
Tangan Amir ditarik Aruni agar kembali keranjang mereka segera.
"Dek, kamu haid? yang benar?"
"Iya,"
"Kapan? kan isya masih sholat, aku bangunin kamu tadi."
"Habis mandi setelah isya, aku gerah kan mandi lagi eh ga lama flek gitu."
"Tunggu disini, aku ambil dulu alatnya."
"Ga usah Mas, bobok aja aku ngantuk," rengeknya.
Amir yang memang masih sangat mengantuk pasrah mengikuti keinginan istrinya.
Maaf ya Mas, aku hanya tak ingin melihatmu kecewa. Bila aku telah lama akrab dengan rasa kecewa dan putus asa, lain halnya dengan kamu. Aku tahu dalam hatimu pasti menginginkan seorang putra bukan?
Aku takut tak bisa memenuhi keinginanmu meski semua ini adalah kehendak dari Yang Kuasa.
"Dek, udah bobok lagi?" bisiknya ditelinga Aruni yang membelakangi nya.
Tak ada sahutan dari sosok yang mempunyai punggung mulus tanpa cela didepan matanya.
"Sehat selalu yaa Qiyya," Ia mengangkat kepala Aruni, menelusupkan lengan kanan dibawah kepalanya agar bersandar padanya.
Amir merapatkan tubuhnya lalu menarik selimut kembali hingga menutupi bahu Aruni. Tangan kirinya tak lupa mengelus lembut perut yang masih rata disana, perlahan bibirnya mengucapkan doa untuk kesembuhan istrinya itu.
Keesokan pagi.
Aruni bangun lebih dulu, masih dengan posisi yang sama saat mereka terlelap. Entahlah, berada dalam dekapan Amir nyatanya membuat dia terkadang lupa memijak bumi kembali setelah jiwa halusnya melanglang buana dalam dunia hayal perwujudan kembang tidur.
Dia perlahan melepaskan diri dari pelukan hangat, tempat ternyamannya. Menyingkap selimut mereka lalu menjulurkan kaki jenjangnya turun dari sana.
Alhamdulillah ga kebangun.
Aruni lalu berjingkat menuju bathroom. Membuka handle perlahan agar tak mengeluarkan banyak suara yang akan membuat sosok tampan yang masih terpejam ditempat tidur itu terjaga.
Persis maling yang sedang mengendap, pikirnya. Setelah menutup kembali pintu toilet, Aruni lalu menguncinya dari dalam, hal yang jarang dia lakukan semenjak menikah.
Amir kerap menggedor pintu jika dia terlalu lama disana, padahal menurutnya toilet adalah tempat paling nyaman untuk membuang segala resah bahkan gundah terhadap apa yang tidak ia ketahui pasti. Meski toilet juga sarang para mahluk tak kasat mata bermukim.
Dirinya langsung menuju closet duduk, mengabaikan alat itu diujung wastafel. Rasanya selain sangat mengantuk dia juga akhir-akhir ini keinginan untuk buang air kecil menjadi lebih sering.
"Dek, buka ... lagi apa sih dikunci segala?" seru Amir dari balik pintu toilet.
"Lagi itu, sebentar Mas" jawabnya tergesa.
"Buka, cepat, "
"Lima menit lagi, tanggung,"
__ADS_1
Hening.
Hingga Aruni selesai menunaikan hajatnya, tak lagi terdengar suara sang suami.
Merasa aktivitasnya tak lagi terganggu, dia melanjutkan mandi segera karena sebentar lagi adzan subuh terdengar.
"Sisa gosok gigi, di wastafel aja dah biar ga dingin," gumamnya mulai merasakan subuh air lebih dingin.
"Deeekk! buka ga!" teriak Amir dari luar hingga Aruni terlontar kaget, menjatuhkan sikat giginya dan tanpa sadar tangannya menyenggol alat test pack itu jatuh entah kemana.
"I-iya, bentar Mas," jawabnya panik.
Aruni lalu meraih kunci yang menggantung, bergoyang kencang akibat sentakan handle yang di naik turunkan.
Cklak.
"Kebiasaan, ngapain dikunci? lagi apa sih?" sewot nya kali ini tak bisa Amir tahan.
"Tadi kebelet, itu, terus mandi dan shampoan,"
"Kan aku sudah bilang, jangan dikunci kalau lagi di toilet ... kamu ga inget apa, pernah tertahan di toilet gara-gara kuncinya patah? belum kapok juga?"
"Mas, maaf ... iya ga lagi," sesalnya takut.
Adzan subuh terdengar dari alarm ponsel Amir.
"Ya sudah, aku mandi dulu,"
Sedikit emosi sebab insiden penguncian pintu kamar mandi, Amir lupa dengan keinginannya mengecek test pack. Sungguh dia dibuat penasaran dengan kelakuan Aruni yang seakan menghindar bila Amir membahas topik ini.
"Padahal aku sudah sampaikan berkali, bahwa aku hanya ingin menjaga kalian, bila telah Allah titipkan amanah ... tapi aku mengerti, kamu pasti berat dan takut aku kecewa bukan Qiyya?" Dirinya bermonolog kala melihat semua peralatan mandi milik istrinya disana.
Tak ingin berlama disana, Amir menyelesaikan semua urusannya segera. Ba'da sholat subuh, dia lalu melanjutkan murajaah bacaannya seperti biasa.
"Dek tidur lagi?" Ia melihat ke arah tempat tidur, Aruni sudah bergelung dalam selimut tebal, tampak lengan kanan nya menyembul menampilkan salah satu jemarinya melingkar tasbih digital.
"Nanti aku bangunkan saat breakfast yaa sayang," kecupnya pada dahi yang tertutupi anak rambut.
Satu setengah jam berlalu.
Sosok cantik dengan posisi tidur kepala yang merunduk hingga rambut menjuntai ke sebagian wajahnya, Amir memandangi nya lekat.
"Semakin cantik saja, juga makin seksi," senyumnya merekah, enggan berpaling muka dari sana.
Takut terlambat saat pengumuman hasil jam delapan nanti, dia terpaksa membangunkan istri cantiknya itu perlahan.
"Qiyya, sarapan dulu yuk lalu siap-siap ke Hall event, kan jam delapan nanti pengumuman." Berkali Amir mengucapkan kalimat yang sama tak jua membuat mata dengan bulu mata panjang dan penuh itu terbuka.
"Qiyya ... Qiyya, sayang cintaku ... honey bunny sweety, bangun yuk.... "
Amir terkekeh geli akan kalimatnya, nyatanya meniru perkataan mesra Mas Panji tak cocok baginya.
__ADS_1
"Ini kalau udah tidur, susah dibangunin nya ... Dek, gimana kamu ga gendut coba, makan tidur melulu."
"Siaap gendut? " mata Aruni langsung terbuka lebar.
"Hahaha ... akhirnya aku menemukan kata kunci agar mudah membangunkan mu." Amir tertawa melihat istrinya limbung nyawanya belum terkumpul.
"Makan dulu, aku suapin lalu siap-siap turun kebawah ... sudah jam tujuh sayang," elus nya lembut dikepala Aruni.
"Hmmm, iya...."
Sejujurnya dia malas, jika boleh Aruni memilih akan mewakilkan kehadirannya pada sang suami saja, sedangkan dia melanjutkan tidur kembali.
Setelah drama sarapan yang menyita waktu, akhirnya pasangan itu telah duduk tenang dalam barisan para peserta.
"Mas, bisa ambilkan tisu basah ga ditas make-up aku di toilet, tanganku kering."
"Sekarang?"
" .... "
"Iya sayang, aku ambil. Tunggu yaa jangan kemana-mana," senyumnya menepuk tangan yang terpaut diatas pangkuan.
Amir bergegas mengambil apa yang Aruni minta naik kekamar mereka.
Ketika Amir tiba dikamar, nyatanya benda itu tak ada disana, ia mencari ke tempat lain, hingga kakinya tak sengaja menginjak sesuatu.
"Apa ini?" matanya mengerjap tak percaya.
"Alhamdulillahilladzi bini'mati ala tatimussholihat," netranya berkabut menahan rasa haru.
Mengabaikan tisu basah, dia bergegas kembali ke tempat dirinya berada. Tak sengaja saat tergesa hendak mencapai pintu, matanya menangkap si benda yang dicari diatas meja makan.
Sementara di lantai dasar, hall event pagelaran. Nama Aruni disebut sebagai pemenang harapan terbaik dan berkesempatan mengikuti training dengan mentor khusus dari Brand ternama sponsor.
Amir tiba di Hall, saat Aruni hendak naik ke atas pentas menerima penghargaan. Dia memandang istrinya diatas sana dari samping, menatap haru sekaligus bangga.
"Sayang, love you," eja Amir dengan bibirnya saat pandangan mereka berserobok.
"Mas, aku happy, thank." Balasnya.
Hadiah terindah untukku, akhirnya cita-cita ku tercapai berkat support darimu, Mas.
Double, terimakasih ya Robb, engkau menganugerahkan segala nikmat untuk kami.
.
.
...______________________________...
...Nulis sambil balik mudik, semoga ga typo... Selamat antar anak masuk sekolah lagi ya.. hehe...
__ADS_1