DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 35. MUNDUR


__ADS_3

Tak berapa lama Amir tiba di komplek Al Islah. Sebelum turun dari mobilnya, ia mengamati sekitar apakah nampak kehadiran Alma, mengingat kediaman Kyai Hasyim Rois terletak di area santriwati.


" Bismillahirrahmanirrahim, semoga ada jalan terbaik. "


Amir memantapkan langkah menuju kediaman Paman Yai nya bermaksud membicarakan perihal izin untuk mundur dari kewajibannya mengajar selama sisa waktu yang telah ditentukan.


" Assalamu'alaikum. "


" Wa'alaikumussalam, silakan masuk Ustadz, " seorang santri pria keluar menyambutnya.


" Yai ada Kang? "


" Nggih, ada didalam. Ana panggilkan sebentar, monggo duduk dulu Ustadz, " pamitnya kembali masuk kedalam memanggil Yai.


" Mir, ana selesaikan ini dulu ya, sebentar lagi. " Beliau duduk dikursi depan Amir sembari memberikan petunjuk pada Santri tadi perihal tugas yang akan diamanahkan padanya.


" Nggih 'amm, monggo. "


Selang beberapa menit berlalu.


" Ada perlu apa Mir? " beliau membuka percakapan.


" Itu 'amm perihal mengajar, apa diperkenankan apabila aku mundur setelah akhir bulan ini? materi belajar selanjutnya aku akan membuat sebuah modul khusus agar tetap berkesinambungan dan tuntas pembelajaran satu quartal untuk para santri. Atau bilamana 'amm mempunyai solusi lebih baik, aku bersedia. "


" Alasan antum apa Mir, ana hanya ingin tahu. " Yai nya menaruh senyum curiga pada Amir, sejujurnya ia paham, Amir tengah menghindari keponakannya Almahyra.


" Jujur 'amm, aku ingin ke Solo, uyut butuh aku disisinya dan juga ... anu.. itu ... hmm.... "


" Bilang saja. " Yai Rois justru tertawa melihat Amir salah tingkah.


" Aku kurang nyaman sih, tapi mungkin 'amm paham, aku menghindari Almahyra karena Alma sudah memulai proses khitbah dengan seorang pria yang kebetulan sahabat kecilku. "


" Gamaliel Arbi bin H. Fadzli itu sahabat kamu Mir? "


Amir hanya mengangguk pelan. Muncul garis kekhawatiran diwajah Paman Yai nya.


" Ana paham, Alma menaruh suka padamu Nak, Ilyas dan Alma itu saling mencintai dan dia sangat terpukul ketika takdir memisahkan mereka. Alma menjadi pemurung, dirinya butuh waktu lama untuk bangkit. Dan ketika baru saja bangkit, dia mulai mengenalmu sedikit demi sedikit dari cerita Qonita bahwa adik lelakinya adalah seorang hafiz yang lembut termasuk tentang besarnya dukunganmu saat adikmu akan menikah dulu. " Yai bercerita dengan tatapan sendu.

__ADS_1


" Dan akhirnya kalian dipertemukan juga oleh takdir sebab handphone Almahyra hilang, anehnya justru ditemukan olehmu. Ana dan bibinya mulai melihat Alma ceria kembali terutama bila berkaitan denganmu. Terlebih dia memohon pada ana agar kamu dibolehkan mengajar sementara di sini. Dari situlah, kami mulai mencoba menjauhkan Alma darimu sebab keluarga kakak pasti akan melakukan hal yang sama. "


" Selayaknya sedang jatuh cinta, Alma sesekali melanggar permintaan bibinya. Sepertinya dia telah mengutarakan perasaannya padamu. Begitulah Alma, perangai orangtua memang sedikit banyak menetes pada nutfahnya. Dulu, ia pun yang meminta ana untuk 'melihat' Ilyas sebelum akhirnya pemuda itu peka dan menyadari bahwa ia merasakan hal yang sama dengan Alma. "


" Jika alasanmu demikian, malah sepatutnya kamu menghindari mereka. Aku ridho Mir, pergilah. Salam buat Raden Arya Tumenggung Danarhadi yaa. Jika kamu tergesa, kamu bisa menangguhkan materi selanjutnya setelah Alma menikah nanti atau di alihkan ke asatidz yang lain. "


" Jadi ini bukan permintaan 'amm? "


" Bukan. " Yai Rois hanya tersenyum.


" Aku sedikit banyak mengerti, ku kira Alma berubah menjadi berani karena aku malah tadinya ... akan aku siapkan bahan materi ajarnya semoga selesai minggu ini. Jazakallah kheir 'amm sudah memudahkan urusanku. "


" Ndak, memang Alma begitu, independen, blak-blakan apalah itu artinya ana kurang paham, dia pendiam ya karena belum kenal dan paham situasi saja ... semoga lekas bertemu jodoh yang sholihah ya Mir, yang kemarin ga cocok yaa? putri Yai lho itu. "


" Itu, aku belum kepikiran 'amm. Disodorkan banyak pilihan jadi pusing juga. " Amir menghindari gugupnya dengan mengusap dahi perlahan.


" In sya Allah ana do'akan hanya insan terbaik yang akan Allah hadirkan untukmu ya Nak. Semoga Allah menjagamu langsung dengan Rahmat dan Rahiim-Nya, aamiin. "


" Istajib du'ana yaa mujibassailiin, aamiin. Aku pamit ya 'amm, melanjutkan tugasku. Jazakallah kheir. Assalamu'alaikum. "


" Wa iyyaka, Nak. Barokallah, Wa'alaikumussalam. "


Melangkah keluar dengan hati lapang mencetak sebaris senyum di bibir manisnya.


" Ka. " Alma sengaja telah menunggunya di luar.


Degh. Amir berpura tak mendengar dan ia tetap melangkah dengan kaki panjangnya.


" Aku tahu kakak menghindari ku. Aku dengar semuanya didalam tadi. "


Amir tak punya pilihan, dirinya membalikkan badan menghadap Almahyra.


" Alma, please. Gamal sahabatku, kamu dengar tadi kan? aku baru saja kehilangan dua sahabat dan gadis yang aku cintai menjadi korban---nya. " Eh, keceplosan. Batin Amir.


" Kan aku bilang juga apa? Aiswa itu gadis yang kakak maksud bukan? aku mencoba membantu mu melupakannya, apa kurangnya aku dengannya? " tatapan mata Alma memburu.


" Aku ... alma, sudah aku jelaskan bahwa aku menganggapmu hanya sebagai kawan, sedari awal aku tak pernah memberikanmu harapan bukan? "

__ADS_1


" Bilang saja, kakak takut akan mitos tentang aku kan, ayolah mengaku saja, " tuduhnya.


" Apalagi maksudmu kini. Alma, tolong jangan mendesakku. Aku menyetujui mengajar di Al Islah karena aku ingin membalas budi mu yang telah bersedia menampung Aiswa disini sementara waktu, " Amir menjelaskan sebisanya.


" Bilang saja, kakak takut. " Senyumnya menyebalkan.


" Terserah, aku sudah berusaha menjelaskan kedudukan kita hanya teman. Bila kamu tidak terima, itu urusanmu. Dan lagi, aku ga mau disangkutpautkan dengan proses yang tengah kamu jalani dengan sahabatku. "


" Pantas di tinggalkan, kakak tidak gentle. "


" Bukan urusanmu, Almahyra Firdaus. Bila tujuanku hanya untuk mendapatkan seorang gadis sekedar untuk diperistri, aku bahkan bisa memiliki yang melebihi dirimu lebih dari satu. Aku pamit. Assalamu'alaikum. "


Maaf Alma, aku kasar padamu, karena kamu bebal.


Amir berbalik kemudian melangkah meninggalkannya.


" Apa jadinya bila Gamal tahu kalau kakak telah mengenalku dan apakah dia tidak akan terprovokasi? "


Degh.


" Lakukan sesukamu Alma, tidak akan berdampak apapun untukku. Gamal boleh jadi salah paham padaku tapi aku yakin, banyak pasang mata bahkan mulut yang bersedia membelaku nanti. "


Amir kembali melangkah tanpa melihat Alma kembali. Dirinya sungguh tak habis pikir mengapa Almahyra demikian berubah.


Kiranya benar perkataan Paman Yai bahwa nutfah orangtua akan tetap mengalir dalam nadi meskipun lingkungan membesarkannya secara berbeda.


Dia keluar gerbang pembatas area santriwati tergesa, hatinya bergemuruh menahan kesal.


Tanpa keduanya sadari, dibalik pagar gerbang pembatas yang baru saja Amir lewati, sepasang mata dan telinga telah merekam semua pembicaraan yang terjadi di pelataran yang tak jauh dari kediaman sang Yai.


Mitos? mitos apa? Mir, kamu sudah kenal Alma?


Kenapa kamu tak bercerita jika mengetahui tentang Almahyra seolah kamu tak mengenalnya.


.


.

__ADS_1


...___________________________...


Eng ing Eng.. jelang pecah bisul... 😌


__ADS_2