Ia mengirimkan foto.
" Wa'alaikumussalam, Qiyya? syukron. "
Degh. Degh. Amir merasa bahagia.
" Alhamdulillah lega, dia kemana aja sih, ga tahu apa aku ga bawa backup baju jika saja dia lupa, " gumamnya terdengar oleh Mahen.
" Ehem, Qiyya Ka? Eh, sorry, Aruni ... hanya Ka Amir yang boleh memanggilnya begitu, " godanya lagi setelah mendapat tatapan horor dari kakak iparnya itu yang acuh meninggalkannya.
" Keknya Ka Amir lagi PMS, sensi nya sama kayak adiknya yang gue hamilin. " Mahen tersenyum geli dengan kalimatnya sendiri.
Hari H, Conventions Hall Hotel Luxor.
Keluarga Abah baru saja tiba saat Keluarga Wardhani sedang briefing dengan EO perihal susunan formasi sesuai GR kemarin.
Amir yang masih berdiri di pintu masuk belum menyadari ada yang berbeda dengan Aruni. Dirinya menoleh saat staff EO menghampirinya untuk masuk dalam barisan karena permintaan mempelai pria agar beriringan dengan wanita yang telah berdiri disana.
Masih tak sadar berdampingan dengan siapa, Keluarga Abah tersenyum melihatnya dari bangku VVIP.
" Adikmu bener-bener ga noleh, padahal itu Aruni, " Abah sungguh terheran, Amir bisa dingin juga terhadap wanita.
" Cantik banget dia pakai hijab, dari dulu ngapa yaa, " sahut Abyan yang langsung mendapat tatapan seram dari Qonita.
Abah dan Mahen tertawa, baru kali ini Abyan kelepasan bicara. Memang, Aruni sangat menawan setelah memakai hijab.
Mahen tak sadar Naya sedari tadi menatap tajam padanya.
" Ya ampun sayang, aku ga komen apa-apa ko. Kamu paling cantik Mom, " kecup Mahen mesra dibibir istrinya, lupa bahwa ada mertuanya.
" Astaghfirullah, anak lelakiku yang satu kaku, satu lagi pemalu, yang ini ngumbar ... yang perempuan semuanya tegas dan galak terlebih Naya, barbar. " Abah mengelus dada.
Qonita menahan senyum, kadang dia iri dengan kemesraan Naya dan Mahen, dengan kelembutan Amir. Tapi dia bersyukur, suaminya justru lebih tampan karena kekakuannya, aneh memang tapi dia bahagia.
.
.
...______________________________...
__ADS_1
Kasih nafas dulu yaa, selow, biar sudah siap pas mau masuk konflik lagi 😌.