DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 212. MAAF


__ADS_3

Keesokan Pagi.


Setelah sarapan, keluarga Kusuma berpencar menjalankan aktivitasnya masing-masing. Abah dan uyut ke pemakaman sedangkan Aiswa, kuliah online di temani Joanna.


Amir bersama Mang Sapri memanggil karyawan yang di maksud oleh Abahnya semalam.


Hampir tiga puluh menit, Amir mendengarkan cerita Sang karyawan tanpa menjeda. Hanya mendengar.


"Masih mau kerja, Mang?"


"Malu tapi, Den."


"Sama siapa? saya? sama Allah malu gak?" tanya Amir.


"Dua-duanya, saya malu."


"Kalau gak kerja di sini, mau kerja di mana? ada sumber pendapatan lain?" lanjut Amir.


"Gak ada, Den. Hanya di sini, karena kerja juga gak berat. Upah di atas yang lainnya, juga suka dapat bingkisan rutin kalau jum'at," tunduk pria paruh baya.


"Kamu, udah tau begitu, tega ya ke majikan, nyolong!" sentak Mang Sapri.


"Sudah, gak usah di bahas lagi," Amir menahan ketika Mang sapri hendak memukul menggunakan gulungan majalah.


"Jangan bawa ke kantor polisi," dia menangis.


"Silakan di lanjut, Mang. Kalau malu sama Allah pasti akan menjaga sikap ... jikalau pun diulangi lagi kejadian serupa. Saya lepas tangan, karena sudah mewanti betapa bahaya memberi makan keluarga dengan uang haram ... bukan imbas pada akhlak anak saja namun pada tanggungjawab nanti."


"Apa yang Amang lakukan ini juga ada andil saya di dalamnya. Maafkan saya ya, Mang. Gak peka dan gak ngayomi ... saya tidak menjadi tempat pertama bagi Amang buat meminta bantuan. Sampaikan maaf saya dengan keluarga Amang," tutur Amir lembut.


"Den Mas, ko begitu? nanti dia ketagihan gimana?" protes Mang sapri.


"Mau begitu lagi, Mang?" Amir malah bertanya pada karyawannya.


"Enggak Den, insaf."


Setelah karyawan itu pergi. Mang sapri masih heran, meminta penjelasan Amir seksama bagi dirinya yang faqir.


"Takdir Allah Mang, tapi dengan saya begini. Jika Allah masih memberi dia hidayah, yakin saja dia gak akan ngulangin ... salah saya juga gak perhatian. Kasusnya ditutup ya, jangan sampai aib dia menyebar. Dah Mang, kerja lagi," ujar Amir pada Mang sapri yang hanya diam.


Anak, bapak sama aja. Kalem urusan dunia.


Baru saja Amir akan bangkit masuk ke dalam rumah. Sebuah mobil pajero putih yang ia kenal, masuk ke halaman rumah Abahnya.


"Hasbi?" lirihnya masih duduk di teras.

__ADS_1


Sejak Aiswa pindah, teras depan di tutupi tirai dari bambu mengelilingi, agar tidak silau juga demi Aiswa tak terekspos saat dia duduk di sana menemani dirinya.


Teras yang semula kosong, berubah menjadi tempat kerja Amir sejak kehadiran Aiswa. Dilengkapi kursi kayu jati agar tamu yang hanya mampir sebentar, tidak perlu masuk ke ruang tamu di dalam rumah.


Pintu kemudi terbuka, nampak driver menuju bagasi lalu mengeluarkan sesuatu.


"Kursi roda? untuk siapa?" Amir mulai bangkit, memakai sandalnya.


"Hasbi?" Ia mempercepat langkah saat mengetahui sang sahabat kesulitan turun untuk duduk di kursi roda meski telah di bantu driver.


"Allah, kamu kenapa?" Amir membantu hingga dia nyaman duduk di sana.


"Assalamu'alaikum, Mir," sapanya mengulurkan tangan.


"Wa'alaikumussalam." Amir mengabaikan uluran tangannya, langsung mendekap sang sahabat.


"Maaf," lirih Hasbi menyambut dekapan Amir.


"Panas, masuk yuk." Tuan rumah mengurai pelukan mereka. Mengajak Serli agar turun dan masuk ke dalam.


Amir meminta Alex agar Mba Sri menyiapkan hidangan untuk para tamunya, juga driver.


"Ke dalam aja Pak tolong biar adem, di luar cuaca panas dan debu ... sini sini masuk ... Reezi bobok ya? di tidurkan di kamar tamu aja Mba, monggo," Amir menggeser kursi agar Driver yang mendorong kursi roda Hasbi leluasa mengatur posisi majikannya. Serta membuka pintu kamar tamu agar Serli bisa menidurkan putra mereka bersama baby sitter.


"Kemarin aku telpon balik, gak diangkat? ku kira penting...." ujar Amir membuka percakapan seraya menata posisi cangkir agar Hasbi mudah menjangkaunya.


"Aku sudah tidur sepertinya. Kemarin mau bilang, ingin ke sini menemuimu karena saat akan ke Tazkiya, santri bilang kamu pergi jadi kita puter balik sebelum masuk gerbang," jelas Hasbi.


"Aku ke kamar ya Mas, adek biar nyaman tidur," pamit Serli pada suaminya dan Amir.


"Perlu sama aku, Bi? di Jakarta lama sebetulnya, karena Ahmad nikah kemarin itu kan dan ada urusan yang harus aku selesaikan juga," ungkap Amir menjelaskan.


"Iya Ahmad ngabarin sih tapi aku masih belum boleh pergi, sengaja makanya ke sini begitu dokter bilang aku bisa bepergian lagi," terang Hasbi.


"Naya dan Mahen, menemuiku dan menjelaskan semuanya saat aku akan operasi kedua."


"Innalillahi, yang di basement rumah sakit itu?separah ini, Bi?" Amir terkejut.


"Begitulah ... lima rusuk ku retak dan patah, alhamdulillah masih di lindungi Allah karena patahan nya gak mencuat menusuk organ vital, Mir."


"La haula wala quwwata ila billah ... maaf, aku gak sempet jenguk kamu di rumah sakit karena kita langsung pulang ke sini. Sekarang gimana? seharusnya jangan memaksakan Bi, kamu belum pulih," Amir prihatin.


"Takut Mir, takut gak ada umur. Aku masih banyak dosa sama kamu dan Ahmad, terlebih Aiswa," ujar Hasbi pelan.


"Dosa, semua juga punya. Yang terakhir itu, ko aku jealous ya," Amir menahan senyum.

__ADS_1


"Eh, maaf maaf. Gak ada maksud," Hasbi kikuk.


"Aku paham, dulu kan dia istri kamu. Mau ngomong sama Aiswa dulu? aku panggilkan, tapi mohon maaf apabila dia menolak ya Bi, bukan aku yang minta," lanjut Amir.


"Kalau boleh, aku dan Serli ingin bicara dengannya," pinta Hasbi.


"Tunggu ya, aku berusaha." Amir masuk ke dalam kamar, menemui Aiswa.


Joanna keluar saat majikan prianya itu masuk ke dalam kamar mereka. Kuliah Aiswa baru saja usai.


"Rohi, ada Hasbi dan istrinya di depan. Minta ketemu kamu, mau ngomong perihal minta maaf katanya," Amir bicara pelan agar Aiswa tidak tersinggung.


"Bicara apalagi Bii? kalau maaf, sudah aku maafin. Jika hanya Serli yang mau ketemu, boleh. Tapi kalau dia? enggak, karena aku gak ada hubungan apa-apa lagi," ujar Aiswa.


Maaf, aku tak ingin merusak mood suamiku. Aku ingin menjaga hati suamiku. Meski aku tahu, Qolbi pasti redho.


"Jadi gimana?"


"Sampaikan saja, atau aku call ke Qolbi boleh ga? nanti Qolbi loudspeaker aja ya."


"Ok, boleh. Aku sampaikan ya." Amir kembali ke ruang tamu, membawa ponselnya lalu menyampaikan keinginan Aiswa pada Hasbi.


"Maaf ya, istriku gak bersedia ketemu tapi by phone aja," ucap Amir seraya melakukan panggilan ke Aiswa.


Tuut.


"Sayang, bisa dimulai. Aku sudah loud," ujar Amir.


Lima menit, Hasbi menyampaikan niatnya pada Aiswa. Pernyataannya sedikit membuat Amir cemburu namun jawaban sang istri meneduhkan nya.


"Memaafkan tidak mengubah masa lalu namun semoga bisa memperbaiki masa depan antara Qolbi ku denganmu, antara aku denganmu juga Mba Serli ... aku memaafkan juga bukan karena kamu pantas tapi karena aku ingin mendapatkan kedamaian...."


"Aku juga melupakan segala hal yang menyakitkan, bukan karena kalian, tapi untuk Qolbi dan diri sendiri. Qolbi yang selalu bilang padaku bahwa menjadi ibu harus sehat lahir bathin agar anak yang dikandung juga mempunyai hati lembut serta menjadi penyejuk hati...."


"Aku melepaskan itu semua jauh sebelum kamu memintanya. Saat aku memutuskan untuk menjadi istri dari sosok yang sangat istimewa bagiku, Amirzain ... fokus untuk membahagiakannya, aku meluruhkan semua masa laluku...." pungkas Aiswa memutus panggilan setelah salam, tanpa mau melanjutkan percakapan dengan mantan suaminya itu.


Maa sya Allah Rohi, Sayang, terimakasih.


.


.


...__________________________...


...Bab kek wiro sableng... 212, makanya yang nulis mulai ngawur... ehh...

__ADS_1


__ADS_2